
Sementara di sebuah apartemen, nampak seorang wanita tengah menangis sesenggukan. Benda pipih di tangannya seperti boom yang siap meledak kapan saja. Dia merutuki kebodohan nya, yang masih saja terlena oleh bujuk rayu pria pemaksa dan egois itu.
Kini dia harus menerima hasil perbuatannya, apa kah pria itu akan bertanggung jawab padanya sesuai dengan janjinya waktu itu.
Segera dia merogoh tasnya untuk mencari ponselnya, lalu mencari nomor seseorang.
Panggilan pertama tidak di angkat, lalu dia mencoba sekali lagi.
"Halo..? halo?.. maaf ponsel Mike tertinggal, ada pesan? nanti akan saya sampaikan setelah Mike menjemput anak-anak ke sekolah."
Deg!
Suara seorang wanita dan ucapannya membuat jantung Maura seperti tertusuk panah. Wanita itu menutup mulutnya, lalu memutuskan sambungan secara sepihak.
Kemudian menangis tergugu, " bodoh, benar benar bodoh kau Maura. Kenapa harus termakan rayuan pria yang sudah susah payah kau jauhi dari hidupmu." Wanita itu mentertawai kebodohan nya dalam tangisnya, karena merasa telah di permainkan oleh Mike.
flashback
Mike tanpa sengaja melihat seorang wanita yang sangat dia kenali. Wanita yang meninggal kan 5 tahun lalu tanpa alasan yang Jelas.
Mike memutar arah mobilnya menuju butik tempat wanita itu terlihat, hingga dia melupakan kedua anak malamg yang tengah menunggu nya di sekolah.
Mike memarkirkan mobil secara asal, lalu bergegas masuk ke dalam butik. Matanya berpendar mencari sosok yang mengganggu pikiran nya belakang ini, sejak terakhir dia melihat wanita itu di bandara.
Saat matanya menangkap sosok yang dia cari, Mike mengahampiri nya kemudian, tanpa berbicara pria itu menarik si wanita ke pojok ruang ganti. Wanita itu hampir saja terpekik, segera Mike membungkam bibir si wanita dan ******* nya dengan kasar.
Setelah hampir kehabisan napas, Mike menghentikan nya, lalu membersihkan sisa salivanya dibibir mungil yang sangat dia rindukan itu.
"Mi..ke, kau?" ujar si wanita dengan suara bergetar takut bercampur kaget.
"Yah ini aku, kekasih mu yang kau tinggalkan tanpa perasaan beberapa tahun yang lalu. Ingatan mu bagus, sayang. Aku menyukai nya," ujar Mike sambil menyatukan keningnya dan si wanita, yang nampak pucat pasi menatap nya tak percaya.
__ADS_1
"Aku sudah menikah, Mike. Jangan seperti ini, suamiku sebentar lagi akan menyusulku kemari." Jelasnya memberi pengertian.
"Jadi itu alasan nya, kenapa kau meninggalkanku, hmm?" suara rendah Mike terdengar mengerikan di telinga nya.
"Mike, please! Lepaskan aku, hubungan kita sudah lama berakhir. Aku minta maaf sudah kabur darimu, aku sudah bahagia dengan kehidupan ku. Lupakan aku, dan sekali lagi maafkan aku, Mike." Suara memelas wanita itu membuat nya luluh.
Namun bukan Mike namanya jika tidak memaksa, dengan segala bujuk rayunya mengatasnamakan sebuah pertemanan. Mike berhasil membawa Maura bersamanya.
"Kita akan kemana Mike, ini sudah jauh sekali?" Muara bertanya dengan nada panik. Tidak mungkin kan pria itu akan membunuhnya seperti yang ada di film-film.
"Kita ke villa ku, Ra. Hanya sebentar saja, ada hal yang ingin ku ambil di sana. Penting dan urgent. Berhubungan dengan salah satu pasien ku," tenanglah, aku tidak akan membawamu kabur dari suamimu." Kekeh Mike nampak meyakinkan.
"Baiklah, jangan lama. Aku tidak ingin suamiku salah paham padaku." Balas Maura pasrah. Wanita itu akhirnya tertidur dalam perjalanan yang katanya tidak jauh itu, nyatanya mampu membuat Maura lelah dan akhirnya ngantuk hingga tertidur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maura mengerjabkan kedua matanya, dalam kesadaran yang belum sepenuhnya pulih. Suara handle pintu yang di buka dari luar mengalihkan perhatian nya.
"Sudah bangun? Aku sudah memasak makan malam untuk kita, mandilah. Ini pakaian untuk mu, apa ukuran nya masih sama?" Maura melongo, makana malam? artinya sekarang sudah malam.
"Hei, tenang lah. Baru pukul 7 kurang, mandilah. Aku akan menunggu mu di bawah," ujarnya lagi tanpa penjelasan apapun, kenapa bisa Maura tertidur hingga berjam-jam lamanya.
