
"Anak-anak mohon perhatian nya sebentar..." seru seorang guru wanita pada siswa yang sedikit sibuk dengan ponsel masing-masing.
Semua kepala terangkat termasuk Eiden, mata nya menatap horor ke arah gadis yang berdiri di samping wali kelas nya. Namun Sonia masih belum menyadari jika di dalam kelas yang akan menjadi kelas baru nya itu, ada pria menyebal kan menurut versi nya.
"Baiklah...ibu ingin memperkenal kan murid baru pada kalian semua. Ibu harap kalian bisa berteman dengan baik dan tolong nanti Sonia di bantu untuk ketertinggalan nya."
"Silahkan perkenalkan dirimu.." wali kelas itu menatap ramah pada Sonia. Sonia tersenyum kikuk, dia tidak suka menjadi pusat perhatian. Dan kini harus berdiri di hadapan kelas dan di tatap oleh banyak orang.
"Haii.. perkenalkan nama saya Sonia Su
jaya, saya pindahan dari SMA xxx Australia. Mohon bantuan teman-teman semua untuk membantu saya dalam mengejar ketertinggalan pelajaran di sini. Terimakasih banyak sebelumnya, selamat pagi dan salam kenal.." Sonia mengakhiri sesi perkenalan yang menyebal kan tersebut dengan senyum lega. Namun senyuman nya malah menjadi pusat perhatian mata para remaja pria. Lesung pipi di pipi bulat nya terlihat sangat indah.
"Boleh nanya tidak?" seru seorang murid mengangkat jari nya.
"Silah kan, kau mau tanya apa Tom? jangan yang aneh-aneh, Sonia baru saja bergabung di sekolah ini. Jangan membuat nya merasa tidak nyaman." Ucap sang wali kelas memperingat kan.
"Siap bu..cuma mau nanya, itu senyum nya di lumuri gula dulu apa gimana? manis banget soal nya..." ucap siswa bernama Tomi tersebut. Sontak diri nya mendapatkan seruan dari teman-teman. Tomi nampak cuek dan terus menatap Sonia tak berkedip. Sonia semakin salah tingkah, sementara Eiden berdecih melihat tingkah teman-teman pria di kelas nya.
"Sudah sudah, Sonia.. ambil tempat duduk di sebelah sana.. Arin? kau tidak masalah bukan?"" Arin mengangguk cepat, tentu saja tidak masalah, selama ini dia tidak pernah memiliki teman.
"Duduk lah di samping Arin, jika nanti ada yang mau berkenalan. Silah kan tunggu jam istirahat saja. Paham semua?.."
"Yaa Buu..." seru anak-anak menjawab bersamaan. Sementara murid perempuan merasa kehadiran Sonia sebagai ancaman.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Klek
Tanpa membuka kedua mata nya, Daru menyela terlebih dahulu dengan kata-kata penyambutan yang tidak enak di dengar.
"Aku sudah bilang, aku tidak terima tamu hari ini. Apa kau tuli? keluar lah, aku tidak ingin di ganggu, aku sibuk..!" usir Daru melanjut kan kegiatan bermalas-malasan nya. Kepala nya pusing, sejak terakhir bertemu dengan Imah di pernikahan Alisya waktu itu, dia sudah tidak pernah lagi melihat gadis itu. Ini sudah dua bulan lama nya, tentu saja dia rindu berat. Ingin bertemu pun dia tidak punya nyali meski hanya melihat dari jauh. Daru takut tidak bisa menahan diri nya jika dia melakukan hal itu.
"CK! begini cara mu menyambut tamu. Kau sibuk apa memang nya.." suara yang belakangan menjadi begitu familiar di telinga Daru, sontak membuat nya terkesiap. Dengan cepat Daru membuka kedua mata nya, hampir saja bola mata Daru melompat keluar saat melihat siapa tamu tak diundang tersebut.
