Luka Hati Luka Diri

Luka Hati Luka Diri
Episode 97


__ADS_3

Erik nampak mondar-mandir mengurus kepulangan jenazah Radit. Sedangkan mama Shela memilih untuk istirahat di dalam ruang UGD. Kondisi fisiknya yang lemah tidak mampu lagi untuk sekedar berjalan. Namun ia harus tetap kuat agar bisa mengantarkan kepergian anaknya ke peristirahatan terakhirnya.


Berita meninggalnya Radit sudah tersebar ke seluruh keluarga, kerabat, sahabat dan juga tetangga yang ada di Bandung. Tak lupa tadi Erik juga sempat menghubungi Laras, memberitahukan bahwa Radit sudah meninggal serta menyampaikan permintaan maaf Radit kepada Laras. Laras yang mendengar berita kematian Radit sempat shock, pasalnya ia tidak pernah tahu kalau selama ini Radit sakit.


Dua jam berlalu akhirnya pintu ruangan operasi dibuka dan muncullah dokter Andrew dari dalam ruangan tersebut. Bertepatan dengan Erik yang juga sudah selesai mengurus kepulangan jenazah Radit. Dan pagi itu juga sekitar pukul sepuluh, jenazah Radit dibawa pulang ke rumah duka yang ada di Bandung.


Mama Dona yang melihat menantunya keluar dari ruang operasi segera menghampirinya.


"Bagaimana keadaan anak dan cucu Mama Ndre?"


"Alhamdulillah operasi berjalan dengan lancar ma, dan alhamdulillah mereka berdua baik-baik saja. Hanya saja bayi kami harus di inkubator karena berat badannya kurang dari 2500 gram." Jelas dokter Andrew.


Mama Dona yang akan kembali bertanya urung saat melihat brankar yang membawa Shasa di dorong keluar oleh beberapa perawat. Dokter Andrew, mama Dona dan papa Dika serta si kembar segera mengikuti nya menuju ke ruang perawatan. Dimana di dalam ruangan tersebut sudah ada box inkubator yang di dalamnya terdapat baby girl. Ya, anak yang baru saja dilahirkan oleh Shasa berjenis kelamin perempuan. Dokter Andrew tidak menempatkan anaknya di ruang NICU karena anaknya dalam kondisi sehat, dan hanya kekurangan berat badan saja yaitu 2400 gram.


Mama Dona, Papa Dika dan juga si kembar melangkah menghampiri box inkubator. Mereka hanya bisa memperhatikan bayi mungil tersebut dari luar box kaca. Sedangkan dokter Andrew langsung menghampiri istrinya.


"Terimakasih honey, Cup!" Satu kecupan mendarat di dahi Shasa. Shasa hanya bisa mengangguk seraya menerbitkan senyumnya. Entah itu ucapan terima kasih yang ke berapa kali, karena saat masih di dalam ruang operasi tadi suaminya itu sudah tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepadanya dan menghujaninya dengan ciuman bertubi-tubi.


"Ini Adeknya Gerry kan mom?" Gerry bertanya kepada mommynya tanpa mengalihkan perhatiannya pada adiknya yang ada di dalam inkubator.


"No! Ini adiknya Jerry. Adeknya Abang kan Jerry." Protes Jerry tak terima.


"Sssssttt! Gak boleh berisik, nanti adiknya kebangun nangis." Dokter Andrew mendekati kedua anaknya. "Ini adeknya Abang Gerry dan juga kakak Jerry." Jelas dokter Andrew.

__ADS_1


"Tapi adiknya Abang kan Jerry dad?" Sanggah Jerry yang rupanya masih belum mengerti.


"Iya, Jerry dan dedek bayi adeknya Abang." Dokter Andrew merasa pusing tidak tahu harus bagaimana menjelaskan kepada anaknya. "Sudah ya, gak boleh berantem. Nanti Daddy buatkan satu lagi biar nggak rebutan."


"Honey!" Protes Shasa.


"Bercanda honey!" Dokter Andrew menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sedangkan Mama Dona dan papa Dika hanya geleng-geleng kepala.


"Sayang, makan dulu ya?" Mama Dona mengelus kepala anaknya.


"Biar aku saja ma." Dokter Andrew segera mengambil makanan yang tadi diletakkan di nakas oleh seorang perawat sebelum keduluan mama Dona yang juga ingin meraihnya. Dokter Andrew segera menyuapi istrinya.


"Dedek namanya siapa dad?" Tanya Gerry ingin tahu.


"Jangan lupakan Pratama!" Sergah papa Dika.


"Tapi kan udah ada nama Andrew di belakangnya pa?" Protes dokter Andrew.


"Tetap saja harus pake Pratama biar sama dengan kedua cucu papa!" Ucap Papa Dika sekali lagi tanpa bantahan.


"Baiklah, Queena Leonard Pratama!" Putus dokter Andrew mengalah.


Seusai perdebatan tentang masalah nama baby girl, akhirnya Papa Dika dan mama Dona pamit pulang.

__ADS_1


"Papa dan mama harus ke Bandung Sha." Ucap papa Dika. Shasa yang paham hanya mengangguk.


"Nitip anak dan cucu Mama Ndre." Mama Dona menepuk punggung menantunya.


"Siap ma!" Jawab dokter Andrew memberikan hormat kepada mertuanya membuat Shasa terkekeh.


"Ayo sayang kita pulang biar mommy bisa istirahat." Ajak mama Dona kepada kedua cucunya. Gerry dan Jerry menurut, mereka terlebih dahulu berpamitan kepada mommy dan daddy-nya.


Mama Dona dan papa Dika serta si kembar akhirnya meninggalkan rumah sakit karena Papa Dika dan mama Dona harus pergi ke Bandung untuk bertakziah.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘ðŸĪŠðŸĪŠ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕☕ðŸŒđðŸŒđ

__ADS_1


__ADS_2