
Perjalanan menuju puncak, Keenan dan anak-anak nya serta Arumi berada dalam satu mobil. Sedangkan Kavin dan Kalla menumpang mobil orang tua nya. Lebih tepatnya, Kalla yang menjadi sopir.
"Tadi Diana masih di rumah aku liat, pindah hari ini apa gimana?" tanya Arumi menatap Keenan dari samping.
"Harus nya sih hari ini udah pergi. Tadi ayah sudah suruh mang ujang antarin. Kenapa? Umi cemburu ya, Diana masih di rumah?" goda Keenan membuat pipi Arumi merona malu.
Arumi melengos ke samping jendela mobil, "apaan sih. Gak gitu, aku cuma nanya aja." Elak Arumi.
Keenan terkekeh senang, dia tau Arumi cemburu dan tidak nyaman, jika harus satu atap dengan orang yang dia anggap rivalnya. Meski pada kenyataannya, dia tidak pernah peduli pada Diana.
"Cemburu bilang aja, umi. Abi senang kalo umi cemburu, artinya di sini, abi masih utuh." Tunjuk Keenan sekilas ke dada Arumi.
Membuat wanita itu mencebik, " fokus jangan nyari kesempatan." Ketus Arumi kesal.
Keenan semakin tertawa renyah, dia suka Arumi yang selalu nampak malu-malu padanya.
"Ibu kenapa?" tanya Elsye kepo, melihat bibir manyun sang ibu.
"Umi Elsye, umi. Jangan lupa lagi," ujar Keenan mengingat kan.
"Oh, aku lupa. Maaf umi," Elsye berbicara dengan gaya malu-malu, Arumi dan Keenan tak tahan untuk tidak tertawa. Putri mereka terlalu menggemaskan dalam setiap polah tingkah nya.
"Eiden ngapain nak?" Keenan bertanya sambil melirik spion tengah.
"Lagi main game, bi." Jawab Eiden yang sudah sangat fasih memanggil Keenan dengan sebutan, abi. Begitu juga sang ibu, yang sudah mulai terbiasa dia panggil umi.
"Jangan terlalu dekat, nanti matamu sakit." Ingat Keenan pada putra nya.
"Ya bi," Keenan hanya menggeleng melihat sikap cuek anak bungsunya. Eh, enak aja, Keenan masih berniat menambah momongan lagi.
Keenan meraih tangan Arumi membawanya ke pangkuan nya.
"Tar gak usah KB, ya. Aku mau langsung nambah adek buat twins," ujar Keenan sesekali menoleh pada Arumi.
"Ck! belum juga udah mau nambah anak aja," gerutu Arumi sambil melirik spion, khawatir anak-anaknya bertanya yang aneh-aneh.
__ADS_1
"Makanya nanti malam, kita nyicil ya.." ujar Keenan jahil namun bernada serius.
"Ihh, lepas, gak ada yaa. Tar malam aku tidur sama anak-anak" balas Arumi sengit.
"Kan abis anak-anak tidur kan bisa, nyicil. Janji," lanjut Keenan terus menggoda.
"Ngadu bunda nih, ya." Kesal Arumi karena terus di goda oleh Keenan.
Keenan terbahak melihat wajah memerah kekasih hati nya.
"Berisik, Elsye mau bobo" protes Elsye dari jok belakang.
"Upz! maaf sayang, umi sih godain abi terus dari tadi" bela Keenan membuat Arumi melotot galak padanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ken, Key, kamar anak-anak di atas. Elsye sama Bella, Bisma sama Eiden." Jelas Sarah memberikan arahan.
"Ya bun, aku mau antar anak-anak keatas dulu." Keenan dan Arumi masing-masing menggendong anak mereka, yang tertidur menuju lantai atas. Begitu juga Al dan Keyra.
"Abis aku gemes, pipinya udah kaya bakpao. Makin hari makin bulet," ujar Keenan sekali lagi mencium pipi bulat anaknya.
"Malam ini bobo bareng aku aja, ya" mohon Keenan untuk ke sekian kalinya. "Kasian twin, ruang gerak mereka bakal gak bebas kalau kau ikut tidur disini," kilah Keenan mencari alasan.
Arumi mendengus sebal, "aku di karpet juga bisa, gak ribet kalau soal tidur. Timbang baring aja repot amat," kukuh Arumi tak mau kalah.
"Ck! susah amat mau di ajak bikin adek buat si kembar," gerutu Keenan beranjak ke kamar mandi. Arumi semakin waspada, pada pria itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Jadi kita makannya ngeleseh malam ini, itu karpetnya udah di gelar." Nabila mulai mengatur makanan untuk di tata di atas tikar.
Para sahabat itu baru saja tiba sore hari tadi.
"Ninih apa ma? utu na.." Bella terus menekan-nekan cumi bakar madu buatan Marissa. Entah apa nya yang lucu dari bentuk cumi tersebut, yang jelas, Bella sangat gemas sekali melihat nya.
