Maaf, Untuk Lukamu!

Maaf, Untuk Lukamu!
Penumpang gelap


__ADS_3

Perjalanan kurang lebih 40 menit tersebut, mengantar kan Mike dan Alisya ke sebuah villa mewah di tengah hutan. Sedikit mengerikan, siapa yang punya ide membangun villa semewah itu, tepat ditengah-tengah belantara seperti ini. Mike bergidik ngeri, untung saja sang direktur telah menyiapkan paket lengkap. Wanita itu, benar benar paket liburan yang di luar perkiraan nya, namun dia bersyukur sekarang. Karena tidak terdampar seorang diri di tengah habibat satwa liar di sana.


"Aku akan tidur di lantai atas, kau pilih kamar mu sendiri di bawah sini. Jangan pernah naik ke lantai atas tanpa seijin ku, atau kau akan ku tendang keluar dari villa ini ke tengah hutan sana." Ketus Alisya tak bersahabat. Sejak terbangun gara-gara sang sopir tidak melihat lubang besar di depannya. Alisya syok dengan apa yang dia lihat. Bagaimana bisa ada penumpang gelap di dalam mobil jemputan nya.


Untung saja sang sopir cukup kooperatif, menjelaskan situasi hingga bisa diterima oleh Alisya meski hatinya tetap saja dongkol. Bagaimana kakaknya telah menjebak nya bersama seorang pria asing tanpa perasaan.


"Tunggu dulu" seru Mike saat Alisya mulai menaiki anak tangga.


"Apa lagi? jangan bilang kau takut tidur sendiri?" tuduh Alisya menjatuhkan harga diri seorang Mike tanpa perasaan.


"Ck! tentu saja tidak. Ini kopermu, seperti tertukar saat di bandara." Mike mendorong pelan koper Alisya, kemudian melirik kopernya yang sedang di genggam erat oleh wanita menyebalkan didepannya itu.


Alisya melirik koper yang pegangannya sedang dia genggam erat. Dengan sedikit kikuk, Alisya menyerahkan koper Mike dengan sedikit dorongan.


Keduanya berpisah di ujung tangga menuju kamar masing-masing. Hari ini adalah hari yang melelahkan, banyak kejutan tak terduga. Dan pelaku nya adalah orang yang sama. Sungguh suami istri yang menyebalkan, umpat kedua korban tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Alisya tengah berkutat di dapur, dirinya sedang mengiris dada ayam yang baru saja dia goreng. Di samping telenan tersebut ada cobekkan kayu, didalamnya ada sambel ulek yang dia siram dengan minyak panas. Selera rumahannya tidak pernah tertinggal di manapun dia berada.


Mike yang juga kebetulan akan memasak terdiam mematung ditempatnya, penampilan Alisya cukup sederhana, namun mampu menggetarkan jiwa kelakian seorang Mike.


Baju setelan yang terbuat dari bahan sejenis batik tersebut, membuat Alisya terlihat begitu menawan di mata Mike. Rambut nya yang di cepol asal ke atas dan menyisakan beberapa anak rambut yang menjuntai, membuat wanita itu terlihat begitu seksi. Mike menelan ludah kasar, saat melihat leher jejang milik Alisya. Dia pria normal, sudah bertahun-tahun terakhir kalinya dirinya menyentuh seorang wanita. Dan kini di tempat kan dalam satu atap yang sama, di tengah hutan pula. Sungguh membuat jiwa jones Mike meronta-ronta miris.


"Apa kau akan kenyang dengan hanya menatap bokong ku?" Mike terkesiap mendengar tuduhan seenak dengkul tersebut.


"Ck! bokongmu bahkan tidak ada yang menarik untuk ku tatap." Sanggah Mike tak terima, namun ekor matanya melirik ke arah bokong semok tersebut. Luar biasa batin Mike memuji, tadi dia sama sekali tidak memperhatikan nya, namun mendengar tuduhan tak mendasar Alisya, membuat nya ingin melihatnya lebih teliti.

__ADS_1


"Duduklah, aku tau kau sedang mengintip ukuran bokong ku. Berhentilah melakukan nya, aku tidak ingin kau khilaf, lalu memperkosa ku." Ujar Alisya melontarkan kalimat frontal, mata Mike melotot sempurna. Sungguh wanita ini, benar-benar meresahkan batin Mike dongkol.


