Luka Hati Luka Diri

Luka Hati Luka Diri
Episode 30


__ADS_3

"Selamat pagi Bu Shasa, kita ketemu lagi. Mari silahkan duduk." Sapa dokter Andrew ramah saat Shasa dan Edward memasuki ruangannya. Shasa dan Edward segera mendudukkan dirinya di kursi depan meja kerja dokter Andrew. Ya, dengan diantar oleh Edward, pagi ini Shasa datang ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya.


"Oh ya Bu, siapa nama suami Bu Shasa?" Dokter Andrew menunjuk Edward yang duduk di samping Shasa.


"Saya bu-..... aaaww!" Ucapan Edward terputus saat merasakan injakan maut di kakinya. "Apa sich!" Sungut Edward kesal.


"Memangnya kenapa dok?" Tanya Shasa memastikan.


"Gak papa Bu, hanya untuk melengkapi data saja."


"Owh, namanya Edward!" Jawab Shasa mantap tanpa ragu yang membuat Edward seketika melotot tajam ke arah Shasa.


Setelah dokter Andrew melengkapi data pada buku KIA, dokter langsung meminta Shasa untuk berbaring ke atas ranjang. Dengan di bantu suster, akhirnya Shasa merebahkan dirinya ke atas ranjang tersebut. Ukuran tubuh Shasa yang mengembang membuatnya kesusahan saat ingin naik ke atas ranjang. Suster kemudian membentangkan selimut untuk menutupi tubuh Shasa serta mengoleskan gel pada permukaan perut Shasa. Setelah itu dokter Andrew mulai menggerakkan transduser untuk melihat kondisi janin yang ada di dalam kandungan Shasa.


"Usianya sudah dua puluh Minggu ya Bu. Panjangnya sekisar 35 cm. Beratnya 750 dan 740 gram."


"Apa sudah terlihat jenis kelaminnya dok?" Tanya Shasa antusias. Edward yang sejak tadi berdiri di samping Shasa pun matanya tak lepas dari layar monitor.


"Sudah Bu, mari kita lihat." Dokter Andrew kembali menggerakkan transduser-nya. "Nah, ini yang satu udah kelihatan tunasnya." Ucap dokter Andrew yang membuat Shasa berkaca-kaca.


"Yang satunya malu-malu ini gak mau di lihat Bu. Itu lihat Bu, pak, kaki dedeknya menghalangi pandangan." Ucap dokter Andrew terkekeh.


"Pola makannya tolong di jaga ya Bu, Sedikit-sedikit tapi sering itu lebih baik dari pada langsung banyak. Kalau masih lapar bisa makan buah agar tidak mengkonsumsi karbohidrat yang berlebihan."


"Baik dok!"


"Noh, dengerin kata dokter." Cibir Edward yang langsung mendapat geplakan dari Shasa.

__ADS_1


"Mulutnya gak mau diem dok." Adu Edward yang membuat Shasa melotot sebal. Dokter hanya tersenyum menanggapi tingkah pasiennya yang di anggapnya suami istri itu.


Setelah mendapatkan resep vitamin dari dokter Andrew, Shasa dan Edward segera meninggalkan ruangan dokter Andrew.


Saat di perjalanan pulang, Shasa tiba-tiba mengutarakan keinginannya kepada Edward, yang mana membuat Edward garuk-garuk kepala.


"Ed, cari pempek di sini dimana ya?"


"Apa kak?"


"Kira-kira disini ada yang jual pempek gak ya?"


"Pempek apa sich kak?"


"Itu loch, makanan khas Palembang."


Setelah Shasa turun dari mobil dan memastikannya masuk ke dalam rumah, Edward langsung melesat menuju kampus.


"Tante Yasmin!" Teriak Shasa saat memasuki rumah. "Tante Yasmin, keponakan Tante yang cantik jelita ini kepengen makan pempek Tan!" Shasa berjalan tertatih melewati ruang tengah menuju ke dapur. Ukuran perut yang dua kali lipat lebih besar dari kehamilan tunggal membuat gerakannya terbatas.


"Bik, bik Leni!" Bik Leni yang sedang mengupas buah-buahan pun menoleh.


"Non Shasa butuh sesuatu?"


"Tante Yasmin mana?"


"Barusan pergi non."

__ADS_1


"Kemana?"


"woalah, kalau itu bibik gak tau non. Tadi pamitnya cuma mau pergi gitu aja."


"Owh, bibik bisa buat pempek gak? Shasa pengen makan itu."


"Bibik belom pernah buat non, tapi kalau non Shasa pengen makan itu nanti coba bibik buatkan."


"Katanya gak bisa?"


"Kan bisa lihat tutorialnya lewat YouTube non, hehe." Bik Leni yang memang asli orang Indonesia, sedikit banyak tau tentang makanan tersebut meskipun belum pernah merasakannya.


"Ya sudah, terserah bibik saja. Aku ke kamar dulu." Shasa langsung melenggang menuju kamarnya.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘ðŸĪŠðŸĪŠ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ☕☕😂😂

__ADS_1


__ADS_2