Maaf, Untuk Lukamu!

Maaf, Untuk Lukamu!
Pikirkan lah


__ADS_3

"Tadi di bawah tidak dipersulit kan, aku sudah titip pesan sama bagian resepsionis, Utari namanya. Kalau istri cantik ku bakal ke kantor jadi harus disambut dengan baik dan ramah. Ketemu tidak?" Sejenak Arumi berpikir, yang dia ingat nama wanita tadi adalah Sita. Apa nama lengkapnya Sita Utari?


"Sayang? kok malah ngelamun? jadi siapa yang nganter naik ke sini tadi?" ulang Keenan menuntut jawaban, pasalnya tadi dia belum sempat bertemu Nina, sekretaris.


"Namanya Sita, apa lengkapnya Sita Utari?" Arumi balik bertanya.


Keenan mengernyit dahinya nampak berpikir "Bukan, namanya Utari Utomo, orang nya tinggi kurus, kulit nya sawo matang, pake kaca mata. Jadi bukan utari yang nganter tadi? kemana anak itu? bukannya aku udah nitip pesan ke dia" Keenan sibuk bermonolog sendiri sementara raut wajah Arumi sudah berubah masam.


"Bukan!" ketus Arumi membuat Keenan tersentak kaget. Eh? istri nya Kenapa jadi tiba-tiba bad mood, nadanya jadi terdengar galak gitu.


"Jadi siapa tadi yang nganter?" ulang Keenan was-was, entah apa kesalahannya sekarang.


"Sita itu tadi, masa kamu tidak denger" masih dengan nada ketus, Arumi mengelap kotak bekal yang baru saja dia cuci dengan sedikit kasar.


Keenan semakin di buat bingung, melihat perubahan sikap istri nya yang tiba-tiba. Apa tadi katanya? kamu? wah! berarti benar, diri nya telah membuat kesalahan ini, pasti! tidak di ragukan lagi.


"Umi? kenapa sih, kok jadi tiba-tiba berubah gini, tadi kita baik-baik aja loh. Udah ciuman juga? eh? apa ciuman kurang? mau lanjut yang lebih hot lagi ya? boleh deh, disini aja, anak-anak lagi tidur di kamar." Keenan melingkar kan tangan kekar nya di perut berlemak sang istri yang menjadi favorit nya sekarang.


"Tidak usah pegang-pegang" sergah Arumi menepis tangan Keenan.


"Loh? kok umi jadi gini sih, coba ngadep abi sini. Cerita gih, apa yang mengganjal di hati umi, abi ada salah apa. ayo, ceritakan." Dengan sabar Keenan menuntun tubuh samg istri menghadap ke arah nya.


Wajah arumi masih tidak enak di lihat, jelas sekali istri nya sedang kesal sekarang.


"Itu..." Arumi ragu-ragu mengutarakan isi hatinya.

__ADS_1


"Apa? ayo ceritakan saja semu, telinga abi khusus di ciptakan buat dengerin cerita dan keluh kesah umi, hmm" Sabar batin keenan komat kamit.


"Itu.. Si Utari Utomo, yang badannya tinggi langsing, kulit nya sawo matang, pake kacamata trus cantiknya meleleh kemana-mana" Arumi menambah kalimat terakhir dengan menggebu-gebu.


Keenan terpekur, selang beberapa detik tawanya pun menggelar. Rupanya istri tercinta nya ini sedang dalam mode cemburu senja, padahal matahari masih bersinar terang loh diluar gedung. Andai saja Keenan punya keberanian untuk berkata demikian, sayangnya, Keenan tipe suami-suami takut istri.


Setelah tawanya reda, Keenan menangkup pipi chubby istri, lalu menciumi seluruh wajah bulat yang sedang di liputi kecemburuan tersebut dengan gemas.


"Utari itu adik iparnya Nina, sayang. Istrinya Nino, astagaa! istri ku ini ternyata bisa cemburu juga rupanya. Bahagia nya abi, tau tidak? Sini cium lagi, gemes abi jadi nya." Namun secepat kilat Arumi melengos, dirinya jadi malu sendiri.


"Jadi gimana, masih cemburu?" goda Keenan membuat pahanya di hadiahi oleh capitan kepiting dari sang istri.


"Udah, diem! aku malu" Arumi memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


"Abi senang, akhirnya umi bisa tunjukkan rasa cemburunya umi sama abi. Selama ini abi selalu was-was, kalau-kalau abi belum sepenuhnya ada disini." Tunjuk keenan ke dada sang istri.


Keenan merasa kan hatinya menghangat, mata pria itu sampai berkaca-kaca, diraihnya tubuh berisi sang istri ke dalam pelukannya.


"Makasih ya sayang, abi sayang banget sama umi sama anak-anak kita. Jangan pernah raguin abi lagi, cinta abi mentoknya di umi." Ujar Keenan tegas Keenan diselingi selorohan di akhir kalimat nya.


Kedua nya berpelukan dalam keadaan hati yang diliputi perasaan bahagia, selama ini Keenan memang selalu intens mengucapkan kalimat-kalimat cinta. Namun yang baru saja Keenan katakan terasa berbeda saja di pendengaran Arumi.


