Maaf, Untuk Lukamu!

Maaf, Untuk Lukamu!
Ruang Panas


__ADS_3

Keyra menatap datar ke arah Bayu, pria bau tanah itu rupanya ingin bermain-main dengan nya.


"Kau tau aku paling tidak suka ada kesalahan sekecil apapun menyangkut laporan data keuangan, baik keluar atau masuk nya aliran dana. Kau terpilih bukan tanpa alasan, aku menghargai dedikasi mu pada rumah sakit ini. Dan lihat lah, kau mencoba menikam ku dari belakang. Sungguh lucu. Aku salut akan besar nya nyali mu, berkhianat pada rumah sakit sama saja berkhianat pada ku. Kepercayaan ku sangat mahal harga nya, pak Bayu. Bahkan jika seluruh organ tubuh mu kau jual sekaligus anggota keluarga mu, itu tidak akan cukup untuk membeli kepercayaan ku kembali." Bayu dan Indah serta seluruh peserta rapat di ruangan bergidik ngeri, tengkuk mereka meremang mendengar kalimat menakutkan dari sang direktur.


Tanpa aba-aba, Bayu menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Pria paruh baya itu berlutut di hadapan kursi kebesaran sang pemilik rumah sakit. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menyelamatkan diri nya dari jerat hukum. Dia berharap sisi nurani Keyra terketuk mengingat pengabdian nya selama ini.


"Ampuni aku nona Keyra, aku tau apa yang aku lakukan adalah salah. Aku tidak menyangkal nya. Aku mohon kerendahan hati anda nona, agar memaafkan kekhilafan pria tua ini. Aku punya keluarga yang harus aku beri makan serta pendidikan yang layak. Tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahan ku ini, aku akan mengganti semua kerugian rumah sakit dengan cara mencicil nya. Bahkan jika seumur hidup aku harus mengabdi, aku rela. Tak perlu menggaji ku nona, cukup beri tunjangan hidup pada anak juga istri ku."


Bayu memohon dengan penuh harapan, dia tau Keyra bukan orang yang mudah tersentuh oleh kata-kata pilu dari orang yang sudah berani bermain-main dengan kepercayaan nya. Namun apa salah nya mencoba. Begitu lah pikir nya.


Indah pun tak kalah panik, wajah nya pucat pasi dan berkeringat dingin. Andai dia tidak menuruti perintah sang atasan, dia tidak akan terlibat dan terjebak dalam situasi tak mengenakan ini.


Kaki nya melangkah perlahan ke arah di mana Bayu tengah berlutut. Belum mengatakan apapun, tubuh Indah sudah bergetar ketakutan.


"Nona Keyra, ampuni saya...saya hanya mengikuti perintah pak Bayu untuk memanipulasi data keuangan. Tapi ini untuk pertama dan terakhir kali nya. Saya bersumpah, tolong maaf kan saya nona." Indah terisak ketakutan. Jika dia di pecat atau parah nya di penjara. Bagaimana dengan nasib ibu dan dua adik nya.


"Apa kau juga bergetar ketakutan juga terisak sepilu ini, saat pak Bayu memerintahkan mu untuk melakukan kecurangan terhadap rumah sakit ini, Indah?" skak! Indah tak berkutik. Tubuh nya kaku, lidah nya kelu. Dia bahkan berbinar cerah saat menerima asupan nutrisi dalam amplop coklat yang di berikan oleh Bayu pada nya tempo hari. Tidak ada raut ketakutan, tidak ada kecemasan akan seperti apa ending nya apa bila ketahuan.

__ADS_1


"Maaf nona...ampuni saya..." Indah semakin terisak, kini posisi nya pun ikut berlutut di samping Bayu. Kedua nya nampak seperti dua orang tawanan. Keyra tersenyum miris, wanita datar itu sangat menyayangkan sikap kedua pegawai nya tersebut.


"Kenapa kalian terlihat seperti dua orang korban yang tengah memohon pengampunan atas nyawa kalian? Seharusnya pikirkan terlebih dahulu apa konsekuensi yang akan dapat kan, jika berani bermain-main dalam tangkup kepemimpinan ku." Ujar Keyra lugas. Tak ada nada keramahan dalam intonasi suara nya.


