Maaf, Untuk Lukamu!

Maaf, Untuk Lukamu!
Memungut sepah


__ADS_3

Keenan meraih apa saja yang bisa dia raih, istri nya ini benar-benar. Bisa-bisa nya menyuruh dirinya memanjat pohon mangga yang tidak pendek itu.


"Yang kiri, sayang" seru Arumi dari bawah dengan suara penuh semangat. Sementara Keenan mulai kelelahan, semut pun ikut menjadi rintangan.


Setelah beberapa menit "Sudah belum?" balas Keenan berseru dari atas pohon. Hening, tidak ada sahutan. "Sayaaang, sudah belum mangga nya?" lagi-lagi, hanya suara desiran daun bergesekan yang bersahutan akibat diterpa angin.


Keenan turun dua dahan ke bawah, dia tidak mendapati siapa pun di bawah sana. bukankah tadi istri nya baru saja bersuara, Keenan mulai merinding. Apalagi pohon mangga yang dia naiki, berada di bagian paling belakang kebun mendiang kakek nya. Dan pohon yang paling rimbun diantara yang lain, persis beringin jika di lihat dari jauh.


"Sayyaaannggg" sekali lagi Keenan berharap sang istri menjawab nya, namun lagi-lagi hanya suara angin. Keenan mulai ketar ketir ingin melompat namun takut. Perlahan kaki panjang nya menuruni dahan demi dahan, hingga sampai pada tangga yang membantu nya naik tadi.


Setelah sampai di bawah, Keenan terkejut, saat tidak mendapai satu manusia pun disana. Tanpa aba-aba, Keenan berlari tunggang langgang tanpa sempat memakai alas kaki.


Sesampai nya di depan gazebo taman belakang, Keenan menghentikan laju lari nya. Nafasnya tersengal-sengal. Setelah berhasil menetralkan deru nafasnya, Keenan menatap tajam pada orang-orang yang sedang asyik, menikmati mangga muda hasil kerja keras nya. Namun tatapan tajam itu di skip saat tatapan nya berpapasan dengan sang istri.


Meski sebal karena di tinggal sendirian, namun Keenan tidak punya keberanian memarahi istri nya.


"Gimana mangganya sayang? enak?" para manusia itu langsung tersedak, pertanyaan lembut Keenan sangat kontras dengan tatapan marahnya tadi. Ternyata kekuatan seorang wanita, itu tidak ada lawannya. Terutama untuk seorang bucin akut seperti Keenan.


"Enak, makasih ya. Maaf tadi aku duluan, kebelet pipis." Uajr Arumi menatap Keenan merasa bersalah, dia tau jika Keenan lebih takut setan dari pada mafia.


"Ya, tidak masalah." Balas Keenan mengusap sisa kecap di bibir sang istri, yang lain berdecih mencibir. "Jadi, yang lain tadi juga pada kebelet pipis semua? pantas saja dibawah pohon mangga bau Pesing, barangkali kebelet banget." Sindir Keenan menatap sinis pada kedua adik


nya juga Cia(adiknya Al).


Sontak ucapan Keenan membuat kedua wanita dewasa itu tersedak. Syukurin batin Keenan terbahak senang.


"Enak saja, kami tadi menemani Arumi. Takut saja kalau-kalau dia tersandung" elak Cia tak terima.


Keenan pura-pura tidak dengar, "minum dulu sayang, jangan makan terlalu pedas, nanti bayi kita keriput." Lagi-lagi ucapan Keenan membuat hidung Cia dan Keyra pedih. Efek tersedak cabe rawit level mafia.


"Teori dari mana itu?" sungut Keyra dongkol lalu meraih air minun, dia saja yang dokter tidak pernah belajar tentang teori itu, meskipun dirinya adalah dokter bedah.


"Teori nenek, dulu waktu bunda hamil Kira. Nenek selalu ingatin bunda. 'Sarah, jangan terlalu banyak makan pedas, nanti cucu mama keriput'. Keenan begitu katam meniru ucapan snag nenek meski sudah lama sekali. Dia bahkan baru 12 tahun waktu itu.


Keyra cengo mendengar ucapan kakaknya, seperti nya ini ilmu baru yang wajib di teliti oleh teman sejawat nya, terkhusus yang spesialisasi dokter kandungan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Drrrttt drrrttt drrrttt

__ADS_1


"Ya Do? aku sibuk, kalau cuma mau ajak makan siang, aku tidak bisa, pengangguran seperti mu mana paham. Ya sudah, aku tutup dulu, dah"


Ingin sekali Aldo berteriak, andai tak mengingat dirinya ada di rumah calon kekasih nya.


,"Kenapa mas, mukanya kok tiba-tiba di tekuk gitu." Tanya Narsih yang sibuk menyusun bungkusan nasi kuning kedalam boks jualan nya.


"Tidak ada apa-apa, udah siap belum? Hari ini kita jualan di kampus aku, pasti bakal langsung habis. Ini yang mesen udah banyak, itu ada beberapa bungkus sih. Aku udah foto-foto tadi kirim di group kampus, waktu kau sibuk susun-,susun." Aldo mulai menghitung jumlah pemesanannya.


"27 orang, cukup tidak" tanya Aldo memastikan.


"Masih ada lebih, hari ini aku buat banyak. Kebetulan ayam nya motong punya sendiri sama telur nya juga ambil di kandang belakang. Jadi modalnya buat beli bahan bumbu aja" jelas Narsih tanpa merasa malu sedikit pun.


