
Jika ada yang bertanya kenapa sikap Elsye melunak, itu karena dirinya tanpa sengaja mendengar percakapan kedua orang tua nya tadi dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka. Hatinya terenyuh mendengar penuturan sang ayah. Hingga dia memutuskan untuk menyambangi Imah di kamar nya. Dan ternyata gadis itu baru habis mandi, dengan kain usang melilit di tubuh kurus nya, yang dia bawa dalam kantung plastik. Imah hendak memakai pakaian nya, namun kehadiran Elsye membuat nya urung karena malu memakai pakaian nya yang sudah terlalu banyak tambalan.
Ekor matanya melirik pakaian yang di kenakan oleh Elsye, lalu melirik ke arah tangannya. Rasanya sangat tidak sopan, jika dia memakai pakaian nya yang hampir di semua bagian terdapat bekas jahitan dan tambalan.
"Kenapa tidak pakai baju yang di atas nakas itu? tidak suka? mau yang model gimana? ke kamar ku yuk? siapa tau ada model yang kau sukai." Ujar Elsye mencoba beramah tamah, gadis jutek dan dingin itu merasa bersalah dengan pikirannya sendiri. Telah berburuk sangka pada gadis malang itu.
"Eh? tidak, ini bagus kok. Ini aja, aku ganti dulu ya." Imah meraih pakaian di atas nakas yang ternyata sudah beserta dalam*annya juga. Sekeluarnya dari kamar mandi, Imah nampak kikuk karena Elsye yang terus memandangi nya.
"Cantik. Tinggal pilih yang agak panjangan dikit lagi, makin cakep." Puji Elsye tulus. Ukuran dress itu mengikuti ukuran tinggi badannya sementara Imah lebih tinggi sedikit darinya.
"Terimakasih non. Nanti Imah cuciin kalau pakaian Imah sudah kering, oya Imah numpang jemuran di gantungan di dalam, besok pagi Imah pindahin." Ujar Imah tersenyum simpul, sangat manis di penglihatan Elsye.
"Kok non sih, Eci aja. Kita kan saudara, kata abi gitu." Padahal dia sendiri belum bertemu kata dengan sang ayah.
"Bukannya kata tuan, saya di ajak untuk bekerja di kota ya?" tanya Imah bingung. Elsye tersenyum miris. Imah terlalu polos dan lugu, padahal usianya bisa jadi lebih tua beberapa tahun dari nya. Rupanya tekanan keluarga nya, membuat gadis itu sama sekali tak ada kesempatan untuk mengenal dunia luar, meski hanya untuk bergaul. Terlihat dari cara Imah yang selalu gugup jika bertemu orang baru meski seusia nya.
"Tidak begitu, abi hanya berkata asal agar kau mau ikut, ayo kita keluar. Waktu nya makan malam." Elsye menggandeng lengan kurus Imah membuat gadis itu sedikit canggung. Seumur hidup nya belum pernah dia di gandeng seperti itu oleh siapa pun, bahkan oleh ayahnya. Ibunya meninggal saat dia masih belum mengerti apa-apa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Suka tidak?" tanya Elsye untuk ke sekian kalinya, kini kedua nya tengah duduk di balkon kamar Elsye. Selesai makan Imah ngotot ingin mencuci semua piring kotor juga membersihkan sisa makan malam mereka. Arumi tidak ingin mencegah nya lagi, dia tidak mau Imah merasa tidak betah tinggal bersama mereka jika dirinya dikekang untuk melakukan apapun. Dia tau Imah sudah terbiasa melakukan semua pekerjaan rumah sejak kecil, akan sangat sulit untuk merubah kebiasaan seseorang hanya dalam waktu semalam.
__ADS_1
"Suka. Kalau lebih murah dan bisa di tawar, akan lebih suka lagi." Timpal Imah polos. Elsye cekikikan lucu mendengar ucapan Imah, bagaimana bisa menawar saat belanja online pikir nya.
"Ini udah yang paling murah loh, Mah. Yang lebih mahal, ada lagi nih." Elsye menunjukkan beberapa item model pakaian wanita, dengan harga yang bikin mulut Imah ternganga tak percaya. Elsye semakin tertawa renyah, melihat reaksi wajah Imah yang menurut nya sangat lucu.
"Ini tidak bisa di tawar lagi? ya ampun, kalau aku beli baju ini, bisa-bisa habis sawah 2 hektar baru kebeli." Ujar Imah berdecak miris, melihat harga satu dress di brandol dengan harga hingga puluhan juta rupiah.
"Mau yang model gini? bagus sih, kayanya cocok. Coba liat deskripsi nya" Elsye mulai serius membaca size yang tertera di sana. "Ini cocok banget Mah, kalu kau pakai pas di lutut panjang nya." Elsye terus berceloteh mengenai kecocokan dress tersebut, sementara Imah sibuk mengali ngurang kan harga baju, yang menurut nya sangat mahal tersebut.
"Mah? Imah?" Imah tersentak mendengar panggilan nona kecilnya, yang kini berubah menjadi adik nya atas permintaan keluarga itu. Dia pun hanya bisa menurut saja, Imah sangat bersyukur ada yang mau menampung nya layaknya keluarga.
"Eh? Kodok loncat! ya, ada apa?" Elsye tidak dapat lagi menahan tawanya, gadis itu tertawa sampai kedua matanya berair. Image gadis jutek, dingin dan datar, kini lenyap saat dirinya di gabungkan dengan Imah.
