
"Kau suka, sayang?" Alisya mengangguk pelan, mulut nya tak berhenti mengunyah. Mike tersenyum puas, keduanya kini tengah makan di warung lesehan. Rekomendasi dari Mike. Saat awal kembali karir nya sebagai dokter, keuangan Mike harus serba di hemat. Dan warung lesehan inilah yang menjadi pilihan nya bahkan sampai sekarang. Makanan yang sangat cocok di lidah nya, adalah masakan rumahan.
Semenjak adik angkat nya menikah, Mike hidup sendirian. Kesepian Membuat nya jarang makan di rumah.
"Makanlah pelan-pelan sayang, aku tidak akan meminta nya." Kekeh Mike memperingati, Alisya makan dengan begitu lahap. Mereka tengah menyantap nasi goreng, dan Mike bertugas menyuapi Alisya juga diri nya sendiri.
"Ini sangat enak, Mike. Astaga, kenapa aku tidak pernah menoleh kemari setiap kali aku melewatinya." Puji Alisya tulus, rasanya memang sangat enak. Sangat berbeda dengan nasi goreng yang dia makan di mall atau restoran.
"Nanti kita akan kemari lagi. Tapi, aku ingin kau yang mulai memasak untuk ku nanti. Apa kau sudah menghubungi kakakmu?" Mike menatap Alisya begitu intens, dia ingin segera mempersunting Alisya sebagai istri nya.
"Hanya kakak ipar saja, yang kain belum. Mungkin nanti" jawab Alisya sedikit ambigu. Mike mengernyit heran, mungkin nanti? maksud nya bagaimana? apa Alisya tidak benar-benar serius dengan nya.
"Maksud mu itu apa, sayang? kenapa mungkin? apa kau tidak yakin padaku? masih belum mencintai ku, begitu?" cecar Mike sedikit meninggi kan suaranya tanpa sadar.
Alisya mematung, ah dia telah salah mengucapkan kalimat. Mike sangat sensitif belakangan ini, kenapa dia bisa lupa.
"Bukan begitu maksud ku, aku hanya belum mengabari keluarga ku karena ada masalah intern. Bukan karena hatiku atau apapun itu. Jika aku masih belum mencintai mu, aku tidak akan bertahan sampai hari ini di samping mu. Aku bukan wanita seperti itu, yang memberikan harapan setinggi langit lalu menghempaskan tanpa perasaan." Jelas Alisya panjang lebar, benar memang, hati nya kini sudah terisi penuh oleh pria di hadapannya itu. Bagaimana mungkin dia tidak serius menanggapi ajakan menikah tersebut.
Hati Mike menghangat, namun sedikit menyesal telah meninggikan suara nya di depan wanita yang sangat di cintai nya itu. Dia pikir Alisya masih belum menerima nya, mengingat tanpa sengaja dirinya pernah bertemu dengan mantan kekasih Alisya yang masih nampak muda dan jauh di atasnya. Jiwa Mike minder, usia nya sudah Terlalu matang untuk Alisya. Pekerjaan nya hanya seorang dokter, sementara pria itu, seorang CEO walau hanya perusahaan kecil. Tapi tetap saja dari segi finansial, Mike masih kalah.
__ADS_1
"Makasih sayang, maafkan aku. Aku tidak bermaksud meninggikan suara ku tadi, aku hanya berpikir terlalu jauh. Aku...." kalimat Mike terpotong oleh intrupsi Alisya, yang ternyata sudah mengerti tanpa harus di jelaskan.
"Aku baik-baik saja, tidak perlu menutupi sifat dasarmu padaku. Kita perlu terbuka dalam segala hal sejak awal, dengan begitu kita bisa memperbaiki apa yang menurut kita masih belum benar." Alisya mengusap pipi sang kekasih dengan senyum lembut yang begitu tulus.
Mike meraih tangan Alisya dan mengecup nya lama, keduanya larut dalam perasaan cinta yang semakin membara. Membuat siapa saja akan iri jika melihatnya, termasuk anak-anak muda yang kebetulan makan disana. auto menjerit iri, pengen guling-guling dalam wajan nasgor, trus dibumbui dengan paket lengkap spesial pakai hati dan jantung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Imah tengah berkutat di dapur bersama Arumi dan bi Surti. Sementara mbok Darmi tengah mengiris mentimun untuk lalapan, usianya yang semakin menua membuat ruang geraknya sedikit terbatas. Pernah beberapa kali mbok Darmi minta di pulangkan saja ke kampung halaman nya, mengingat dirinya lebih banyak memakan gaji buta dari pada bekerja. Namun oleh Reegan dan anak-anak nya, mbok Darmi tidak di izinkan pulang. Di kampung pun, mbok Darmi sudah tidak memiliki siapa-siapa. Suaminya sudah meninggal, sementara kedua anaknya merantau ke Malaysia dan arab Saudi.
Sebenarnya salah satu anak mbok Darmi sudah tidak lagi bekerja sebagai art di Malaysia, karena di persunting oleh warga negara di sana. Pernah mbok Darmi di ajak serta tinggal di sana namun wanita itu menolak, dia tak ingin putrinya malu, karena keluarga suaminya adalah orang berada.
