Maaf, Untuk Lukamu!

Maaf, Untuk Lukamu!
Ingin sedikit egois


__ADS_3

Deg


Jantung Keenan seperti tertikam panah tajam, hatinya sakit mendengar kata sayang dari pria di hadapannya itu. Ingin sekali dia memberi sapaan hangat di pipi Mike, namum tak punya alasan untuk melakukan nya.


Mereka berbincang di sela-sela makan, namun tak lama kemudian, perhatian keduanya teralihkan oleh kedatangan seseorang.


Dada Keenan berdegup dua kali lipat lebih kuat, netra nya menatap nanar ke arah wanita yang terlihat mematung menatap nya. Wanita yang sangat di rindukan nya itu, kini tengah berdiri di hadapan.


Netra keduanya bersitatap dalam, berusaha menyelami perasaan masing-masing. Hingga sebuah sapaan hangat, namun terdengar menjengkelkan di telinga Keenan. Menyapa wanita yang masih belum bergerak dari posisi nya berdiri.


"Sayang? Kok malah bengong di situ. Duduk sini, aku mau kenalin kamu sama seseorang yang pernah nolongin putri ajaib kita." Kata-kata yang meluncur bebas, tanpa tau jika ucapan nya telah menyakiti hati seseorang, yang tengah mengepalkan kedua tangannya dengan rahang mengeras.


"Ah, ya. Maaf. Maafkan aku telat, tadi macet banget abis antar pesanan." Ujar wanita itu dengan nada bersalah. Tanpa sedikitpun menoleh pada Keenan.


"Tidak masalah, harusnya kau sudah mengurangi menerima pesanan kue. Bukankah kita akan mempersiapkan pernikahan tiga minggu lagi." Ungkap Mike menatap wajah lelah wanita yang sangat di cintai nya itu.


Dua minggu yang, entah angin apa yang membuat wanita itu tiba-tiba mengatakan bersedia menikah dengannya. Setelah berapa kali lamaran nya di tolak mentah-mentah. Namun dia patut bersyukur, akhir nya dirinya di terima tidak hanya oleh anak-anak sang pujaan hati. Tapi juga oleh ibunya, biarlah perasaan itu datang menyusul. Dia tidak mempermasalahkan nya, perasaan siapa yang dapat memaksa. Namun dia ingin egois sekarang, wanita itu harus menjadi miliknya. Dan itu tidak akan lama lagi.


"Aku sudah terlanjur menerima pesanan itu jauh-jauh hari, sebelum rencana pernikahan itu di putuskan. Maaf." Balas Arumi tak enak hati.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Tapi setelah kita menikah, tidak ada lagi orderan apapun. Aku ingin kau fokus padaku dan anak-anak, juga adik-adik mereka nanti. Kau mengerti, sayang? Apa kita bisa sepakat soal ini?" Ucap Mike tegas sambil menatap netra sang kekasih dengan tatapan tak terbantah.


Arumi terlihat tercengang, bukan begini rencana awalnya. Membuat kue adalah hobby nya. Dan menerima pesanan adalah soal kepuasan hati, bukan semata soal uang dan penghasilan.

__ADS_1


Sementara Keenan, semakin tak nyaman berada di tengah pasangan, yang tengah mendebat soal masa depan mereka. Hatinya cemburu, sakit, dan sungguh dia ingin menumpahkan seluruh rasa sesak, di dadanya sekarang juga.


Arumi sejenak tersadar jika bukan hanya mereka yang tengah duduk di sana, merasa tak enak hati juga kikuk. Dia tidak tau bagaimana caranya bersikap di hadapan kedua pria itu.


"Astagaa! Aku sampai lupa mengenalkan mu pada Keenan. Perkenalkan, dia Keenan dan baru saja kami menjadi teman. Pria baik hati yang sudah menemukan Elsye kita secara tak sengaja di bandara." Mike mulai memperkenalkan Keenan pada Arumi dengan bahasa yang sedikit ambigu.


Keenan menatap Mike dengan tatapan tak terbaca, apa maksud nya secara tak sengaja. Meski benar, namun tidak harus di sampaikan dengan kata-kata selugas itu.


"Maaf, maksud ku. Elsye tak sengaja tertabrak oleh koper milik Keenan hingga terjatuh, namun untungnya putri cantik kita ini tidak apa-apa. Benar begitu kan, Ken?" Mike berganti menatap Keenan dengan senyum samar yang nyaris tak terlihat.


Namun Keenan yang peka, dapat melihat nya. Senyum itu mengandung makna penuh kemenangan, karena berhasil memojokkan nya di depan Arumi. Keenan mulai berpikir yang tidak-tidak. Apakah pria itu sudah mengetahui tentang nya, rasa-rasanya tidak mungkin jika Arumi yang menceritakan nya langsung.


