Luka Hati Luka Diri

Luka Hati Luka Diri
Episode 42


__ADS_3

Empat hari lamanya Shasa di rawat di rumah sakit pasca melahirkan. Karena kondisinya yang sudah sehat, Shasa pun diperbolehkan untuk pulang.


Suara jerit tangis bayi memenuhi rumah kediaman Gutawa. Rumah yang dulunya sepi itu sekarang menjadi ramai karena tangisan bayi. Mama Dona, mom Yasmin dan juga suster Elsa bergantian menenangkan baby twins yang sejak tiba tadi menangis bersamaan, namun tidak ada yang berhasil.


Papa Andika yang melihat istrinya kewalahan menenangkan cucunya segera mendekat dan mengambil alih Jerry ke dalam gendongannya, kemudian menimang-nimangnya hingga Jerry tenang dan tidak menangis lagi. Sedangkan Gerry sedang menyusu dan hampir terlelap di pangkuan mom nya.


"Apa perlu menambah baby sister lagi Kak?" Tanya mom Yasmin kepada Mama Dona.


"Gimana Sha?" Mama Dona beralih bertanya kepada anaknya.


"Kayaknya nggak perlu deh ma, udah ada suster Elsa. Ada bik Leni ada tante Yasmin ada mama juga."


"Tapi Mama nggak bisa lama-lama di sini Sha, kan Papa juga kerja. Apa kamu mau ikut pulang saja?" Shasa menggeleng.


"Shasa pasti akan pulang ma, tapi tidak sekarang." Ucap Shasa sendu.


"Baiklah, Mama mengerti. Tapi maaf jika Mama tidak bisa disini lebih lama."


"Iya nggak papa, Shasa juga ngerti. Mama Jangan khawatir."


"Papa janji Sha, Papa dan Mama akan sering-sering berkunjung ke sini." Papa Dika mengelus kepala anaknya setelah lebih dulu meletakkan Jerry ke dalam box bayi karena Jerry Sudah terlelap.


*****


Mama Shela sudah kembali ke Bandung dua hari yang lalu, tinggallah Radit dan Laras di apartemen tersebut. Radit sudah menyerahkan pabrik tekstil peninggalan papanya untuk di kelola oleh orang kepercayaannya. Sesekali mama Shela juga akan mengeceknya, mama Shela tidak memaksa anaknya untuk tetap tinggal bersamanya di bandung.

__ADS_1


Laras lebih banyak diam jika suaminya tak bertanya kepadanya. Namun ia tetap berusaha menjadi istri yang baik.


"Sarapan dulu mas." Ucap Laras saat melihat Radit keluar dari kamar. Radit hanya mengulas senyum kemudian menarik kursi kemudian mendudukinya. Laras langsung melayani Radit di meja makan.


"Mau ikut ke kafe?" Tawar Radit.


"Boleh nggak aku ke tempat mama?"


"Ada apa? Kamu gak betah tinggal disini."


"Bukan begitu, aku kangen aja sama mama."


"Belum juga ada seminggu, masa udah kangen?"


"Terimakasih!"


"Oh ya mas, gimana kalau uang yang dari mas Radit itu aku kasihkan ke mama biar mama bisa pake buat benerin warung?"


"Itu terserah kamu, kan aku udah kasih uang itu buat kamu. Jadi aku udah gak ada hak lagi." Laras mengangguk.


*****


"Gak mampir dulu mas?" Tawar Laras saat mobil Radit berhenti di halaman depan rumah makan Bu Mayang.


"Aku ada janji sama orang pagi ini, nanti aja aku usahain pulang sore." Laras mengangguk lalu meraih tangan suaminya untuk ia cium. Radit pun membalas dengan mengecup dahi Laras. Meskipun saat ini ia belum mencintai istrinya itu, tapi ia yakin, dengan perlakuan Laras kepadanya akan membuatnya perlahan bisa mencintai istrinya. Radit langsung melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah makan Bu Mayang menuju ke cafe dan restorannya.

__ADS_1


"Pagi mbak Sih, pagi mbak Ti, pagi Mak Rat!" Sapa Laras saat memasuki rumah makan tersebut.


"Duh, pengantin baru auranya berseri-seri kayak bunga yang baru mekar." Goda mbak Ti membuat Laras tersipu.


"Apa sich mbak, biasa aja. Mama mana?"


"Kalau disini gak ada berarti di rumah Ras." Jawab mbak Sih.


"Oke, aku ke samping dulu, udah kangen sama mama." Laras melenggang keluar lewat pintu samping.


"Dasar anak mama!" Cibir mbak Ti namun tidak di gubris oleh Laras.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘ðŸĪŠðŸĪŠ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ☕☕😂😂

__ADS_1


__ADS_2