Maaf, Untuk Lukamu!

Maaf, Untuk Lukamu!
Pedekate Ala Om Daru


__ADS_3

"Ck! pedekate apa nya" ketus Daru sewot.


"Seperti nya ada yang lagi galau gara-gara pucuk kita yang baru mekar." Seloroh Mike lanjut menggoda Daru, saat melihat wajah kesal tercetak jelas di sana.


"Berhenti meledek ku kalau tidak bisa membantu ku" tukas Daru semakin dongkol.


"Kenapa tidak kau samperin saja ke kampus nya? saat jam pulang, dahului calon mertua galakmu itu. Kau pasti bisa mengajak Imah ikut pulang dengan mu, tapi tetap jagalah image mu. Jangan sampai Imah tau, kalau kau memang sengaja ingin menjemput nya." Saran Mike seketika membuat binar di wajah Daru kembali bersinar.


"Kenapa kau tidak mengatakan sejak kemarin " Balas Daru bukan nya berterimakasih.


"Kau ini, sudah untung calon suami ku membantu memberi mu ide. Bukannya berterima kasih malah mengomel " protes Alisya membela kekasihnya.


Rini masih melongo, situasi saat ini masih sulit dia pahami, bagaimana bisa bos nya begitu santai saat tunangannya menyebut pria lain kekasihnya bahkan cakon suami nya. Paham akan diam nya Rini, Alisya tersenyum samar.


"Oya, aku ingin memberikan undangan. Kebetulan bertemu di sini, aku tidak harus repot-repot ke kantor mu. Ini untuk mu juga, yang ini untuk Ardan." Alisya memberikan kartu undangan pada Daru san Rini juga menitipkan satu undangan untuk asisten mesum Daru.


"Ibu mau nikah sama pria ini?" tanya Rini tiba-tiba menyela, lidahnya sudah gatal ingin bertanya sejak tadi.


"Tentu saja, masa dengan bos mu. Kau ini, ada-ada saja." Sahut Alisya ngambang, membuat otak Rini semakin pusing di buatnya.


"Tutup mulut mu, nanti bisa di masuki lalat kalau terus menganga seperti itu." Rini berdecak kesal.


"Bapak ini semakin lucu saja, mana ada di restoran mahal seperti ini ada lalat nya." Sanggah Rini polos, otak nya bleng dengan keadaan yang ada. Karena yang mengetahui kandas nya hubungan sang bos dan wanita di samping nya hanya lah Ardan saja.


"Jangan sampai tidak datang ya, aku tunggu. Kami mau permisi dulu, tadi sudah order via telepon untuk take away. Jadi tinggal di ambil saja." Alisya pamit pada mantan kekasih nya juga sekretaris nya.


"Pak?"


"Hmmm?" deheman Daru membuat nyali nya mendadak ciut.

__ADS_1


"Kalau kau ingin bertanya soal hubungan ku dengan Alisya. Kami sudah putus sejak 8 bulan yang lalu." Sahut Daru enteng "Aku berselingkuh, dan Alisya memergoki nya. Sekarang wanita baik hati itu akan menikah dengan dokter tampan tadi. Jadi, jika kau belum ada pasangan. Kita bisa pergi bersama, dari pada kau malu datang sendiri, mending bersama ku saja." Rini berdecih dalam hati. Beliau saja tidak memiliki pasangan, sok-sokan berusaha menyelamatkan urat malu orang lain.


Intinya kalau saling membutuhkan, tinggal bilang saja. Tidak perlu berkelit seperti itu.


"Ayo kita kembali, Ardan pasti sudah kekenyangan sekarang." Ucap Daru ambigu. Rini hanya mengangguk, walau kualitas otak nya tidak sampai ke sana.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


"Mah, pulang aku antar ya?" tawar Rendy untuk kesekian kalinya.


"Tidak perlu, Ren. Ayah ku yang akan menjemput seperti biasa nya " Tolak Imah sehalus mungkin, diatara banyak pria, Rendy lah yang paling gigih mendekati nya, walau respon nya datar-datar saja.


"Sesekali lah Mah, masa setiap hari diantar jemput orang tua terus. Kau kan sudah dewasa, apa tidak risih." Lanjut Rendy mengompori.


"Tidak, biasa saja. Aku lebih suka jika pulang pergi bersama orang yang aku kenal baik. Lebih aman saja" sergah Imah tak terpengaruh.


Rendy sedikit kesal, susah sekali membujuk gadis itu pikir nya. Banyak wanita bahkan rela mengantri untuk di antar pulang olehnya. Tidak jarang memberikan nya imbalan plus-plus tanpa di minta.