Namun melihat sikapnya yang tiba-tiba berubah setelah kehadiran Arumi, bolehkah dirinya berprasangka buruk sekarang?


"Segala hal yang tidak terencana akibat sebuah keteledoran, memberi ku kesempatan yang patut aku syukuri. Tuhan begitu baik padaku, bukan?" kini arah pembicaraan tersebut bukan lagi soal perkenalan, namun lebih ke arah adu argumen.


Arumi mulai tak nyaman dengan situasi yang nampak mencekam tersebut. Dia tidak tau alasan, kenapa Mike begitu kekeh menyuruh nya menyusul ke restoran itu. Padahal pria itu tau, jika antaranya, berlawanan arah dari sana. Kini dia sedikit bisa menyimpulkan, akankah Mike mengetahui sesuatu tentang Keenan dan masa lalu mereka. Mendadak perasaan was-was menyelinap dalam hatinya.


Mike terdiam, dia merasa tersindir oleh perkataan Keenan. Benar memang dia sedikit teledor dalam mengawasi Elsye saat itu, karena tanpa sengaja, dirinya melihat siluet seseorang yang sangat dia kenal. Hingga saat akan membayar makanan dia harus menundanya sejenak, untuk mencari arah wanita yang baru saja dia lihat. Dan itu menjadi kesempatan Elsye untuk menghilang dari sana.


"Setiap orang lumrah dalam melakukan sebuah kesalahan, dan yakin tidak akan mengulangi nya lagi. Bukan begitu, sayang?" Mike mencari pembenaran dari sang kekasih, yang mana membuat Arumi jadi salah tingkah di buatnya.


Hanya anggukan kecil yang wanita itu berikan, suaranya seperti terkunci.

__ADS_1


"Kau benar, Mike. Setiap orang lumrah melakukan kesalahan, dan setiap kesalahan berhak untuk mendapatkan kesempatan, bukan?" Bala Keenan kembali menantang.


Wajah Mike seketika pias, seperti nya dia sudah salah melempar umpan. Niat hati ingin membuat lawan nya terpojok, malah tanpa sengaja memberikan celah untuk berenang bebas.


Pria itu mulai mengalihkan topik pembicaraan mereka yang sudah mulai memanas. Lebih baik menyirami nya sebelum api itu sulit untuk di padamkan. Itu adalah teknik penyelamatan diri yang umum terjadi. Dan dia akan mempraktekkan nya sekarang.


"Aku sudah memesankan makanan kesukaan mu, ini baik untuk kesehatan mu sayang. Aku ingin setelah menikah, kita tidak menunda untuk segera memiliki momongan. Aku ingin Mike junior satu bulan setelah pernikahan kita, sudah otw di dalam perut mu." Ujar Mike seraya mengulurkan tangannya untuk menyentuh perut Arumi.


Namun Arumi dengan sigap menahan nya, dia tidak ingin situasi disana semakin memanas. Bisa saja keduanya tidak hanya adu argumen, melainkan adu otot juga.


"Maaf Mike, ada anak-anak" ucap Arumi memberi pengertian. Ekor matanya menangkap bayangan wajah Keenan, yang nampak memerah menahan amarah.


"Aku ingin makan, aku sudah sangat lapar. Hey, kalian berdua kenapa diam saja sejak ibu datang, hmm?" Arumi menoel hidung sang putri, namun mendapatkan dorongan halus dari sang anak.


Membuat Arumi menatap heran pada putrinya. "Hey, kalian kenapa? Apa ibu membuat kesalahan? Ayo, coba ceritakan." Ujar Arumi meminta penjelasan kemudian menatap Mike dengan wajah bingung.


"Mereka kesal padamu, mereka ingin kita segera menikah secepatnya. Namun masih harus tertunda tiga minggu lagi. Dan itu membuat anak-anak kita sedikit kesal" jelas Mike sengaja menekan kata 'anak-anak kita', seraya melirik Keenan dengan tatapan mengejek.


"Eh? bukankah kita sudah bersepakat soal itu, dan kalian tidak ada yang protes. Lalu kenapa sekarang berbeda? Apa ada yang ibu lewatkan selama beberapa hari ini, kiddos?" Arumi menatap kedua anaknya dengan tatapan menyelidik, kemudian melempar kan pandangan pada pria di samping nya.


∆Mohon dukungannya ya, Readers baik hati🤗🤗


supaya aku semangat buat lanjut nulis cerita Keenan-Arumi.

__ADS_1


∆Mohon di bantu di promosikan juga sekalian ya, dan makasih buat yang udah mampir🙏🙏😘😘🥰🥰


__ADS_2