
Di rumah Reegan nampak masih ramai, walau para pelayat sudah pulang. Namun kehadiran para sahabat keluarga itu, masih meramaikan rumah tersebut.
Meskipun Reegan sekeluarga bukanlah muslim, namun mereka begitu khusuk, ikut mendoakan Maura dengan cara, dan menurut kepercayaan nya masing-masing.
Sungguh keluarga yang berhati mulia.
"Jadi sulung kita bagaimana?" tanya Bastian sambil menyeruput kopi nya.
"Bagaimana apanya?" balas Reegan balik bertanya.
"Itu, Arumi sama cucu kembar kita"
"Oh, itu tergantung Arumi nya saja. Kalau Keenan terlihat sudah tidak sabar sejak kemarin. Anak itu benar-benar bikin banyak masalah belakangan ini," ujar Reegan menghela napasnya.
"Trus itu, si bunting. Gak jadi di kawinin?" tanya Revan menyebalkan.
"Bunting tu hewan, bege!" sela Bintang dongkol.
"Kawin? Nikah mah baru bener, dasar otak se*la*ng*kangan!" timpal Bastian melempar potongan risoles, hingga isiannya berhamburan dipangkuan Revan.
"Ba*ngke bener nih mas babas! kan jadi kotor gini sarung aku, mana Nabila suka ngomel liat yang gini nih." Ujar Revan kesal sambil membersihkan sisa mayonaise yang tercecer di kain sarung nya. Padahal tidak lah seberapa, hanya saja Revan tipe suami takut istri.
"Lebay banget nih, si Revalina tomat." Seloroh Bintang ikut menambahkan, dengan mencolek kan noda selai roti gulung di ujung sarung milik Revan.
Membuat pria itu melotot kesal, "Ck! pada gak ada akhlak kalian berdua," seru Revan dengan wajah masam.
"Alaah, segitu aja ribet banget. Timbang cuci beres mah itu, kaya anak perawan abis di perkoas aja tingkahnya." Gerutu Satria heran.
"Gak tau aja kalo Nabila udah ngomel, bisa kelar masa depan aku nanti malam." Revan balas mengomeli Satria.
"Lah, itukan deritamu," lalu keempat sahabat laknat itupun mentertawai Revan dengan suka cita.
Revan mendengus kesal, sesuatu yang berhubungan dengan jatah nikmat nya, tidak boleh di ganggu gugat. Tapi lihatlah kelakuan para sahabat tak berakhlak nya itu, dengan suka ria mentertawai nya. Seolah deritanya adalah hal yang paling lucu untuk di tertawakan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sar?"
"Hmm?"
"Si bunting mana?" Sungguh suami istri yang kompak.
"Diana?" tanya Sarah seolah tak tau arah pertanyaan Nabila.
__ADS_1
"Ya, Siapa lagi yang bunting di rumah ini." Jawab Nabila sedikit ngegas.
"Eh, ibu. Suara anda bisa membuat seseorang tersungging," sela Sinta yang baru saja habis menaruh sisa jajanan di wadah plastik.
"Aduh jeng, saya tidak peduli. Maaf, saya sangat sengaja mengatakan nya dengan gamblang." Balas Nabila acuh, malah semakin memanas-manasi Diana. Dia tau wanita itu sedang menguping pembicaraan mereka.
Sarah hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu.
"Anda benar benar tidak punya perasaan, nyonya." Lanjut Marissa menimpali.
Kemudian mereka tertawa renyah, seakan-akan apa yang mereka katakan, leluncon yang lucu.
Sementara Diana yang sengaja duduk di sofa tunggal, dekat pembatas ruang makan dan ruang keluarga, hanya bisa mengepalkan tangannya kuat.
Dasar wanita tua, umpat Diana dalam hatinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Pagi semua, aduh ponaan uncle Kalla ini, gumushin semua deh. Hari ini kepuncak kan kita, aku balik ke Singapura Minggu depan soalnya."
"Aku memang gemesin uncle," ujar Elsye membenarkan.
Semua yang mendengar nya tersenyum lucu melihat tingkah gemas Elsye, namun tidak bagi Diana. Anak itu biang masalah untuk nya.
Diana merenggut kesal, lalu duduk disamping Arumi yang persis duduk disamping Keenan. Wanita itu sengaja menggeser gelas air minum nya, hingga tumpah mengenai Arumi. Arumi terpekik kaget, lalu segera beranjak.
"Kamu itu sengaja apa gak punya mata sih, gelas segede itu kamu senggol seenaknya mengenai orang lain." Kavin mulai tersulut emosi, pagi-pagi amarahnya sudah dipancing dua kali oleh Diana.
