
Selesai makan Daru duduk termenung di ranjang nya, sementara Imah mengelap piring dan gelas yang baru saja dia cuci.
"Sudah malam tidurlah, mudahan besok kau sudah boleh pulang. Aku harus kembali ke kehidupan nyata, bukan hanya mengurusi mu saja." Ujar Imah tanpa menoleh, Daru menatap gadis yang tengah duduk dalam posisi menyamping dari arahnya.
"Kalau kau mau pulang, tunggu lah aku benar-benar sehat dulu. Aku akan mentraktir mu makan ubi rebus dan terasi kesukaan mu itu." Balas Daru memberikan penawaran. Entah kenapa dia merasa nyaman dengan kecerewetan Imah padanya, rasanya seperti diperhatikan dengan tulus namun dalam bentuk yang berbeda. Bukan berarti saat bersamaan Alisya tidak diperhatikan, hanya saja, Alisya yang terlalu membebaskan dirinya melakukan apapun yang dia sukai tanpa pernah sekalipun gadis itu protes. Padahal dia ingin sesekali Alisya melarang nya ini dan itu, dengan begitu dia bisa tau, apa saja yang kekasih nya tak sukai.
"Di kebun belakang rumah ku juga banyak tanaan ubi, umi bisa memasak nya untuk ku dan aku bisa membuat sambal terasi sendiri tanpa harus beli. Jangan terlalu terbiasa makan makanan di luar, kadang rasanya memang jauh lebih enak, tapi tetap saja menu rumahan meski sederhana, bisa membuat mu kenyang maksimal dan tentunya sehat." Nasihat Imah bijak, tanpa tau jika kata-kata nya tanpa sengaja telah menyentil hati kecil Handaru.
Daru tersindir oleh kalimat Imah, dalam versi berbeda. Dia yang suka jajan dengan wanita lain yang bahkan juga dicicipi oleh orang lain.
Daru berdehem untuk menghalau rasa sesak nya. "Kau ambil kuliah ambil jurusan apa?" tanya Daru mengalihkan pembicaraan.
"Dokter bedah. Jadi berhati-hatilah padaku, bisa saja kau membedah perut mu lalu menjual ginjal dan jantung mu nanti kalau aku kesal." Ucap Imah sekenanya.
"Dasar calon psikopat." Gumam Daru yang masih terdengar jelas oleh Imah.
"Cepat tidur, sesi tanya jawab selesai." Titah Imah seperti seorang ibu memerintah kan anak nya.
"Ya ya, dasar cerewet" Daru kembali merebahkan tubuh nya, menarik selimut hingga batas leher nya. Imah pun mulai merebahkan tubuh lelah nya, namun membelakangi Daru. Daru merengut kesal, dia masih ingin mengajak gadis galak itu berbicara. Tentu akan sulit menemui gadis itu lagi jika dia sudah keluar dari rumah sakit, oleh sebab itu, dia ingin memanfaatkan kebersamaan mereka dengan baik. Sekaligus memantapkan hati nya agar benar-benar pulih dan merelakan Alisya.
Mata Daru mulai berat, di tatapnya punggung Imah yang terlihat teratur. Artinya gadis itu sudah tidur nyenyak. Kaki nya perlahan menuruni ranjang menuju ranjang Imah. Ditatapnya wajah oval Imah yang menggemaskan, masih sangat muda, dan dia sedikit tidak percaya diri. Mengingat jika Keenan hampir seusia dengan nya. Namun pesona gadis galak itu, telah mencuri perhatian nya.
"Kau mampu mencuri perhatian ku dengan begitu mudah, bahkan sedikit demi sedikit menyembuhkan luka yang ku buat sendiri tanpa aku sadari. Andai Tuhan masih berbaik hati pada pria pendosa seperti ku untuk kembali merajut cinta, aku ingin kau yang mengisi lembaran baru dalam hati ku kelak." Daru berjongkok, membelai pipi bulat Imah yang tak sesuai dengan bentuk wajahnya yang oval.
"Selamat malam, gadis cerewet ku. Mimpi yang indah" entah keberanian dari mana, Daru mengecup kening Imah. Ada gelayar aneh menyelinap ke dalam hatinya, saat bibir nya menyentuh kening gadis itu. Seperti ada perasaan membuncah layaknya orang yang tengah jatuh cinta. Ditatapnya nya sekali lagi wajah damai Imah, benar-benar gadis kecil yang spesial batinnya tersenyum lembut.
