Maaf, Untuk Lukamu!

Maaf, Untuk Lukamu!
Galaknya bikin jantungan


__ADS_3

Diana kelimpungan, uang 2,5jt rupiah di tangan nya tidak akan cukup sebulan. Wanita itu kini sedang berdiri di depan sebuah rumah kontrakan petak. Sungguh jauh dari ekspektasi nya, berharap bisa menjadi nyonya muda di keluarga Sudibyo. Malah terlempar jauh hingga ke dasar jurang. Sungguh sial batin nya kesal.


"Mbak?" suara seorang pria muda mengagetkan Diana.


"ya?" jawab Diana ketus. Masih belum bisa menyesuaikan keadaan, seperti biasa. Berharap jadi OKB malah jadi gelandangan.


"Mau ngontrak di sini juga ya?" tanya pria itu ramah, tanpa peduli tatapan jutek Diana.


"Ya, memangnya kenapa tanya-tanya? bukan urusan mu juga, kan? kepo sekali, suka-suka aku mau ngontrak disini atau tidak." Pria muda itu hanya menggeleng kepala mendengar jawaban menyebal kan Diana.


"Saya Fajar, anak pemilik kontrakan ini. Tadi ibu saya bilang ada yang mau ngontrak, makanya saya nanya, kebetulan mbaknya bawa-bawa koper." Jelas Fajar panjang lebar. Sabar batin Fajar berucap.


Diana pias, berarti pria ini juga tau, jika dia ngontrak di sana hasil menawar pada ibu kontrakan.


"Ya, saya yang mau ngontrak. Yang mana kontrakan saya, saya cape mau istirahat." Nada suara Diana tidak berubah, masih ketus dan angkuh. Padahal untuk bisa mengontrak di sana, dia harus menjual cerita dramatis tentang ayah bayi nya.


"Mari mbak, kopernya saya bawa sekalian kalau mau" tawar Fajar tersenyum masih ramah.


"Tidak perlu, saya bisa sendiri. Ayo cepat, kok malah bengong." Oceh Diana membuat Fajar hanya bisa mengelus dada.


"Ya ,mari mbak." Ajak Fajar akhirnya, dari pada dia tensi menghadapi kelakuan wanita hamil itu.


"Yang ini ya mbak pintunya yang warna, biru. Kebetulan yang warna ungu udah di tempati janda sebelah." Jelas Fajar membuat mata Diana melotot karena tersinggung.


"Silahkan mbak, kamar nya yang ini. Dapur di sana, kalau mau masak sudah ada kompor satu mata, cukuplah kalau mbak sendiri. Alat dapur juga ada sedikit, kasur yang itu ya." Fajar menjelaskan satu persatu apa yang ada di dalamnya.


Diana merasa tidak cocok, hanya saja keuangan nya tidak mendukung untuk meminta lebih.


"Ya sudah, saya paham. Kau bisa pergi, saya mau istirahat." Usir Diana tak tau Terimakasih.


"Baik mbak saya permisi, kalau ada masalah sama air, segera lapor aja ke rumah. Rumah yang persis di depan gang tadi, rumah warna hijau dua lantai tadi." Lalu Fajar segera pergi dari sana, sebelum diri nya benar-benar terserang stroke.


"Udah ngontrak minta diskon, lagak nya sudah seperti orang kaya aja. Huhh" akhirnya Fajar bisa mengeluarkan uneg-uneg nya. Meski mengumpat diam-diam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


"Ciee yang mau jadi manten.. auranya beda uiyyy!" Ledek Al pada ipar sekaligus sahabat nya.


"Bisa diem tidak!" sentak Keenan kesal. Dirinya gugup setengah hidup tapi malah di ledekin dengan suka ria.


"Apa anda grogi, tuan Keenan yang angkuh, dingin dan datar? sayang sekali, image anda luntur tak bersisa hari ini." Aldo menimpali ledekan Al, membuat Keenan semakin kesal.


"Kalian semua, keluar!" Usir Keenan ngegas.


Dean yang baru tiba di depan pintu, hampir saja di cium mesra daun pintu yang di tutup keras dari dalam


"Itu orang kenapa? bukannya senang mau jadi manten, malah jadi grangas gitu." Dean menatap Al, Aldo dan Jevier dengan tatapan menyelidik.


"Kenapa ngeliat nya gitu amat?" Ujar Jevier sewot


"Al? Aldo?" tanya nya menuntut.


