Maaf, Untuk Lukamu!

Maaf, Untuk Lukamu!
Musibah


__ADS_3

Tak terasa sepuluh bulan sudah pernikahan Daru dan Imah, terlihat seorang pria tengah mondar mandir di depan pintu ruang operasi. Sementara sang art duduk sambil sesekali menyeka sudut matanya menggunakan kain jarik, yang dia fungsi kan sebagai selendang.


"Astaga! bagaimana ini bisa terjadi..." gumam Daru mendudukkan diri nya di kursi besi tersebut. Sang art sontak menoleh, dia merasa sangat bersalah karena tidak bisa menjaga sang majikan dengan baik.


"Maaf kan bibik pak, harus nya bibik tidak pergi ke pasar tadi pagi." Ucap nya penuh penyesalan.


flashback


"Kok sepi banget, ibu kemana ya.." wanita itu memilih masuk melalui pintu belakang karena ingin sekalian membersihkan diri terlebih dahulu sebelum mulai memasak.


Setelah hampir 20 menit berkutat di kamar nya bi Wati menuju dapur. Namun sang majikan perempuannya belum terlihat. Biasa nya Imah akan langsung menghampiri dapur jika tau bibi baru pulang dari pasar. Wanita hamil itu sangat menyukai jajanan pasar. Tadi pun majikan nya itu memesan kue lapis juga dadar gulung kelapa.


"Kok ibu tidak nyamperin bibik ya.." gumam nya heran. Akhir nya setelah mengeluarkan jajanan dan menaruh nya di dalam piring, bi Wati membawa nya beserta teh hangat satu gelas ke ruang tengah.


Sesampainya di pembatas antara ruang makan dan ruang tengah, piring dan gelas di tangan nya meluncur bebas hingga pecah berhamburan. Mulut bi Wati ternganga melihat pemandangan mengerikan di depan nya. Di mana sang majikan tergeletak dengan kondisi mengenaskan di lantai di ujung tangga.


Posisi Imah sedikit miring, dengan luka di dahi, lebam di pergelangan kaki juga tangan. Pipi nya membiru seperti habis di pukul keras. Bibi berteriak histeris, memancing Iksan masuk. Pria itu baru saja akan menikmati segelas kopi milik nya. Yang tadi dia tinggal kan ketika mengantar bi Wati ke pasar.


Pria paruh tanggung itu berlari masuk ke dalam rumah dengan nafas tak beraturan.


"Kenapa Wati, kok teriak-teriak sih...liat nih, aku sampe kaya orang kesetanan lari nya." Protes Iksan tanpa Jeda. Mata nya masih terpejam untuk menetralkan nafas nya yang ngos-ngosan. Namun beberapa detik kemudian kaki nya seperti tak bertulang, ketika melihat kondisi sang majikan yang mengenaskan di pelukan bi Wati.


"Telpon bapak San, ini ibu kita bawa ke rumah sakit saja dulu nanti biar bapak nyusul." Titah bi Wati dengan suara bergetar. Iksan segera mengangkat sang majikan setelah meminta ijin sekaligus maaf karena lancang menyentuh majikan perempuannya.

__ADS_1


Dalam perjalanan Iksan berusaha menelpon majikan pria nya yang tak kunjung di angkat.


"Gimana San?" desak bi Wati tak sabar. Gelengan Iksan membuat bi Wati mende*sah pasrah. Selama perjalanan wanita itu terus berdoa agar sang majikan baik-baik saja. Sesekali wanita itu mengelap darah yang keluar dari paha Imah menggunakan kain jarik lusuh nya.


"Bertahan lah bu, bapak pasti akan sangat sedih kalau ibu kenapa-napa. Maaf kan bibik, ninggalin ibu terlalu lama.." wanita paruh baya itu terisak sambil terus memeluk tubuh Imah penuh ketakutan.


flashback end


Klek


Daru menyongsong sang dokter dengan ekspresi tak sabar.


"Bagaimana istri saya dok?"


"Ibu Imah mengalami pendarahan hebat ketika kemari, dan menurut perkiraan kami. Ibu Imah mengalami penganiayaan sebelum nya, karena ada beberapa luka lebam di wajah kaki dan tangan beliau. Memar di punggung nya yang seperti nya bekas pukulan benda tumpul. Satu memar lagi di perut bagian atas, barang kali akibat terguling dari tangga. Seperti cerita asisten rumah tangga bapak sebelum nya. Jika ibu di temukan tergeletak di ujung tangga paling bawah" rahag Daru mengetat keras, siapa yang sudah berani melakukan hal mengerikan ini pada wanita yang jelas tengah mengandung.


