Maaf, Untuk Lukamu!

Maaf, Untuk Lukamu!
Pelajaran berharga


__ADS_3

Keenan nampak riwuh sendiri, bagaimana tidak, putrinya akan ikut kekantor, sementara dirinya ada pertemuan diluar dengan dua klien sekaligus, di tempat yang berbeda pula.


"Susu sudah, baju ganti sudah, tisu basah sudah, cemilan sudah" Keenan tampak sedang menghitung semua bawaan nya. Ini pertama kalinya dia harus ke kantor membawa anak. Meski dulu sang ayah sering membawa Adiknya Keyra ke kantor, namun dia masih terlalu kecil untuk memahami konsep, sebagai pria karir sekaligus mengurus anak diwaktu bersamaan.


"Ini kenapa bawaanmu banyak sekali, Ken? mau berangkat kemping apa gimana?" Reegan menggeleng kepala melihat tumpukan barang bawaan Keenan diatas meja sofa ruang keluarga.


"Takut kurang yah, Elsye kalau minum susu, kan sekotak mana cukup sekali minum. Aku kalau ayah sama bunda tidak ada kegiatan sama yang lain, aku nitip sekalian Elsye. Kayanya Keenan tidak sanggup kalau harus bekerja dengan membawa anak, tapi membiarkan keduanya di urus sama Umi, aku juga tidak tega. Tapi Keenan takut malah tidak konsentrasi, Keenan ada meeting diluar dengan dua klien hari ini." Jelas Keenan dengan wajah yang terlihat gusar.


"Duduk dulu sini" ajak Reegan menepuk sisi sofa yang dia duduki. Keenan hanya menurut saja, seperti nya dia memang butuh saran ahlinya.


"Apa kau ingat? dulu ayah sering kekantor membawa serta adikmu, bahkan sejak usianya 2 tahun." Keenan hanya mengangguk pelan, membenarkan perkataan sang ayah. "Awalnya ayah juga seribet ini, sama persis seperti yang kau lakukan sekarang. Semua-semua nya mau dibawa karena serba khawatir, takut kurang lah, takut ini lah." Reegan menghela nafas panjang, sebelum melanjutkan kisahnya.


"Ada hal yang ayah lupa, bahwa menjadi seorang ayah bukan hanya soal tanggung jawab, dan mampu memberikan kecukupan. Melainkan soal kesiapan, ayah yang gampang panik, hingga segala sesuatu yang mudah terasa begitu sulit untuk dikerjakan. Contoh kecilnya, saat pertama kali ayah membawa adikmu kekantor, saat itu kau demam dan batuk. Ayah tidak ingin membuat bundamu kerepotan seorang diri, juga tidak ingin adikmu tertular sakit. Maka ayah dengan segala kejumawaan ayah, membawa serta adikmu. Namun tanpa ayah sadari, kesiapan ayah ternyata nihil. Ayah terlalu angkuh karena menyangka bisa melakukan segalanya diwaktu bersamaan, dan akan beres dengan mudah." Reegan menatap wanita yang sedang menata makanan diatas meja dari pantulan kaca lemari. Hatinya berdenyut mengingat momen tersulit itu, kala istri belum bisa berjalan normal.


"Ternyata ayah tidak sehebat bundamu, Wanita yang melahirkan kalian, ternyata punya pundak yang jauh lebih kuat dari pada ayah. Wanita lemah lembut dan tidak banyak menuntut apapun, lebih mampu menopang beban jutaan lebih berat daripada yang bisa ayah tanggung. Bayangan hanya dengan membawa satu anak kekantor, bukanlah perkara besar. Namun saat akan berangkat saja, ayah kelimpungan. Memikirkan apa saja yang harus ayah bawa, ayah sudah dibuat stress sendiri. Padahal ayah hanya tinggal memilih dan mengambil apa saja yang sudah bunda kalian persiapan kan." Reegan menatap putranya dengan tatapan sejuta makna.


"Kau harus tau nak, para wanita yang tidak pernah menuntut apapun darimu, layak kau jaga seperti berlian, kau hargai, kau hormati dan kau beri penghargaan setinggi-tingginya. Kenapa? karena wanita seperti itu, tidak akan ada duplikat nya. Mungkin ada dibelahan lain bumi ini. Namun belum tentu kau akan seberuntung sekarang, jika kau menyia-nyiakan apa yang sudah kau punya." Keenan terpekur, pipinya terasa panas, Serasa seperti ditampar telak oleh kenyataan. Aruminya telah melewati tahun-tahun tersulit, namun wanita itu begitu tangguh dan tak pernah mengeluh.


Keenan menundukkan kepalanya, matanya berkaca-kaca. Rasa malu, sedih dan salut, bercampur menjadi satu dalam benaknya. Hanya dengan mengurus satu anak saja dia sudah kelimpungan, Keenan menjunjung tinggi loyalitas nya sebagai seorang pemimpin yang hebat, dan mengayomi. Namun dia lupa satu tugas penting dan pokok dalam hidup nya. Yaitu, menjadi seorang ayah.

__ADS_1


"Jadi? sudah tau apa yang harus kau bawa?" seloroh Reegan mencairkan suasana. Keenan mengangguk mantap, meski harus menekan rasa malu didepan sang ayah.


