
Detak jantung Keenan bekerja lebih cepat dari biasanya, dari saat memarkirkan mobil hingga mulai masuk ke dalam minimarket. Pria itu tak berhenti komat kamit, agar buah yang di inginkan oleh sang istri, teronggok cantik di rak buah.
"Bi? kok tangannya keringatan gini. Tidak enak badan apa gimana?" Arumi menatap cemas pada sang suami.
Keenan gelabakan sendiri, seolah tengah tertangkap basah sedang menatap perempuan lain.
"Tidak sayang. Aku baik kok, cuma dari parkiran tadi agak panas, jadi keringatan dikit. Udah, ayo kita cari buahnya di ujung sana." Alih Keenan menunjuk rak yang berjejer rapi ke belakang, dimana segala macam buah ada di sana. Walau tidak besar-besar banget, minimarket itu menjual cukup lengkap barang kebutuhan rumah tangga. Maklum, di sana adalah perumahan elite.
"Puji Tuhaaann..!" seru Keenan tanpa sadar, hingga mengundang tatapan aneh para pengunjung swalayan tersebut. Keenan masa bodoh, yang penting jiwa raganya merasa aman sekarang.
"Sini sayang" Keenan menarik pelan tangan Sang istri menuju deretan buah anggur. "Mau di borong semua? takut nanti kehabisan, bagaimana?" tawar Keenan sambil memasukkan satu persatu, mika yang berisi buah anggur tersebut ke dalam troli belanjaan mereka.
"Udah cukup, aku mau yang lain lagi. Boleh?" begitu lah Arumi, setiap mereka sedang berbelanja, jika menginginkan sesuatu, wanita itu akan bertanya terlebih dahulu pada suaminya.
Kadang Keenan gemes sendiri dengan tingkah sang istri. Namun juga bersyukur, Arumi bukan tipe wanita yang kalap dan lapar mata. Meski sebenarnya, dia bisa saja membeli kan apapun untuk wanita itu. Hanya saja Keenan menghargai apapun yang istrinya inginkan tanpa memaksa kan kehendak. Sesekali dia membelikan Arumi hadiah kecil menurut nya, namun reaksi sang istri seperti telah di hadiahi private jet.
"Boleh dong. Mau apa, ayo kita keliling dulu. Kalau ada yang di inginkan jangan di tahan, nanti bayi kita liuran." Keduanya terkekeh geli, dengan istilah yang sering orang-orang katakan itu. Jika tidak kesampaian, maka bayi nya akan ngences.
"Ini biskuit apa gimana?" Arumi bergumam pelan memegang sebuah kemasan makanan ringan di tangannya. "Kaya stick tapi biskuit di celupin coklat, yang ini rasa stroberi, ini vanilla..." Arumi nampak bingung memilih. Keenan segera meraih dan membaca komposisi nya, di rasa aman, pria itu mengambil masing-masing dari setiap varian rasa yang ada.
"Tidak usah banyak, takut malah aku tidak suka, sayang." Arumi mengingat kan suaminya.
__ADS_1
"Kan, ada anak-anak sayang. Jangan bilang kau melupakan anak-anak kita," Keenan memicing kan kedua matanya pada sang istri, Arumi hanya nyengir kuda. Dia benar-benar lupa, bukan maksud.
"Tidak lupa, cuma khilaf dikit. Abis berasa seperti pengantin baru, anak-anak juga jarang di rumah. Ikut Kakek dan nenek nya kemana-mana" benar memang, kedua anak itu lebih banyak menghabiskan waktu bersama kakek dan nenek nya. Kalau tidak, mereka akan bermain dan menginap di rumah Keyra.
"Ya kita pengantin baru rasa sewindu" seloroh Keenan membuat kedua nya tertawa. Apalagi mengingat momen, dimana dokter Dwika mengomentari kehamilan Arumi, yang melebihi usia pernikahan nya. Keduanya tidak marah, hanya saja merasa konyol dengan komentar sang dokter.
"Pak Keenan seperti rajin sekali bercocok tanam, hasilnya langsung terlihat nyata tidak pakai lama. Selamat pak istri anda hamil 9 minggu, tua dua minggu dari usia pernikahan nya." Seloroh dokter Dwika kala itu. Membuat pipi Arumi memerah seperti kepiting rebus, berbeda dengan keenan yang justru tersenyum jumawa.