"Makasih bi, aku juga sayang banget sama abi dan anak-anak. Jangan pernah berubah, walau nanti uban di kepala ku lebih dulu bertebaran." Ujar Arumi lirih. Bagaimana pun usia nya lebih tua dari Keenan, tentu saja kadang-kadang dirinya merasa kan insecure.


"Pasti, kalau nanti uban umi udah pada unjuk diri. Abi juga bakal cat rambut abi dengan warna putih, biar rambut kita sama." Ucap Keenan dengan nada serius. Kemudian tawa memenuhi ruangan tersebut, tawa kebahagiaan yang saling melengkapi kekurangan masing-masing.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Apakah kau sudah yakin dengan keputusan mu?"


"Sangat, dan sudah final" jawabnya tanpa ada sedikit pun keraguan di wajahnya.


"Bagaimana caramu menghadapi keluarga itu, mengingat kau pernah menjadi suatu ancaman untuk salah satu anggota keluarga mereka." Tristan masih mencoba mencari celah agar keputusan Mike dapat di rubah.


"Aku tidak datang untuk mengacaukan kebahagiaan mereka, Tris! tolong berhentilah memojokkan ku untuk dosaku di masa lalu! Aku sudah cukup menanggung beban dosa ku selama ini, kehilangan Wanita yang aku cintai juga calon anakku. Derita mana lagi yang belum aku rasakan" lirih Mike dengar suara putus asa. Mike menyugar rambutnya frustasi, dia tau, akan sulit bagi orang-orang untuk bisa mempercayai nya.


Pria itu mendapat hukuman yang cukup ringan jika di bandingkan dengan apa yang dia lakukan. Baru seminggu ini dirinya bebas, dan sudah mengajukan CV lamaran kerja di rumah sakit milik keluarga Sudibyo. Meski dia tau, sangat mustahil jika lamaran nya akan diterima, mengingat direktur rumah sakit tersebut adalah adik dari pria yang pernah menjadi rivalnya.


Bisa saja dia melamar ke rumah sakit lain, hanya saja, Mike ingin, melalui pekerjaan nya dia bisa sedikit membalas budi, atas kemurahan hati Keenan dan keluarga nya. Yang sudah menjamin nya hingga masa tahanan belasan tahunnya, hanya di jalani dalam waktu 15 bulan saja.


Anggap saja dia mengabdi kan dirinya di rumah sakit keluarga Sudibyo. Walau pun di tentang oleh keluarga nya, yang merasa malu atas perbuatannya di masa lalu. Namun Mike tidak peduli, dia tidak datang untuk merusak kebahagiaan keluarga kecil Keenan dan Arumi.


"Aku tidak sedang memojokkan mu, Mike. Mengerti lah, sebagai sepupu mu, aku merasa ikut andil atas apa yang kau perbuat. Ingatlah, adik Wanita yang kau cintai, sekarang akan menjadi tanggung jawabmu setelah kau resmi dibebaskan. Jangan sampai kau melakukan kesalahan yang akan berpengaruh padanya juga." Tristan menatap iba manik saudaranya, namun dia harus tegas kali ini. Kejadian lalu telah mencoreng nama baik keluarga besar nya, maka kini apapun keputusan yang Mike ambil. Tristan merasa harus ikut menelaah nya agar tidak salah arah.


"Pikir kan lah. Aku akan menyerahkan seluruh tanggung jawab Noora padamu mulai sekarang. Ini tahun pertama Noora masuk kampus, cobalah untuk menjadi panutan nya." Tristan menepuk pelan bahu sepupu nya, "dan ya, usahakan lah kau jangan jatuh cinta padanya" Tristan mengerling kan matanya setelah menyelesaikan kalimatnya. Mata Mike memicing, mencoba mencerna dari ucapan adik sepupu nya itu.


"Kenapa?" matanya masih menatap Tristan dengan tatapan menyelidik.


"Karena aku sudah menyegelnya untuk menjadi nyonya muda di istana ku." Balas Tristan santai, lalu berlalu pergi dari hadapan Mike yang kasih mematung.


"Hey! kau itu playboy, Noora tidak cocok denganmu" Seru Mike setelah tersadar dari lamunannya, namun sayang Tristan sudah berlalu terlalu jauh, hingga tak mungkin mendengar teriakannya.

__ADS_1


Mike masih memikirkan, apa yang dikatakan oleh Tristan, banyakkah hal yang sudah dia lewatkan selama berasa di dalam penjara. Pria itu mengusap kasar wajah nya, tidak percaya jika kini dirinya adalah mantan narapidana. Untung saja keluarga Sudibyo berbaik hati padanya, sehingga kasusnya tidak disebarluaskan. Malah terkesan di tutupi oleh keluarga tersebut.


Mike menengadahkan wajahnya menatap langit-langit rumah sederhana minimalis miliknya, yang baru saja dia beli dengan bantuan sepupunya, Tristan. Keuangan nya sedang menipis sekarang, belum lagi jika Noora ikut tinggal dan menjadi tanggung jawab nya. Maka dirinya harus punya penghasilan yang cukup untuk mereka berdua juga pendidikan Noora. Selama ini biaya hidup dan sekolah Noora di tanggung oleh Tristan, dan tidak mungkin dia terus bergantung pada sepupunya itu.


__ADS_2