
Terdengar suara klakson mobil Keenan dari halaman, membuat Arumi bergegas menyambut nya. Wanita itu terlihat cantik dengan dress motif bunga sebatas betis. Senyumnya surut saat melihat suaminya tengah menuntun seorang gadis keluar dari mobil. Bahkan tanpa sungkan, Keenan menggendong gadis itu yang di ikuti oleh sang anak dari arah belakang.
Berbagai pertanyaan bergelayut dipikirannya saat ini. "Umi udah bersihin kamar tamu belum?" tanya Keenan sambil melewati tubuh istrinya, yang masih mematung melihat kejadian yang mengganggu hati dan pikiran nya.
"Eh? ya, sudah tadi. Mau langsung di bawa ke kamar?" tanya Arumi seperti orang linglung lalu menyusul langkah lebar suaminya, menuju kamar tamu di bawah tangga.
"Saya duduk aja tuan," ujar Imah tiba-tiba setelah Keenan akan membaringkan di atas ranjang. Dengan kikuk gadis itu mengambil tempat di sisi ranjang, kedua tangannya bertautan tanda dirinya sedang merasa tertekan dan tak nyaman. Tatapan Arumi yang tanpa sengaja telah membuat mental Imah tertekan.
"Ya, sudah. Habis ini mandilah kalau sudah merasa enakan. Setelah itu kita akan malam malam bersama." Ujar Keenan lembut lalu menatap sang istri yang masih belum bersuara sejak mereka tiba di kamar tersebut. "Baju nya udah umi siapin belum?" tanya Keenan membuyarkan lamunan Arumi yang sudah merantau kemana-mana.
"Heh? ah ya ya, sudah. Ada di atas nakas itu, semoga cocok." Tunjuk Arumi ke arah lemari nakas di samping tempat tidur.
"Oh ya sudah, kami keluar dulu. Istirahat saja sebentar, setelah itu baru mandi. Kami tunggu di luar, tidak usah buru-buru." Lagi-lagi Keenan berucap dengan penuh perhatian. Arumi tersenyum getir, hatinya mendadak merasa panas dingin.
Diluar, tepat nya di sofa ruang tengah, Elsye melipat kedua tangannya. Gadis itu kesal bukan main, saat melihat sang ayah menggendong seorang gadis belia. Dia merasa ayahnya telah mengkhianati sang ibu, untuk itu dia sengaja tidak ikut beranjak ketika ayahnya tiba.
"Hai, sayang? kok mukanya di tekuk gitu? abi kangen eh, cium dulu sini." Ujar Keenan akan mencium pucuk kepala sang anak namun Elsye dengan gesit menghindari nya.
Keenan mengernyit heran, dengan tingkah spontan anaknya. "Kenapa teh, abi ada salah apa nih?" tanya Keenan menuntut penjelasan kemudian menatap istrinya meminta pertolongan.
"Teteh kesal sama abi, teteh marah. Abi selingkuhin umi sampe bawa-bawa tu perempuan ke rumah. Pokoknya besok pagi teteh mau pulang, tau gini mending ikut daddy Mike aja. Di jamin liburan tidak akan membosankan kaya gini. Abi tidak asyik!" ketus gadis remaja tersebut seraya ngeloyor pergi begitu saja tanpa menunggu penjelasan sang ayah.
Wajah Keenan berubah mendung, bukan soal di tuduh berselingkuh oleh putrinya, melainkan karena merasa gagal menjadi ayah yang menyenangkan hati anak-anak nya. Eiden yang baru kembali dari dapur, menyimpan peralatan memancing mereka ke gudang, menatap heran suasana yang terlihat tak kondusif.
__ADS_1
"Kenapa bi? oya, nanti malam Eiden tidur di kamar bawah aja ya." Ujar remaja itu tersenyum penuh arti, Arumi menatap heran tingkah putranya yang mendadak murah senyum sejak baru tiba tadi.
"Memangnya kamarmu kenapa di atas?" tanya Arumi penasaran.
"Biasa mi, hawa-hawa nya remaja kita sedang jatuh cinta pada pandangan pertama." Ujar Keenan mewakili sang anak yang memperlihatkan wajah malu-malu nya.
Arumi mulai paham sedikit, tentang situasi yang terjadi sekarang.
"Abi mandi dulu gih. Abang juga," titah Arumi yang di iyakan oleh kedua pria tersebut.
Dikamar, Arumi tengah merenungi apa yang terjadi. Dia masih menunggu penjelasan suaminya terlebih dahulu, agar hati nya juga bisa tenang tanpa memikirkan hal-hal aneh.
Klek
"Bi?" Arumi terlihat ragu-ragu, namun hatinya semakin dilanda penasaran luar biasa.
"Ya umi sayang, mau nanya sesuatu? nanya aja, kaya sama siapa? Abi loh ini" kekeh Keenan berseloroh, dia tau kemana arah pertanyaan sang istri, namun dia ingin Arumi lebih dulu bertanya. Dia akan sangat senang jika wanita itu mencemburui nya.
"Itu tadi, siapa bi?" akhirnya, pertanyaan sesingkat itu namun terasa sangat berat keluar dari mulut nya. Bisa dia tanyakan juga, walau hatinya ketar ketir menanti jawaban sang suami.
"Oh, gadis tadi?" Arumi mengangguk cepat, Keenan hampir saja meledakkan tawanya melihat respon sang istri yang terlihat sekali tidak sabar.