__ADS_1
"Eh, jangan di pencet-pencet, bulat. ini tuh namanya cumi, untuk di makan, enak. Bella mau coba?" Jelas sang ibu lalu menawarkan makanan lucu tersebut pada anaknya yang dia panggil bulat.
"Anak aku kenapa selalu di panggil bulet sih," Al ikut nimbrung disamping sang anak dengan bibir berlipat. Dia tidak rela, batita lucu dan cantik nya di panggil bulat oleh sang istri.
"Emang dia bulet kok, ya kan nak. Bella bulet yah, kaya lollipop." lanjut sang ibu menjahili anak dan suaminya.
"Bulet tapi cantik yah, cucu opa daddy cantik kaya teteh Elsye." Bella Bastian pada cucu sahabat nya yang sudah seperti cucunya sendiri.
"Yaa, ela tatik taya eteh Ecy." ucap Bella dengan gaya malu-malu. "Umusin anet ya opah?" tanya Bella merasa senang karena dirinya di sebut cantik, walaupun dia sendiri belum mengerti konteks cantik itu seperti apa.
"Ya, Bella gemesin banget, opa daddy sayang. Sini, kasih sun dulu di pipi opa daddy" tunjuk Bastian ke pipinya, dengan susah payah Bella bangun dari duduknya, di bantu oleh sang ayah. Kemudian mencium pipi Bastian.
"Waaahh... Bella curang, masa opa daddy aja yang di cium, opa papi gak di cium nih" goda Bintang dengan wajah pura pura merajuk.
Bella membawa langkah kecil nya menuju ke arah Bintang lalu mencium pipi nya. "Udah, Ella gak culang loo. Danan nanit yaa, opa api." Hibur Bella sambil mengelus kepala Bintang seolah sedang menenangkan pria itu. Tingkah lucu nya mengundang tawa keluarga yang lain.
Kehadiran Bella dan Elsye dalam liburan keluarga, membuat mereka selalu dipenuhi tawa. Bagaimana tidak tingkah kedua balita itu sungguh menggemaskan.
Selesai makan malam, mereka bersantai sambil mengobrol dengan di temani dua piring besar pisang goreng, dan kopi yang asapnya masih mengepul.
"Rencana pernikahan mu dengan Arumi bagaimana? sudah ada persiapan belum?" Tanya Revan mengawali pembicaraan.
"Sudah, aku sudah serahkan ke WO, mulai gedung hingga lain-lain. Aku mau pernikahan kami berkesan buat umi, untuk di kenang sekali seumur hidup. Sampai punya cucu kaya ayah sama daddy dan papi." Ya, diantara kelima sahabat itu, hanya Bastian, Bintang dan Reegan, yang sudah memiliki cucu. Jika Bastian dari anak tirinya yang sangat dia sayangi, Bintang dan Reegan dari anak kandung mereka sendiri.
"Jangan pernah mempermain perasaan wanita apa lagi saat dia sudah menjadi istri mu. Meminta maaf perkara mudah, namun menyembuhkan hati yang terlanjur luka. Sulit. Selamanya akan meninggalkan bekas, tidak peduli sudah kau obati dengan banyak kebahagiaan lainnya. Luka itu akan tetap membekas seumur hidup." Nasihat Bastian bijak.
Keenan begitu serius, menyimak nasihat-nasihat pranikah yang di berikan oleh para pamannya. Banyak pengalaman yang mereka bagi kan kepadanya, termasuk sang ayah. Agar kelak, jangan sampai, Keenan melakukan hal yang sama.
"Makasih sudah berbagi pengalaman hidup pernikahan padaku, aku akan selalu mengingat nya juga mengamalkan ilmu, yang sudah ku ketahui berdasarkan pengalaman kalian semua. Tentu aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, aku pernah melukai umi begitu dalam. Dengan penghianatan juga kelabilan ku, aku belajar banyak dari kesalahan itu. Kini aku sudah tau, kemana kaki ku harus ku langkahkan, menuju jalan pulang yang benar." Ucap Keenan berterimakasih pada para pamannya juga sang ayah.
Malam semakin larut, namun para pria itu masih betah dalam obrolan mereka. Sesekali terdengar suara tawa dari arah taman belakang, hingga ke dalam rumah. Para wanita sudah terlelap tidur, anak-anak pun demikian. Namun Sarah masih belum memejamkan matanya. Diana kembali menerornya dengan pesan tak penting.
Wanita itu ternyata belum mau pergi dari rumahnya, dengan alasan jika perutnya terasa tidak nyaman. Dan khawatir jika tinggal sendiri, maka tidak ada orang lain yang menemani nya, jika sesuatu terjadi pada kandungan nya. Sarah berkali-kali menghela nafas panjang. Wanita itu benar-benar bebal batin Sarah tak habis pikir.
Sarah mematikan ponselnya tanpa berniat membalas. Diana akan besar kepala jika dia membalas nya. Biarlah sepulang mereka dari sana, Sarah akan meminta Ujang mengantar Diana ke rumah yang mereka beli untuk wanita itu. Beserta seorang art dari agen penyalur. Agar tidak ada alasan lagi yang Diana gunakan sebagai senjatanya.
__ADS_1