
Setelah terdiam dalam suasana tak nyaman akhirnya Daru buka suara. "Apa kau sudah menyetujui hubungan ku dengan Imah ?" tanya Daru to the poin. Mata nya memancarkan sinar secerah matahari siang itu.
"Tentu saja tidak!" bantah Keenan masih di liputi gengsi tingkat tinggi. "Jika saja bukan karena istri ku yang membujuk ku, kau pikir aku mau makan di luar seperti ini. Aku ini tipe suami pecinta istri. Apa istilah nya...ah ya, budak cinta. Ya begitulah kira-kira." Ujar Keenan tersenyum bangga. Tidak ada rasa malu saat mengakui predikat tersebut. Matanya menyorot kan binar kebahagiaan tiada tara. Daru sampai terkagum-kagum pada pria di hadapannya itu. Kebanyakan para pria akan menjaga image mereka, namun Keenan justru membongkar aib para lelaki.
Dia mulai berpikir apakah jika sudah menjalin hubungan dengan Imah diri nya pun akan seperti Keenan. Menempeli wanita nya seperti lintah.
"Tapi yang aku lihat kau seperti ingin bernegosiasi dengan ku soal Imah. Apa aku benar?" tebak Daru tersenyum jumawa. Keenan melengos mendengar kalimat menjengkelkan namun sayang, benar untuk di sanggah tersebut.
"Apakah kau benar-benar menyukai putri ku? karena jika kau berniat mempermainkan hati nya, lebih baik kau menjauhi putri ku. Jangan menyuruh orang mengawasi putri ku lagi." Sahut Keenan tepat sasaran. Daru tersenyum kikuk, bagaimana Keenan bisa tau jika dia membayar orang untuk mengawasi Imah.
"I..itu..aku hanya ingin memastikan Imah baik-baik saja..." elak Daru salah tingkah.
"Ck! dasar tukang ngeles. Jadi kau tidak serius menyukai putri ku Imah ?" balas Keenan dengan nada mulai naik satu oktaf. Daru kelabakan mendengar ucapan Keenan.
"Tentu saja tidak benar, aku menyukai bahkan jatuh cinta pada Imah sejatuh-jatuh nya. Aku pun serius dengan perasaan ku, andai saja kau mau memberi ku restu untuk mempersunting putri mu itu." Jawab Daru cepat. Dia tak ingin lagi mengelak, perasaan nyaemang sudah terisi penuh oleh putri pria di hadapannya itu.
Keenan tersenyum miring mendengar jawaban lugas Daru.
flashback
"Teteh mana mi?" tanya Elsye celingukan di meja makan.
"Di kamar, kata nya sedikit tidak enak badan jadi mau makan di kamar aja." Sahut Arumi usai mendudukkan putra nya di kursi khusus.
"Teteh kena penyakit cinta mi, sama siapa itu namanya....mantan nya bibi Alisya.. Siapa yaaa" Elsye seolah sedang berpikir, ekor mata nya melirik ke arah sang ayah yang nampak acuh.
__ADS_1
"Daru?" tebak Arumi membuat Keenan terbatuk-batuk ludah nya sendiri.
"Abi kenapa ? belum makan aja udah keselek gini.." gerutu Elsye mengejek sang ayah.
Keenan mencebik kesal "dasar anak durkaha" sungut Keenan merajuk.
"Durhaka keles.." ralat Elsye bergumam pelan.
"Kenapa tadi dengan mantan kekasih bibi mu?" sela Arumi yang rupa nya terjerat rasa penasaran.
"Apa umi tidak tau, kalau si Daru Daru itu pernah mengantar teteh pulang beberapa bulan yang lalu. Setelah itu teteh jadi sering melamun dan jadi lebih pendiam." Jelas Elsye mengemuka kan pendapat nya.
"Ah, masa sih.. kok umi tidak tau cerita." Sanggah Arumi ragu-ragu.
"Anak kecil tidak boleh ngomongin soal hubungan orang dewasa. Fokus sekolah saja, jangan pacar-pacaran dulu." Ucap Keenan menasehati. Elsye memanyunkan bibirnya hingga puluhan kilo meter saking kesal.
"Aku kan hanya bercerita, abi tidak asyik ih." Rajuk Elsye dongkol.
"Apa benar begitu ? kasian nya putri umi di tolak sama si Daru itu." Ujar Arumi dengan nada bersimpati pada putri nya.
