
Erik yang semalam mendapat kabar dari Mama Shela, pagi ini segera terbang ke Jakarta setelah memasrahkan cafe kepada Sony dan juga restoran kepada Pak Imron.
Pukul sebelas siang Erik tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta dan langsung mengendarai taksi menuju ke rumah sakit tempat dimana Radit dirawat.
Setibanya di rumah sakit, Erik segera menuju ke resepsionis untuk bertanya letak ruang perawatan Radit. Setelah mendapat informasi dari resepsionis, Erik langsung berlari mencari ruang perawatan Radit.
Dari kejauhan nampak pak Yanto duduk bersandar di kursi tunggu depan sebuah ruangan yang diyakini adalah ruangan Radit.
"Pak Yanto!" Dengan nafas memburu Erik mendekati pak Yanto.
"Eh Mas Erik, sudah sampai mas?" Pak Yanto beranjak dari duduknya.
"Tante Shela di dalam?" Erik menunjuk ke arah pintu.
"Iya mas, masuk saja." Pak Yanto mengangguk.
"Ya sudah, Saya masuk dulu Pak?" Pamit Erik melangkah menuju pintu ruangan tersebut.
Ceklek!
Mama Shela dan Radit sontak menoleh ke arah pintu yang terbuka, disusul dengan kemunculan Erik yang langsung melangkah mendekati brankar.
"Tante!" Erik terlebih dahulu meraih tangan Mama Shela lalu menciumnya. Tangan lemah Mama Shela terasa menepuk punggung Erik dua kali. Erik kemudian beralih menatap Radit.
"Loe kenapa lagi?"
"Waktu gue gak banyak Rik, dengerin gue baik-baik." Lirih Radit. "Titip kafe dan resto, nanti kalau kedua anak gue udah besar tolong berikan kepada mereka. Hanya itu yang bisa gue berikan kepada mereka."
__ADS_1
"Loe ngomong apa hah!" Sentak Erik. "Loe harus berjuang untuk sembuh, jangan menyerah kayak gini. Lemah loe!" Cibir Erik berusaha menyemangati sahabatnya. Sedangkan mama Shela sudah tidak bisa lagi membendung air matanya. Mama Shela tergugu dalam tangisnya.
"Apa loe tega ninggalin Mama loe sendirian hah!" Teriak Erik dengan mata yang memerah menahan tangis.
"Ada loe, yang akan selalu menjaga nyokap gue." Lirih Radit mencoba tersenyum. "Semua dokumen dan surat-surat penting ada di dalam brankas di dalam kamar yang ada di dalam ruang kerja gue. Sandinya tanggal lahir anak gue."
"Bukankah itu juga tanggal pernikahan loe sama Laras?"
"Ya!"
"Apa perlu gue kasih tahu kepada Laras tentang keadaan loe saat ini?"
"Jangan! Lebih baik dia tidak tahu."
*****
"Pulang aja, aku lagi nggak pengen makan apa-apa. Kita makan siang sama-sama di rumah saja." Jawab Shasa di ujung telepon.
"Baiklah, see you muuach!" Dokter Andrew langsung mengakhiri panggilan teleponnya kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Dokter Andrew bergegas keluar dari ruangannya menuju ke tempat parkir.
Perlahan mobil yang dikendarai oleh dokter Andrew melaju meninggalkan parkiran rumah sakit menyusuri jalanan ibukota yang selalu nampak padat. Apalagi di jam makan siang seperti ini. Bukan hanya jam makan siang saja, tapi juga pagi hari dan juga sore hari saat jam kerja usai.
Sekitar tiga puluh menit akhirnya dokter Andrew tiba di kediaman Pratama. Dokter Andrew segera masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke ruang makan karena samar-samar telinganya mendengar suara istrinya dari arah ruang makan.
"Honey!" Sapa dokter Andrew seraya melangkah mendekati istrinya yang sedang menata makanan di atas meja.
"Hey, udah datang?" Seketika Shasa menerbitkan senyumannya menyambut kedatangan suaminya.
__ADS_1
"Cup! Aku cuci tangan dulu." Satu kecupan mendarat di kening Shasa, kemudian Dokter Andrew melangkah ke arah wastafel yang ada di dapur.
"Kok sepi? Mama mana? Gak ikut makan? Anak-anak juga belum turun?" Dokter Andrew menarik kursi untuk istrinya, kemudian menarik kursi untuk dirinya sendiri setelah memastikan sang istri duduk dengan nyaman.
"Satu-satu kalau nanya, kan aku jadi bingung mau jawab yang mana dulu." Shasa terkekeh membuat dokter Andrew gemas dan langsung mengecup sekilas bibir istrinya.
"Iya maaf, tumben aja. Biasanya kalau aku pulang, semua sudah berkumpul di meja makan."
"Tadi Mama ikut Pak Har jemput anak-anak. Kata mama tadi sekalian mau bawa anak-anak main ke tempat tante Rosi." Dokter Andrew manggut-manggut.
"Ya udah, ayo kita makan. Setelah ini aku mau bicara sama kamu."
"Baiklah...." Meskipun Shasa penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh suaminya, namun ia tetap menghargai keputusan suaminya untuk berbicara setelah makan. Shasa pun segera melayani suaminya di meja makan.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ââðđðđ
__ADS_1