
Daru tersenyum senang, melihat reaksi sang kekasih. "Lanjut dikamar, mau..?" tawar Daru mulai menggila. Imah terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk setuju. Meski hatinya sedikit ragu.
Daru menggendong tubuh sang kekasih seperti anak koala. Sambil memagut bibir mungil gadis itu penuh semangat. Setelah sampai di kamar, perlahan Daru membaringkan tubuh kekasihnya di kasur king size nya. Lalu merangkak dan kembali memagut juga menyesap apa saja yang bisa dia jangkau.
Tanpa di sadari, blouse yang Imah pakai kini sudah teronggok di lantai. Begitu juga baju milik Daru. Kedua hanya hanya menggunakan bawahan dan Imah masih mengenakan penutup dada yang meski sudah terangkat sempurna karena ulah Daru.
Pria itu tengah bermain-main di puncak kenyal milik kekasih nya dengan rakus. Seperti bayi yang kelaparan. Imah menggelinjang geli bercampur rasa yang tak dapat di jelaskan. Jemari Daru kini mulai menelusup masuk di area bawah tubuh Imah. Zipper celana jeans gadis itu sudah terbuka sempurna, sehingga memudahkan pergerakan tangan nakal Daru di bawah sana.
Imah melenguh beberapa kali, menyebut nama Daru berulang ulang. Kini gadis itu merasa kan ada sesuatu yang mendesak keluar dari intinya, sesuatu yang membuat sendi-sendi terasa kaku lalu lemas setelah nya. Nafas nya terengah-engah, sementara Daru tersenyum puas.
Imah memahami jika dirinya baru saja mengalami or*gasme pertama dalam hidup nya. Sebagai seorang calon dokter, hal-hal seperti itu sudah dia pelajari dengan baik.
"Gimana?" Imah memalingkan wajah nya mendengar pertanyaan konyol sang kekasih. Daru menangkup pipi Imah dengan satu tangan nya, lalu mencium kembali bibir tipis itu.
Puas menciumi bibir sang kekasih, Daru kembali menatap dalam netra berkabut tersebut.
"Udahan? apa masih mau keluar lagi? aku masih sanggup nahan, asal sayang merasa terpuaskan." Sungguh wajah Imah seperti terbakar mendengar kalimat frontal tersebut. Dia sangat malu, namun juga mulai merasa candu.
"Mas Daru..gimana?" tanya Imah pelan, ada perasaan malu seolah ingin melanjutkan lebih dalam lagi permainan mereka.
"Aku bisa tuntasin di kamar mandi. Stok sabun cair ku masih banyak.." seloroh Daru dengan wajah yang berkabut gairah yang sama.
__ADS_1
"Sering-sering seperti itu tidak baik..." nasihat Imah yang sedikit banyak memahami efek mas*turba*si berkepanjangan.
"Mau gimana lagi...kita belum menikah.. masih jauh." Balas Daru terlihat muram. Imah merasa iba, hanya dirinya yang terpuaskan meski tak melakukan nya secara langsung. Tangan Imah terulur menyentuh adik kecil Daru yang sejak tadi menjulang sempurna. Di balik boxer tipis tersebut dapat Daru rasakan hangat nya telapak tangan Imah menyentuh miliknya.
"Yang.." erang Daru tertahan. "Jangan, nanti aku tidak bisa menahannya lagi.." Daru hendak beranjak, pria itu ingin segera menuntaskan nya di kamar mandi sebelum benar-benar menerkam kekasih nya.
"Mas.." Imah menahan pergelangan tangan Daru yang akan beranjak.
"Apa mas akan menikahi ku, tidak akan berpaling dari ku?" Tanya Imah menuntut keseriusan Daru, pria yang baru saja mengantar nya menuju angkasa.
"Hei, kenapa bertanya seperti itu..jelas aku akan menikahi mu, jika perlu besok kita menikah. Aku hanya menunggu persetujuan mu saja, juga kedua orang tua mu." Jawab Daru meyakinkan m Karena memang hati nya sudah tak mampu berpaling lagi. Banyak godaan selama tiga bulan terakhir, namun keteguhan hati nya sudah tak mampu tergoyahkan lagi.