"Ibu Imah mengalami koma, namun sudah melewati masa kritis nya. Akan kami pindah kan langsung ke ruang ICU setelah selesai proses penjahitan perut. Bayi bapak Alhamdulillah, baik-baik saja. Satu bayi sempat tidak menangis dan sedikit membiru. Itu di akibatkan karena air ketuban ibu nya mengering hampir satu jam lama nya. Selebihnya kondisi kedua bayi bapak sehat dan normal." Jelas sang dokter begitu runtut.


Akibat terlalu panik memikirkan sang istri, Daru sampai lupa menanyakan kedua anak nya. Untung sang dokter peka, sehingga membuat Daru dapat bernafas lega. Meski hati nya masih di liputi kecemasan pada kondisi istri nya.


Derap langkah kaki yang terdengar seperti orang berlomba maraton, menyusuri koridor menuju ruang operasi. Atensi Daru teralih sejenak. Terlihat Keenan beserta anak istri nya datang dengan wajah penuh kecemasan.


"Bagaimana bisa Imah jatuh dari tangga, padahal kamar kalian berada di lantai bawah?!" Keenan mencengkeram kerah baju Daru hingga pria itu sedikit terangkat.

__ADS_1


"Bi sudah! ini bukan kesengajaan, mungkin Imah sedang mengambil sesuatu di lantai atas. Lagi pula Daru sedang pergi bekerja, bukan ingin nya Daru seperti ini.. Musibah tidak ada yang mau bi.." Arumi mencoba menenangkan sang suami yang terlihat begitu emosi pada menantu mereka, Daru.


Sedangkan Daru hanya bisa terdiam tanpa pembelaan apa pun. Kejadian istri nya bisa jadi dari orang masa lalu nya. Entahlah, pikiran nya kalut untuk sekedar memikirkan alur kejadian yang menimpa istri nya.


"Maaf kan aku Keen, aku gagal menjaga Imah dengan baik. Ini benar-benar keteledoran ku, aku akan memperbaiki nya segera." Daru menatap Keenan dengan jutaan makna tak tersampaikan. Keenan mengerut kan keningnya berusaha menangkap maksud dari perkataan Daru. Pria itu terlihat kacau, ada darah mengering di kemeja putih nya. Tadi saat di UGD, Daru masih sempat bersua dengan istri nya yang sudah dalam keadaan tak sadar.


"Katakan sesuatu Daru? apa ini ulah seseorang?" desak Keenan tak sabar. Daru mengangguk lemah, lutut Keenan seakan tak bertulang. Lemas seketika.


"Kau sudah ada bayangan?" tatapan tajam penuh tuntutan terarah dalam pada netra Daru.. Lagi-lagi Daru hanya mengangguk lemah. Keenan berusaha menetralkan kadar emosi nya yang mulai kembali memuncak.


"Selesaikan! atau aku sendiri yang akan mengirim orang itu ke neraka yang jauh lebih menakutkan dari yang bisa mereka bayangkan!" tekan Keenan disetiap kalimat nya. Daru sampai meringis mendengar kalimat sang ayah mertua. Keenan sungguh memiliki kepribadian yang mengerikan. Sekarang dia benar-benar yakin, apa yang dia dengar bukan lah isapan jempol belaka.


Jika keluarga itu memiliki bakingan komplotan mafia di belakang tubuh mereka. Setiap musuh akan lenyap tak berbekas bagai debu, jika berani berhadapan dengan keluarga itu.


"Kalau begitu aku titip istri ku dulu...abi." untuk pertama kalinya Daru memanggil Keenan dengan sebutan sakral itu. Mata nya berkaca-kaca melihat ketulusan keluarga itu pada istri nya yang bukan siapa-siapa.


Arumi terus menenangkan wanita paruh baya yang dia pekerjakan di rumah sang anak.


"Bukan salah bibik, lagi pula tidak ada yang akan menyangka jika hal seburuk ini akan menimpa putri ku yang malang. Berdoa saja. Bagaimana keadaan cucu ku bi?" Arumi baru sadar belum sempat menanyakan keadaan cucu nya tadi ketika baru tiba.


"Mereka baik dan sehat bu, ada di ruangan bayi sementara ibu masih belum pulih." Jelas bi Wati sedikit terisak.


"Ya sudah, bibi di sini saja. Seperti nya bibi sangat syok dengan kejadian ini. Atau bibi mau pulang saja dulu, ambil beberapa keperluan Imah dan bayi nya." Saran Arumi mencoba membuat wanita itu teralih kan. Bi Wati tidak punya anak, itu kenapa wanita itu sangat menyayangi Imah seperti putri nya sendiri.

__ADS_1


"Baik bu, saya pulang dulu untuk menyiapkan semua kepribadian selama di rumah sakit. Bibik pamit dulu bu.." wanita paruh baya itu meninggal rumah sakit dengan perasaan bersalah yang masih bersarang lekat di benak nya.


.


__ADS_2