Maaf, Untuk Lukamu!

Maaf, Untuk Lukamu!
penyesalan


__ADS_3

"Yang?" Al misuh-misuh di samping sang istri yang tengah sibuk membolak-balik sebuah berkas. Keyra bahkan sudah bergeser dua kali, namun pria itu terus memepet kan diri, hingga kini sang istri sudah mentok di ujung ranjang.


"Hmmm?" jawab Keyra seadanya, dia tengah sibuk membaca laporan tahunan rumah sakit. Di mana terdapat banyak sekali hal hal janggal dalam laporan keuangan tersebut.


"Yang?" lagi-lagi Al mengulangi rengekan nya.


Keyra menarik nafas dalam-dalam, kemudian menutup berkas yang sedang dia pegang, lalu menaruh nya di atas nakas disampingnya. Keyra berbalik dan menatap wajah menyebalkan sang suami, yang sayangnya Sangat dia cintai itu.


"Kenapa? mau minta jatah?" tanya Keyra to the point. Al mencebik kesal, istri nya ini tidak ada romantis-romantisnya sedikit pun.


Al menarik tubuh mungil sang istri hingga menempel di dada nya, "sibuk banget, ada masalah di rumah sakit?" ini bukan kali pertama, Keyra mengajak serta pekerjaan pulang kerumah. Namun beberapa hari ini, istri nya terlihat begitu sibuk dan sedikit tertekan. Namun seperti biasa, istri tangguh nya itu tidak mengatakan apapun. Terkadang Al merasa minder, istri nya selalu mampu menyelesaikan masalah apapun tanpa meminta bantuan nya. Sedangkan dirinya, sering meminta pendapat sang istri soal pekerjaan nya dikantor.


"Sedikit, hanya ada selisih hasil laporan keuangan tahunan." Jelas Keyra santai, "kerjaan papa gimana? lancar? proyek resort nya udah berapa persen jalan?" lagi-lagi wanita itu selalu peka akan apapun yang Al kerjakan. Bahkan Keyra akan suka rela meluangkan waktu nya yang cukup padat, hanya untuk melakukan riset, terhadap perusahaan yang akan bekerja sama dengan suaminya. Kalau sudah begitu, maka peran Keyra menjadi berlipat ganda. Selain menjadi seorang direktur sekaligus Dokter spesialis bedah saraf, istri dan ibu. Keyra Juga berperan sebagai projects manager bagi sang suami. Al merasa sangat beruntung, istri nya bisa menjadi apa saja yang mereka butuhkan.


"Parah banget?" tanya Al iba.


"Tidak juga, aku baru dapat print laporan nya tadi siang. Baru baca sedikit, selebihnya baru di baca barusan." Tutur Keyra menyusupkan kepalanya di ketiak sang suami. Al terkekeh geli melihat tingkah sang istri, Keyra bukan wanita manja yang mudah bersikap menye-menye padanya. Namun jika sudah begini, artinya, sang istri butuh di manja dan diperhatikan lebih.


"Mau garap lahan basah dong, boleh tidak?" ucap Al dengan suara mulai berat, apalagi tangan jahil sang istri sedang bermain-main di dadanya.


"Boleh, aku yang memimpin permainan.." balas Keyra yang mulai bertindak agresif pada suaminya. Inilah yang membuat Al tak bisa berpaling dari sang istri. Meskipun Keyra nya tidak seperti wanita kebanyakan, yang bisa selalu bersikap manis dan manja, namun kalau urusan ranjang. Sang istri jago nya. Sikap tegas dan lugasnya seketika menguap entah kemana, berganti dengan Keyra yang liar dan buas. Al sangat memuja istri nya, sehingga tidak ada celah sedikitpun untuk bibit pelakor masuk ke kehidupan rumah tangga nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mike mengerut dahinya heran, sejak tadi Noora sudah beberapa kali bolak-balik keluar kamar. Namun tidak melakukan apapun. Gadis itu membawa gelas di tangannya yang terlihat masih penuh. Namun Noora membawa nya mondar-mandir menuju dispenser meski tidak mengisi nya.

__ADS_1


"Noora? duduklah, kepala kakak pusing melihat mu mondar-mandir seperti itu." Mike menepuk sisi sofa agar Noora duduk di dekatnya.


Dengan ragu-ragu Noora duduk lalu meletakkan gelas diatas meja. "Coba katakan apa yang membuat mu terlihat begitu gelisah?" tanya Mike langsung membuat Noora semakin gelisah.


"Itu.. kak.. bolehkah aku pergi menonton bersama mas Tristan?" ujar Noora gugup.


Mike menghela nafas panjang, hanya ingin meminta ijin darinya Noora sampai segugup itu.


"Apa kakak terlihat mengekang mu selama kita tinggal bersama, Noora?" tanya Mike tak habis pikir. Apa dia terlihat seperti seorang kakak yang galak di mata Noora.