"Siplah kalau begitu, untung mu hari ini berlipat ganda." Ujar Aldo penuh arti.


"Maksud nya gimana?" Narsih belum paham arah pembicaraan Aldo.


"Ada, tidak usah tau. Pokoknya sampe sana masker nya jangan di buka, ingat." Aldo kembali mengingat kan Narsih, gadis itu hanya mengangguk saja. Pasti Aldo malu teman-teman nya mengetahui kalau mereka dekat pikirnya.


Setelah 20 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di kampus Aldo.


"Kila langsung ke kantin aja, aku sudah ngasih tau sama mas Eky, kalau pacarku bakal numpang nglkapak di kantin nya." Ujar Aldo masih belum menyadari raut wajah Narsih yang tertutup masker.


Aldo terdiam, lalu menatap netra Narsih. "Duduk sini dulu yuk, maskernya di buka dulu." Ajak Aldo lembut, lalu duduk di kursi yang ada di dekat parkiran.


"Aku melarang mu membuka masker, bukan karena aku malu. Tapi aku takut teman-teman ku menyukai mu, aku cemburu. Sekarang paham?" Wajah Narsih memerah seperti kepiting rebus.


"Maaf, sudah berburuk sangka sama mas Aldo" cicitnya malu dan tidak enak hati.


"Sudah tidak apa-apa, ayo, teman-teman ku sudah pada nungguin di kantin. Masker nya buka aja, tapi jaga mata, jaga hati. Ingat ada mas Aldo yang selalu mengharap kan cinta mu." Kerling Aldo menggoda Narsih.


"Ish mas ini, ayo cepat, tar keburu masuk kelas." Ajak Narsih mengalihkan topik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kenalin, Bambang tamvan Roger Rodas" ujar salah seorang teman Aldo, membuat Aldo panas dingin.


"Narsih, mas bambang tamvan Roger Rodas" balas Narsih selengkap mungkin.


"Sih?" protes Aldo tak terima, si cunguk Ardi di panggil sampai selengkap itu.

__ADS_1


"Namanya Ardi Kudisan, tidak pake tampan." Ketus Aldo kesal.


"Woi, sans men. Narsih aja mengakuinya" bela Ardi tak Terima, namanya diselipi kata Kudisan. Kulitnya bahkan sangat mulus seperti bayi baru lahir.


"Ck, udah besar hobby nya berantem. Tidak malu itu sama Narsih, Sih, aku dua ya, yang ayam kampung sama telor, ayamnya bumbu rendang kan?, pake serundeng juga kan?" Bety bertanya secara beruntun.


"Tanya satu-satu Jubaidah!" Seru Aldo melampiaskan kekesalannya pada Bety.


"Santuyy aja dong, ngegas aja, heran.." Bety pun tak mau mengalah "Ini semua, dia yang bayarin ya Sih." Tunjuk Bety pada Ardy membuat pria itu tersedak potongan ayam kampung.


Buru-buru Ardy minum untuk melegakan tenggorokan nya.


"Kalau ngomong pake mikir dulu, bisa tidak!?" Ardy mulai ikut ngegas.


"Ck! pelita amita sih, malu sama Narsih noh" Bety mulai memojokkan Ardy.


"Aku yang bayar, masih ada tidak?" Devan yang baru datang menengahi perdebatan dua sabita itu.


"Ada mas, masih 3 bungkus lagi. Mau yang ayam apa telor?" tanya Narsih ramah.


"Sih? Tidak usah terlalu ramah" bisik Aldo mulai gerah.


"Jualan kan memang harus ramah, benar tidak?" Devan menatap Narsih meminta persetujuan.


Narsih hanya mengangguk pelan, takut salah berbicara dan membuat Aldo malu. Dia bersyukur tanpa harus berkeliling jauh-jauh mengayuh sepeda nya, jaualan nya hampir habis terjual.


"Oya, Devan. Namamu siapa?" Devan mengulurkan tangannya pada Narsih yang langsung di sambut oleh Aldo.


"Narsih calon istri nya mas Aldo" bukan suara Narsih melainkan Aldo. Narsih tersipu mendengar pengakuan Aldo.


"Aku nanya dia, lagian baru calon kan? peluang di tikung masih terbuka lebar, yang sudah sah saja bisa berakhir sekali ketuk palu." Ujar Devan menantang, seperti nya hubungan keduanya tidak lah baik.


"Maaf, untuk yang kali ini akan aku jaga dengan segenap jiwa dan raga. Jadi, cobalah berhenti menjadi pecundang, dengan selalu memungut sepah orang lain." Aldo menarik sudut bibirnya tersenyum mengejek, Devan mengepal tangan nya kuat hingga buku-buku jarinya memutih.


"Nih aku bayarin semua, sisanya ambil aja. Ini aku bawa ya, makasih Narsih." Devan tersenyum lembut pada Narsih, Aldo semakin kesal.


"Sisanya masih banyak mas, ada 47 rb lagi ini, tunggu bentar" ujar Narsih tak enak.


"Udah tidak apa-apa, lain kali ke sini aku beli lagi, hitung aja berapa sisanya, nanti berapa aku dapat. Dah Narsih cantik, aku pergi dulu yaa." Devan mengerling kan matanya pada Narsih, hampir saja di hadiahi bogeman mentah oleh Aldo namun Ardy menahan nya.

__ADS_1


Dia tidak ingin mereka membuat keributan, lagi pula ada Narsih. Ardy tidak mau penilaian Narsih buruk pada temannya.


__ADS_2