Maaf, Untuk Lukamu!

Maaf, Untuk Lukamu!
Gadis cerewet


__ADS_3

Sejak semalam dua manusia beda genre itu belum saling berbicara. Imah masih dalam mode kesal level akhir. Bagaimana tidak, saat selesai makan malam, imah kembali mengganti popok Daru. Dan yang terjadi, milik pria itu terbangun tanpa tau malu. Sontak saja Imah menjerit histeris dan memukulkan popok tepat ke arah benda menjulang tinggi di sela paha Daru.


Daru pun tak kalah histeris, meski popok adalah bahan yang lembut, namun tetap saja sakit jika di hempas kan dengan kekuatan maksimal. Daru menjerit sambil memegang perabot tempur nya, pria itu meringkuk seperti bayi. Menahan nyeri di ujung pedang nya.


"Apa kau gila hah! kau bisa membuat ku impoten, dasar gadis tidak punya perasaan." Seru Daru marah. Imah yang masih berusaha menetralkan debar jantung nya, balas menatap punggung Daru tak kalah marah.


"Kalau kau sudah sadar kenapa masih berpura-pura belum? apa kau sengaja ya, biar aku terus melihat dan mengurusi tibuh jelek mu itu. Dasar pria tua, suka sekali mencuri kesempatan dalam kesempitan." Tuduh Imah tak kalah emosi. Nafas nya turun naik, sanking kesal nya.


Daru menoleh ke arah Imah yang masih menatap nya nyalang. Cantik, satu kata yang terbersit di otak nya. Namun buru-buru Daru menggelang kan kepala nya. Wanita itu hampir saja membuat benda kebanggaan nya mati suri.


"Ck! siapa juga yang mencuri kesempatan, aku tadi baru saja akan terbangun saat kau menggerayangi tubuh ku." Daru berkelit tak mau kalah.


"Alasan!" ujar Imah masih tak mau kalah "aku akan menelpon paman Mike, untuk memeriksa pisang mahuli mu itu." Imah merogoh ponsel nya, sementara Daru melotot mendengar kalimat nyeleneh yang menjatuh kan harga pisang ambon nya. Enak saja pikir nya, milik nya bahkan 4 kali lipat ukuran pisang mungil itu.


"Perhatikan ucapan mu, tidak perlu menghubungi siapa pun. Milik ku baik-baik saja. Dasar gadis bar-bar, bisa-bisa nya dia menilai ukuran milik ku sebesar pisang mini itu." Gerutu Daru tak terima. Milik nya yang perkasa di samai dengan ukuran pisang paling mungil di jajaran segala jenis pisang.


"Ya sudah, kau sudah sehat, berarti bisa mengurus diri mu sendiri. Aku mau pulang, kau sungguh merepot kan." Balas Imah ngeloyor menuju nakas untuk memasukkan barang bawaan nya ke dalam tas ransel. Pakaian nya tidak banyak, karena setiap hari, sang ayah selalu datang dengan membawa kan Imah pakaian ganti. Agar putri nya itu tidak repot jika harus membawa banyak barang.


"Kau mau kemana, aku bahkan baru sadar, bagaimana bisa aku melakukan aktivitas fisik secara langsung." Cegah Daru menatap Imah yang tengah bersiap untuk pergi.


"Ck! dasar manja. Kau itu sudah tua, bahkan seumuran ayah ku. Kenapa manja sekali sih!" Omel Imah meletak kan kembali tas.

__ADS_1


Daru ingin sekali melempar Imah dengan tiang infus nya, namun mengingat jika diri nya masih membutuh kan gadis itu. Dia pun hanya bisa menahan segala macam bentuk hinaan, yang terlontar dari mulut mungil gadis menyebal kan tersebut.


"Jadi kau mau apa sekarang ? ini sudah malam, aku mau tidur." Ketus Imah menjatuh tubuh nya di ranjang berjarak satu meter dari ranjang Daru.


"Aku lapar" ucap Daru pelan, sangat pelan sampai Imah yang tak terlalu jauh dari nya hampir tak mendengar nya.


"Kalau ngomong jangan kumur-kumur, aku tidak dengar." Protes Imah jengkel dari ranjang nya, gadis itu memunggungi Daru .


"Aku lapar! dengar tidak" teriak Daru kesal.


"Ck! kalau lapar ya makan, kenapa lapor pada ku. Kenapa tidak sekalian saja lapor dulu pada pak RT atau lurah." Ujar Imah sekena nya.


"Cerewet! katakan kau ingin makan apa sekarang, cepat. Aku lelah, mengurus pasien yang ternyata hanya pura-pura sakit agar terus di rawat oleh gadis muda seperti ku." Daru menarik nafas dalam-dalam, kesabaran nya harus di pupuk lebih banyak kalau punya perawat seperti ini. Bisa-bisa besok diri nya sudah nongkrong indah dalam peti jenazah.


