Maaf, Untuk Lukamu!

Maaf, Untuk Lukamu!
Bukti


__ADS_3

Arumi terlihat gelisah, padahal hari ini dia sudah diperbolehkan untuk pulang. Namun wanita itu justru didera kecemasan, alih-alih terlihat senang.


3 hari berada dirumah sakit, membuat rasa rindu oada kedua anaknya membuncah. Namun memikirkan Diana yang juga tinggal di rumah yang sama, Arumi merasa khawatir.


Keenan mengernyit bingung saat melihat Arumi yang masih belum bersiap. Sweater yang dia bawa pun belum dipakainya.


"Kok belum bersiap, sayang?" tanya Keenan heran.


Arumi menatap netra Keenan ragu, "apa sebaiknya aku pulang ke rumahku saja, aku tidak nyaman jika harus satu atap bersama calon istri mu." Jujur Arumi mengungkap kan kecemasan nya.


Keenan menghela nafas panjang, sangat susah meyakinkan orang yang sudah pernah dia kecewa kan ini.


"Ayo duduk di sini dulu, ada yang mau aku sampaikan," Keenan menarik pelan pergelangan tangan Arumi.


"Pertama dia bukan calon istri ku, kedua itu bukan rumahnya, dan yang paling penting. Ayah dan bunda yang menginginkan mu tinggal di rumah, begitu juga aku. Jangan peduli kan apa pun selain aku dan anak-anak, bisa? aku akan menjaga kalian mulai sekarang, jangan mencemaskan apapun lagi. Aku mencintaimu sebesar aku mencintai anak-anak kita. Cukup itu saja yang kau pedulikan." Papar Keenan panjang lebar.


Arumi terlihat mengangguk samar, hatinya menghangat setiap kali mendengar ungkapan cinta, dari pria penguasa hatinya itu.


Keenan meraih tubuh mungil Arumi ke dalam pelukannya, dia benar-benar merutuki kebodohan nya dahulu. Bagaimana dia bisa terlena pada kehidupan bebas ala anak remaja, sehingga melupakan segala janji manisnya pada wanita ini. Dia sungguh menyesali nya.


"Sekarang, ayo kita bersiap. Anak-anak sudah menunggu di rumah," ajak Keenan melerai pelukannya.


"Ya, aku akan pakai sweater dulu," Arumi bergegas meraih sweater yang di taruh didalam paper bag diatas nakas. " Sweater nya lembut, aku suka, tidak gatal di kulit seperti milikku di rumah." Ujar Arumi sambil mematut sweater nya.


"Itu milikmu sekarang," ucap Keenan senang. "Aku akan membelikan lagi model lain jika kau menyukai bahannya," lanjut Keenan sambil mengangkat tas jinjing sedang milik Arumi.


Arumi berbinar senang, dia tidak suka matahari bukan karena apa. Kulitnya sensitif, jika terpapar matahari secara langsung, maka akan menimbulkan bercak-bercak merah yang sangat gatal. Semacam alergi atau apa, dan Keenan sudah mengetahui nya sejak awal mereka mulai dekat. Oleh sebab itu, pria itu selalu sigap membelikan beberapa jenis sweater dan jaket untuk kekasihnya.


"Ayo," ajak Keenan meraih tangan Arumi lalu menggenggam nya erat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Arumi menatap nanar rumah besar di depannya, tidak ada yang berubah. Bahkan cat nya masih warna yang sama, cream muda.


"Ayo turun," ujar Keenan membuyar lamunan Arumi.


"Eh? ya," ucap Arumi salah tingkah.


"Mau aku gendong tidak, lihat kakimu gemetaran begitu" goda Keenan menunjuk lutut Arumi yang memang sedikit gemetar.


"Ck! jangan menggodaku," rajuk Arumi menekuk wajahnya.

__ADS_1


Tiba-tiba Arumi merasakan tubuhnya melayang, "hei! turun kan aku, Ken, jangan membuat ku malu di hadapan orang tuamu." Pekik Arumi panik.


