
3 hari dua malam di puncak, kini Reegan sekeluarga sudah kembali ke rumah.
"Aku pikir dia sudah pergi" sungut Kalla mengeluarkan tas punggung nya dari bagasi.
"Kak, kotak kecil tadi mana?" Kira datang dengan memeluk tas punggung nya di depan, entah apa fungsi punggung nya tidak dia fungsikan sebagai mana mestinya.
"Itu" tunjuk Kalla pada kotak yang masih ada di bagasi mobil nya. "Memangnya itu apaan, sih? kok gerak-gerak mulu. Adek gak bawa pulang ular kan? jangan aneh-aneh ya, bunda bisa kena serangan jantung kalau kau iseng." Cecar Kalla mengingat kan.
Sejatinya, Kalla lah yang takut dengan hewan melata itu.
"Tidaklah, aku tidak seiseng itu. Itu buat orang yang pantas di kerjain aja. upss!" Kira segera menutup mulutnya.
"Memangnya apaan sih," Kalla yang penasaran membuka sedikit penutup kotak, matanya melotot tak percaya. Adiknya ternyata membawa beberapa ekor katak di kotak tersebut.
"Iseng banget, buat ngerjain wanita tidak tau malu itu?" tanya Kalla memastikan. Pria itu memicingkan kedua matanya menyelidik.
"Hehehe.. iya kak, boleh kan?" tanya Kira dengan wajah seimut mungkin.
"kalau untuk wanita silahkan saja, asal jangan sampai ketahuan." Dukung Kalla pada adiknya.
"Makasih kak" seru gadis itu berjinjit mencium pipi sang kakak sebagai ungkapan terima kasih.
Kavin hanya menggeleng melihat tingkah kedua nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suara teriakan Diana dari arah kamar tamu menggema sampai ke ruang keluarga. Sarah akan beranjak, namun Reegan dengan sigap menahan sang istri.
"Biarkan, itu hasil keusilan putri kita." Cegah Reegan menjelaskan.
Sarah menatap Kira yang seolah tak tau apa-apa, "kenapa bun? adek cantik ya, udah tau, kan turunan bunda." Cengirnya dengan wajah polos.
"Usil banget, adek ngapain memangnya?" Sarah jadi penasaran.
"Dia naruh katak di kamar wanita itu, sekongkol tuh, sama Kalla." Tuduh Kavin berargumen.
__ADS_1
"Enak aja, aku cuma mendukung, bukan sekongkol." Elak Kalla tak mau di ikut di salahkan.
"Udah, udah. Bunda cuma nanya, bukannya suruh kalian debat." Sarah menggeleng geleng melihat kelakuan anak-anak nya yang usil.
Diana datang dengan rambut acak-acakan, wajahnya pucat pasi, matanya menatap nyalang pada Kira yang tengah sibuk membaca buku.
"Pasti kau yang sudah menaruh katak sialan itu di kamar ku? ayo mengaku!" Tuntut Diana menanti jawaban Kira.
"Heh? kok aku? aku loh dari tadi sibuk belajar, berkumpul bersama keluarga, kenapa aku di tuduh jadi tersangka fitnahan. Waah, tidak benar ini. Bun, yah, anak kalian yang cantik dan menggemaskan ini sedang di fitnah dengan keji loh." Ujar Kira panjang lebar. Wajah polosnya terlihat menyebalkan di mata Diana.
Sarah menghela nafas panjang, "memang nya kau melihat sendiri, kalau Kira yang menaruh katak di kamar mu?" tanya Sarah membuat Diana tak bisa menjawab. Namun hatinya yakin, jika Kira lah yang menaruh hewan kecil itu di dalam kamar nya.
"Ituu..aku tidak melihat nya, tapi aku yakin, jika dia yang menaruh nya. Kira kan tidak pernah suka padaku" Bela Diana berusaha untuk membenarkan argumen nya.
"Itu namanya kau itu sedang menuduh adikku tanpa bukti, dan kami bisa saja membuat nya jadi masalah besar. Berani sekali kau memfitnah adikku" Kavin pun angkat suara. Walau hatinya sudah gatal ingin tertawa saat melihat penampilan wanita itu, sudah seperti habis di gerebek satpol di kost ceria.
"Kau kapan akan pergi, kenapa banyak sekali alasan. Kami ini bukan keluarga mu. Jadi tidak bertanggung jawab atas apapun yang terjadi padamu. Kenapa kau membebani orang tua ku dengan masalah mu, cari saja ayah anakmu itu. Kau itu beban juga aib di rumah ini." Perkataan sadis Kalla meluncur lancar tanpa kendala. Dia tidak peduli pada perasaan wanita itu, teman bukan keluarga apa lagi.
"Aku hanya ingin menumpang sampai anakku lahir, Kenapa sulit sekali menerima ku disini. Abaikan saja jika tidak suka, aku bahkan tidak menggangu kalian." Teriak Diana marah.
"Lalu bagaimana bisa kalian menerima wanita itu, dia pun bukan siapa-siapa di rumah ini." Balas Diana tak mau kalah.
"Namanya Arumi, dia adalah ibu dari anak-anakku. Dan juga calon istri ku, jadi pergilah dari sini, kau sungguh wanita menyedihkan. Memaksakan kehendak tak mengenal tempat." Sinis Keenan sengit.
Diana terpekur di tempat, dirinya benar benar sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk meraih Keenan.
"A..a.ku.. tidak bisakah aku menjadi istri kedua mu Ken, aku tidak apa-apa, asal anakku memiliki status yang jelas. Aku mohon" Diana bersimpuh di kaki Keenan, membuat pria itu terjengkit kaget.
