
"Keenan dan Arumi belum kembali?" Sarah bertanya pada Keyra yang nampak sibuk, menggoreng ubi pemberian dari pak Juned dan istri nya Ketika datang ke villa tadi siang.
Keduanya bekerja di sana untuk membersihkan Villa.
"Hmm"
"Hemm apa?" tanya Sarah menuntut penjelasan.
"Ya" kembali Keyra menjawab dengan tidak jelas.
"Ya apa, ya sudah apa ya belum?" cecar Sarah gemas pada jawaban putri nya yang ambigu.
"Ya belum bun, mungkin nyetak adik buat si kembar di danau" jawab Keyra asal.
"Heh? awas ya, ponselmu mana? siniin!"
"Waduh, salah ngomong nih. Alamat di omelan kakak kalau begini ceritanya." Gumam Keyra masih terdengar jelas di telinga Sarah.
"Ooo jadi kalian sekongkol, Rumi pasti tidak tau apa-apa itu. Kasihan sekali calon menantu bunda itu," Sarah berujar seolah Arumi sedang di aniaya oleh dua bersaudara itu.
"Ih, bunda apaan sih. Tidak begitu juga, biar makin dapat kemistri nya gitu." Kilah Keyra beralasan. "Mereka kan jarang berduaan belakang ini, tau-tau mau nikah, tar malah canggung." Bela Keyra dengan argumen nya.
"Halah, kalian berdua itu. Heran bunda. ini kenapa nomor Arumi tidak bisa di hubungi, kakakmu juga. Ishh, sebal bunda ih." Sarah mengembalikan ponsel putri nya dengan wajah kesal.
"Emang apa salah ku? kan aku hanya membantu untuk menyatukan dua insan yang saling mencintai." Gerutu Keyra berbicara sendiri pada wajah panas di depannya.
"Sayang? kenapa ngomong sendiri? gak kesambet penunggu pohon mangga di belakang kan?" Seloroh Al datang dengan menggendong putri bongsor nya.
"Aku sebel, jangan di ajak berantem sekarang." ketus Keyra pada suaminya.
"Duduk di sini mbul, papa akan menjinakkan mama dulu. Oke, ini kue nya, duduk yang anteng ya." Al berbicara pada putri nya yang dia dudukkan di kursi makan, lalu di sogok dengan sepotong cake vanilla.
Al menghampiri sang istri dan memeluknya dari belakang, " ada apa hmm? sebel sama siapa? aku? janganlah, aku takut sayang. Aku pasrah, nih mau diapain aja aku mau eh ikhlas maksud nya."
Keyra mencebik semakin kesal, "aku kesel sama semua orang jadinya nih, minggir ih. Aku lagi main minyak panas ni. Kecipratan baru tau rasa," omel wanita itu berlanjut.
__ADS_1
"Keenan sama Arumi sudah di jalan pulang, tenang aja. Keenan tidak akan memakan habis calon istri nya, paling nyicil satu dua celup."
Keyra mendelik marah, Al terbahak-bahak lalu kembali menghampiri sang anak yang masih sibuk menghabiskan kue ditangan nya.
"Berhentilah memberikan nya cake, itu makanan manis. Astaga, lihatlah badannya. Aku sudah tidak sanggup lagi menggendong nya." Keluh Keyra menatap tubuh jumbo sang anak.
"Jangan menatap nya begitu, dia itu juga putrimu sayang. Dia tetap batita seksi, cantik, lucu dan menggemaskan bagiku." Sanggah Al tak suka dengan tatapan mengintimidasi sang istri.
"Ck! terserah kau saja, awas saja jika anakku sampai obesitas. Kau yang akan ku bedah untuk membagi lemak Bella padamu." Cetus Keyra sadis.
Al hanya bisa meringis ngeri menatap punggung kecil istri nya. Kejam sekali batinnya nelangsa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Abiii.." teriak Elsye pada sang ayah yang baru saja turun dari mobil. Gadis kecil itu menubruk kaki Keenan. "Kenapa lama sekali?" Elsye mendongak menatap sang ayah yang tinggi menjulang. Keenan berjongkok lalu menggendong sang anak.
"Maaf, tadi umi ketiduran. Dia lelah bermain dengan abi," Arumi melotot kan kedua matanya mendengar perkataan ambigu Keenan pada putrinya.
"Memangnya bermain apa?" nah kan, ini yang Arumi jaga, putrinya itu sangat kritis dalam berpikir.
"Eiden sedang makan abi di gazebo belakang" jelasnya membuat dahi Keenan berkerut dalam.
"Makan abi? makanan apa itu?" tanya Keenan penasaran.