"Baiklah, mas boleh melakukan nya.." ucap Imah penuh keyakinan. Daru melotot sempurna, mencoba mengkaji ulang pendengaran agar tak salah menangkap kalimat sang kekasih.
Imah mengangguk mantap, tanpa keraguan. Daru lekas menyambar bibir sang kekasih lalu melahap nya rakus. Penyatuan dua insan pun terjadi. Peluh bercucuran akibat senam dadakan menjelang siang tersebut. Hampir satu jam, dan itu mampu membakar kalori tubuh masing-masing.
"Makasih sayang, sudah menjaga nya untuk ku.. nanti malam aku akan melamar mu langsung bersama kedua orang tua ku. Mereka hanya orang-orang sederhana. Ibu dan ayah tinggal di ruko minimarket mereka tak jauh dari pusat kota. Nanti kau akan senang mengenal ibu ku, dia baik pasti akan menerima mu dengan senang hati." Celoteh Daru yang baru saja melepas kan benih-benih kecambah nya ke lahan basah milik Imah.
"Apa tidak terlalu cepat, Abi bagaimana..." ucap Imah mendadak ragu.
"Jangan di pikir kan, percaya pada calon suami mu ini sayang. Aku tak ingin mengambil resiko kau hamil sebelum kita menikah. Sementara aku sangat menginginkan anak dari mu. Anak yang banyak." Ucap Daru serius. Imah terkekeh mendengar rencana Daru yang terdengar bersemangat.
__ADS_1
"Baiklah. Lamar aku pada abi. Dan nikahi aku segera.." ujar Imah mulai menuntut. Daru mengangguk lalu mencium kening kekasih dengan sayang.
"Aku pengen lagi sayang...," bisik Daru parau, gesekan tubuh polos Imah memancing hasrat nya kembali. Imah tersipu lalu mengangguk malu-malu. Kegiatan beranak pinak pun kembali terjadi hingga menjelang lewat tengah hari. Tak ada rasa lelah, gejolak jiwa yang membara membuat keduanya mampu mengulang kegiatan tersebut berkali-kali.
jutaan bahkan milyaran benih sudah berlomba untuk di buahi, menjadi bibit paling unggul diantara benih-benih lain.
Daru merasakan dirinya benar-benar telah menemukan pemilik hati nya secara utuh. Dalam dekapan nya tertidur pulas seorang bidadari yang beberapa saat lalu mampu membuat nya mengejang berkali-kali tanpa rasa lelah. Gadis muda itu telah menyerahkan mahkota berharga nya secara suka rela. Daru tak akan pernah menyia-nyiakan.
"Eeuunnggg..." lenguhan Imah membawa kembali kesadaran Daru dari lamunan nya.
"Jam berapa mas..?" suara serak Imah sungguh indah di pendengaran Daru.
"Jam 5 sore.." jawab Daru sontak membuat Imah terduduk sempurna. Daru sampai terjengkit kaget melihat reaksi sang kekasih.
"Sekaget itu..mandi dulu yuk! abis ini mas antar pulang." Ajak Daru menyadar kan Imah dari pikiran nya yang melayang.
"Abi pasti nyariin aku nih..udah jam segini aku belum balik." Ucap Imah terlihat cemas.
"Tidak akan di cari, tadi mas udah menelpon abi mu itu. Katanya jangan sampe malam saja," Imah melongo, semudah itu ayahnya memberikan izin dan tanpa memarahi nya karena sudah bolos kuliah.
"Beneran tidak marah waktu mas telpon abi tadi.." tanya Imah ragu-ragu.
__ADS_1
Daru memperlihatkan durasi terakhir panggilan nya pada Keenan. Tertera nama Keenan di sana dengan nama calon mertua. Imah tersenyum lucu saat membacanya.