"Maaf aku benar-benar gak sengaja, perutku sangkut di meja tadi. Aku bersumpah," ujar Diana gemetar.
"Udah Vin lanjut makannya, Ken, bawa Arumi ganti baju dikamar" titah Sarah menengahi.
Diana melotot tak percaya, bagaimana bisa Sarah menyuruh Keenan menemani wanita itu berganti pakaian.
"Maaf menyela, mereka belum menikah. Kenapa boleh Keenan menemani nya berganti pakaian," protes Diana tak terima.
"Dasar otak dangkal, inilah akibatnya kalau otaknya selalu dipenuhi oleh hal jahat. Suka neting sama orang lain," ketus Kalla meraih piring nya membawa ke gazebo, yang juga diikuti oleh Kira dan Kavin. Anak-anak yang tak tau apa-apa itu pun ikut-ikutan, membawa piring mereka masing-masing dengan wajah polos.
Sarah dan Reegan hanya bisa menghela nafas, melihat kini hanya tinggal mereka bertiga saja.
"Diana? apa kau sudah mengemasi barang-barang mu?" tanya Sarah memecah keheningan.
Diana gelabakan mendengar pertanyaan Sarah, " aku belum sempat, bun. Bisakah memberiku waktu lagi. Semalam suasana terlalu ramai, aku sedikit sakit kepala dan mual." Jelas Diana beralasan.
__ADS_1
Lagi-lagi Sarah menghela nafas nya, susah menyingkirkan wanita ini dengan cara baik-baik pikir nya.
"Baiklah, nanti bi Surti akan membantu mu berkemas" putus Sarah akhir nya.
"Baik bun," walau berat, mau tidak mau Diana mengiyakan nya.
Jadilah sarapan pagi itu hanya ada Mereka bertiga saja, Keenan dan Arumi menyusul anak-anak mereka, yang ikut-ikutan para paman dan bibi nya ke gazebo.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Non? bibi masuk ya.." ujar bi Surti takut-takut.
Diana tak menjawab, walau sebenarnya dia mendengar bahkan melihat wanita paruh baya itu masuk melalui pantulan kaca.
"Mana yang bisa bibi bantu, non?" lagi, bi Surti bertanya dengan suara rendah.
"Aku bisa sendiri, keluar lah. Nanti aku alergi dekat-dekat dengan pembantu lusuh seperti mu." Hardik Diana, membuat bi Surti kaget bukan main.
Segera wanita itu bergegas keluar dari kamar Diana. " Numpang aja sombong, apalagi benaran nikah sama si kakak. Bisa-bisa dia jadi nyonya okb," gerutu bi Surti dengan hati jengel setengah mati.
"Siapa yang numpang, bi?" suara Arumi mengagetkan bi Surti, wanita itu gelabakan salah tingkah.
"Bukan Rumi yang bibi maksud, itu si bunting katanya si mimi(Nabila)." Jelas bi Surti cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Arumi terkekeh lucu, "aku becanda bi, kenapa serius gitu." Ujar Arumi kemudian menggandeng tangan bi Surti menuju dapur.
Hati bi Surti menghangat mendapatkan perlakukan tak biasa dari calon majikannya itu.
"Kita bikin cake vanilla sama moccha, gimana bi?" tanya Arumi sambil memilah bahan kue yang akan dia pakai.
"Bibi sih ikut aja, soalnya kurang paham bikin yang beginian." Jujur bi Surti tersenyum malu-malu.
"Sama bi, aku juga belajar. Mixer nya mana bi?" Arumi nampak membuka satu persatu laci kitchen set mencari mixer.
"Di atas deh kayaknya, soalnya semenjak nyonya besar tidak ada. Barang seperti ini di simpan rapi sama ibu, biar gak rusak. Kenangan katanya," jelas wanita itu sendu.
Nyonya Maya meninggal setahun yang lalu, kemudian disusul tuan Adnan beberapa bulan setelah nya.
"Maaf bi, jadi bikin bibi sedih." Arumi merasa bersalah.
"Eh? gak gitu, cuma keingat aja. Bibi suka, ada yang ngelanjutin hobby nyonya besar. Bibi kangen suara mixer" kekeh bi Surti yang disambut tawa renyah oleh Arumi.
Kedua wanita beda generasi dan beda derajat itu, nampak kompak membuat kue di dapur. Sarah yang melihat sejak tadi tersenyum senang, akhirnya, dia menemukan menantu yang bisa meneruskan warisan mendiang mertuanya. Rhamaya Bakery.
__ADS_1