Suara klakson mobil mengagetkan Imah dan Rendy, Rendy mengekori Imah hingga ke halte di depan kampus, agar bisa mengajak gadis itu pulang bersama nya. Namun lagi-lagi di tolak.


"Imah? aku pikir aku salah lihat. Kenapa masih di sini, apa ayah mu belum menjemput ?" tanya Daru basa basi, padahal tangan nya sudah gatal ingin menonjok pria yang terus memepet calon istri masa depan nya.


"Masih nunggu abi, om. Om baru pulang kerja?" Om? astaga! Imah. Ingin sekali Daru melahap bibir mungil Imah sanking gemas nya. Sejak kapan gadis itu memanggil nya om.


"Ya, aku baru pulang kerja, tak sengaja melihat mu duduk di sini. Sudah menghubungi ayahmu belum, tunggu di mobil ku saja. Di sana panas " titah Daru, mata nya sudah tak betah melihat Rendy yang semakin mepet pada Imah.


"Di sini saja om, tidak apa-apa. Matahari sore baik untuk kesehatan " tolak Imah halus, bisa-bisa tanduk ayah nya langsung tumbuh 10 meter kalau melihat nya duduk berdua dalam mobil Daru.


"Ck! tau deh yang calon Dokter, ngomongin soal kesehatan jago nya. Aku akan menemanimu sampai ayahmu jemput kalau begitu " Daru keluar dari mobil melangkah menuju halte, dengan gaya cool Daru menyela diantara Imah dan Rendy.

__ADS_1


"Loh, om. Ini kan tempat saya, kenapa om main duduk aja sih?" Ujar Rendy kesal.


"Suka-suka saya, memangnya disini ada tertulis namamu, begitu ? tidak ada kan? udah jangan ribet, Pulang sana. Itu pasti motor mu kan?, kenapa kau malah ikut menunggu di sini." Usir Daru seenak jidat. Rendy mengeram kesal, susah payah dia berusaha merayu Imah agar mau pulang dengan nya. Kini malah di ganggu oleh kehadiran om-om gaje.


"Mah, aku pulang duluan ya. Besok aku jemput ke rumah ya, bye!" Belum sempat Imah menolak motor besar Rendy sudah melesat pergi.


"Coba hubungi ulang ayahmu, tumben dia lambat menjemput." Daru sudah tidak sabar agar Imah ikut dengan nya. Imah menuruti, namun sampai panggilan ke tiga, masih belum di respon. Imah mulai gelisah hari ini dia ada kelas sore, untuk itu dirinya kekampus tengah hari tadi di jemput oleh sang ayah dari kantor. Ujang cuti sakit, maklum sudah umur nya. Dan mereka belum menemukan pengganti yang cocok.


Keenan rela bolak balik kantor, agar bisa mengantar anak-anak nya Pulang pergi sekolah dan kuliah.


"Masih belum di respon ? ikut aku aja, udah kenal ini. Nanti biar aku aja yang ngomong dengan orang tua mu, sudah sore. Tidak baik anak gadis sendirian," 'tar banyak mata jelalatan yang menatap mu, aku cemburu!' lanjut Daru dalam hati.


Imah terlihat menimbang, hingga akhirnya mengangguk pasrah. Daru bersorak senang dalam hatinya.


Dengan sigap, Daru membukakan pintu untuk Imah.


"Aku bisa sendiri om" tolak Imah namun tak di gubris oleh Daru.


Sepanjang perjalanan, Daru dan Imah sama-sama terdiam. Daru jadi kesal sendiri.


"Mah, sejak kapan panggilan mu padaku berubah. Perasaan terkahir kita bertemu, panggilan mu masih normal-normal saja." Tanya Daru memecahkan keheningan diantara mereka.


"Di suruh abi, katanya tidak sopan memanggil orang yang jauh lebih tua dengan sebutan kau." Jelas Imah. Daru merutuki mulut lemes Keenan yang sudah mencuci otak Imah.


"Aku tidak masalah, panggil saja seperti biasa. Aku tidak terbaisa kau panggil seperti itu, terasa aneh di telinga ku." Pinta Daru melirik kilas pada Imah.


"Tapi nanti abi bisa marah, lagi pula aku merasa nyaman dengan panggilan itu. Lebih sopan saja, aku suka." Ujar Imah kukuh. Daru melengos ke samping, wajahnya kesal dan tak ingin Imah melihat nya.


"Kita makan dulu ya, aku belum makan sejak siang tadi. Pagi tadi juga tidak sempat sarapan" dusta Daru memelas. Imah terlihat berpikir, ada rasa iba di hati nya.

__ADS_1


"Habis makan langsung pulang tapi" ujar Imah ragu-ragu, Daru langsung mengangguk cepat.


__ADS_2