"Ya ampun! lain kali kalau kita belanja, aku nya di ingatin ya bi. Ini totalan nya, astagaa! baper aku liat nya" ujar Arumi dramatis. Wanita itu sejak masuk ke dalam mobil, malah sibuk mengecek struk belanjaan nya. Lalu menotal ulang jumlahnya takut tidak sesuai. Karena belanjaan nya menghabiskan lembar rupiah yang tidak sedikit. Arumi merasa tidak yakin dengan hasil hingga rela mengecek ulang dengan kalkulator ponselnya.
Keenan hanya menggeleng kan kepalanya, istri paling unik di dunia pikir nya konyol. Padahal jumlah segitu bahkan belum terasa apa-apa, Keenan seperti sedang membayar biaya tol saja. Namun istri nya malah sibuk menotal Kembali, saking tidak percaya pada mesin barcode scanner.
"Pas" jawab Arumi tak bersemangat. "kok kaya sedikit tapi bayarnya banyak" Arumi bergumam tak percaya.
"Mau jalan-jalan sebentar tidak? ke taman mau?" alih keenan agar istri nya tidak lagi memikirkan soal belanjaan mereka.
"Mau, ayo ke sana sebentar" wanita itu kembali bersemangat, Keenan menarik sudut bibirnya. Benarkan, mood wanita hamil itu memang seperti roller coaster. Jadi harus pintar-pintar merawatnya dengan baik.
Keenan memutar kemudi nya menuju taman yang di maksud, sesekali matanya memindai setiap toko perlengkapan ibu dan anak. Beberapa sudah Keenan tandai, nanti saat usia kehamilan istri nya sudah memasuki usia 7 bulan, kurang dari 3 bulan ke depan. Dia akan menyambangi toko tersebut bersama sang istri dan anak-anak nya.
Betapa bahagianya hati pria tersebut, hidup nya terasa lengkap dan sempurna.
__ADS_1
Sesampai di taman, tidak terlalu banyak pengunjung. Maklum sudah mulai beranjak tengah hari.
"Duduk di sini sayang" ajak Keenan menuntun sang istri.
"Dulu aku sering ke sini, sama anak-anak. Kalau main ke mall lumayan ngeluarin budget, aku takut tidak cukup untuk beli yang lain. Untung anak-anak tidak pernah memaksa, ke sini saja mereka sudah senang banget." Celotehan Arumi yang seperti sedang mencurahkan isi hatinya membuat dada keenan sesak.
Tak tersa bulir bening keluar tanpa tau tempat, Keenan menarik sang istri dalam pelukannya. Mereka duduk di kursi kayu di bawah pohon Ketapang.
"Loh? nangis bi?" Arumi merasa ada tetesan air dari atas kening.
"Tidak, aku merasa sangat berdosa sama kalian dulu. Maaf ya, udah buat hidup umi dan anak-anak sengsara. Dan harus ekstra berhemat, sedang kan aku bisa berfoya-foya tanpa sedikitpun memikirkan kalian." Keenan terisak sambil terus mencium pucuk kepala istri nya.
"Ya ampun, bi.. Maaf ya, aku tidak bermaksud tadi, tiba-tiba aja keingat momen kami dulu. Asal abi tau, meski begitu, kami tetap bahagia karena saling menyayangi dan memiliki satu sama lain. Sudah jangan diingat-ingat lagi, sekarang kita bahagia dan hidup bersama. Jangan ulik masa yang sudah lewat, maaf..." Arumi jadi merasa bersalah, telah membuat suaminya kembali teringat kisah yang tak ingin mereka ingat.
"Aku mau es krim boleh? yang itu, rasa vanilla sama coklat." Arumi menelan liurnya sendiri.
Keenan menyeka air matanya, "ya sudah, tunggu sini ya, jangan kemana-mana sampai aku kembali." Pria itu mencium pucuk kepala istrinya sekali lagi.
Seorang wanita yang sejak tadi memperhatikan keduanya, mulai mendekati Arumi sepeninggalan Keenan.
"Boleh duduk?" tanya wanita tersebut tersenyum ramah.
__ADS_1