
Sebulan setelah kepergian papa Angga, mama Shela baru bisa bangun dari keterpurukannya. Sedangkan Radit langsung terjun ke pabrik setelah seminggu kepergian papa Angga. Semenjak datang ke Bandung untuk meminta restu kepada kedua orang tuanya, Radit belum pernah pulang ke Surabaya sama sekali. Di tambah mama Shela yang masih terpuruk dan ia juga harus mengurus pabrik Tekstil peninggalan papa Angga.
Hubungannya dengan Laras juga masih berlanjut, karena setiap hari mereka selalu berkirim kabar. Meskipun sekarang mama Shela sudah kembali sehat lagi seperti semula, tetap saja ia tak tega meninggalkan mama Shela sendirian di rumah Bandung. Mama Shela juga tidak mau di ajak pindah ke Surabaya. Untuk sementara kafe dan restorannya ia pasrahkan kepada Erik.
*****
Kandungan Shasa saat ini sudah menginjak usia enam bulan. Shasa sudah tak bisa lagi menikmati lelapnya tidur. Berat badan Shasa juga meningkat dua kali lipat. lihat saja sekarang pipinya sudah macam bakpao.
Saat ini Shasa sedang melakukan panggilan Vidio call dengan mama Dona. Sebenarnya Shasa paling anti saat mama Dona menghubunginya via Vidio call. Ia selalu saja menolak dengan berbagai macam alasan. Namun kali ini dengan terpaksa ia mengangkatnya karena mama Dona mengancam akan terbang ke Singapura kalau sampe ia tak mengangkatnya. Akhirnya dengan berat hati ia mengangkatnya, dan apa yang terjadi saat pertama kali wajah mereka saling beradu pandang?
"SHASA! Ya ampuuuuun!" Pekikan mama Dona hampir saja membuat gendang telinga Shasa pecah.
"Apa sich ma teriak-teriak begitu." Shasa mengelus-elus telinganya yang berdenging.
"Kamu di kasih makan apa sama tante kamu sampe mengembang begitu?" Pekik mama Dona lagi seraya melotot. "Oh ya ampun pipi kamu Sha?" Mama Dona geleng-geleng kepala tak percaya. Baru sekitar lima bulan gak ketemu anaknya sudah berubah menjadi sumo begitu. "Coba turunin kameranya, mama mau lihat badan kamu selebar apa?"
"Eh, jangan dech ma, Shasa malu. Besok Shasa mau diet kalau begitu." Permintaan mama Dona langsung di tolak oleh Shasa. Apa jadinya nanti kalau sampe mama Dona melihat tubuh bagian perut Shasa yang ikut mengembang? Bisa runtuh seketika dunianya.
"Kamu gak lagi ngidap suatu penyakit kan Sha?" Mama Dona nampak khawatir.
"Apa sich ma, doain anak kok begitu?" Shasa cemberut.
__ADS_1
"Bukan doain Sha, mama kan khawatir."
"Ya tetap saja, perkataan itu adalah doa. Apalagi perkataan seorang ibu, ngeri euy."
"Heleh, maksud mama itu, apa kamu gak kena obesitas Sha?"
"Mamaaaaaa! Jahat banget, ngatain anak sendiri obesitas." Teriak Shasa tak terima dengan ucapan mamanya.
"Hehe, becanda sayang. Anak mama yang paling cantik dan yang paling bahenol."
"Terus-terusin aja ngeledek, aku matiin telponnya." Ancam Shasa.
"Biarin, lagian uncle Erwin udah tajir melintir, jadi amanlah masalah keuangan."
"Dasar anak durjana!" Geram mama Dona. "Kapan kamu pulang Sha, mama kangen." Sedetik kemudian mama Dona berubah sendu.
"Yah mama, baru juga lima bulan. Rencananya Shasa mau disini setahun." Jawab Shasa enteng seolah tanpa beban.
"Kenapa selama itu?" Air mata mama Dona terlihat berlinang.
"Mama kenapa nangis? Nanti kalau udah waktunya, Shasa bakalan pulang."
__ADS_1
"Waktunya? Waktu apa maksud kamu?" Selidik mama Dona.
"Bukan apa-apa ma, maksud Shasa, Shasa bakalan pulang tapi nanti kalau Shasa udah bosen disini."
Setelah berkangen-kangen ria dengan sang mama selama kurang lebih satu jam, Shasa mengakhiri panggilannya. Kemudian mengelus perutnya lembut.
"Sebentar lagi ma, sebentar lagi Shasa bakalan pulang saat anak-anak Shasa nanti sudah lahir, Shasa akan sempatkan pulang sebentar. Untuk saat ini, maaf, Shasa belum bisa pulang." Setitik air mata jatuh di pipi Shasa yang terlihat cubby.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ââðð
__ADS_1