Sejenak Keenan menatap barang bawaan nya, akhirnya dia paham satu hal. Bukan soal bawaan yang harus nya dia fokuskan, namun kenyamanan dan keamanan sang anak. Itulah inti dari cerita sang ayah yang bisa dia tangkap. Keenan beranjak, lalu memilah barang apa saja yang sekiranya dibutuhkan oleh sang anak. Setelah mengemas dalam tas, ternyata muat, dan itupun sudah dia lebihkan sedikit dari yang Elsye perlu kan nanti.


Keenan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, lalau menatap sang ayah yang masih memperhatikan apa saja yang dia lakukan. Keenan tersenyum malu, pria itu meringis sendiri, melihat sisa barang diatas meja yang masih banyak. Hari ini dia mendapat kan pelajaran berharga.


Bahwa keinginan, kebutuhan dan keperluan, adalah 3 hal yang berbeda. Masing-masing punya fungsi nya sendiri-sendiri, dimana saat sedang diinginkan, dibutuhkan dan diperlukan, maka ketiga nya akan bekerja sesuai dengan kesesuaian dan tupoksi nya sendiri.


"Makasih yah" ujar Keenan tulus.


"Bukan sama ayah, tapi pada istri mu. Lihatlah Arumi" tunjuk Reegan, Keenan menoleh pada arah yang di tunjuk sang ayah. Dimana sang istri sedang menggendong Egy digendongan kain disamping kirinya, dan kedua tangan wanita itu memegang dua piring besar berisi lauk pauk.


"Umi? adek sini sama abi dulu" tanpa menunggu jawaban sang istri, Keenan melepaskan lilitan kain jarik dibahu istri nya.


"Eh? bi? aku bisa kok, biasanya juga gini. Ini pas Egy lagi tidak mau ditinggal saja, maklum, udah ngerti kalau ditinggal-tinggal." Cegah Arumi tak enak, pasalnya sang suami sudah siap dengan setelan kerja nya.


"Sudah tidak apa-apa, umi lanjutkan saja. Abi bawa Egy nonton saja sama ayah didepan." Keena berbalik mencium kening istrinya, dengan mata berkaca kaca. Arumi menatap heran punggung suaminya yang mulai menjauhi dapur.


"Biarkan saja, Rumi. Sesekali Keenan terlambat ke kantor, tidak akan membuat dirinya kehilangan rasa hormat dari bawahan nya. Dia harus tau, kalau istri nya diam bukan berarti tidak butuh pertolongan dan perhatian. Hanya saja hati kita yang terlalu peka, membuat kita kuat disaat kita sedang rikuh sekalipun." Sarah mengusap pelan bahu sang menantu, dia tau, Arumi sebelas dua belas dengan dirinya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Arumi sedang mengantar suami juga putri nya ke mobil. Hatinya was-was, bukan tidak percaya pada Keenan. Namun dia khawatir, putrinya membuat ulah yang membuat Keenan tidak fokus bekerja.


"Bi? apa tidak sebaiknya Elsye di rumah saja?" Keenan menoleh cepat pada sang istri, Arumi jadi salah tingkah sendiri. "Maksud umi, kan, abi bilang ada meeting diluar, jadi takut Elsye malah tidak bisa diajak kompromi nanti. Kerjaan abi, kan jadi kacau" Jelas Arumi hati-hati. Dia tau suaminya sedang dalam mode sensitif.


Keenan menghela nafasnya, dia tau maksud sang istri takut Elsye merepotkan nya, hanya saja tidak berani mengatakan langsung untuk menjaga perasaan nya.


"Gimana kalau siang nanti umi nyusul sama abang sama adek?" wajah Keenan berbinar, Arumi jadi serba salah. Ingin menolak, alamat Keenan akan terus kepikiran hingga kekantor nanti. Ikut? dia merasa malu, selama menikah dia belum pernah ikut Keenan kesana. Dia takut akan pandangan merendahkan orang padanya, dia yang mudah insecure, hatinya gampang baperan.


"Gimana?" ulang Keenan penuh harap.


Akhirnya Arumi mengangguk setuju, walau hatinya berat. "Ya, nanti mau di bawakan makan siang tidak. Atau langsung makan diluar pas meeting nanti?" tawar Arumi, agar dia punya alasan untuk bertemu Keenan, begitu lah rencana kalau ditanya oleh resepsionis.


"Kalau umi kekantor, aku sama Elsye tidak makan diluar, paling Elsye aja sih nanti, kasian juga kalau tidak dibelikan apa-apa." Jawab Keenan semakin bersemangat. Selama ini istri nya selalu menolak diajak kekantor, dia tau jiwa insecure sang istri. Oleh karena itu Keenan tidak pernah memaksa.


"Ya udah, berangkat gih. Adek mulai berat nih" seloroh Arumi pada bayi 6 bulan digendongannya. Keenan ikut terkekeh, putranya memang terlihat sangat montok.


"Oke umi, abi berangkat dulu ya, hati-hati di rumah. Abis ini langsung naik ke kamar aja, istrahat. Jangan ngapa-ngapain lagi, untuk makan siang biar bi Surti sama mbok Darmi aja yang masak." Titah sekaligus peringatan mutlak yang tak boleh di bantah oleh Arumi. Arumi hanya mengangguk patuh, jika tidak maka akan membuat nya harus berdiri semakin lama disana. Dengan membawa bobot tubuh si bungsu, yang mulai membuat bahunya terasa kebas.

__ADS_1


Keenan berangkat setelah mencium kening istri dan anaknya.


__ADS_2