Maaf, Untuk Lukamu!

Maaf, Untuk Lukamu!
Tidak peka


__ADS_3

Arumi bersungut-sungut tak jelas, Keenan masih betah memejamkan kedua matanya. Terang saja, pria itu pasti sangat kelelahan, sebagai yang paling mendominasi permainan penuh peluh tadi. Sudah pasti, Keenan yang paling lelah.


Arumi merasa kan perih di area inti nya, bahkan bergerak saja sakit dan ngilu. Namun lihatlah si pembuat ulah, malah tidur nyenyak tanpa rasa bersalah.


Sesekali wanita itu mengecek ponselnya, takut kalau-kalau anak-anak nya mencarinya. Namun hingga kini ponsel nya masih aman, damai dan tentram. Perlahan wanita itu beranjak menuju kamar mandi, badannya lengket dan dia mulai risih.


Keenan mengerjab kedua matanya, setelah meraba sisi kirinya yang kosong, segera pria itu bangun. Matanya menelisik setiap sudut kamar, siapa lagi yang dia cari kalau bukan istri tercinta nya, yang baru saja dirinya bantai habis-habisan.


Klek


Arumi keluar dengan kimono, dan handuk di kepala nya. Wanita itu sudah lebih segar setelah berendam air hangat. Tatapan Keenan tak beralih dari istri nya, yang terlihat semakin cantik saja.


"Mandi kok tidak membangunkan ku?" rajuk Keenan protes.


Arumi yang tidak memperhatikan jika suami nya sudah bangun terjengkit kaget. "Bisa tidak jangan membuat ku kaget" rupanya, wanita itu masih menyimpan dendam atas ulah Keenan tadi.


"Astagaa! galak bener, untung cinta. Udah pesan makan belum?" Keenan segera mengalihkan topik sebelum hal tadi jadi pembahasan.


"Belum, pesankan dong. Aku cape" titah Arumi lalu duduk di depan meja rias. Tidak banyak yang dia bawa, hanya lipstik dan bedak saja. Juga parfum tentunya. Karena memang tidak terencana. Mereka berakhir di hotel tersebut hasil muslihat sang suami.


Keenan beranjak lalu berjalan ke meja kecil, rupanya Keenan sedang menelpon bagian restoran hotel, untuk memesan makanan.


Arumi mendelik sebal melihat suaminya yang begitu santai, berjalan kesana kemari tanpa menggunakan apapun di tubuhnya.


"Pergi mandi gih, sekalian." lalu fokus pada kegiatan nya, dirinya masih malu jika melihat Keenan dalam keadaan naked.


"Ya, yang mulia ratu. Suami tampan mu ini mau mandi dulu. Cium dulu sini" Keenan mengarah kan bibir nya namun Arumi mendorong pelan. Membuat bibir Keenan semakin manyun.


"Aku baru abis make lipstik ih, jangan cium-cium dulu. Buruan mandi sana" dorong Arumi pelan.


"Ck! lain kali tidak usah pakai lipstik segala, aku jadi susah mau cium-cium." Sungut Keenan berlalu menuju kamar mandi. Arumi geleng-geleng melihat tingkah labil suami brondong nya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Keenan masih belum kembali?" Reegan duduk di samping sang istri, kini mereka tengah duduk di gazebo taman belakang. Keduanya sedang menjaga para cucu, anak Keyra dan anak Keenan. Sementara kedua orang tua anak-anak itu tengah mencetak cucu baru untuk mereka.


"Belum, katanya balik malam. Tapi bunda kaya tidak yakin," ujar Sarah meragukan sang anak. "Keenan itu persis ayahnya, janji nyicil eh bablas" skak, Reegan tidak punya pembelaan.


"Kan ayah hanya berusaha mengamankan bunda, yang saat itu juga lagi mau di pinang sama laki-laki lain." Elak Reegan berdalih.


"Elahh, alesan ayah tuh." Sanggah Sarah mendelik.


Reegan tertawa renyah, istri nya ini benar-benar menggemaskan kalau sudah manyun begini.


"Kan bunda juga mau, ya ayah kasih lah. Kan sayang, kalau barang bagus dan enak di anggurin" kelakar Reegan terkekeh geli, melihat tatapan tajam sang istri.


"Aku tidak yaa, ayah tuh yang maksa. Aku bisa apa" bela Sarah tak mau kalah.


"Ya ya, ayah yang maksa, ayah yang salah" Reegan menyerah saja dari pada memperpanjang masalah.


"Memang" jawab Sarah puas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bisa diem tidak sih, berisik banget. Yang tinggal di sini bukan situ doang" cerca Diana emosi, tidur siang nya terganggu oleh suara ribut anak-anak bermain.


"Maaf ya mbak, kalau mbak nya merasa tidak betah, pindah aja. Kami di sini punya anak semua, otomatis bakal berisik setiap hari." Tegas seorang wanita sekitar usia 30an. Lalu menatap sinis ke arah perut Diana.


"Belum lagi anak mbak lahir, bisa jadi lebih berisik dari anak-anak kami." Lanjut nya tak kalah sengit.


Diana kesal bukan main, jika saja langganan nya tidak menyukai pelayanan nya karena kehamilan nya itu, maka si janin akan dia biarkan luruh dari dalam perut nya. Wanita itu berbalik menuju kontrakannya, dengan gerutuan tak jelas.


"Ih, bunting tidak punya suami aja belagu" ujar seorang wanita yang anaknya baru saja dimarahi oleh Diana.

