Maaf, Untuk Lukamu!

Maaf, Untuk Lukamu!
Setitik penyesalan


__ADS_3

Hari mendebarkan telah tiba, di mana Daru tengah berdiri gagah di hadapan seorang pastur. Dengan jas putih gading yang terlihat menawan di tubuh tegap nya. Daru berusaha menetralkan perasaan gugup yang tiba-tiba saja mendera kepercayaan diri nya.


Imah berjalan di gandeng oleh Keenan menuju altar pemberkatan. Hati nya berdesir hebat. Begini kah rasa nya menjadi seorang ayah, mengantar anak perempuan nya menuju altar dan menyerahkan tugas serta tanggung jawab pada calon menantu nya. Rasa nya Keenan masih belum rela. Imah memang bukan putri kandung nya, namun rasa sayang nya pada gadis itu setara dengan anak-anak nya yang lain. Imah adalah anak sulung di keluarga nya, tentu saja pengaruh gadis itu sangat besar.


Imah menoleh sesekali, mata nya memanas tak kala melihat manik memerah sang ayah yang berusaha menahan tangis.


"Abi tidak apa-apa ?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir mungil Imah. Ada setitik penyesalan telah melakukan pembibitan bersama sang kekasih. Imah pun masih belum rela berpisah dari keluarga angkat nya.


"Ya..abi hanya terlalu bahagia. Ternyata seindah ini menjadi orang tua, puncak kebahagiaan adalah ketika mengantar kan anak perempuan nya menuju altar." Ungkap Keenan dengan mata berkaca-kaca. Kedua nya terus berjalan hingga tiba di mana Keenan akan melepaskan seluruh tanggung jawab nya sebagai seorang ayah.


"Jaga putri ku dengan seluruh hati mu..jika kelak ada kesalahan serta kekurangan nya, tegur dan cobalah memberikan nasihat yang bijak. Jangan lukai hati nya, karena Imah masih punya orang tua yang akan merasakan sakit yang sama bila kau sakiti." Sungguh kalimat Keenan mampu membuat pertahanan Imah luruh. Air mata nya mengalir deras dalam diam.


Setelah segala prosesi selesai, berikut resepsi nya. Keluarga itu mulai berkumpul untuk sekedar berbagi sekelumit kisah di tengah riuh nya pesta pernikahan megah tersebut. Keenan ingin semua orang tau, jika Imah adalah putri nya. Tersemat nama Sudibyo di belakang nama gadis itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Imah terdiam menatap pintu kamar mandi yang masih belum terbuka, dengan perasaan yang sulit di jabarkan. Daru memilih mandi terlebih dahulu karena merasa gerah, setelah seharian sampai malam tiba berdiri di pelaminan.


Klek

__ADS_1


Daru menatap heran saat melihat sang istri kini tengah menatap nya dengan tatapan yang entah.


"Kenapa sayang? kok gaun nya belum di lepas?" tanya Daru heran.


"Susah," satu kata, Daru terdiam. Istri nya seperti tengah menyimpan sesuatu di benak nya. Dia lebih memilih untuk membantu membuka kancing gaun sang istri dari pada bertanya lebih lanjut.


"Mau mandi dulu? aku sudah siapkan air hangat di dalam." Ucap Daru penuh perhatian. Imah hanya mengangguk pelan, dengan hanya menggunakan gaun tidur satin yang tadi melapisi gaun pengantin nya. Imah berjalan menuju kamar mandi dengan langkah malas.


Daru tak ingin berprasangka, meski hati nya mejadi sedikit tak karuan oleh tingkah sang istri yang mendadak berubah.


Hampir setengah jam, Daru mondar mandir gelisah di depan pintu kamar mandi. Ingin sekali diri nya mengetuk pintu, namun dia berusaha menghargai privasi sang istri. Barang kali Imah butuh penyesuaian diri dengan status baru nya yang kini telah menjadi seorang istri. Daru berusaha berpikir positif.


Klek


"Kok nunggu di depan pintu kamar mandi mas?" Imah menatap heran pada suami nya. Daru mengikis jarak di antara mereka lalu meraih tubuh dingin sang istri ke dalam dekapan nya.


