
Eiden berjalan gontai menuju sofa ruang keluarga, tas punggung nya dia lempar dengan asal tanpa melihat sekitar.
Bug!
"Auuwww..!" Eiden sejenak mematung, suara itu sangat tak asing di telinga nya.
Kepala nya menoleh pada sumber suara, terlihat sang kakak ipar tengah mengusap wajah. Pria itu terlihat sangat kesal. Terang saja, Eiden melempar tas berat nya tepat di wajah Daru yang tengah menikmati tidur siang nya.
"Apa mata mu kau taruh di bokong?!" kesal Daru yang kini terpaksa duduk meski sedang sangat malas. Pria itu mengalami sakit kepala berat, saat tiba langsung berbaring lalu tertidur di sana.
"Eh? maaf..mana ku tau kakak tidur di sini, lagi pula kenapa tidak tidur di kamar aja sih!" Bela Eiden tak mau di salah kan. Daru mendelik sebal pada adik ipar laknat nya itu.
"Kakak sakit kepala, udah enakan tidur malah kau tabok pake tas mu. Kau bawa batu apa gimana? kenapa tas ku berat sekali, untung tidak benjol." Gerutu Daru dengan hati dongkol maksimal.
"Aku abis minjem buku di perpustakaan. Ada tugas kuliah, banyak banget. Mau minta tolong teteh kerjakan." Ucap Eiden seenak dengkul.
"Eh? tidak ya, teteh mu sibuk! tidak bisa! belajar sendiri saja..." protes Daru tak terima. Bukan tanpa alasan Daru memilih beristirahat di ruang keluarga. Dia tau jika istri nya tengah tidur siang di kamar atas. Memiliki anak seperti anak tangga, membuat sang istri sering terlihat lelah. Belum lagi jika ada jadwal praktek di rumah sakit.
"Iashhh..teteh loh tidak pernah keberatan, kenapa kakak yang protes. Aneh!" Dumel Eiden tak senang dengan nada protes sang kakak ipar.
"Teteh mu sibuk Eiden! cape juga, apa kau tidak lihat bagaimana tubuh kecil istri ku itu pontang panting ngurus anak, pekerjaan nya di rumah sakit belum lagi masak sesuai selera para bocah. Mana ada waktu..No! tidak bisa! keinginan anda, di tolak!" Cerocos Daru tanpa memberikan celah nagi Eiden untuk protes.
Eiden mencibir, bukan nya pria itu juga yang membuat kakak nya sampai terlihat sangat kelelahan seperti itu. Keinginan Daru untuk memiliki banyak anak, selalu mendapat kan pertentangan dari sang ayah mertua. Imah terlalu muda untuk terus hamil dan melahirkan. Dia khawatir kelak kesehatan putri nya akan bermasalah. Namun Daru yang bebal selalu beralasan kebobolan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Sonia terlihat tengah menimbang berat badan nya di dalam kamar. Wajah nya nampak frustasi. Semenjak dia kembali pulang satu bulan yang lalu, berat badannya sudah naik 2 kilogram.
"Ini gara-gara mami nih.. tidak tau apa, aku tuh perlu usaha keras buat nurunin berat badan aku selama ini. Di saat ayam goreng memanggil untuk minta di makan sambil di colekin sambel. Aku harus berusaha ekstra jual mahal dan pura-pura tidak suka. Iiishhh! ngeselin ini mah...gimana mau dapat pacar kalo gini mulu. Badan aja yang di gedein, dasar turunan badak nih badan." Sonia terus bersungut-sungut di depan cermin kamar nya.
Punya tubuh proporsional adalah impian setiap wanita. Namun apa kabar dengan dirinya. Butuh waktu bertahun-tahun untuk membuat tubuh nya enak di pandang, namun hanya dalam hitungan Minggu. Tubuh porsi gajah nya langsung membengkak drastis.
Tok tok tok
Sonia menatap horor daun pintu yang terus di ketuk dari luar. Mata nya melirik benda bulat di dinding kamar nya. Menunjukkan waktu makan malam. Ludah nya seperti banjir bandang, memikirkan menu makan malam buatan sang ibu.
Sonia lekas menuju ranjang, membaringkan tubuhnya di sana dengan posisi seolah tengah tertidur.