"Paling yang Elsye maksud itu ubi" jelas Arumi meluruskan dan dibenarkan oleh sang anak. Keenan menggigit gemes pipi anaknya dan membawa ke kamar. Elsye sangat susah di suruh mandi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Udah mandi nya, abi udah?" tanya Arumi yang baru saja selesai menyiapkan pakaian keduanya.
"Udah dong umi, memangnya tidak cium nih. Aroma semerbak kami berdua," Keenan mendekati Arumi lalu mecium pipi wanita itu. "Tuh, wangikan" Elsye cekikikan melihat kelakuan sang ayah sementara ibunya manyun.
"Pakein baju Elsye ya, aku mau mandi dulu. Tar makan malam mau di buatkan apa?" Arumi berhenti di gawang pintu kamar mandi, menoleh menanti jawaban Keenan yang tengah sibuk membalur minyak telon di tubuh putrinya.
"Ayam bakar madu? boleh? ngerepotin tidak sih, kalau repot yang lain aja, goreng juga boleh. Asal ada sambelnya, aku makan apa aja yang kau masak." Jawab Keenan terus melanjutkan menabur bedak di pipi anaknya hingga seperti tepung.
__ADS_1
Arumi menggeleng kepala, jika begini setiap pakai bedak. Alamat auto bakal bangrut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Masak apa Rumi?" suara Sarah mengagetkan konsentrasi Arumi, yang sedang membalur daging ayam dengan kecap dan sedikit madu.
"Ini bun, Ken minta di buatkan ayam bakar madu" jelas Arumi singkat. "Pemanggang di belakang udah disiapin belum ya, tadi aku minta tolong sama pak Juned." Gumam Arumi berbicara pada daging ayam didepan nya.
"Ada bunda disini Arumi, tinggal minta tolong saja tidak apa-apa." Geleng Sarah melihat tingkah calon menantu nya itu. Arumi cengengesan mengangkat dua jarinya membentuk huruf v.
"Maaf bun, aku tidak enak. Lagi pula sudah meminta tolong pada pak Juned tadi, pasti sudah siap." Ujar Arumi menjelaskan.
"Ya sudah, itu mau di bakar semua? sini bunda bantu bawakan." Sarah meraih baskom sedang berisi potongan ayam. Arumi membawa bahan olesan nya, dia merasa seperti calon menantu yang kejam. Sarah membawa beban yang lebih berat, dia malah membawa beban ringan. Dasar tidak berakhlak pikirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Enak nih!" ujar Bintang mencomot potongan dada ayam di dalam wadah. Namun mendapatka tepisan pelan dari Keenan.
"Papi nunggu giliran, ini aku yang pengen loh. Umi yang masak, enak saja." Sungut Keenan tak suka.
"Astaga, pelit sekali." Protes Bintang "Rumi, ini boleh papi makan tidak?" Bintang mencoba mencari peruntungan nya.
"Boleh pi, aku bikin banyak kok. Keenan sendiri mana habis, " ujar Arumi membuat Bintang tersenyum jumawa.
"Umi? apaan sih, ini aku yang pesan tadi ya harus aku yang makan duluan. Papi ntar deh, ngantri dulu." Protes Keenan menatap kesal Arumi.
"Yaelah, pelit amat. Pantas Elsye pelit, gen bapaknya kuat banget mendominasi." Gerutu Kalla datang dengan piring besar berisi lalapan di tangannya.
"Bukan pelit, cuma membatasi kuota. Ini nanti aku yang ambil duluan baru benar," bela Keenan lalu memasukkan dua potong besar ayam bakar tersebut ke piring nya. Piring lebar itu kini penuh, Keenan kebingungan mau menaruh nasi dan perintilannya dimana.
"Itulah akibat rakut dan pelit" Ledek Kavin.
"Ini aku ambil piring baru, bereskan? Sewot aja," Keenan mengambil satu piring baru lalu mengisinya dengan nasi, dan lalapan tidak lupa sambel kemangi. Beuuhh, Keenan berkali-kali menelan ludahnya melihat makanan sempurna itu.
Keenan suka makan makanan rumahan seperti itu ketimbang di restoran. Kenyangnya tidak kalem, lambung berasa terisi sempurna. Begitu katanya. Untuk itu dia lebih suka makan dirumah, bahkan jika pulang dari salah satu pesta kolega nya. Keenan pasti akan langsung makan sesampai nya di rumah. Makanan yang dia makan di pesta hanya sampai di kerongkongan, dia butuh makanan rumah untuk menjejali makan tadi agar sampai ke lambung. Selalu begitu kilahnya setiap orang rumah bertanya.
__ADS_1