"Kalau ada yang mengganjal di hati mu, jangan pernah memendam nya seorang diri. Sekarang kita adalah suami istri. Ikatan sempurna dalam sebuah hubungan dewasa. Berbagi lah pada ku semua kesulitan hati mu, jadi kan bahu ku sebagai sandaran mu, kedua tangan dan kakiku akan menjadi penopang yang kokoh untuk mu kelak. Jadi jangan pernah merasa tidak enak karena tak ingin membebani ku dengan hal-hal remeh. Semua hal besar terjadi karena kita sering mengabaikan hal-hal kecil seperti itu." Imah terisak dalam dekapan suami nya.


Entah kenapa setelah sah menjadi istri pria itu, mendadak perasaan bersalah kepada kedua orang tua nya menyeruak dalam benak Imah.

__ADS_1


"Maaf," lirih Imah hampir seperti orang berbisik.


"Sudah, tidak apa-apa. Kita masih butuh banyak penyesuaian diri masing-masing. Jangan sungkan menegur ku bila cara ku salah dalam memperlakukan mu, tegur aku bila aku mulai terlalu sibuk dengan pekerjaan ku atau apapun itu." Imah hanya bisa mengangguk dalam isakan kecil nya yang mulai teredam. Ada rasa nyaman dan tenang saat mendengar kalimat menenangkan dari sang suami.


"Ayo pakai baju dulu..malam ini kita seperti nya harus memulihkan tenaga terlebih dahulu. Padahal aku sangat ingin melahap mu habis-habisan." Seloroh Daru menangkup pipi sang istri lalu mencium kening Imah penuh rasa.


"Aku juga sedikit lelah, betis ku seperti batu sekarang." Keluh Imah menatap ke arah kaki nya yang tengah dia goyang kan perlahan agar lebih rileks.


"Mau aku pijit? sekarang pakai baju dulu, lihat dia sudah menantang ingin segera menancap di dalam lahan tersembunyi ini." Goda Daru meremas pelan bokong montok sang istri. Imah terkekeh kecil melihat wajah memerah suami nya. Padahal pria itu sendiri yang memancing reaksi nya.


Setelah menggunakan baju tidur dengan bahan yang serba menerawang. Imah menelungkup di ranjang, tubuh nya lelah. Daru segera meletakkan ponsel nya di atas nakas. Di ambilnya lotion pijat. Di Balur nya di betis sang istri lalu memijit nya perlahan.


Sensasi pijitan Daru membuat Imah melayang, tangan kreatif Daru mulai tak tahan untuk tak menyentuh area lain. Imah semakin memejamkan kedua matanya saat tangan sang suami sudah mulai merambah area lembab tersebut.


Lenguhan kecil Imah berhasil memancing seluruh sistem saraf pria itu. Bagai orang yang baru di isi daya, Daru mulai berjongkok dan mulai memberikan sentuhan dengan bibir juga lidah nya di punggung mulus Imah. Gaun tidur itu kini sudah terlepas sempurna dari tubuh sintal Imah. Geliat manja Imah membuat Daru semakin bersemangat.


Dengan posisi yang masih sama, Daru mengangkat sedikit bokong seksi sang istri. Pria itu sudah sangat merindukan semua yang ada pada tubuh istri nya. Tiga hari menahan hasrat, kini dia ingin melebur nya.


Setelah memastikan posisi yang nyaman, Daru mulai memposisikan diri nya dengan baik dari arah belakang. Perlahan namun pasti penyatuan pun terjadi, imah sempat memekik kecil, saat benda tumpul itu kembali menerobos masuk ke dalam inti nya setelah beberapa hari berlalu.

__ADS_1


Rupanya masih sedikit sulit. Daru pun harus ekstra bekerja keras agar mampu menembus batas sempit tersebut. Rasa nya tak dapat di ungkapkan dengan kata-kata. Pergulatan penuh peluh itu berakhir setelah satu jam lebih berbagi lenguh, dengan berbagai gaya. Sebagai seorang laki-laki, jelas Daru merasa terpuaskan. Imah istri nya mampu mengimbangi nya dengan sempurna.


"Makasih sekali lagi sayang.. semoga benih-benih cinta kita tumbuh sempurna di rahim mu." Doa Daru mencium lembut perut sang istri dengan sejuta doa dan harapan. Sementara Imah sudah memejamkan kedua matanya dalam lelah yang nikmat.


__ADS_2