"Tidak kak, tidak begitu. Hanya saja, aku tidak enak selalu meninggalkan kakak seorang diri setiap malam minggu." Jelas Noora hati-hati.


Mike tersenyum mendengar perkataan Noora yang terkesan takut menyinggung perasaan nya.


"Kakak tidak apa-apa, Noora. Bagaimana hubungan kalian? kakak tidak ingin Tristan mempermainkan perasaan mu, kau adik kakak, kebahagiaan mu prioritas utama kakak. Meskipun Tristan juga adik kakak, tapi dia seorang laki-laki. Tidak akan ada ruginya jika suatu saat dia berbuat sesuatu yang buruk. Apa kau mengerti arah pembicaraan Kakak, Noora?" Tanya Mike menatap Noora yang terus menunduk sambil meremat kedua jari tangannya.


"Hubungan kami baik-baik saja kak, mas Tristan juga bersikap baik padaku, kak." Ungkap Noora malu-malu. Dia tidak begitu akrab dengan Mike, hanya beberapa kali bertemu dengan Mike, saat masih menjadi kekasih mendiang kakaknya dulu. Setahun lebih dia tinggal di rumah keluarga Tristan, yaitu tantenya Mike adik mendiang ayahnya. Dan baru dua bulan ini tinggal bersama, tentu saja dia masih sedikit canggung untuk menyampaikan apapun pada pria itu.


"Baguslah kalau begitu, kakak harap hubungan kalian bisa sampai jenjang yang lebih serius. Kakak mendukung hubungan kalian, terbukalah pada kakak apapun yang ingin kau ceritakan. Aku ini kakakmu, jangan lupakan itu." Ujar Mike mengingat kan, bukan hanya sekali dua kali Mike mengatakan nya.


"Baik kak, terima kasih banyak telah menerima ku dengan tangan terbuka. Aku bersyukur memiliki seorang kakak laki-laki seperti kakak. Aku tidak akan pernah mengecewakan kakak" ujar Noora dengan mata berkaca-kaca.


Mike mengusap sudut mata adik angkat nya tersebut dengan sayang. Rasa sayang seorang kakak kepada adiknya. Itulah yang Mike rasakan pada Noora.


Ting tong

__ADS_1


Keduanya kompak menatap ke arah pintu, bisa di pastikan siapa yang berkunjung.


"Bukalah," titah Mike lembut.


Klek


"Hai, calon ibu anak-anaknya mas Tristan." Mendengar sapaan seperti itu bukan hal baru di telinga Mike, selama dua bulan tinggal bersama Noora. Tristan selalu memanggil adiknya itu dengan sebutan 'calon istri atau calon ibu anak-anak nya'.


"Mau nonton?" tanya Mike mengganggu momen temu kangen sepasang kekasih tersebut.


"Rencana nya gitu, sekalian mau kuliner makanan gerobak kaya biasa. Tidak pengen ikut sekalian?" tawar Tristan menatap sepupunya dengan tatapan tak terbaca.


"Tidak, pergilah" Mike mengibas tangannya ke atas. "Aku titip saja, belikan beberapa keperluan Noora." Mike menyerahkan kartu debit nya, meski bukan kartu kredit namun cukup untuk memenuhi kebutuhan kuliah Noora dan juga kebutuhan nya. Mike baru mulai menata hidup nya Kembali, dan sekarang hanya mampu menggunakan ATM dengan limit sesuai pendapat nya bekerja di rumah sakit keluarga Sudibyo.


Tristan meraih ATM tersebut, bisa saja dia menolak. Namun dia merasa itu bukan sikap yang baik, malah hanya akan membuat kakak sepupu nya merasa tidak di hargai.


"Kalau begitu, kami pergi dulu. Mau di bawakan makanan gerobak tidak? sate, batagor atau tek-tek?" tawar Tristan lagi sebelum benar-benar pergi.


"Boleh, sate aja." Balas Mike yang langsung di bakas anggukan oleh Tristan.


Setelah berpamitan kedua sejoli itu pergi meninggalkan Mike seorang diri.


Mike mengusap wajahnya, bayangan buruk masa lalu kini kembali menghantuinya. Penyesalannya begitu dalam, wanita yang sangat dia cintai pergi akibat ulahnya. Wanita itu pergi bersama calon anak mereka, Mike tergugu mengingat perbuatan buruk nya.


Kini dia hidup dalam penyesalan tiada berujung, dalam hatinya berjanji tidak akan menggantikan sosok Maura dalam hidupnya. Juga bertekad untuk memperbaiki hubungan baik dengan Arumi dan anak-anak wanita itu. Tentu saja setelah mendapat ijin dari Keenan suami wanita itu.

__ADS_1


Di tatapnya jam dinding yang baru menunjukkan pukul 7 malam. Artinya malam ini masih sangat panjang, namun dirinya sudah di landa kebosanan juga kesepian di waktu bersamaan.


__ADS_2