"Kau!.. bagaimana bisa kau kemari tidak membuat janji terlebih dahulu.." omel Daru dengan debar jantung tidak teratur. Setiap kali melihat pria ini, diri nya seperti sedang di kejar rentenir. Anak dan ayah sama-sama bikin kinerja jantung nya menjadi tidak sehat, batin Daru mengomel.
"Apa begini cara mu menyambut calon mertua..!" ucap Keenan berdecih kesal. "Menyesal aku sudah repot-repot mendatangi kantor kecil mu ini." Lanjut Keenan menuju sofa dan duduk seolah dialah tuan rumah nya.
Daru tercenung mendengar kalimat awal Keenan, calon mertua ? apa telinga nya sudah rusak akibat terlalu merindukan anak sulung pria menyebal kan ini.
"Ck! kalau aku beri tau akan sangat terlihat sekali bagaimana kelakuan mu yang sesungguh nya." Decak Keenan menggerutu.
"Ayo temani aku makan siang, kali ini sampai 6 hari ke depan. Kau yang akan mentraktir ku makan siang. Aku ingin lihat, seberapa banyak uang mu, aku tidak ingin putri ku hidup pas pasan dengan mu nanti." Ketus Keenan masih tak bersahabat.
Daru masih berusaha mencerna setiap perkataan calon mertua laknat nya tersebut.
"Ayo cepat! atau kau sudah ada pengganti putri ku... ya sudah, aku juga terpaksa karena tak tega pada putri yang terus murung karena mu." Desak Keenan tak sabar. Pria itu terus mengomel seperti wanita.
__ADS_1
"Eh? tidak tidak! ayo, aku juga sudah lapar." Tukas Daru buru-buru menyambar kunci mobil nya.
"Pakai mobil ku saja," lanjut Daru mulai terlihat cerah kembali. Dia bahkan rela menjadi sopir Keenan asal pria itu senang.
"Cihh! dasar penjilat..." dengus Keenan berdecih seolah jijik, meski begitu pria itu tetap mengikuti langkah lebar Daru.
Sesampai di restoran kedua pria tersebut memesan makanan, namun Daru di buat menganga lebar saat mendengar jumlah pesanan Keenan. Porsi yang pria itu pesan seolah mereka tengah makan satu kelurahan.
"Kenapa wajah mu seperti itu? jangan bilang kau tidak mampu membayar nya..." tuduh Keenan menatap tajam ke arah Daru.
"Ck! bukan begitu, hanya saja siapa yang akan makan semua pesanan mu nanti. Apa kau yakin mampu menghabiskan nya sendiri..." sanggah Daru tak terima. Jika hanya untuk membayar makanan tersebut dia masih mampu. Namun akan mubazir jika tidak di makan semua, begitu lah pikir nya.
"Tentu saja akan aku habis kan. Kau meremehkan ku?" sergah Keenan bersandar sambil bersedekap dada. Lama Keenan menilik penampilan Daru mulai dari ujung rambut hingga melirik bawahan pria itu. Daru mulai risih di buat nya.
"Kenapa menatap ku begitu ? aku masih normal ya," ucap Daru kontan membuat nya mendapatkan pelototan dari Keenan.
"Aku juga masih waras, enak saja!" ucap Keenan sewot. Putri ku saja yang sedikit kurang waras semenjak bertemu dengan mu. Bagaimana bisa putri ku yang cantik dan masih belia, jatuh cinta pada pria tua seperti mu. Menyebalkan sekali!" lanjut Keenan dengan nada ketus.
Daru tertegun mendengar penuturan Keenan, Imah oun menyukai nya. Boleh kah diri nya berharap lebih sekarang ?
"Khemmm...itu.. Imah, apa kabar?" tanya Daru basa basi dengan nada sedikit gugup.
"Baik. Aku memberi nya makan makanan sehat dan menjaganya dengan baik." Jawab Keenan angkuh.
__ADS_1
"Sudah seharusnya begitu, kau kan ayah nya. Gimana sih.!" gerutu Daru bergumam dongkol.
"Aku mendengar mu.." sahut Keenan.