"Namanya Imah. Kami tidak sengaja bertemu dengannya waktu baru pulang mancing tadi sore. Sebenarnya Eiden yang melihat nya duluan dan menyuruh abi berhenti untuk menolong gadis itu. Namun ternyata pertolongan kami di tolak mentah-mentah, Eiden jadi kesal karena merasa diabaikan begitu saja niat baiknya." Keenan menjeda kalimat nya kemudian memutar tubuh nya menghadap sang istri.
__ADS_1
"Imah ternyata menolak bantuan kami semata-mata karena takut pada ibu tiri nya. Dan lagi mungkin dia malu, jika dia di marahi didepan orang asing. Karena membawa gabah hanya satu karung saja, ibu tiri nya pasti akan marah dan memukuli nya. Benar saja, kami mengikuti Imah melalui jalan sebelah yang banyak perkebunan teh itu. Gadis malang itu di pukuli tangannya hingga berdarah karena dianggap tidak becus bekerja. Abi kasian, anak-anak Yang harusnya di kasihi malah di sakiti sedemikian rupa. Jadi tanpa berpikir panjang, abi mendatangi rumah pak kades untuk membicarakan perihal masalah Imah. Rupanya memang sudah sering seperti itu, bahkan dari mendiang ayahnya masih hidup." Keenan menghela nafas panjang, dan menatap netral istri nya yang masih menyimak dengan serius.
"Dulu saat ayahnya masih hidup pun, Imah sudah diperlakukan seperti itu. Bahkan ayahnya sendiri sering ikut memukulnya juga mengurung Imah dan tidak memberinya makan. Padahal Imah lah yang bekerja di sawah sejak umur 8 tahun, demi membuat asap dapur tetap mengepul. Maaf, kalau abi bertindak tanpa persetujuan umi dulu. Abis tidak tega, membayangkan itu terjadi pada anak kita, rasanya hati abi sakit melihat nya. Kalau umi marah dan keberatan, nanti biar abi coba bicarakan sama Keyra. Siapa tau dia dan Al bersedia menerima Imah bekerja di rumah mereka. Lumayan, gajinya bisa untuk biaya sekolah paket. Imah itu hanya masuk SD sampai kelas 5, diberhentikan oleh ayahnya agar adik tiri nya bisa bersekolah. Karena kalau Imah sekolah, otomatis pengeluaran akan semakin banyak." Jelas Keenan meruntut semua kejadian yang tadi sore hingga menjelang malam hari ini. Dia tidak ingin istri nya merasa tidak nyaman dengan keputusan nya yang sepihak.
Arumi terlihat memikirkan sesuatu, hembusan nafas panjang nya menandakan dirinya tengah berpikir keras.
"Kenapa tidak tinggal sama kita aja? kan, abi yang bawa, jadi tinggal nya ya harus sama kita juga, kan?" Ujar Arumi setelah terdiam cukup lama. Keenan mengembangkan senyum sejuta watt nya. Dia tau hati lembut istri nya hanya butuh penjelasan saja.
"Itu terserah umi saja, abi tidak ingin memutuskan sesuatu yang penting ini sendiri. Umi adalah jantung keluarga kita, apapun keputusan umi, wajib abi turuti selama itu baik untuk kita semua. Terimakasih sayang, abi beruntung bisa menjadi pria yang mendampingi umi hingga sampai saat ini. Semoga Tuhan memberikan kita umur yang panjang, agar kita bisa mengantarkan langkah anak-anak kita menuju kebahagiaan mereka kelak." Ucap Keenan di barengi doa yang tulus. Dan di Amini oleh sang istri. Keduanya bergegas turun ke lantai bawah, terlihat putra putri nya juga Imah sudah mengambil tempat duduk masing-masing.
Keenan dan Arumi tersenyum samar melihat hal tersebut, serasa bertambah lagi anak bujang mereka.
"Wah! abi sama umi tidak di tungguin nih?" canda Keenan mencium pucuk kepala anak-anak nya, kali ini Elsye tidak menghindar.
"Imah, makan yang banyak ya nak. Jangan sungkan, kita ini keluarga sekarang." Ujar Arumi lembut. Saat Arumi akan mengisi piring Imah dengan lauk, namun sudah di dahului oleh sang anak. Terlihat Eiden begitu bersemangat menaruh apa saja di piring makan Imah, membuat gadis itu tersenyum kikuk dan malu. Porsi nya sekarang terlihat seperti porsi kuli bangunan, namun liurnya tidak bisa berkhianat. Diapun ingin mencicipi semua makanan tersebut.
"Ayo, di makan. Habiskan ya, ini masih banyak, nanti tambah lagi kalau habis." Ujar Eiden dengan senyum lebarnya.
"Eh? ya? ini sudah cukup, makasih banyak..anu.. ituu.. tuan.. nyonya.. bolehkah saya makan pakai tangan saja.. saya tidak bisa pakai sendok.." ujar Imah gugup dan menunduk malu, sambil meremas kedua tangannya. Dia memang tidak pernah makan menggunakan sendok sejak kecil. Karena di rumahnya dia hanya akan makan singkong bakar atau rebus tanpa makanan lainnya. Jadi itu tidak butuh menggunakan sendok.
"Boleh, kebetulan ini menunya lalapan. Ayo, makanlah yang banyak pake tangan tidak masalah, asal tidak pakai kaki saja." Seloroh Arumi yang tadi akan menggunakan sendok pun, kini beralih mencuci tangannya ke wastafel sekaligus mengajak Imah.
Jadilah satu keluarga itu makan dengan sendok 5 jari, Elsye sesekali mencuri pandang ke arah Imah yang makan sangat hati-hati. Tidak ada satupun butir nasih yang terjatuh dari piring nya, caranya menyimpun makanannya di dalam piring di ikuti oleh Elsye.
__ADS_1