"Tenang saja, aku tidak tertarik padamu. Kau jauh dari ekspektasi ku, jadi tidak perlu terlalu percaya diri begitu." Dengus Mike kesal tingkat akut. Bisa-bisa nya wanita itu berkata sefrontal itu, di saat dirinya tengah bersama pria asing di entah berantah.


"Aku hanya memperingati mu, aku ini wanita baik-baik. Meskipun di usia ku aku belum menikah, bukan berarti aku mau mau saja kau gauli tanpa status. Aku bukan wanita seperti itu" tukas Alisya semakin membuat darah Mike mendidih tak karuan.


"Bisakah kita tidak membahas hal-hal yang mengarah ke hubungan dewasa. Aku ini pria normal, bisa saja aku benar-benar khilaf jika kau terus memojokkan ku." Ujar Mike sedikit marah dan tersinggung, bayangan masa lalu nya yang buruk kini kembali teringat jelas di kepalanya.


"Makanlah, dan habiskan. Aku sudah memasak nya susah payah, jadi jangan membuang-buang makanan." Alisya meletakkan satu piring didepan Mike tanpa merasa bersalah, memang nya apa salahnya? Dia hanya berusaha membuat pria itu menjauhi radarnya saja. Dia sedang dalam fase kritis kepercayaan diri terhadap laki-laki, untuk itu, jiwa kewaspadaan nya meningkatkan drastis.


Mike menatap Alisya yang seolah tidak terjadi apa-apa, kemudian menaruh dua sendok nasi dipiring nya lalu menaruh irisan ayam goreng berserta sambel nya juga. Ada kuah sup yang Alisya buat dengan bahan seadanya. Hanya berisi Wortel juga semacam mie putih, begitu lah yang Mike lihat di dalam mangkuk tersebut.


Keduanya makan dalam diam, Alisya lebih memilih makan menggunakan tangan langsung. Mike sesekali melirik wanita di depannya yang tanpa jaim, memakan makanan nya dengan lahap. Mike kagum, Maura saja jika makan dengannya selalu memperhatikan manner dimeja makan. Wanita itu selalu berhati-hati dalam menyantap makanan nya, meski sedang lapar sekalipun. Dan wanita di depannya nya itu, makan dengan lahap tanpa menggunakan sendok juga garpu. Tanpa peduli apapun yang ada disekitar nya.


Mike menarik sudut bibirnya, ada rasa kagum tersendiri pada wanita galak tersebut. Selesai makan, Alisya meraih piring kotor Mike, lalu menyusunnya diatas piring kotor nya.


"Tidak masalah, aku biasa melakukan nya di rumah ku" balas Alisya tanpa menoleh sedikit pun, tangan terampil nya mengelap permukaan meja dengan satu tangan. Mike hanya memperhatikan, wanita itu benar-benar versi calon istri idaman pikir nya.


"Bisa tolong mengangkat ini, taruh saja di samping kompor. nanti aku yang akan menyimpan nya" titah Alisya sopan, meski matanya sama sekali tidak menoleh ke arah Mike. Segera saja Mike beranjak dari kursinya mengangkat mangkuk sup tersebut.


"Taruh di sini?" tanya Mike memastikan.


"Hmm..taruh saja, biar aku yang mengurus nya nanti. Kau boleh istrahat" Alisya menuju wastafel untuk mencuci piring juga gelas kotor mereka. Mike menatap punggung Alisya tanpa membalas perkataan wanita itu. Jika di perhatikan seksama, Mike dapat melihat kesedihan mendalam dikedua mata Alisya yang selalu menatapnya tajam.


"Pergilah, Mike. Aku tidak perlu kau tunggu, aku sudah terbiasa melakukan segalanya sendiri." Mike tersentak mendengar ucapan Alisya, pria itu seolah sedang tertangkap basah mencuri makanan didapur tetangga.


"Ah ya, aku akan duduk di sana saja. aku tidak terlalu lelah, tadi sudah beristirahat sebentar." Mike berjalan menuju ruang tengah, lalu menyetel televisi. Setelah bosan melihat acara yang sama sekali tidak pas di selera nya. Mike Kembali menoleh. Matanya menelisik sekitar, kemana perginya wanita itu. Mike berjalan memutar sofa lalu menuju ke arah ruang makan, saat melewati jendela dapur, matanya menangkap sosok yang sedang duduk di kursi rotan di taman belakang. Alisya tengah memegang gelas yang barang kali berisi kopi atau teh, terlihat dari asap yang masih mengepul bebas dari permukaan gelas tersebut.