"Biasa, mau jadi manten baru, gugup. Di ledekin dikit, langsung ngegas dia nya." Jelas Aldo enteng.


"Salah makan pil mungkin" Timpal Al santai lalu terbahak didepan pintu kamar ganti.


"Eh? denger dia, nguping juga rupanya." Ujar Aldo cekikikan.


"Mau di temani tidak? yakin mau di tinggal sendiri?" Pertanyaan penuh ledekan sepupu-sepupu laknat nya membuat Keenan semakin meradang.


"Pergi tidak, siram air keras nih!" Ancam Keenan dari dalam. Membuat para teman laknat nya terbahak-bahak.


Namun keempat orang itu tetap menunggu di sana, dengan menarik beberapa kursi dan duduk di depan ruang ganti Keenan. Tidak peduli jika teman mereka sedang marah di dalam sana.


Mereka harap, MUA nya bisa sabar menghadapi calon manten yang satu itu.


"Eh? ini punya ku, ck!" Dean sewot karena cake yang dia bawa di comot tangan laknat Jevier.


"Cake doang mah, di bawah banyak tuh." Jevier menjawab tak kalah sewot.


"Pelit, amat. Heran aja, dewi yang bak bidadari masih betah pacaran sama kanebo seperti mu" Lanjut Aldo mencibir.

__ADS_1


"Sirik aja, terima kenyataan kalau cinta bertepuk sebelah tangan" balas Dean tepat sasaran.


Akhirnya kedua pria itu saling menatap sengit satu sama lain.


"Udah Do, perempuan banyak. Mau nyari yang model gimana? konsultasi sama abang, nanti abang bantu nyari yang sesuai kriteria." Ujar Al menentramkan suasana panas ke-dua nya, meski tak benar benar serius. Namun dalamnya hati siapa yang tau.


" Sombong amat mentang udah laku" ujar Aldo masih dalam mode sewot maksimum.


"Siapa yang mau jadi perantara nyariin jodoh tadi, Do?" Keyra datang dan berkecak pinggang di belakang suaminya.


"Eh? sayang. Mau liat Keenan ya, ayo. Papa lagi temanin mereka, ini Dean sama Aldo mau berantem rebutan si Dewi. Ayo kita masuk, yuk!" Ketiga pria itu menatap horor ke arah Al yang hanya mengerling kan matanya tanpa dosa.


"Dasar tukang, fitnaaahhh!!" Seru ketiganya dari luar saat sepasang suami istri itu sudah di dalam.


Al mengusap dadanya, lega. Tapi tunggu dulu, tatapan datar sang istri membuat nyalinya ciut seketika. Al yang jumawa di depan teman-temannya, terlihat kecil saat bersama sang istri.


"Sayang duduk, sepatu mu tinggi sekali, pasti cape ya, urus pernikahan Keenan dari minggu kemaren. Kasian nya istri ku ini, di aniaya sama saudara sendiri." Hampir saja Keenan tertelan kuas si penata rias. Keenan mendelik sebal dari balik kaca pada ipar tak berakhlak nya, namun yang di pelototi seolah tak bersalah.


"Tukang fitnah, lemes" desis Keenan jengkel.


"Udah belum mas/mbak, ini manggil nya gimana sih" Keyra jadi sensi sendiri, maklum wanita itu sedang dalam periode, hormon nya sedang tidak bisa diajak bercanda.


"Apa aja mbak, suka-suka aja. Asal cuan nya mengalir lancar sampai jauh" cengir wanita jadi-jadian itu.


"Kaya iklan ledeng" cetus Keyra membuat senyum sejuta dolar di wajah waria itu lenyap seketika.


"Sadis banget sih, ciiin" ujarnya dengan gaya melambai. Keenan dan Al bergidik ngeri.


"Udah, perfecto..!" Ujar Wanitapria yang satunya. "Ini mantan liat langsung pangling, syukur syukur tak sampai stroke atau gagal ginjal." Keenan menatap horor si banci lewat kaca.


"Bercanda bambang tamvan" cengirnya mengangkat dua jari. "adek kakak galak nya bikin jantungan" gumamnya lagi.


"Ayo kak, di bawah udah mulai panas. Nanti makeup kak Rumi luntur," Omel Keyra sudah melebihi sang ibu.


"Berasa kaya di marahin bunda, kalo gini" gerutu Keenan nelangsa. Al hanya bisa menepuk pelan bahu calon manten itu. Seakan mengatakan, sabar, aku yang setiap hari aja mampu menghadapi nya.

__ADS_1


__ADS_2