"Eh enak aja, yang kasian itu si Daru. Udah tua belagu pake nolak putri kita segala. Tidak tau diri sekali!" Sahut Keenan ngegas, pria itu alamat telah termakan konspirasi istri juga putri nya.
Arumi dan Elsye saling melirik lalu tersenyum penuh makna.
"Ya jangan di paksa juga lah bi, putri kita kan masih muda. Pasti kasih banyak pria yang mengejar nya." Nasehat Arumi bijak.
__ADS_1
Arumi bukan tidak tau jika Daru menyukai putri nya. Alisya sudah menceritakan semuanya. Tentang bagaimana Daru rela melepaskan Imah, agar putri nya itu bisa fokus pada pendidikan nya. Daru juga menjauhi Imah, karena menganggap dirinya tidak pantas untuk Imah.
Keenan terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu di kepala nya. Seperti nya umpan yang di lempar oleh sang istri mulai menjerat tangkapannya. Arumi tersenyum simpul melihat suami keras kepala nya itu.
flashback end
Dan berakhir lah Keenan duduk berhadapan dengan Daru di restoran tersebut. Rupa nya Keenan terpancing oleh umpan putri dan istri nya. Dia tak terima jika Daru menolak putri nya. Memangnya setampan apa sih pria tua itu, sampai-sampai jual mahal pada anak nya yang cantik.
"Makan dulu, berhenti lah berbicara. Kau bisa membuat ku mati tersedak nanti.." ketus Keenan memotong pembicaraan Daru. Daru mencebik kesal, kemudian fokus pada makanan nya. Namun hati kecil nya optimis, jika Keenan sudah mulai melunak pada nya. Tidak masalah jika harus mentraktir pria itu seminggu ke depan, bahkan seumur hidup pun Daru akan menyanggupi nya.
Keenan lebih dulu menyudahi makan nya, Keenan memang bukan tipe suami yang suka makan di luar. Dia memesan banyak makanan hanya untuk mengerjai Daru saja. Siapa sangka Daru lebih rakus dari nya. Pria itu ikut memakan makanan pesanan Keenan dengan lahap, dan tidak lupa bibir nya terus tersenyum manis, meski sedang makan sambel maut level akut sekali pun.
Keenan sampai bergidik ngeri melihat nya. Apa jangan-jangan Daru sudah mulai kehilangan kewarasan nya akibat melihat tumpukan makanan di meja mereka. Bisa jadi pria itu khawatir akan bangkrut karena masih harus mentraktir Keenan beberapa hari ke depan.
"Berhenti lah tersenyum, orang-orang akan salah paham melihat mu. Bisa-bisa mereka mengira aku mengajak orang gila makan di restoran ini." Dengus Keenan jengkel.
"Aku hanya sedang bahagia, jangan merusak mood ku, ayah mertua." Sahut Daru tersenyum semakin lebar. Keenan melempar serbet yang sudah dia gulung setelah mengelap mulut nya. Serbet itu mendarat sempurna di wajah Daru. Keenan pikir Daru akan marah, namun saat serbet itu terjatuh. Yang dia lihat malah sebaliknya. Daru masih saja tersenyum tanpa henti. Keenan jadi kesal sendiri.
"Ayo bayar, sudahi makan mu. Kau seperti orang cacingan. Makan mu banyak sekali, bisa-bisa putri ku akan kewalahan memasak untuk mu nanti. Menyebalkan..!" ketus Keenan semakin di landa kekesalan.
"Ya sudah, ayo..apa kau ingin take away? aku masih sanggup membayar nya. Pesan saja apa lagi yang ingin kau makan.." tawar Daru saat baru selesai membayar.
"Ck! aku tidak serakah. Lagi pula makanan buatan istri ku puluhan kali lipat lebih enak. Ayo! aku masih banyak pekerjaan, tidak seperti mu yang santai-santai saja." Sindir Keenan membuat Daru cengengesan. Dia hanya kehilangan semangat hidup karena hati nya galau. Tapi sekarang tidak lagi, dia sudah punya alasan bekerja bagai kuda. Imah adalah semangat hidup nya, maka dia akan lebih bersemangat lagi untuk bekerja.
Daru mengekori langkah lebar Keenan layaknya seorang asisten. Membuka kan pintu mobil kemudian menjadi sopir untuk calon mertua nya itu. Daru melakukan nya dengan sepenuh hati, tidak ada kekesalan di hati nya. Bayangan pelaminan sudah membaur di pelupuk mata nya. Gigi nya bahkan sudah kering akibat terus tersenyum komodo kids.
__ADS_1