__ADS_1


"Tau tuh, padahal lagi hamil. Tapi kaya tidak suka begitu sama anak-anak, heran." Sambung wanita satunya.


"Ya, heran juga aku. Jangan-jangan itu anak hasil hubungan mati listrik, gelap jeng" wanita lainnya pun menimpali lalu mereka tertawa terbahak.


Diana terang saja mendengar ucapan para wanita laknat menurut nya, namun di abaikan nya begitu saja. Dirinya butuh istirahat, karena jam kerjanya yang seperti burung hantu. Siang molor, malam ngeloyor. Menanti para penjelajah lubang hangat miliknya. Jadi Diana memutuskan untuk melanjutkan tidur siang nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Waktu berlalu, kini usia pernikahan Keenan sudah memasuki bulan keempat. Usia kehamilan Arumi bahkan lebih tua 2 minggu, akibat tingkat kerajinan Keenan yang tak di ragukan lagi.


"Cape? duduk dulu sini, biar bi Surti aja yang lanjutin." Keenan menuntun sang istri ke kursi di meja makan. "Minuk dulu, nih" Dengan telaten pria itu memegangi gelas istri nya kemudian mengelap bibir basah wanita itu.


Arumi memang tidak mengalami mual muntah, namun semakin kesini dirinya seperti gampang lelah meski hanya bergerak sedikit. Padahal perutnya sedang saja, tidak seperti saat hamil anak pertama mereka. Namun rasanya lebih melelahkan. Arumi bahkan tidak bisa mencium aroma bantal, matanya hanya butuh waktu beberapa detik saja untuk terlelap.


Meski Keenan awalnya uring-uringanan, namun dia memahami betul kondisi sang istri. Dirinya hanya belum terbiasa, maklum waktu Arumi hamil Elsye dan Eiden, Keenan masih labil. Jiwa remaja nya masih membara dan liar.


Kini dia menyesali hari-hari berat yang dulu di alami istri nya, andai pikiran nya sudah sedewasa sekarang, pasti dia ikut merasakan bagaimana riwehnya menuruti keinginan ibu hamil. Namun kini dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan padanya. Untuk itu Keenan selalu sabar, jika mendapati istrinya sudah terlelap saat di pulang malam. Walau pun itu baru pukul 8 atau paling lambat pukul 9 malam. Sang istri sudah berkelana di alam mimpi nya. Keenan tak pernah protes lagi.


"Mau di buatin jus atau smoothies, tidak? mau nya apa, di kulkas ada mangga, alpukat, apel, pisang, stroberi, semangka sama melon." Keenan mendikte semua nama buah yang ada di kulkas. Kalau di tanya, bagaimana pria itu bisa tau. Karena dia lah yang membelikan semua jenis buah-buahan tersebut.


"Anggur ada? tiba-tiba pengen" Arumi terlihat menelan ludahnya berkali kali, begitu pun Keenan. Bukan karena dirinya menginginkan buah tersebut, namun buah yang di inginkan oleh sang istri. Tidak ada dalam daftar belanjaan nya kemarin. Dalam kata lain, dia melihat buah itu, namun memilih melewati nya begitu saja. Kini dirinya benar-benar dalam masalah besar.


"Itu... aku lupa sayang, maaf" cicit Keenan pelan "aku pergi beli dulu ya, tungguin masih bisa tidak?" Keenan mencoba bernegosiasi untuk mencari solusi bersama.


Arumi terlihat sedang berpikir, "seperti tidak usah deh, takut nya kaya tempo hari, aku nya tiba-tiba udah tidak ingin lagi karena menunggu terlalu lama" skak, Keenan merasa tersindir, walau dia tau sang istri bukan bermaksud menyindir nya.


"Maaf untuk yang waktu itu, aku benar-benar teledor. Sampe lupa persenan mu" ujar Keenan merasa bersalah. Istri nya bahkan rela tidak makan dan tidur lambat, meski rasa lapar dan ngantuk sudah di pelukan mata. Demi menunggu sate pesanannya, Keenan malah lupa. Alhasil saat Kembali lagi, rombong nya sudah pergi karena satenya habis di borong muda mudi, yang sedang malam mingguan.


Akhirnya Keenan rela keliling Jakarta, hanya untuk mencari penjual sate yang masih on di jalanan. Dan setelah mendapat kan nya, Arumi sudah tertidur di sofa ruang keluarga. Wanita itu kelelahan menunggu nya dalam rasa lapar yang menyiksa. Terang saja, sudah pukul 1 malam, artinya Keenan sudah berkeliling hingga 2 jam lamanya.


"Mini market depan komplek seperti nya ada, bagaimana kalau kita pergi belinya berdua, kau boleh ikut kalau mau." Tawar Keenan tak menyerah, dia ingin tetap menjaga mood wanitanya agar selalu happy.

__ADS_1


"Boleh, ayo!" ujar Arumi begitu bersemangat, Keenan sampai melongo. Jadi istri nya memang ingin pergi keluar rupanya, astagaa! kenapa dia bisa sampai tidak peka. Wanita hamil itu stress terus-menerus di rumah, namun tidak mau mengatakan apapun padanya. Mungkin tak ingin membuat Keenan terbebani, padahal dirinya tidak masalah sama sekali.


Keduanya pun pergi Menuju minimarket tak jauh dari rumah, untuk mencari buah anggur yang diinginkan oleh sang istri. Keenan terus melafalkan doa, agar buah itu ada di sana.


__ADS_2