"Aku mau makan ayam goreng lalapan sambel terasi dengan nasi yang panas." Pinta Daru seperti tengah memesan makanan di warung makan.


"Kau pikir kau sedang di mana sekarang, kenapa pesanan mu sala begitu." Kesal Imah "makan saja yang ada, ada sisa ayam goreng ku tadi. Nasi nya aku hangat kan dulu, dan sambal terasi nya tinggal sedikit. Eh?" Imah seperti menyadari sesuatu yang salah.


"Jangan bilang kau sudah terbangun sejak sore tadi? itu kenapa kau tau kalau aku tadi makan dengan sambal terasi ?" cecar Imah dengan tatapan membunuh. Daru salah tingkah di buat nya, gadis ini benar-benar galak pikir nya.


"Mana ada, aku memang baru terbangun tadi. Itu makanan kesukaan ku, mana aku tau kalau kau juga ikut selera makan ku." Balas Daru berkelit sempurna.

__ADS_1


"Aku? ikut selera makan mu? yang benar saja, bahkan sejak kecil aku sudah menjadikan sambal terasi sebagai lauk pokok ku untuk makan ubi sampai aku dewasa. Enak saja kau menuduh ku mengikuti selera mu." Rajuk Imah mengomel, sambil menyiap kan makanan untuk Daru.


Daru mematung mendengar kalimat Imah, lauk pokok? bukan kah gadsi itu berasal dari keluarga kaya raya ? siapa yang tidak tau kekayaan keluarga Sudibyo, lalu kenapa cucu keluarga itu di beri lauk terasi sejak kecil. Banyak pertanyaan bersarang di otak dangkal nya, membuat jiwa kepo Daru semakin tinggi untuk mengetahui tentang gadis itu.


"Ini makan lah, jangan bilang kau ingin aku suapi juga seperti bayi." Imah meletak kan piring di ranjang Daru setelah dia menaikkan sandaran brankar nya. Daru menatap menu makanan nya, sederhana, itu hal pertama yang dia lihat.


Ayam goreng yang sudah di suwir-suwir kecil, ada daun ubi rebus, juga sambal terasi. Tak lupa goreng tempe nya juga. Liur Daru hampir saja menetes, Alisya dulu paling tidak suka aroma terasi, untuk itu dia selalu menahan lidah nya ketika makan dengan mantan kekasih nya itu. Alisya lebih suka sambal goreng atau matah, yang di campur langsung dengan ayam goreng. Atau istilah yang sering di sebut, ayam geprek.


"Makan, jangan hanya di tatap. Makanan mu tidak akan mengembang seperti adonan roti kalau kau terus melihat nya." Tegur Imah yang melihat Daru terus menatap piring nya dan meneguk ludah nya berkali-kali.


"Ya ya, aku makan. Mulut mu cerewet sekali" Daru mulai melahap makanan tersebut dengan penuh penghayatan, entah sudah berapa lama diri nya tidak memakan makanan rumahan tersebut. Sungguh dia sangat merindukan nya, terutama masakan ibu nya. Seketika wajah cerah nya kembali mendung, saat mengingat kedua orang tua nya yang tak kunjung mau menjenguk nya.


Imah menyadari perubahan raut wajah Daru, menyadari Apa yang sedang pria itu pikirkan.


"Ibu mu kemarin ada datang, kau saja yang masih pura-pura belum sadar, maka nya tidak tau." Sela Imah melihat wajah muram Daru. Daru mendongak, mata nya berbinar cerah.


"Benar kah? apa yang ibu ku katakan ? apa ayah ku juga datang ?" Tanya Daru tak sabar.


"Ibu ku bilang, cepatlah bangun, jangan membuat semua orang kerepotan, terutama gadia cantik yang merawat mu itu. Dan untuk ayah mu, dia hanya bilang, jangan berbuat konyol lagi kalau kau sudah bangun." Daru mendelik ke arah Imah mendengar ucapan yang dia yakin gadia itu hanya menganda-ngada saja. Orang tua nya bukan orang-orang yang iseng, sehingg mengucapkan kalimat tak berfaedah seperti itu.


"Kau ini, benar-benar gadis menyebalkan!" Seru Daru jengkel. Namun sudut hati nya merasa senang, saat tau jika kedua orang tua nya masih mau menjengkelkan nya. Tak tau saja Daru, jika Alisya dan Mike lah yang membujuk kedua nya. Mike dengan besar hati membujuk Alisya untuk mendatangi kedua orang tua Handaru. Kedua paruh baya itu oun sangat malu pad kebaikan hati Mike, hingga memutuskan untuk datang ke rumah sakit walau hanya sebentar.

__ADS_1


__ADS_2