"Panggil aku dengan benar, umi." Balas Keenan acuh, pria itu menggendong Arumi hingga ke dalam rumah.


"Keen pleaaase!" Arumi memelas, namun percuma, Keenan seolah tuli.


"Panggil aku dengan benar, baru kau ku turunkan," kukuh Keenan.


Dengan sedikit canggung, Arumi memohon pada Keenan dengan sebutan yang pria itu inginkan.


"Abii, turun kan aku, ya.." rayu Arumi dengan wajah yang dibuat se imut mungkin.


"Kau menggemaskan sayang, aku jadi tidak sabar untuk melahap mu." Jawaban Keenan sangat tidak konsisten.


Pria itu kembali melanjutkan langkah nya hingga ke ruang keluarga, di sana Diana melotot hingga bola matanya hampir melompat keluar.


"Apa-apaan ini, Ken!" Seru Diana tak terima, "dan kau wanita ja*la*ng, jauhi calon suamiku!" teriaknya hilang kendali sambil menunjuk ke arah Arumi, dengan wajah memerah menahan amarah.


Arumi merasa tak enak hati, lalu meminta Keenan menurunkan nya. Keenan pun menuruti bukan karena Diana, namun dia ingin berbicara untuk memperjelas hubungan mereka.


Sarah dan Reegan yang sudah menyaksikan keributan kecil itu dari arah dapur, akhirnya ikut melangkah munuju sofa di ruang keluarga tersebut.


"Ayah, bun, aku ingin sekali lagi memperjelas hubungan ku dengan Diana. Diantara kami tidak ada hubungan apapun, wanita tak tau malu yang mengaku mengandung anakku. Aku bahkan baru mengenalnya belum sampai dua bulan. Lalu bagaimana dia bisa hamil hampir 4 bulan."


"Apa kau punya bukti jika itu anakku?" tantang Keenan tersenyum miring.


Diana gebalakan mencari jawaban, "bagaimana bisa aku membuktikan nya, aku tidak segila itu merekam percintaan panas kita." Elaknya salah tingkah.


"Sungguh? sayangnya, aku adalah tipe pria yang suka bercinta, dengan merekam semua aktivitas panasku hingga tuntas." Sarkas Keenan tanpa filter, "kau sungguh tak beruntung, Diana." Lanjut Keenan tersenyum penuh kemenangan.


"Ituu.. karena aku menolaknya," bela Diana masih berusaha meyakinkan argumen nya.


"Baiklah jika kau tak menyerah juga," pungkas Keenan menyerah.


"Apa anak-anak di rumah bibi nya, yah?" tanya Keenan memastikan.


"Ya, mereka sudah ayah antar ke sana tadi pagi" Jawab Reegan datar..


"Baik. Nona Diana, kau bisa merubah pikiran mu, sebelum aku mempermalukan mu didepan kedua orang tua ku. Pikiran masa depanmu, juga anakmu tentunya..."


"Ini juga anakmu Ken!" teriak Diana tak dapat mengontrol emosi nya. Nafanya naik turun dengan cepat.

__ADS_1


"Oke, mari kita lihat kebenaran nya..." jawab Keenan santai, lalu memutar sebuah video panas. Dimana pemerannya adalah Diana, bersama salah seorang dokter kandungan di rumah sakit milik keluarganya.


Mata Diana terbelalak hampir keluar, mulutnya menganga tak percaya, dengan apa yang dia lihat di layar televisi, yang tersambung ke ponsel Keenan.


Dengan salah tingkah juga malu, Diana berusaha mematikan televisi besar itu. Sementara Sarah dan Arumi membuang pandangan ke arah lain. Walau bagian sensitif keduanya di sensor, tetap saja mereka merasa malu melihat nya.


"Da..ri.mana ka..u mendapatkan nya, Ken?" tanya Diana panik, "dokter itu memaksaku, Ken. Percayalah padaku," Diana memohon dengan berurai air mata, aambil berlutut memeluk kaki Keenan.