"Umi? ini udah bener gini ya masaknya?" tanya Imah was-was, pasalnya Eiden sering protes masakan yang dia buat. Entah apa yang membuat adiknya itu selalu saja memarahinya.
"Udah kok, ini udah bener. Enak banget aromanya, umi jadi tidak sabar pengen icip-icip." Ujar Arumi tersenyum lebar, aroma ayam dicampur pucuk ubi, dan diberi bumbu kuning lalu dikukus buatan Imah, menguar hingga ruang keluarga. Keenan yang tengah menonton tergoda untuk mencium nya lebih dekat, hingga dia memutuskan untuk berjalan Menuju dapur.
"Waaah, rupanya umi sama teteh yang masak. Abi langsung laper nih, udah mateng belum? Tidak sabar abi, masakan teteh selalu enak sama kaya masakan umi." Ujar Keenan mengelus pucuk kepala si sulung, Imah kini menjadi anak sulung nya berdasarkan urutan nya dalam Kartu keluarga. Itulah kenapa Eiden mulai menjauhi Imah, hatinya kesal dengan status Imah yang kini menjadi kakaknya.
"Abi bisa aja mujinya, masakan umi jauh lebih enak." Ujar Imah menatap lembut pada sang ibu.
__ADS_1
"Ya, masakan umi memang tiada bandingnya. Dan sekarang, umi sudah punya penerusnya, yaitu teteh." Imah tersipu mendengar pujian sang ayah, kini hidup nya benar-benar sempurna. Punya orang tua yang selama ini hanya ada di khayalan nya saja. Dia hanya mendapatkan kasih sayang waktu kecil, setelah ibunya meninggal, Imah lebih sering diperlakukan layaknya anak tiri oleh sang ayah.
Dia berjanji akan membalas segala kebaikan keluarga itu dengan belajar bersungguh-sungguh. Keenan sudah mendaftar kan nya di universitas ternama di kota itu, dan dia mengambil jurusan kedokteran. Berharap kelak, profesi nya bisa membuat nya berguna untuk keluarga angkat nya.
"Adek Eci mana, bi?" tanya Imah yang baru saja selesai mengeluarkan satu persatu pembungkus pepesan nya dari dandang.
"Paling ngeram di kamar main ponsel, anak itu suka senyum-senyum sendiri kalau liat hp. Abi jadi khawatir" ujar Keenan berkeluh kesah.
"Kan udah SMA bi, wajarlah. Lebih khawatir lagi kalau adek masih suka galak dan jutek." Seloroh Imah.
"Teteh benar bi, anak itu suka bikin umi cemas. Masa baru masuk SMA dua hari, sudah bikin ulah. Temannya dibuat patah tangan, apa kabar 3 tahun ke depan." Keluh Arumi menggeleng kepala nya sedikit frustasi.
"Itu karena temannya yang salah umi, bukan adek. Eci marah karena teman laki-laki nya itu memasang cermin kecil di sepatunya, untuk mengintip dalam*an anak-anak perempuan di sekolah saat mereka dalam barisan. Jelas adek marah walau bukan dia korbannya." bela Imah, jika dia yang selalu saja mengalah karena takut, dia bersyukur, adiknya punya keberanian dan pendirian yang kuat, untuk mempertahankan harga diri temannya.
"Tuh kan, teteh aja belain aku." ujar Elsye bangga lalu memeluk lengan sang kakak dan bermanja-manja seperti biasanya.
"Baru datang udah pada kelar masak, coba tadi bantuin umi sama teteh masak." Omel Keenan mencibir sang anak. Elsye menjulurkan lidahnya, karena semenjak ada Imah. Elsye selalu merasa tertolong, sang ayah sudah jarang mengingat kan nya urusan dapur. Karena Elsye oalying malas berurusan dengan hawa-hawa dapur yang sarat aroma bumbu.
"Kan sudah ada teteh yang bantuin umi masak, anak abi kan sudah ada yang bisa masak enak. Abi mau nih, keracunan kalau aku yang turun di dapur?" sanggah Elsye membela dirinya sambil tersenyum jahil. Keenan mencebik mendengar alasan klasik putri nya, untung saja dia punya anak sulung yang mau diatur. Hati Keenan selalu menghangat melihat keakraban sang istri dengan putri angkat mereka. Awalnya dia ragu, mengingat usia Imah yang sudah hampir 18 tahun. Dia tak ingin istri nya berpikir macam-macam padanya, untuk itu dia selalu menjaga sikapnya pada Imah, putrinya itu. Namun dugaan nya salah, Arumi justru menegur sikapnya yang terkesan menjaga jarak dengan Imah.
__ADS_1
Arumi tak ingin Imah merasa di bedakan, dan tidak betah tinggal bersama mereka. Sejak saat itu, Keenan mulai ikut memperhatikan hal-hal kecil Imah sama seperti pada anaknya yang lain. Imah pun sudah tak canggung lagi pada keluarga barunya. Keluarga Keenan benar-benar sempurna, hanya saja ketiadaan sang ibu di rumah, masih membuat ruang kosong dihatinya beluk terisi sempurna.