
Mike mengambil beberapa bahkan puluhan gambar Alisya dalam berbagai pose. Meski Alisya sendiri tidak menyadari, jika dirinya sedang jadi objek kamera ponsel Mike.
"Haus?" Mike mengarahkan sebotol minuman kemasan pada Alisya.
"Lalu kau, bagaimana?" sebelum mengambil botol minuman tersebut, Alisya balik bertanya. Dia tidak ingin bergantian minum di wadah yang sama.
"Aku ada. Ambil lah, kau pasti haus." Mike memutar penutup botol tersebut lalu memberikan nya pada Alisya.
"Thanks!" ujar Alisya tulus.
"Kita akan kemana lagi setelah ini?" Mike bertanya setelah Alisya selesai minum. Dia sebenarnya hanya ingin menghabiskan banyak waktu bersama Alisya, bisa saja dia menggunakan jasa tour guide. Namun jika bisa merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui, kenapa tidak? begitu lah pikirnya.
"Terserah kau saja." Balas Alisya masih menatap gulungan ombak di depan mereka. "Apa kau membawa makanan?" tanya Alisya menoleh ke arah Mike.
"Hanya beberapa makanan ringan, ada roti juga biskuit." Cengir Mike mengusap tengkuknya.
"Itu cukup. Ayo kita lanjutkan, di bagian Utara sana, ada pondok-pondok kecil bagi para wisatawan. Kau yang bayar? bagaimana? anggap saja ongkos ku menjadi guide mu." Terang Alisya mengerling matanya.
Mike terkekeh pelan melihat tingkah menggemaskan Alisya. "Tidak masalah! ayo!" Mike menarik pelan pergelangan tangan Alisya lalu menyusupkan jarinya di sela jari Alisya.
Alisya mengernyit heran, namun tidak menolak. Kedua nya berjalan menuju arah yang di maksud oleh Alisya dengan tangan saling bertautan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bi?" Eiden mulai bosan, sejak tadi tidak satupun ikan mereka dapatkan.
"Hmm?" Keenan menoleh sebentar lalu kembali fokus ke arah sungai kecil di depan mereka.
"Kita pulang saja, aku bosan, nyamuknya banyak." Keluh Eiden menatap jenuh pada ganggang pancingan nya.
"Apa umpan kita salah ya?" gumam Keenan mulai menimpali. Sejak tadi ikan hanya melewati mata pancing mereka, tanpa berniat melahap umpan yang mereka kailkan di sana.
"Entah? abi bilang yang ini saja, jadi aku ambil saja yang abi bilang." Bela sang anak, Keenan melirik sekilas wajah cemberut Eiden.
"Ya sudah, kita pulang saja. Seperti nya abi tidak punya keahlian dalam hal ini." Putus Keenan akhirnya. Keduanya bersiap menyimpun perbekalan yang mereka bawa.
Sementara di villa, Arumi tengah sibuk memasak di dapur. Dia yakin jika kedua pria kesayangan nya itu, pasti tidak akan pulang membawa satu ekor pun hasil pancingan. Untuk itu dia sudah mewaspadai nya. Sebelum berangkat ke sana, Arumi sudah membawa satu boks sedang berisi daging, juga ikan segar. Sebagai antisipasi saja, meski dia tau Suaminya tidak punya keahlian dalam hal memancing.
Dalam perjalanan keduanya lebih banyak diam, Keenan fokus pada jalanan yang berlubang, sementara Eiden fokus pada pemandangan sepanjang jalan.
Dari kejauhan, matanya menangkap sosok yang sedang susah payah menyeret sepeda nya. Dengan beban yang cukup berat di atas sadelnya. Gadis remaja itu tengah membawa satu karung muatan besar di atas sepeda nya. Tubuh mungilnya bahkan hampir tak terlihat di balik karung tersebut.
__ADS_1
"Bi, abi. Stop, di sana dulu" tunjuk Eiden membuat Keenan mengerem mendadak.
"Ck! bisa tidak, kasih aba-aba dari jauh. Kalo gini kita bisa saja celaka, mana jalannya berlumut gini." Omel Keenan kesal pada putranya. Sementara Eiden tak memperdulikan omelan sang ayah, setelah mobil berhenti sempurna di pinggir jalan. Remaja tanggung tersebut bergegas turun, membuat dahi Keenan berkerut.
