
"Hey boy, sini!" Dokter Andrew melambai ke arah kedua anaknya yang sejak tadi duduk anteng memperhatikan sang adik yang ada di dalam box inkubator. Serempak keduanya menoleh ke arah daddy-nya.
"Ya dad!" Gerry dan Jerry segera melangkah menghampiri daddy-nya.
"Apa kalian nggak pengen kenalan sama si cantik ini?"
"Kita udah kenal dad, itu kan Radha nyebelin." Ujar Jerry cemberut seraya melipat tangannya di dada. Sepertinya dia memiliki dendam pribadi dengan Radha.
"Hey, kamunya aja yang pelit. Nggak mau pinjemin mainan." Sanggah Radha tak terima dikatain nyebelin. Ya, Radha dan Jerry memang tak pernah akur jika mereka bersama. Biasanya para Oma akan membawa cucu-cucunya dalam sebuah perkumpulannya. Dan di sanalah mereka sering bertemu. Kadang juga Mama Rosi dan mama Dona sering bergantian berkunjung ke rumah.
"Dahlah, lanjutkan saja pertengkaran kalian." Gerry memilih kembali ke tempatnya semula. Namun saat baru melangkahkan kakinya, sang Daddy sudah kembali memanggilnya. Ia pun menghentikan langkahnya dan kembali membalikkan badannya menatap sang Daddy.
"Duduk sini!" Dokter Andrew menepuk sofa di sebelahnya. Gerry pun menurut dan langsung duduk di sebelah daddy-nya. Sedangkan Jerry duduk di pangkuan Daddy-nya. "Kalian kan tadi belum kenalan."
"Adek cantik, namanya siapa?" Dokter Andrew beralih menatap Camelia. Camelia yang duduk di pangkuan ayahnya nampak menunduk malu-malu.
"Kok ditanya gak di jawab sayang?" Seno mengelus sayang kepala anaknya. Perlahan Camelia mengangkat kepalanya.
__ADS_1
"Camelia!" Jawab Camelia malu-malu.
"Aku Gerry!" Gerry mengulurkan tangannya. Dengan malu-malu Camelia membalas uluran tangan Gerry. Jerry pun langsung mengulurkan tangannya setelah jabatan tangan antara abangnya dan Camelia terlepas.
"Aku Jerry!" Camelia segera membalas uluran tangan Jerry. "Kita gak harus kenalan lagi sama si nyebelin itu kan dad?" Jerry menunjuk Radha dengan dagunya.
"Hey, nama ku Radha! Bukan nyebelin!" Teriak Radha tak terima.
"Ssssttt!" Nara meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. "Jangan teriak-teriak, nanti dedeknya kebangun nangis." Radha pun langsung terdiam.
"Hey duda karatan, loe kapan nikah lagi?" Canda Nara beralih menatap Seno. Membuat semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut ingin meledakkan tawanya saat mendengar candaan Nara. Beruntung mereka mampu menahannya. Kalau saja tawa mereka meledak bersamaan, sudah pasti akan membangunkan makhluk kecil yang sejak tadi bobok anteng di dalam box inkubator.
Deg!
Laras yang mendengar sindiran dari Seno pun refleks menoleh ke arah Seno.
"Aku sudah siap! Tapi tunggu setelah empat puluh harinya Radit." Ucap Laras yang membuat semua orang yang ada di sana terkejut. Seno yang tak menduga akan mendapat Jackpot pun senang bukan kepalang.
__ADS_1
"Yess!" Reflek Seno memekik membuat semua orang tergelak melihat tingkahnya yang seperti ABG yang cintanya baru saja diterima oleh gadis incarannya. "Maaf reflek!" Entah semalu apa muka Seno, ia tak peduli. Yang penting Laras sudah membuka hatinya dan mau menikah dengannya. Sedangkan Bu Mayang hanya mengulas senyum, namun di dalam hati tak henti-hentinya ia mengucapkan rasa syukur.
Menjelang isya' mereka semua pamit pulang. Nara memutuskan mengajak mereka semua mampir ke sebuah restoran untuk makan malam sebelum nantinya mereka kembali pulang.
*****
*****
*****
*****
*****
Sudah Emak katakan kalau ini novel berantai, jadi wajib baca ketiganya biar nggak bingung ðĪðð
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
__ADS_1
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ââðđðđ