__ADS_1


Mike berjalan perlahan dari arah samping, entah kenapa dia begitu penasaran terhadap Alisya. Sorot matanya menggambarkan kesedihan yang begitu dalam, namun tertutupi oleh sikap nya lugas dan sedikit garang.


"Udaranya cukup dingin, sweater rajut ini bisa sedikit menghangat badan." Ujar Mike secara tak langsung telah menawarkan sweater nya pada Alisya, padahal dirinya sendiri juga sedang sangat membutuhkan nya.


Alisya menoleh pada Mike, sejenak dia menatap sweater rajut yang sedang Mike sodorkan pada nya.


"Lalu bagaimana dengan mu?" tanya Alisya menatap Mike, membuat pria itu salah tingkah.


"Aku tidak terlalu dingin, aku sudah terbiasa dengan cuaca seperti ini." Ujar Mike berdusta dengan lancar. Tidak tau saja, sekarang tubuhnya bahkan hampir menggigil karena menahan dingin di kulit nya.


"Pakai lah, sepertinya kau lebih membutuhkan nya dari pada aku" ujar Alisya terkekeh pelan, Mike lagi-lagi terpesona. Ini pertama kalinya sejak belasan jam mereka bertemu.


"Duduklah di samping ku, aku harap hawa tubuhmu bisa menghangatkan ku." Mike duduk dengan kikuk. Kini dirinya merasa seperti anak gadis, yang sedang duduk disamping pria pujaan nya.


"Kau sudah sering kemari?" tanya Mike basa basi untuk memecahkan keheningan diantara mereka.


"Hmm... ini kali ketigaku kemari, kali ini aku beruntung, ada kau yang tanpa di duga menemani ku." Ujar Alisya menoleh sekilas lalu kembali menatap lurus ke depan. Taman itu di penuhi berbagai macam tumbuhan bunga dan pohon buah. Lampu taman yang redup membuat suasana terlihat romantis sekaligus mencekam.


"Sendiri? maksud ku apakah selalu datang kemari seorang diri?" Mike merutuki kebodohan nya, kenapa disaat sikap cool di butuhkan, namun jiwanya malah semellow anak gadis perawan kembang desa.


"Sendiri. Aku selalu suka bepergian Seorang diri. Kadang kita perlu me time, agar kita dapat merenungi, mengoreksi juga belajar arti mandiri yang sesungguhnya. Kita menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menikmati kesenangan, baik bersama keluarga, teman atau rekan kerja. Tanpa kita sadari, bahwa diri kita juga butuh jeda untuk di pulihkan, tanpa terus dijejali oleh hal-hal duniawi tersebut." Mike tertegun mendengar penuturan panjang Alisya, sudut hati nya tersentil hebat. Kata-kata wanita itu sampai hingga ke relung jiwa nya yang paling dalam.


Tidak pernah dia berpikir hingga sejauh itu selama ini, yang dia tahu hanya bekerja dan menghasilkan uang yang banyak. Agar kehidupan nya pulih kembali tanpa kurang satu apapun. Sesekali dirinya mencari kesenangan untuk memuaskan hasrat kelakiannya, dia laki-laki normal. Uangnya mampu memenuhi kebutuhan hidup juga batinnya, kenapa tidak? begitu lah pikirannya selama ini. Tanpa tau, jika ada satu makhluk seperti Alisya yang berpikir sebaliknya.


Dari arah samping, Mike menatap wajah cantik Alisya dari balik cahaya remang lampu taman juga cahaya terang sang bulan. Gelayar hangat memenuhi rongga dadanya, mungkin kah dia telah jatuh cinta pada wanita sederhana itu. Wanita sederhana dengan pola pikir yang luar biasa. Mike tersenyum simpul, kini hatinya telah menemukan arah untuk berlabuh.


Keduanya kini larut dalam keheningan malam yang semakin larut, mata tajam Alisya terlihat mulai sayu. Pertada wanita itu tengah menahan kantuk. Dengan bantal yang tersusun rapi di samping nya, Alisya merebahkan kepalanya disana. Mike hanya memperhatikan, dan menunggu hingga wanita itu terlelap, kemudian mengangkat nya masuk ke dalam. Begitu lah pikir nya.

__ADS_1


__ADS_2