Maaf, Untuk Lukamu!

Maaf, Untuk Lukamu!
Tertangkap basah


__ADS_3

Suasana makan malam di rumah besar Reegan, nampak lebih didominasi oleh suara anak-anak. Kedua anak Keyra ditambah lagi anak-anak Keenan, mereka bisa langsung akrab begitu saja, setelah acara perkenalan singkat yang dilakukan oleh sang kakek.


"Elsye-Eiden, Bisma-Bella!" seru Sarah pada keempat cucunya yang sedang berlarian saling mengejar. "Ayo kita makan malam dulu, ini boneka nya taruh di sini dulu ya. Takut nanti kotor terkena makanan," ujar Sarah bernegosiasi pada kesua cucu perempuan nya.


Bella berusia 2 tahun, dan bisma 3 tahun. Sementara Elsye dan Eiden lebih tua 5 bulan dari Bisma.


"Ndak au, nek! Nini neka na ela.." kukuh gadis kecil itu tak mau meninggalkan bonekanya di sofa.


"Ya sudah kalo gitu," putus Sarah mengalah lalu menoleh pada Elsye. "Elsye bagaimana? mau dibawa juga? gak apa-apa kalo mau dibawa juga, tapi kalo kotor jangan nangis ya, nanti nenek mandikan bonekanya." Pungkas nya lagi menjawab pertanyaan yang dia buat sendiri. Bisa dia lihat jika Elsye juga tak mau meninggalkan bonekanya.


"Yeeey horee"


"Yeeyee hooyee" ucap keduanya girang, lalu berlari mendahului sang nenek. Sarah hanya menggeleng kan kepalanya melihat tingkah lucu kedua cucunya.


"Wah, sepertinya kakek harus segera menambah ukuran meja makan ini. Benarkan, bun?" ujar Reegan menoleh pada sang istri.


"Benar. Seperti nya memang begitu, cucu kita sudah ada banyak" balas Sarah menimpali ucapan suaminya.


"Bun? besok aku mau ajak Elsye sama Eiden jalan-jalan, boleh?" tanya Keyra di sela makannya, "rencananya mau ajak kita sekeluarga, main ke puncak, nginep semalam disana." Lanjut nya dengan menekan kata sekeluarga sambil melirik sinis pada Diana.


Diana yang merasa dirinya sedang di lirik sinis oleh Keyra, pun tak hanya bisa meremat kuat sendoknya. Namun dalam hatinya terucap sumpah serapah untuk calon adik iparnya itu.

__ADS_1


"Boleh sih, kalo bunda setuju aja. Papa, daddy, papi sama didi gak sekalian dia ajak biar makin rame. Jarang-jarang kan, momen kaya gini kita lengkap semua," ujar Sarah menyetujui sekaligus mengusulkan pendapat nya.


"Ayah juga setuju sama bunda kalian, gimana nak?" sambung Reegan menimpali usul sang istri.


"Aku setuju sih yah, lama juga kita gak bikin acara kumpulan. Yang lain oke gak, Kalla-Kavin gimana?" lanjut Keenan bersemangat.


"Aku oke, atur aja. Tinggal bawa diri aja kan? aku gak mau repot yang lain-lain loh, ya.." balas Kalla sedikit acuh, walau hatinya pun senang bisa berkumpul bersama keluarga besarnya yang lain. Hanya saja kehadiran Diana di antara mereka, membuat mood pemuda tampan itu berantakan. Dan bersyukur keluarga nya memahami akan sifatnya itu, jadi tidak terlalu mempermasalahkan nya.


"Aku ikut aja, muncak ayoo, mendaki ayoo, turun gunung ayoo, masuk jurang..... yang ngerasa pantas aja deh," celoteh Kavin ambigu, setelah sempat menjeda kalimat nya sejenak. Lalu kembali fokus pada makanan nya, tanpa merasa sudah menyindir seseorang disana.


Diana semakin geram dengan sindiran-sindiran yang dia rasa tertuju padanya, menghentakkan sendoknya diatas piring hingga mengagetkan semua orang.


"Maaf," ujar dia kikuk, dengan tatapan orang-orang di meja makan tersebut.