"Ck! mau kemana sih tu anak." Gerutu Keenan akhirnya terpaksa juga ikut turun.
"Hai, maaf. Ini pasti berat, kebetulan mobil kami sedang kosong bagasinya. Bagaimana jika kami antar saja" tawar Eiden basa basi. Kening Keenan semakin berkerut dalam melihat interaksi sang anak dengan gadis remaja tersebut.
"Tidak usah, tapi terimakasih sebelumnya. Ini tidak berat, aku sudah biasa. Biasanya akan ada dua karung sekaligus, tapi hari ini aku cuma dapat satu karung saja." Tolaknya halus seraya tersenyum ramah. Eiden tertegun melihat senyum manis tersebut, sampai tidak sadar jika sang ayah sudah berdiri tepat di samping nya.
"Khmm!" Keenan berdehem pelan, agar sang anak segera sadar dan menutup mulutnya yang sedikit ternganga, melihat ke arah gadis di depan mereka.
"Eh? abi? kenapa tidak menunggu di mobil saja sih?" guman Eiden melirik sebal pada sang ayah. Keenan melongo mendengar kalimat yang menyebalkan dari sang anak.
"Ck, dasar anak tidak ada akhlak. Ini ada apa sebenarnya?" tanya Keenan penasaran.
"Itu... aku ingin menawarkan bantuan saja, seperti nya karung ini berat dan jalanan sedikit menanjak. Pasti berat jika mendorong sepeda dengan beban di atasnya." Jelas Eiden berharap sang ayah bisa membujuk si gadis untuk menerima bantuan mereka.
Keenan melirik ke arah sepeda, lalu menoleh pada gadis dengan pakaian lengkap ala orang pulang dari sawah. Terlihat lusuh, kotor dan gadis itu berkeringat.
"Baiklah, kami akan mengantarmu. Sepeda mu bisa di taruh di atas mobil tidak masalah, tunjukkan saja arah rumahmu." Keenan menghampiri sepeda gadis itu berniat untuk mengangkat karung yang ada di atas nya. Namun Si gadis dengan sigap menghalau nya.
Keenan menelisik raut wajah cemas yang terlihat begitu kentara, di wajah gadis yang dia taksir umur nya mungkin lebih tua dari putranya.
"Ya sudah kalau begitu, maaf jika kami menghalangi jalan mu." Ujar Keenan akhirnya. Sementara Eiden menatap kesal pada ayahnya. Remaja itu berbalik menuju mobil tanpa mengatakan apapun.
"Baik tuan, terimakasih, juga maafkan ketidak sopananku. Aku permisi" si gadis menunduk pada Keenan lalu melanjutkan membawa sepeda nya dengan sekuat tenaga. Saat melewati mobil Keenan, gadis tersebut tersenyum ke arah Eiden yang malah membuang muka ke arah lain. Hatinya kesal saat mendapat penolakan dari gadis itu.
Keenan menyusul sang anak yang menekuk wajahnya. "Kita tidak bisa memaksa kan kehendak pada orang lain, son. Kau tau, kita ini orang asing bagi para penduduk desa sekitar sini. Tentu saja mereka akan mawas diri terhadap bantuan tiba-tiba dari orang yang tidak mereka kenal." Jelas Keenan berusaha menghibur sang anak. Putranya itu seperti nya terkena penyakit "jatuh cinta pada pandangan pertama", begitu lah pikir Keenan.
Eiden menatap heran arah jalan yang di lalui mereka, "ini bukan arah ke villa loh, bi? tidak nyasar kan?" tanya nya heran.
"Ya, abi tau. Ikut aja" ujar Keenan santai. Mobil yang mereka bawa memasuki ujung desa, Keenan menghentikan mobilnya persis setelah melewati beberapa rumah. Terlihat gadis tadi tengah menurunkan karung nya dengan susah payah. Lalu mulai menggelar sebuah tikar untuk menjemur gabah tersebut.
Eiden melirik sang ayah dengan hati berbunga-bunga, ternyata ayahnya tidak benar-benar acuh pada gadis itu.
Terlihat seorang wanita juga seorang gadis yang mungkin seusia putranya. Dengan kantung plastik di tangan keduanya.