Maura mulai berpikir negatif, dia ingat, dia merasa ngantuk berat setelah meminum minuman yang Mike berikan padanya. Tak ingin membuat pria pemaksa itu marah, karena menunggu nya terlalu lama, Maura bergegas mandi, setelah meraih paper bag yang di berikan oleh Mike tadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kau mandi nya lama sekali, benar-benar tidak berubah. Aku salut pada suami mu, dia pasti orang yang sangat sabar." Ujar Mike basa basi, meski dia sendiri tak menyukai Ucapan nya.
"Ya, dia sangat sabar dan juga sangat baik. Yang terpenting dia mencintai ku dengan segala kekurangan ku, tidak pernah memaksa apapun." Maura sengaja mengucapkan kalimat yang dia tau, pasti akan membuat Mike merasa tersentil.
Mike menggenggam erat sendok di tangan nya, menahan kesal. "Duduklah, mari makan. Kau sudah lama tidak memakan masakan ku, apakah rasanya masih sama atau tidak. Ini semua makanan kesukaan mu," ujar Mike bangga, sekaligus menutupi kedongkolan hatinya.
__ADS_1
"Terimakasih Mike, sejujurnya banyak hal berubah dalam hidup ku. Aku sudah tidak menyukai apa yang dulu menjadi kesukaan ku, tapi tidak apa-apa. Aku akan tetap memakannya, setelah ini kita bisa langsung pulang kah?"
Kata-kata Maura Kembali menyulut emosi dalam hatinya, sebisa mungkin dia menahannya. Dan kalimat terakhir Maura yang mengandung pertanyaan, membuat nya semakin jengkel.
"Ya, kita akan pulang setelah ini. Makanlah makanan mu meski kau tidak menyukai nya, aku sudah susah payah membuat nya dari sore." Sarkas Mike dingin.
Maura mulai memakan makanan, perlahan hingga tandas. Dia memang sangat lapar. Dirinya hanya sempat sarapan sepotong roti itupun tak habis, lalu sianganya malah bertemu dengan pria ini. Benar-benar sial pikirnya.
"Terimakasih Mike, aku akan mengambil tasku dulu. Kau yakin ingin membersihkan ini? Aku bisa melakukan nya," tanya Maura sekali lagi sambil menunjuk tumpukan piring kotor mereka tadi.
"Aku yakin, ambil tasmu sana. Setelah ini selesai kita akan segera pulang," balas Mike lembut.
"Baiklah" Maura bergegas ke lantai atas untu mengambil tasnya. Namun saat sampai di kamar, Maura merasakan tubuhnya seperti terbakar. Hawa panas menjalar di sekujur tubuhnya, seperti ada sesuatu yang minta di tuntas kan.
Maura duduk di sisi ranjang, untuk sekedar menetralkan rasa yang dia alami. Maura bingung, tubuhnya bereaksi aneh, belum pernah dia merasa kan hal seperti ini sebelumnya. Apa dia mengidap suatu penyakit serius, tidak mungkin jika mike melakukan sesuatu padanya. Ini sudah lebih dari 20 menit mereka makan, harusnya tidak selama itu jika memang ada sesuatu yang salah di makanannya.
Keringat dingin mulai mengucur dari keningnya, ada sensasi berbeda saat dia menekan bokongnya ke ranjang yang dia duduki. Apa dia sedang bergairah, tapi kenapa bisa, apa yang terjadi? Pertanyaan demi pertanyaan merongrong dalam kepalanya.
Klek
"Maura? kenapa kau lama sekali, ayo bersiap. Aku akan menunggu di bawah, tasmu sudah ketemu?" Mike menatap Maura dengan tatapan menelisik, wanita itu nampak gelisah, juga menatap nya dengan tatapan berbeda. Sayu. Itulah yang dia simpulkan.
Mike duduk di samping Maura untuk memastikan keadaan wanita itu. "Ada apa dengan mu? Apa kau sakit, hmm?" suara lembut Mike terasa mendayu-dayu ditelinga Maura. Sehingga tanpa sadar wanita itu mengalungkan kedua tangan nya di leher Mike, kemudian menciumnya dengan rakus.
Mike membelalakkan kedua matanya, namun sedetik kemudian, diapun menyambut nya dengan senang hati. Akhirnya, obat yang dia berikan bereaksi sesuai harapan nya. Untuk itu dia sengaja mengulur waktu, agar wanita itu sedikit sibuk dan sejenak melupakan keinginan untuk segera pulang.
Pergulatan panas pun terjadi diantara keduanya, namun yang membuat Mike begitu bahagia adalah. Ternyata Maura belum pernah melakukan hubungan intim dengan siapapun, artinya, wanita itu belum menikah. Tidak masalah jika Maura berbohong padanya, nyatanya, dialah pemenangnya nya sekarang.
Dalam diamnya Mike menyeringai penuh kemenangan.
"Mi..kee aku.. akan sampai..." Suara manja Maura membuat Mike semakin bersemangat memacu tubuhnya.
__ADS_1
"Bersama sayaang... tunggu aku..." Tak lama erangan panjang mengakhiri permainan penuh peluh tersebut.
Napas keduanya masih memburu, di sela sela sisa kenikmatan yang baru saja mereka rengkuh bersama.