Daru kembali ke ranjang nya, sepanjang malam matanya sulit terpejam. Tubuhnya terus dimiringkan ke arah ranjang Imah, tak rela melepaskan pandangannya dari gadis itu barang sejenak.
"Ahkk.. bisa gila aku kalau begini terus..." rutuk nya pada diri sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
"Pagi sayang" sapa Mike saat melihat kekasihnya menghampiri nya.
"Maaf ya, aku bangun terlambat lagi." Sesal Alisya lalu memeluk Mike dari belakang. Pekerjaan nya di butik sungguh menyita banyak waktu nya, sudah tiga hari ini diri nya pulang dini hari. Dia mulai berpikir, mungkinkah karena kesibukan nya dulu, membuat Daru berpaling darinya. Seketika rasa takut menyeruak dalam hati nya, jika saja Mike mulai menyerah padanya.
Mike berbalik, lalu mengangkat dagu Alisya "tidak apa-apa sayang, aku tidak masalah. Aku hanya takut kau jatuh sakit karena terlalu kelelahan, itu saja. Perhatikan makanan mu, jangan asal mengisi perut mu jika lapar. Kau bisa terkena magh" Nasihat Mike bijak.
"Aku akan berhenti dari butik dan menyerahkan semuanya pada Prita(asisten nya). Aku ingin fokus menjadi istri mu saja dan ibu yang baik dan punya banyak waktu bersama keluarga. Apa kau tidak keberatan jika aku menjadi pengangguran " seloroh Alisya, Mike terkekeh pelan.
"Uang ku milik mu, uangmu milikmu dan anak-anak kita. Jangan mencemaskan apapun, meski tidak besar, gaji ku cukup untuk sesekali membelikan tas atau sepatu branded untuk mu." Kelakar Mike membuat keduanya tertawa renyah.
"Imah tadi chat, kalau Daru sudah sadar. Hari ini kita akan menjenguk nya, bagaimana ?" tawar Mike menatap kekasihnya.
"Boleh, coba telpon Imah. Dia mau di bawakan apa, anak itu kecil-kecil tapi kuat sekali ngemil." Kekeh Alisya mengingat keponakan nya itu.
"Dia sedang dalam masa pertumbuhan sayang, biarkan saja. Usianya belum genap 19 tahun, jadi tidak masalah. Lagi pula aku lihat, kedua orang tua nya yang over protective itu, selalu menjejali perut putri mereka dengan berbagai makanan tanpa peduli anak gadis nya bisa saja berubah seperti balon udara." ujar Mike mengingat bagaimana setiap hari Keenan datang ke rumah sakit untuk mengantarkan makanan pada putrinya.
Dia salut pada keduanya, mampu berbagi kasih sayang dengan sama rata. Meski Imah di adopsi di usia remaja, namun kedekatan mereka layaknya anak dan orang tua kandung.
"Kau benar sayang, itu karena kak Arumi merasa senang, akhirnya masakan nya ada yang menghabiskan nya. Elsye sangat menjaga pola makan nya, lihat saja tubuh putri mu itu, ceking sekali." Tukas Alisya mengingat salah satu keponakan nya yang laling takut akan perubahan tubuhnya.
"Tentu saja, aku menyayangi semuanya, Imah pun sama. Gadis itu cepat mengambil hati banyak orang termasuk kedua orang tua ku." tukas Alisya.
"Ya, dia punya magnet tersendiri. aku harap Daru tersihir oleh nya, dan segera bisa move on sepenuhnya dari mu." Seloroh Mike merapikan rambut Alisya.
"Dan bisa dipastikan, bagaimana repot nya Daru menghadapi sikap protektif Keenan. Tidak akan mudah pastinya" sambung Alisya tertawa geli, dia sudah berdamai dengan hati nya. Rasanya pada Daru tidak lebih dari rasa kasihan, mereka mengenal selama bertahun-tahun lamanya. Wajar saja, jika rasa iba itu selalu ada.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keenan terus menatap penuh selidik ke arah Daru, membuat pria itu kesulitan mengunyah makanan nya dengan benar'.
"Bi? abi?" tegur Imah melihat tatapan tak biasa sang ayah oada pasien nya.
__ADS_1
"Eh? ya sayang? udah selesai belum? Abi mau ke kantor dulu, pintu nya jangan ditutup. Takut ada singa lapar menerkam akan abi nanti" sindir Keenan membuat Daru tersedak, Imah yang akan menghampiri tertahan oleh perintah sang ayah.