"Kau benar-benar wanita gila tingkat akhir, sudah tak tertolong lagi." Keyra menelpon seseorang dan setelah nya menatap Diana dengan tatapan tak bersahabat.
"Kau sungguh menguji kesabaran keluarga ku, terima saja nasibmu setelah ini." Keyra duduk disamping kedua orang tuanya, yang sejak tadi hanya diam saja menyaksikan tingkah Diana.
"Aku akan memberikan mu dua pilihan, keluar dari rumah keluarga ku baik-baik, atau kau, akan berakhir di penjara dan melahirkan anakmu di sana." Ucap Keyra dengan santai.
"Apa maksud mu?" Diana mulai terlihat panik.
__ADS_1
"Aku sudah menelpon pengacara keluarga ku dan polisi, di rumahku ada seorang wanita gila yang sedang hamil dan memaksa meminta kakakku bertanggung jawab."
Balas Keyra sambil menyantap cake di atas meja. "dan ya, aku akan memberikan mu pilihan ketiga." wanita itu kembali terdiam, "kau aku kirim ke rumah sakit jiwa" ucap Keyra melanjutkan makannya.
Mata Diana melotot mendengar pilihan ketiga yang diberikan Dokter bedah tersebut. Nyalinya menguap entah kemana.
"Aku bisa saja meracuni atau menyuntik mati dirimu, tapi terlalu mudah. Kau tidak akan merasa kan sensasi menderita perlahan lalu, selamat tinggal dunia." Keyra melanjutkan perkataannya membuat tubuh Diana gemetar, apakah keluarga ini, mafia. Pikiran buruknya langsung mendominasi.
"Aku... akan pergi saja.. Katakan pada polisi atau pengacara mu, batalkan niat mereka ke sini. Aku pergi, sungguh. Kali ini benar-benar pergi jauh, dan tidak akan menggangu hidup kalian terutama Keenan. Aku bersumpah" Diana bergegas menuju kamarnya dan mengemas asal pakaian nya ke dalam koper.
Sementara di luar, seluruh keluarga menatap Keyra yang tengah asyik makan, tanpa memperdulikan tatapan aneh keluarga nya.
"Berhentilah menatap ku seperti itu, aku ini bukan psikopat. Tapi jika di butuhkan, aku bisa menjadi apa saja. Misalkan mencongkel jantung dan ginjal seseorang saat aku melakukan operasi, dan mengatakan, bahwa pasien meninggal di meja operasi. Penyakit mengalah kan usaha medis, selesai." Dari ekor matanya, dapat dia lihat Diana semakin bergetar.
Keyra sengaja mengatakan itu pada keluarga nya, karena dia tau, jika Diana akan melewati mereka. Hatinya bersorak senang, ternyata dia bisa berkata sesadis itu juga rupanya.
"Aku.. sudah.. siap. Apakah tawaran tempo hari masih berlaku, maksud ku, soal rumah dan pekerjaan yang waktu itu di tawarkan padaku." Diana berbicara dengan suara ketakutan.
"Sayang sekali, kau terlambat mensyukuri nikmat mu. Tawaran nya sudah tidak berlaku lagi, ah ya, aku punya sedikit recehan." Keyra mengeluarkan beberapa lembar uang merah yang dia sebut sebagai recehan.
"Ini, ambillah, aku tau kau sudah tidak punya uang kan? seperti nya gaya hidup mu tidak sesuai dengan keuangan. Berhemat lah, biaya hidup itu mahal. Aku tidak selalu punya recehan seperti ini untuk di bagikan padamu." Keyra menaruh 10 lembar uang pecahan seratus ribu itu di atas meja.
Diana merasa harga dirinya dilempar jauh hingga ke dasar jurang terdalam, perkataan Keyra serasa menampar nya berkali-kali. Wajah Diana pias karena malu. Namun jika tidak mengambil uang itu, uangnya tidak akan cukup meski untuk mencari kontrakan paling murah sekali pun.
Perlahan Diana menunduk mengambil uang tersebut, meski wajahnya sudah memerah. Gerakan Keenan memberinya sedikit harapan, jika pria itu kasihan padanya. Diam-diam Diana tersenyum samar.
"Aku tambah, semoga cukup untuk mencari kontrakan, jangan yang mahal-mahal. Sesuai kan dengan keadaan saja, gengsi tidak membuat mu kenyang." Lagi? Diana semakin malu di buat dua bersaudara itu. Dengan cepat, tangan Diana meraih uang pemberian Keenan disamping uang yang diberikan Keyra.
"Aku permisi, terima kasih sudah menampung ku selama ini. Aku pergi," Diana menarik kopernya cepat, seakan dirinya sedang di kejar maling.
Setelah mendapat info dari penjaga rumah, jika diana sudah pergi dari sana menggunakan taksi. Tawa Keyra meledak, dia tidak habis pikir jika semua keluarga nya menanggapi serius Ucapan nya.
"Astaga! perutku sakit, sudah lah aku mau pulang, aku ke sini mengantar boneka Elsye yang ketinggalan di mobil kami. Itu aku taruh di sofa ruang tamu, makasih cakenya daah" Keyra pergi begitu saja, meninggalkan keluarga nya yang masih mematung dengan tingkah konyolnya.
"Anak itu, bikin bunda jantungan saja." Omel Sarah mengelus dadanya.
__ADS_1
"Jika tau mulut nya beracun, kenapa tidak sejak kemarin-kemarin saja dia menggunakan keahliannya itu." Dengus Keenan kesal pada adiknya. Namun juga berterimakasih atas bantuan ekstrim sang adik.