"Soniaaa...! papi nunggu tuh di bawah. Turun yuk! mami masak ayam kecap kesukaan mu, pake potongan kentang goreng juga." Gluk! Sonia mulai tergoda. Namun lekas menggeleng kan kepala nya dengan keras.
"Soniaa! tidak jawab panggilan orang tua dosa lon..!" seru sang ibu dari luar kamar.
Sonia berucap komat kamit tidak jelas. menjawab seruan wanita menyebalkan itu.
"Ya mami... Sonia udah tidur, jangan teriak-teriak lagi yaa... Selamat malam mamii.." Sonia berbisik sangat pelan. Yang penting sudah menjawab pikir nya.
"Sonia! buka tidak? mami nyuruh pak Dodo dobrak loh ya..!" suara wanita itu sudah mulai naik dua oktaf. Sonia mulai frustasi.
"Satu...dua...ti..." klek
"Apaan sih mi... orang lagi tidur juga..Ganggu aja!" Sonia membuka kamar dengan rambut acak-acakan, seolah memang diri nya sudah tidur sejak tadi.
__ADS_1
Sofia menelisik penampilan sang anak yang terlihat seperti zombie kelaparan.
"Ini baru jam berapa? anak gadis jam segini udah ngebo..malu sama tante-tante. Jam gini baru keluar kandang buat dugem." Sontak Sonia terbelalak mendengar kalimat absurd sang ibu.
"Mami kalo becanda suka garing.."
"Ck! makanya ngapain jam segini udah tidur..malam minggu loh ini, tidak pengen di apelin pacar gitu..? eh? punya pacar tidak sih anak mami ini?" Sungguh Sonia ingin menenggelamkan diri nya ke dasar danau di belakang rumah nya. Setiap kalimat yang terucap dari bibir ibu nya, selalu saja membuat iman nya tergugah untuk mengakhiri hidup nya segera.
"Pacar aku masih dalam kandungan, belum netas.." Jawab Sonia asal. Gadis itu melewati tubuh sang ibu begitu saja. Rasa kesal nya membuat perut nya semakin keroncongan.
"Heh, ni anak kalo ngomong suka ngaco. Orang tu di lahir kan bukan di tetasin. Mata pelajaran kesenian nya pasti merah ini.." Tebak sang yang ibu tak kalah melenceng jauh hingga perbatasan negara bagian.
"Pelajaran biologi kali, mi...," protes Sonia semakin kesal. Setiba di lantai bawah, terlihat sang ayah sudah pw di kursi maka seorang diri.
"Lama banget sih princess nya papi...sampe pada demo nih cacing-cacing di usus papi." Seloroh pria 48 tahun tersebut. Sonia mencium pipi sang ayah dengan sayang. Sofia mendengus iri. Sonia tidak pernah mencium nya kecuali gadis itu sedang membutuhkan suntikan imun dari nya.
"Papi denger, hari pertama mu di kampus cukup menyenangkan. Ada kejutan apa yang papi lewatkan, hemmm ?" Sonia menatap sang ibu yang kini hanya berfokus pada makanan nya tanpa sedikitpun menoleh.
Bukan nya sang ayah tak tau, istri rasa wartawan majalah hot gosip nya itu telah bercerita dengan sangat rinci. Namun dia ingin mendengar pengakuan langsung versi sang anak.
"Sonia matahin tangan orang pi, siapa suruh usil duluan. Padahal sudah Sonia peringatan kan sejak awal, masih aja ngeyel. Tau sendiri kan rasa nya, di pantahin tangan nya. Sonia tidak nyesel, itu kalo papi mau tau. Sesekali mereka perlu di beri pelajaran, supaya bisa lebih menghargai orang lain." Jelas Sonia apa adanya gadis itu nampak acuh bercerita tanpa nada penyesalan apa lagi empati.
Sang ayah tersenyum simpul, dia suka pemikiran cepat sang anak. Namun tidak juga membenarkan jika sampai bermain fisik apa lagi sampai melukai seseorang.
"Lain kali tidak perlu sampai di patahin segala. Cukup beri pelajaran lain, oke princess ?" Sonia hanya mengangguk paham. Meski dia tidak berjanji akan menerapkan nya di lapangan ketika ada pemicu nya.
__ADS_1