"Dan ini sekaligus peringatan untuk kalian semua. Aku benci pengkhianat. Mereka seperti benalu juga sampah di mata ku. Jika ada di antara kalian yang tengah menyiapkan konspirasi untuk menentang kebijakan dan prosedur kerja di rumah sakit ini. Angkat kaki segera. Penjara terlalu mudah, kalian akan di jamu 3 kali sehari walau tidak sesuai selera dan harapan. Aku punya hukuman lain, dan aku yakin untuk sekedar membayangkan nya saja, kalian akan lebih memilih untuk mengakhiri hidup kalian sendiri." Tatapan Keyra menghunus satu persatu peserta rapat di ruangan tersebut.


Tak ada yang berani bersuara, bahkan jika bisa berhenti bernafas sejenak membuat mereka aman. Maka akan mereka lakukan. Sayang nya mereka semua masih sangat menyayangi jiwa dan raga mereka.


"Kami tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti ini, bu direktur. Bukan hanya karena takut akan konsekuensi nya. Namun lebih kepada ketulusan hati, yang kami junjung tinggi dalam bekerja untuk memajukan kinerja rumah sakit ini." Ujar salah seorang petinggi rumah sakit tersebut. Sebagai orang yang bekerja cukup lama di sana, dia tau betul apa yang harus dia lakukan. Selain itu, dia telah mendedikasikan diri nya untuk bekerja sepenuh hati. Meski kadang godaan dari berbagai pihak berkali-kali menerpa iman nya. Namun berkat keteguhan hati, dia mampu menghempas semua godaan-godaan tersebut.


Tidak ada di antara mereka yang merasa aman jika sudah di panggil menghadap sang direktur. Ruangan yang paling menakutkan di rumah sakit tersebut bukan lah ruang ICU atau kamat mayat. Melainkan ruangan sang nona muda pewaris rumah sakit tersebut.


Dan kini mau tak mau kedua nya harus melakukan kunjungan tak terduga, ke ruang panas tersebut secara suka rela.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terlihat seorang pria tengah berlari kecil mencoba mensejajarkan langkah nya dengan langkah lebar Imah.

__ADS_1


"Mah, pelan-pelan dong. Kaya mau balap maraton aja sih." Ucap nya sedikit terengah-engah. Sejak Imah keluar dari kelas nya, dia sudah berusaha mengejar langkah lebar Imah.


"Aku buru-buru, ada janji soal nya..." sahut Imah dengan nafas memburu. Rendy selalu mengusik ketenangan nya akhir-akhir ini, dia merasa sangat terganggu. Terlebih diri nya akan mengikuti ujian semester. Fokus nya jadi terganggu.


"Janjian sama siapa?" tanya Rendy menuntut penjelasan. Imah sejenak menghentikan langkahnya kemudian berbalik menghadap ke arah Rendy.


"Apa tidak terlalu berlebihan jika kau harus ikut mencampuri urusan ku, Ren? jujur saja aku merasa tidak nyaman. Kita bukan siapa-siapa, dan cara mu bertanya seolah sedang mengintrogasi kekasih mu saja. Aku tidak suka!" Tegas Imah menatap tajam pada Rendy.


Rendy menghela nafas panjang, dia sudah lelah bersikap baik pada Imah. Namun dia masih harus mendapatkan hati gadis itu terlebih dahulu.


"Maaf jika sikap ku membuat mu tidak nyaman. Aku hanya terlalu khawatir, aku tau aku tidak punya hak apapun. Tapi perasaan ku masih sama meskipun kau terus menolak ku. Aku mencemaskan mu, aku takut kau salah memilih teman pria. Sekali lagi maafkan aku. Sekali saja, ijin kan aku mengantar mu pulang. Setelah ini aku janji tidak akan mengganggu mu." Ujar Rendy penuh harap.


'Lihat saja, aku akan membuat mu terikat pada ku setelah ini. Setelah itu, aku akan membuang mu layak nya sampah!" Rendy menyeringai dalam hati nya. Dia yakin Imah pasti akan setuju kali ini, karena gadis itu akan berpikir jika diri nya tidak akan menggangu nya lagi.


Imah terdiam, entah apa yang sedang dia pikir kan. Hingga seseorang meraih pinggang nya dengan posesif. Imah terkesiap lalu menoleh, sebelum sempat dirinya menepis lengah kokoh tersebut. Imah di buat tercengang melihat siapa yang kini tengah memeluk pinggang kecil nya.


.

__ADS_1


__ADS_2