"Apa kau tidak lihat, jika kakakku sedang makan? teteh seorang dokter, dia yang akan memeriksa mu nanti setelah selesai makan." Ujar Kalla tiba-tiba saja ngegas, bahkan sendoknya sampai terpelanting ke lantai akibat di taruh secara asal.


"Kalla?" ujar sang ibu memberikan peringatan, dengan nada lembut namun tegas seperti biasanya.


"Kau bisa istrahat di kamar, bunda akan mengantarmu. Tidak baik jika Keenan yang mengantarmu masuk ke dalam kamar," tawar Sarah memberikan solusi. Dia tidak ingin makan malam pertama nya, dengan kedua cucunya berisi perdebatan.


Diana mencoba menahan gemuruh didadanya, "tidak perlu bun, tadinya aku hanya merasa sangat ingin di temani oleh ayah dari anakku saja. Mungkin hanya mengidam, sudah tidak apa-apa sekarang. Lanjutkan saja makan malamnya, maaf aku sudah mengacau kan nya, aku permisi ke kamar duluan." Diana beranjak dari kursinya perlahan, seolah masih menunggu belas kasihan Keenan, namum pria itu malah sibuk menyuapi kedua anaknya. Tanpa peduli padanya sama sekali, Diana segera pergi membawa hati yang penuh amarah.

__ADS_1


Sesampai di kamar, Diana ingin sekali menghambur isi kamar tersebut. Namun mengingat status nya yang masih abu-abu, diapun hanya bisa menahannya saja. Berkali kali wanita hamil itu memukul bantal nya yang tak berdosa, ke atas kasur untuk melampiaskan emosi nya.


Sementara di ruang makan, keluarga bahagia itu melanjutkan menikmati makan malam mereka dengan suka cita.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Arumi masih syok dengan apa yang baru saja dia lihat, kedua matanya baru saja di suguhkan oleh tontonan 21+ secara live, tanpa sensor.


Berkali-kali wanita itu menghela nafas untuk menetralisir perasaan yang campur aduk. Hingga suara langkah kaki mulai mendekat kearah nya, Arumi merasa semakin tak karuan. Dirinya masih tertahan di dapur tanpa tau harus berbuat apa, tadinya Arumi ingin pergi dari sana. Namun saking syok nya wanita itu, sampai dia panik sendiri seperti sedang tertangkap basah mencuri di rumah seseorang.


Dan pilihan nya adalah dapur, entah kenapa dia malah membawa langkahnya menuju ke sana. Namun yang pasti, Arumi ingin menyegarkan pikiran juga membasahi tenggorokan nya yang tiba-tiba saja terasa kering.


Tujuannya datang kesana karena ingin membahas soal pernikahan mereka, juga meminta maaf pada Mike karena kejadian kemarin. Dia merasa bersalah, karena memberikan ijin pada kedua anaknya, untuk menginap di rumah ayah mereka. Dan berujung pada Mike yang marah kepada nya karena tak terima, dan pergi dalam suasana hati yang tak baik.


Dia sibuk mencemaskan pria itu dalam rasa bersalah nya, nyatanya, Mike baik-baik saja. Bahkan sangat baik, buktinya, walau sepanjang sore tadi tak membalas pesannya, juga merijek panggilan nya. Pria itu ternyata tengah sibuk bercinta di dalam kamarnya.


Arumi tertawa bodoh, lalu meneguk air minumnya hingga tandas. Suara langkah semakin mendekati nya, Arumi sudah merasa siap untuk segala kemungkinan, yang akan terjadi di hadapannya ini.


Mata Mike melotot sempurna, raut wajah panik, cemas dan takut berbaur menjadi satu dalam benak pria tersebut. Dengan langkah pelan, Mike berjalan kearah Arumi yang masih menatap nya tanpa ekspresi.


"Se..jak ka.pan kau datang? Maksud ku...."

__ADS_1


Kalimat Mike terpotong oleh intrupsi Arumi yang terdengar santai, "Sejak tadi, Mike. Maaf aku mengambil air minum mu tanpa meminta ijin, aku haus. Tenggorokan ku tiba-tiba saja terasa kering dan butuh segera disegarkan." Jelas Arumi tersenyum lebar, namun terlihat sangat menakutkan bagi Mike.


__ADS_2