"Astaga, Mah. Lucu banget sih." Elsye mengusap air matanya lalu mulai fokus ke pembahasan mengenai dress tadi.
"Suka yang ini tidak? kalau suka nanti kita pesan di butik oma Dara. Ini tuh contoh nya aja, kudu jahit dulu. Aku mau make ini pas ulang tahun aku dua Minggu lagi. Kita couple_an ya, mau?" Imah masih mencerna bahasan Elsye yang sedikit berat untuk dia tangkap. Maklum, selama ini Imah hanya akan memakai baju bekas adik tirinya. Itupun sudah pada sobek dimana-mana, bahkan saat ada tetangga yang memberinya baju bagus pun, akan di ambil oleh adiknya dan di tukar dengan baju-baju tidak layak pakai. Imah sudah terbiasa dengan itu, bahkan untuk dalam*annya saja, Imah menjahit nya sendiri dari potongan kain baju yang dia gunting menyerupai dalam*an. Dan dia jahit menggunakan benang karung, atau benang yang dia beli diam-diam di warung, dengan hasil upah nya sebagai buruh pemetik teh.
"Ini bisa di cicil tidak bayarnya? kalau Imah langsung dapat kerjaan sesampai dikota nanti, Imah bayar nya nyicil, bisa?" Ujar Imah dengan sangat polos, wajah serius nya membuat Elsye tidak tega untuk kembali tertawa.
Gadis itu menghela nafas panjang lalu menatap serius pada Imah, "dengar ya Imah sayang, yang bilang kau itu di ajak ke kota untuk bekerja, siapa? Abi mengajakmu ke keluarga kami itu sebagai anggota keluarga, bukan sebagai pekerja. Apa ya kata yang cocok nya.." Elsye terlihat tengah memikirkan kata yang pas dan bisa di cerna dengan mudah oleh pikiran dangkal Imah. Dia tau gadis itu selalu hidup dalam tekanan, kini dia ingin mengeluarkan Imah secara perlahan dari segala bentuk trauma itu.
"Tau adopsi tidak?" akhirnya pertanyaan itu yang muncul dipikiran nya. Imah nampak berpikir kemudian mengangguk pelan.
__ADS_1
"Nah, abi sama umi tuh, mau menjadikan mu anak angkat, tapi seperti anak kandung. Ya itu dengan cara mengadopsi mu, jadi mulai di detik kau di adopsi oleh keluarga ku, keluarga lamamu sudah tidak bisa mengusikmu lagi. Apapun alasannya. Begitu lah sederhana nya, sekarang paham, kan?" ujar Elsye menjelaskan dengan begitu bersemangat. Imah hanya manggut-manggut entah mengerti entah tidak.
"Itu manggut-manggut, paham tidak?" desak Elsye tak sabar.
"Paham non, eh, paham dek.." Elsye mendelik mendengar panggilan Imah padanya, sementara Imah hanya cengengesan salah tingkah.
"Maaf" cicitnya pelan, lalu menggamit lengan Elsye untuk membujuk gadis kecil yang kini menjelma menjadi adik nya itu.
"Awas aja manggilnya gitu lagi, aku hukum seminggu tidak akan menegur mu." Ancam Elsye dengan gaya khasnya yang lugas.
Imah mengangguk cepat, lalu keduanya kembali larut dalam pembahasan seputaran anak perempuan. Sementara di lantai bawah, Eiden uring-uringan tidak jelas, menunggu Imah yang tak kunjung kembali ke kamar kakak nya.
Keenan mengernyit heran, saat melihat siluet seseorang duduk di sofa ruang tengah. Lampu yang tidak dinyalakan, membuat bayangan putranya benar-benar mirip makhluk astral. Dia hendak ke dapur untuk mengisi air di botol, malah melihat penampakan yang terlihat seperti setan yang tengah patah hati.
"Loh? Abang ngapain duduk sendirian di sini, ngadep telivisi yang tidak menyala. Tidak ngigo, kah ini?" tanya Keenan heran, putranya itu fokus melihat ke arah telivisi yang sama sekali tidak menyala. Keenan jadi khawatir anaknya tersenggol setan iseng, jadi bertingkah aneh seperti ini.
"Ck, abi ganggu. Aku lagi nunggu Imah turun, dari tadi teteh yang memonopoli Imah. Abang kesal" cetus sang anak dengan nada tidak enak didengar. Keenan melongo mendengar penuturan sang anak, ada-ada saja pikirnya.
"Imah sama teteh udah pada tidur tuh di atas, tadi abi mau cek teteh, biasa suka lupa pake selimut kalo udah tidur saking keasyikan main ponsel." Kebiasaan Keenan selalu menyambangi kamar anak-anak nya, meski selelah apapun dia pulang bekerja. Mengecek air minum di kamar anaknya, juga memastikan mereka tidur dengan posisi yang nyaman.
"Ishh! teteh bener-bener ya, aku cape nahan ngantuk dari tadi mau ngobrol sama Imah. Malah di ajak tidur diatas sih. Tau gitu aku larang aja Imah naik keatas tadi." Gerutu Eiden melewati sang ayah dengan wajah ditekuk sempurna. Keenan hanya bisa menggelengkan kepalanya, gen nya ternyata lebih mendominasi sang anak. Dia harap Eiden tak seperti dirinya di masa lalu, dan berharap putranya lebih bijak dalam mengelola perasaannya, agar tetap utuh untuk satu wanita saja.
__ADS_1