"Lepaskan kakiku, Diana!" seru Keenan marah. "Kau pikir kami cukup bodoh untuk kau tipu, pergi dari rumah ku sekarang juga. Atau kau akan aku tendang paksa ke jalanan layaknya sampah." Ujar Keenan tanpa perasaan.


Diana masih bergeming, terisak semakin keras.


"Jangan usir aku, aku mohon. Ijinkan aku tinggal di sini sampai aku melahirkan, tidak masalah jika kau tidak ingin menikahiku. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi, kasihanilah aku." Diana berpindah ke arah kaki Sarah lalu memeluk nya.


"Nyonya, tolong jangan usir aku dari sini. Aku tidak punya tempat untuk berlindung, paling tidak sampai bayi ku lahir." Isaknya terdengar memilukan.


"Aku tidak ingin ambil resiko, dengan membiarkan mu tinggal satu atap dengan putraku, Diana. Jika kau butuh tempat tinggal, kami akan mencari kan mu tempat tinggal yang layak. Dan tentu nya aman untuk mu juga bayimu." Jelas Sarah menolak tegas keinginan Diana, untuk tetap tinggal bersama mereka.


Diana mengepal tinjunya, bahkan sudah merendahkan dirinya hingga tak bersisa. Malah mendapatkan penolakan.


"Lalu bagaimana aku akan makan, nyonya. Aku sudah tidak bekerja, semua teman ku sudah tau, jika aku akan menikah dengan Keenan. Akan sulit bagiku untuk mencari pekerjaan." Elak Diana beralasan.


"Kau akan ku berikan pekerjaan, yang tentu nya masih mampu dikerjakan oleh wanita hamil pada umumnya." Reegan akhirnya angkat suara, dia tidak ingin istri nya berubah pikiran dan iba pada wanita licik itu.


Mendengar kata pekerjaan, wajah Diana berbinar cerah. Artinya dia akan bekerja di perusahaan keluarga Keenan. Kesempatan nya untuk meraih Keenan ke dalam pelukannya, masih terbuka lebar.


"Baiklah tuan, tapi untuk malam ini, boleh kah aku tinggal?" mohon Diana dengan wajah memelas sambil mengelus perut buncitnya.


"Hanya malam ini, besok sopir akan mengantarmu ke rumah yang sudah kami sediakan untuk mu." Pungkas Reegan mengakhiri sesi menegangkan itu.


"Baiklah, aku juga belum berkemas jika haru hari ini juga. Kalau begitu, aku ingin ke kamar dulu." Pamit Diana meninggal kan mantan calon mertua nya, di ruang keluarga dengan perasaan tak tergambarkan.


Arumi yang sejak tadi hanya diam saja, mulai merasa sedikit lega. Tatapan tajam dan penuh permusuhan yang di berikan Diana, membuat nya tak nyaman.


"Rumi, kau istirahat saja di kamar. Ken, antar Arumi ke kamarnya, ingat hanya mengantar saja, tidak yang lain." Ujar Sarah penuh peringatan pada putranya yang nampak salah tingkah.


"Ayo, mau aku gendong lagi tidak?" ujar Keenan tak bosan menggoda Arumi.


"Tidak! aku bisa sendiri," tolak Arumi dengan wajah bersemu merah. Bagaimana bisa Keenan menjahilinya, didepan kedua orang tuanya seperti ini.


"Sudah Ken, jangan di goda terus. Nanti Arumi kabur, baru kapok" tegur Sarah menengahi.

__ADS_1


"Eh? Jangan sampai, aku bisa bunuh diri kalau sampai umi kabur." ujar Keenan tak terima dengan candaan sang ibu.


"Ayo aku antar ke kamar," ajak Keenan menggandeng tangan kecil Arumi, membuat wajah wanita itu seperti tomat kelewat masak. Lalu keduanya berjalan menaiki tangga, menuju lantai atas sambil bergandengan tangan. Pemandangan itu membuat seseorang yang mengintip dari balik pintu kamar, mengepal kan tangannya. Hatinya diliputi kemarahan juga dendam, pada wanita yang sudah merebut Keenan darinya. Walau faktanya, Keenan tidak pernah menjadi miliknya.


__ADS_2