
"Paket mas!" Seorang kurir berjaket orange menyodorkan amplop berwarna coklat kepada Erik saat tiba di depan meja kasir. Erik pun mengernyit bingung, pasalnya ia tak pernah memesan sesuatu di online shop.
"Mungkin salah alamat Mas?"
"Atas nama Raditya Erlangga." Erik segera meraih amplop berwarna coklat tersebut kemudian membaca nama yang tertera dalam amplop tersebut.
"Raditya Erlangga? Pengadilan agama Surabaya?" Erik menelan ludahnya susah payah setelah membaca tulisan yang ada di amplop tersebut dalam hati.
"I-iya mas, betul ini alamatnya." Kurir tersebut segera pergi meninggalkan cafe setelah paket yang diantarnya sudah sampai kepada orang yang bersangkutan.
Tanpa pikir panjang, Erik langsung meninggalkan kasir menuju ruangan Radit. Erik langsung membuka pintu ruangan Radit tanpa permisi hingga membuat Radit tersentak.
"Biasakan ketuk pintu dulu!" Hardik Radit menatap tajam ke arah Erik.
"Ma-maaf boss, ini darurat!" Erik langsung nyelonong masuk tanpa seizin Radit. Erik meletakkan amplop yang sejak tadi digenggamnya ke atas meja tepat di depan Radit. Radit terlihat mengernyitkan alisnya, namun tangannya meraih amplop tersebut.
Deg!
"Pengadilan agama Surabaya?" Radit segera membuka amplop tersebut kemudian membacanya. Yang ternyata isinya adalah panggilan untuk mediasi. Erik hanya diam saja dan masih berdiri di depan meja bossnya tersebut.
Radit melempar kertas tersebut ke atas meja seraya memijat kepalanya yang terasa berdenyut setelah membaca isi dari amplop tersebut. Baru dua Minggu ia tidak datang ke rumah istrinya itu guna memberikan waktu untuk sang istri menenangkan diri, namun ia malah mendapatkan kejutan yang luar biasa dari istrinya.
Ya, seminggu yang lalu Laras dengan ditemani oleh Bu Mayang ibunya, datang ke pengadilan agama Surabaya guna mengajukan gugatan cerai terhadap suaminya yaitu Raditya Erlangga.
Erik yang merasa penasaran segera meraih kertas tersebut kemudian membacanya. Seketika itu matanya langsung melotot karena kaget dengan isi dari amplop yang diterimanya tadi.
"Keluarlah!" Radit berucap lirih.
__ADS_1
"Ap-apa boss baik-baik saja?" Erik nampak khawatir dengan Radit.
"Tenanglah, aku baik-baik saja!" Radit mengangkat kepalanya untuk meyakinkan Erik bahwa dia baik-baik saja. Erik pun memilih segera keluar dari ruangan Radit. Mungkin bosnya itu memerlukan waktu untuk sendiri.
Setelah kepergian Erik, Radit segera meraih ponselnya untuk menghubungi Laras yang masih berstatus sebagai istrinya. Namun sudah beberapa kali ia menghubunginya, istrinya itu tidak mau mengangkat panggilan darinya. Akhirnya Radit memutuskan untuk mengirim pesan saja kepada istrinya itu.
[Aku akan mengabulkan gugatan cerai dari kamu, asal kamu mau bertemu dengan ku sekali saja] -Radit-
Tanpa menunggu lama, pesan yang dikirim Radit langsung terlihat centang biru. Yang mana artinya pesan tersebut sudah dibaca oleh Laras. Dan sedetik kemudian, balasan pesan dari istrinya pun masuk.
[Baiklah, datang saja ke rumah] -Laras-
Tanpa pikir panjang, Radit segera keluar dari ruangannya meninggalkan kafe, tanpa berpamitan kepada Erik yang terlihat kebingungan saat melihat bosnya itu berlari-larian.
Jarak yang tidak terlalu jauh membuat Radit dengan cepat tiba di rumah Bu Mayang mertuanya. Radit langsung menuju ke rumah yang ada di belakang warung.
Ceklek!
Laras yang memang sedang menunggu kedatangan Radit langsung membukakan pintu saat ada yang mengetuk pintu rumahnya. Dan benar saja, Radit sudah berdiri tegak di depan pintu. Radit langsung menubruk tubuh istrinya tersebut dan memeluknya dengan erat saat pintu dibuka dan melihat istrinya lah yang membukanya.
Radit menciumi puncak kepala istrinya yang selama ini dirindukannya.
"Maaf!" Hanya kata itu yang mampu diucapkan oleh Radit. "Maaf!" Sekali lagi Radit hanya mampu mengucapkan kata maaf. Sesaat Laras membiarkan suaminya itu memeluknya untuk yang terakhir kali, sebelum mereka berpisah.
Perlahan Laras mengurai pelukan suaminya, kemudian mempersilahkan Radit untuk duduk. Radit pun segera mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu.
"Apa yang ingin mas bicarakan?" Laras langsung menodong Radit dengan pertanyaan tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Huuuuuft!" Radit terdengar menghela nafasnya pelan. "Pertama, aku ingin minta maaf sama kamu atas semua kesalahan yang aku perbuat kepada kamu." Laras terlihat mengangguk. "Kedua, apa kamu sudah memikirkannya baik-baik sebelum mengambil keputusan ini? Jujur saja, aku merasa keberatan dengan keputusan yang kamu ambil. Kalau kamu hanya meminta waktu untuk menyembuhkan luka hati kamu, aku akan siap menunggu selama yang kamu inginkan, tapi tidak dengan perpisahan."
"Keputusan ku sudah bulat. Mari kita berpisah secara baik-baik mas. Percuma saja jika kita memilih untuk tetap bertahan yang pada akhirnya hanya akan saling menyakiti."
"Baiklah, jika memang itu yang kamu inginkan, aku akan mengabulkannya. Aku tidak akan pernah datang ke persidangan agar mempermudah perceraian itu. Jika aku datang ke persidangan takutnya aku hanya akan mempersulit proses persidangan." Laras mengangguk, mungkin itu jauh lebih baik. Pikir Laras.
"Boleh aku memelukmu untuk yang terakhir kali?" Mohon Radit menatap sendu ke arah calon mantan istrinya. Laras pun mengangguk kemudian berdiri. Radit pun segera beranjak dari duduknya kemudian menghampiri Laras. Radit langsung merengkuh tubuh istrinya tersebut ke dalam pelukannya. Dipeluknya dengan erat tubuh sang istri seraya mengecupi puncak kepala istrinya untuk yang terakhir kalinya. Tak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya.
"Mungkin kebahagiaan mu bukan bersama ku mas. Semoga kamu menemukan kebahagiaan mu." Ucap Laras yang juga sudah berlinang air mata.
Dua insan yang mungkin masih saling mencintai itupun saling berpelukan dalam tangis untuk yang terakhir kalinya.
*****
*****
*****
*****
*****
Tissu mana tissu ðððð
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ââðð
__ADS_1