
Sudah dua minggu ini, Daru nampak uring-uringan. Apapun yang di kerjakan oleh sekretaris juga asisten nya, selalu saja salah di matanya.
"Kok aku khawatir kalau pak Daru otw sakit jiwa ya?" celoteh Rini asal. Ardan melotot mendengar kalimat asal sekretaris bos mereka tersebut.
"Kau ini, kalau bicara itu di filter dulu. Bos dengar, kau yang bakalan otw di kirim kan surat pemecatan secara tidak terhormat." Tukas Ardan penuh peringatan.
"Ck! di sini hanya ada kita berdua saja, bagaimana bos bisa tau. Kecuali kalau mulut mu ember, baru lah bos bisa memecatku." Sanggah Rini enteng "awas saja kalau kau berani mengadukan ku pada pak Daru, aku akan mengatakan pada Sisi, jika kita punya hubungan di belakang nya." Ancam Rini menatap wajah pias Ardan penuh kemenangan.
"Cih! suka sekali mengancam, awas saja kalau kau asal berbicara. Bisa-bisa aku batal sold out tahun ini" omel Ardan menatap tak suka pada rekan kerja nya.
"Makanya baik-baik pada ku, kau tau ini wanita. mulut ku banyak, walau aku tidak suka padamu, bisa saja aku iri dengan keberuntungan mu. Kau akan menikah, lah aku? calon gebetan saja tidak punya. Menyedihkan sekali, apa mata para pria tidak ada yang berfungsi dengan baik ya. Sampai-sampai aku yang cantik semampai ini tidak terlihat menarik." Curhat Rini tanpa sadar. Usianya sudah 27 tahun, setiap hari selalu di rong-rong soal jodoh oleh keluarga nya. Itulah yang membuat nya betah tinggal di apartemen sederhana miliknya.
"Itu karena kau terlalu pemilih, bukankah pak Beni dari divisi keuangan sudah berkali-kali melamar mu?" Sela Ardan mengingat kan.
"Ck! tidak juga yang setua itu. Kau ini!" Beni duda berusia 4 7 tahun, sudah 3 kali melamar Rini namun selalu di tolak oleh gadis itu.
"Lah? kan kau sendiri yang suka mengeluh, jika tak ada pria yang menoleh padamu. Tuh, pak Beni, bukan hanya sekedar menoleh, tapi langsung bertindak jantan ingin meminangmu." Cerocos Ardan seperti lambe turah.
"Susah kalau mencurahkan isi hati pada pria kurang pengalaman seperti mu. Bisa-bisa aku dapat jodoh lebih tua dari usia bapak ku." Ketus Rini meninggalkan Ardan yang terbengong menatap punggung kecil Rini.
"Isshhh.. aku kan hanya memberikan masukan, kenapa sulit sekali menerima nya. Usia tidak lah masalah, bukan kah yang lebih matang lebih bagus. Secara pengalaman di ranjang sudah tidak diragukan lagi, soal keuangan, juga oke, soal tampang saja yang sedikit memberat kan. Tapi kan yang penting dapat jodoh, bukan nya itu yang di cari selama ini." Omel Ardan panjang lebar. Bukan nya Rini tak dengar. Meja nya tak jauh dari sana, dia hanya malas untuk meladeni perkataan asal rekan nya itu. Bisa-bisa dia terserang stroke akibat tensinya bermain-main dengan ucapan tak berakhlak Ardan.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Klek
Wajah datar Daru yang seperti lupa di gosok, membuat suasana kedua insan yang sempat beradu argumen tadi semakin mencekam.
"Kalian berdua, ikut aku makan siang." Titah nya tak ingin di bantah, dan tentu saja bagian ini yang paling Rini tunggu.
"Baik pak, ayo kita berangkat" ucap Rini antusias, tas nya sudah disampirkan di atas bahunya dengan cepat. Ardna menatap iba wajah Rini yang selalu haus belas kasihan tersebut. Kalau urusan yang gratis-gratis, Rini selalu cekatan dalam bertindak.
Ketiga orang tersebut turun mengunakan elevator khusus, selama di dalam lift, tak satupun bersuara.
"Apa kalian berdua mendadak bisu?" sarkas Daru kesal sendiri, dengan suasana hening yang tercipta di antara mereka. Ardan dan Rini saling menatap satu sama lain.
"Benar begitu, Dan?" Ardan nampak salah tingkah sendiri.