"Biarkan saja, sudah besar kenapa makan nya tidak hati-hati. Tidak malu pada umur" ketus Keenan. Ingin sekali Daru melempar piring nya ke arah Keenan, namun mengingat jika pria itu adalah kandidat calon mertua nya nanti. Maka niat tersebut dia urungkan.
"Pagi? loh Ken ? belum berangkat ke kantor,?" Alisya menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 8 lewat.
"Ini baru mau berangkat, tolong jaga putriku. Aku takut ada singa buas memakan putri polosku" ujar Keenan melirik sinis ke arah Daru yang masih menunduk mengaduk isi piring nya. Selera makannya hilang akibat mulut bon cabe Keenan.
"Siap, berangkat gih" titah Alisya pada sahabat nya.
"Imah, abis berangkat dulu. Tidak perlu terlalu repot mengurus nya, nanti abi bilang pada mama Keyra, agar membiarkan mu pulang hari ini." Ujar Keenan berhasil membuat kepala Daru terangkat sempurna, dan otu dilihat oleh Alisya dan Mike. Keduanya tersenyum penuh arti melihat reaksi tak terima Daru.
"Ya bi, Imah juga udah banyak tugas yang menumpuk." Ujar Imah menurut. Setelah kepergian Keenan, Alisya dan Mike mengahampiri ranjang Daru. Namun fokus pria itu masih tertuju oada Imah, sampai tak menyadari jika ada dua manusia yang menatap nya sejak tadi.
"Khemmm..." Mike berdehem menyadarkan Daru dari lamunannya. Daru menoleh salah tingkah, pada kedua pasangan tersebut.
"Bagaimana keadaan mu?" tanya Alisya ramah. Daru sejenak terdiam, dia beri mencerna situasi hati nya. Tidak ada lagi getaran di sana, fix. Jika pesona Imah telah menyembuhkan hati nya.
"Baik. Terimakasih telah menolong dan merawat ku." Namun ekor matanya melirik ke arah Imah yang tengah duduk di sofa memakan cemilan nya.
"Sudah seharusnya, kita tolong menolong, bukan ? apa keponakan ku merawat mu dengan baik ?" tanya Alisya mengalihkan perhatian Daru dari keponakan nya.
"Tentu saja, dia merawat ku dengan baik juga hati ku" ucap Daru tanpa sadar, bibirnya tersenyum lembut ke arah gadis itu. Alisya lega sekaligus iba, iba karena perjuangan Daru tidak akan semulus tol untuk mendapatkan keponakan nya itu.
"Eh, itu tadi. Maksud ku, dia merawat ku dengan baik juga luka ditanganku" jelas Daru gugup, Mike menepuk bahu Daru pelan.
"Tenang saja, kami bukan Keenan. Kau aman jika memuji keponakan ku tanpa didengar oleh ayahnya." Seloroh Mike mencairkan suasana, keduanya tertawa kecil seperti dua orang sahabat.
"Dia unik, sederhana dan berbeda. Sayang sekali, aku terlalu buruk dan tak tau diri telah menyukai nya." gumam Daru tersenyum miris.
"Setiap manusia pasti pernah berbuat salah, kau tidak tau saja jika pria seperti ku ini adalah mantan seorang napi." Kekeh Mike terdengar lirih. Daru terkesiap, tak percaya apa yang dia dengar.
__ADS_1
"Jadi, selamat berjuang. Pastikan jangan menyia-nyiakan lagi apa yang sudah kau miliki. Mempertahankan itulah bagian tersulit daripada mendapatkan. Percayalah, aku setiap hari was-was jika wanita ku berpaling pada pria sempurna di luar sana. Rasanya sungguh menyiksa" Mike tanpa sadar mencurahkan isi hati nya.
Daru mencerna kalimat penuh makna Mike dengan baik, benar, mempertahankan jauh lebih sulit dari pada berusaha untuk mendapatkan. Di tatapnya gadis yang tengah berbincang dengan Alisya, senyum nya terbit secerah mentari pagi. Akan dia perjuangan gadis itu walau tantangan nya tak mudah. Usianya sudah 33 tahun, terlampau jauh memang. Namun apa salahnya berusaha, dia harap Imah belum memiliki calon tambatan hati yang lain. Akan lebih mudah memperjuangkan gadis itu nanti nya.