Keenan membuka sedikit kaca jendela mobilnya agar dapat mendengar apa yang di teriakan oleh wanita itu pada anaknya.
"Dasar tidak becus, seharian cuma dapat sekarung. Memangnya kau tidak mikir apa, kalau di rumah kita ini ada banyak perut yang harus di kasih makan!" Beberapa kali telapak tangan wanita itu menggeplak kepala si gadis, belum lagi gadis satunya malah memberikan ijuk pada wanita itu sambil tertawa mengejek.
__ADS_1
"Kemarikan tangan malasmu itu, ayo cepat!" dengan takut-takut gadis itu mengarah kedua telapak tangan nya ke arah sang ibu. Pukulan ijukpun mulai menghempas telapak tangannya berkali kali.
Keenan sudah tidak tahan lagi, apa lagi melihat beberapa warga yang hanya menonton nya tanpa berniat melerainya sedikit pun.
"Cukup! apa-apaan ini!" seru Keenan marah. "Kenapa anda menganiayanya nyonya, lihatlah tangannya sampai berdarah. Dasar wanita gila!" Lanjut Keenan benar-benar kesal, dia tidak habis pikir dengan apa yang di lakukan oleh wanita gila tersebut.
Eiden datang dengan membawa kotak obat, "Sini aku obati" di raihnya tangan sigadis namun di tolak oleh gadis itu.
"Tidak usah, terimakasih. Nanti juga sembuh sendiri" matanya melirik takut pada sang ibu.
"Dia anak saya, suka-suka saya mau apakan dia. Siapa suruh tidak becus bekerja," sanggah nya tak ingin di salahkan.
"Anak tiri maksud nya!" seru seorang ibu-ibu di balik kerumunan warga desa yang tengah berkumpul.
"Hei! dia mau anak tiri atau bukan tidak ada urusan nya dengan mu. Dia numpang dirumahku, jadi sudah sewajarnya tau diri sedikit." Teriaknya tak terima.
"Heh! anak tidak berguna, masuk sana, cepat masak, cucian di belakang numpuk. Dasar pemalas, sudah numpang tidak tau diri!" ujarnya kemudian berlalu tanpa peduli dengan suara-suara sumbang yang mengatai dirinya. Sudah kebal, itulah faktanya.
Segera si gadis masuk melalui pintu belakang dengan memeluk kedua tangannya yang terluka. Sudah bisa di pastikan bagaimana rasanya, jika nanti gadis itu harus berhadapan dengan pekerjaan rumah saat tangannya terluka parah.
Keenan menahan putranya yang hendak menyusul. "tapi bi?" Eiden masih belum terima.
"Sudah, serahkan pada abi." Ujar Keenan pelan.
"Maaf ibu-ibu, saya mau ke rumah pak lurah, di mana ya?" tanya Keenan ramah.
"Saya tau, mari saya yang antar" seru seorang gadis dengan suara bersemangat. Rupanya gadis tadi tidak ikut masuk, dia terus memperhatikan Eiden tak sedetikpun berpaling dari wajah tampan remaja itu.
"Maaf, tidak perlu. Kami bisa cari sendiri" tolak Keenan halus, lalu kembali menatap warga.
"Dari sini lurus aja ada gang kecil di kanan jalan, masuk sedikit, tapi harus jalan kaki. Di dalam sana gang sempit, rumah pak kepala desa di dalam gang itu. Tanya saja sama warga di sekitar sana. " Jelas seorang warga pada Keenan.
Setelah mengucapkan terimakasih, keduanya menuju ke sana. Sementara gadis tadi menghentak kakinya marah, karena niat baik terselubung nya di tolak mentah-mentah.
"Maaf, mau nanya. Rumah pak kades di sebelah mana, ya?" Keenan dan Eiden berjalan menyusuri gang kecil itu dan berhenti di sebuah warung yang sedang ramai-ramainya.
"Itu mas, yang warna biru itu. Ke sana saja. Kebetulan pak kades lagi ada dirumah." Ujar salah seorang pengunjung warung tersebut ramah.
"Baik pak, terimakasih banyak." Pria tadi hanya membalas dengan anggukan dan senyum ramah khas orang desa.
"Permisi?" seruan Keenan membuat sang pemilik rumah keluar untuk melihat siapa tamunya.
__ADS_1