"Be benar, pak. Tapi sepertinya Sisi akan mengerti kalau aku sedang menemani bapak makan siang. Jadi tidak masalah." Jawab Ardan sedikit gugup, pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kenapa tidak di ajak sekalian ? coba kau hubungi saja, kau bisa membawa mobil mu sendiri. Rini akan ikut denganku saja, agar tidak mengganggu suasan kalian." Ingin sekali Rini mengeplak kepala bos nya itu, enak saja dirinya di sebut tukang ganggu. Lagi pula siapa juga yang mau menumpang mobil Ardan si mesum itu. Diri nya akan di buat panas dingin, melihat adegan 18+ secara live. Rini bergidik ngeri saat mengingat, betapa agresif nya Sisi saat sedang berdua dengan Ardan. Mereka akan berciuman tak tau tempat, dan saling meraba. Dia sudah sangat kenyang dengan adegan tersebut, dan tidak ingin lagi merusak mata polos nya.
"Baik pak, kalau begitu saya pakai mobil sendiri saja." Setelah keluar dari lift, Ardan segera menghubungi kekasih nya agar menunggu di lobby.
__ADS_1
"Kau kenapa melamun? apa tidak rela melihat Ardan dan Kekasih nya berduaan." Pertanyaan konyol Daru membuat Rini ingin muntaber.
"Tidak pak, kenapa harus tidak rela. Bapak becandanya suka kelewat lucu" balas Rini cengengesan. Bos tidak ada akhlak batin nya mengumpat kesal. Kenapa juga dia harus tidak rela, menyukai Ardan saja hanya sebagai rekan kerja dan teman. Tidak ada perasaan lebih.
"Kalau begitu kenapa wajah mu langsung berubah saat aku mengatakan hal tadi di dalam lift ?" tuntut Daru semakin kepo, entah sejak kapan dirinya berubah menjadi seperti netizen.
"Itu karena saya bersyukur, bapak tidak menyuruh saya ikut dengan mobil pak Ardan. Mata suci saya ini, bisa di jejali lagi dengan pemandangan anmoral kedua manusia tidak tau aturan tersebut." Curhat Rini tanpa sadar, segera wanita itu menutup mulutnya. Rini meringis karena secara tidak langsung mengadu kelakuan asisten Ardan pada bos nya.
"Jadi mereka sudah sejauh itu, ya? apa kau sering menyaksikan nya? ingat jangan mempraktekkan nya dengan sembarang pria. Wanita itu selalu meninggalkan jejak, berbeda dengan laki-laki, seribu kali pun berbuat mesum, tidak akan meninggalkan bekas apapun. Kau paham maksud perkataan ku?" Rini mengangguk cepat, usia sudah 27 tahun, tentu hal dewasa semacam itu dia mengerti. Walau pun praktek nya masih nihil pengalaman.
"Bagus, kalau cari pacar, cari lah yang bisa menjaga kehormatan mu, bukan pria yang ingin melahap mu lebih dulu tanpa ikatan apa pun. Pria seperti itu sebaiknya segera kau hindari segera." Lanjut Daru kembali menasehati. Pengalaman masa lalu nya membuat nya kenyang pengalaman akan hal tersebut, dia ingin membagi hal baik pada orang lain, agar jejak nya tidak di ikuti.
Hampir 15 menit, mereka sampai ke restoran. Daru memesan meja di dekat jendela kaca, kepalanya sedikit pusing. Memikirkan Imah membuat kinerja otak nya nyaris mengalami penurunan.
"Ardan kok masih belum sampai ?" Tanya Daru yang mulai menyuapi makanan ke mulut nya, hampir 10 menit mereka di sana, batang hidung Ardan masih belum nampak.
"Paling lagi lepas dalam*an dulu. Upz! maksud saya lepas kangen dulu. Sisi kan baru habis dinas luar kota kemrin 4 hari." Ralat Rini cepat. Wanita itu menepuk pelan mulut lemes nya.
Daru yang paham arah perkataan Rini hanya mengangguk datar.
Saat tengah asyik makan, mata Rini menangkap sosok yang selama beberapa tahun ini menemani bos nya. Tengah menggandeng mesra lengan pria lain sambil bercanda tawa.
__ADS_1
"Apa yang kau lihat, makanan mu sampai tumpah begitu." Tegur Daru, membuat sendok Rini justru terjun bebas dari tangan nya. Suara denting sendok beradu dengan piring, mencuri perhatian para pengunjung restoran. Tak terkecuali pasangan yang dia lihat tadi, kedua pasangan itu justru menghampiri ke arah meja mereka dengan santai nya. Rini nampak sedikit panik, 8 bulan lebih tak pernah melihat wanita itu berkunjung ke perusahaan, membuat nya berpikir yang bukan-bukan sekarang.
"Daru? Rini? berdua aja, tumben Ardan tidak di ajak. Apa ada yang mulai pedekate nih" goda Alisya ikut duduk di kursi disamping Rini, Mike pun duduk di samping Daru tanpa di minta.