
Arumi terlihat tengah sibuk membantu bi Surti dan mbok Darmi di dapur. Dia merasa bosan didalam kamar terus menerus, hingga berinisiatif turun ke bawah membuat dessert untuk makan malam.
Sementara Diana juga tengah sibuk mengatur strategi, agar dirinya tidak di depak dadi rumah Reegan. Walau di jamin akan di berikan pekerjaan dan tempat tinggal, namun jika ada yang lebih mudah untuk menghasilkan uang. Kenapa harus cape-cape bekerja, bukan? begitu lah pikirana liciknya bekerja.
"Rumi?" Sarah yang baru saja bergabung merasa heran, bukankah wanita itu harusnya beristirahat diatas.
"Eh? ya bun, maaf. Aku bosan di kamar jadi berinisiatif membuat dessert," jelas Arumi merasa tidak enak pada Sarah.
"Gak apa-apa sih bunda, tapi yakin udah enakan?" Sarah meyakinkan Arumi.
"Aku gak sakit bun, enakan banget malah. Ini mau buatin ayam sambel buat abi eh anu bun, maksud aku, Keenan." Arumi gelabakan salah tingkah sambil menggaruk pelipis nya.
Sarah tersenyum maklum, dia tau putranya itu yang memaksa Arumi untuk memanggil nya seperti itu.
"Gak apa-apa, bunda suka panggilan itu. Biar anak-anak bisa lebih hormat memanggil orang tuanya, kalau terbiasa memanggil dengan sebutan nama, itu juga tidak baik didengar mereka." Sarah memberikan nasihat bijak.
"Ya bun," balas Arumi meskipun tak enak juga belum terbiasa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di rumah sakit, tepatnya di ruang ICU. Keenan tengah duduk menatap nanar wanita yang tergolek dalam tutupan kain putih diatas ranjang. Alat bantu kehidupan sudah dilepaskan dari tubuhnya.
Keenan menyugar rambutnya frustasi, ingin sekali dia menolak keinginan Maura, nama yang baru saja dia ketahui dari seorang perawat.
Tapi mengingat jika itu adalah amanah terakhir dari Maura, Keenan tetap harus menepati janjinya. Suka tidak suka.
flashback
Keenan terlihat gelisah, beberapa orang dokter masih berjuang di dalam ruangan dimana Maura di rawat. Wanita itu kehilangan denyut jantung nya, dan team medis sedang berusaha untuk membawanya kembali.
Klek
Seorang dokter menghampiri Keenan dengan wajah lesu, "pasien ingin berbicara dengan anda tuan Keenan, kondisi nya sangat lemah. Jadi, tolong jangan mengatakan apapun yang membuat nya tertekan," pinta sang dokter dengan tatapan memohon pengertian.
"Apa tidak masalah aku masuk? maksud ku, bukankah tadi kondisi nya memburuk?" tanya Keenan memastikan.
"Untuk itulah anda harus menemui nya, tuan. Kita tidak pernah tau, sampai kapan waktu seseorang didunia ini. Masuklah," ujar Dokter itu meyakinkan dengan pernyataan ambigu, namun dapat langsung dipahami oleh Keenan.
"Baik dok, permisi" Keenan masuk dengan perasaan was-was. Dia takut salah menyampaikan kata, yang berujung pada wanita itu kembali drop.
Majah sayu Maura terlihat jelas walau sedikit terhalang masker oksigen.
"Ka..u Kee..nan?" tanya Maura terbata.
"Benar, aku Keenan." Keenan duduk dikursi yang ada disamping brankar Maura, menatap iba pada wanita malang itu.
__ADS_1
"Apa yang ingin kau sampai kan padaku?" tanya Keenan to the point. "Maura?" Keenan hampir lupa nama wanita didepan nya itu, padahal perawat sudah dua kali mengatakan nya.
Maura terlihat mengangguk pelan.
"Ma_af jika_aku_merepotkan mu. Waktu ku tak banyak, tapi bisakah aku meminta satu hal darimu?" wajah sayu itu semakin redup, membuat jantung Keenan ketar ketir.
"Katakan apapun yang kau inginkan, sebisa mungkin aku akan melakukan nya. Dan ya, kau akan pulih, jangan khawatir kan apapun." Hibur Keenan meyakinkan, walau hatinya sendiri meragukan argumen nya sendiri.
Maura tersenyum melihat ketulusan hati Keenan, mereka bahkan tidak saling mengenal. Tapi lihatlah, pria itu begitu yakin akan membantu nya.
"Bisakah untuk tidak memenjarakan, Mike." Ujar nya penuh permohonan.
Hati Keenan mendadak panas mendengar nama itu, namun sebisa mungkin menekan perasaan cemburu nya.
"Kenapa aku harus melakukan itu, beri aku alasan yang masuk akal, sehingga aku bisa mempertimbangkan nya?" Keenan berujar dengan suasana hati yang mulai tak baik.
"Aku punya seorang adik perempuan, Mike Sangat mengenalnya. Ayah tiri ku menjual nya di rumah pe*la*curan beberapa hari yang lalu, hanya Mike yang bisa membebaskan nya dari sana. Usianya baru 17 tahun, dan dia harus merasakan hidup dalam kenistaan yang tidak pernah dia cita-cita kan, meski didalam mimpi sekalipun." Maura menghela nafas pelan. Dia benar-benar merasa sudah tidak kuat lagi.
"Aku ingin Mike menjaga adikku, merawat nya dari trauma dan mengambil alih semua tanggung jawab ku." Maura kembali menjeda kalimat nya sambil terus menatap lemah pada Keenan.
Hati Keenan terenyuh mendengar nya, dia punya adik perempuan, membayangkan hal buruk terjadi pada kedua adik perempuan nya, hati Keenan tak sanggup.
"Apa alasan itu sudah cukup layak untuk kau pertimbangan kan?" tanya Maura semakin samar di telinga Keenan, segera Keenan mengangguk mantap.
"Akan aku lakukan, jangan mencemaskan apapun lagi. Kau akan pulih, percayalah pada kuasa Tuhan dia ak....."
Degh!
Jantung Keenan serasa berhenti berdetak, meskipun dia baru mengenal Maura, namun menyaksikan seseorang kritis di hadapan nya. Membuat Keenan ikut merasakan kesedihan.
"Dokteeerr suussteeerr....! Tolong!" Dua orang dokter dan tiga perawat memasuki ruangan itu dengan langkah cepat.
"Tolong selamatkan dia," hanya itu yang bisa Keenan katakan.
Beberapa kali dokter berusaha mengembalikan detak jantung Maura, namun sayang, Tuhan jauh lebih menyayangi wanita itu.
Dokter menatap rekannya sambil menggeleng lemah, kinerja jantung Keenan benar-benar tidak bagus sekarang. Dia paham arti gelengan itu, lalu tak lama suara seseorang perawat semakin menguat kan persepsi nya.
Maura sudah tiada. Wanita malang itu memilih pulang, dan menyerah pada rasa sakit yang dialami nya.
"Pasien meninggal dunia pukul 17:21 bla bla bla..." Keenan merasakan telinga nya berdengung, sehingga apa yang dokter dan perawat itu katakan. Keenan sudah tidak mendengar nya lagi.
"Tuan?"
"Tuan, Keenan?"
__ADS_1
"Anda baik-baik saja?" kesadaran Keenan perlahan mulai kembali, meski linglung Keenan sudah menguasai dirinya.
"Aku baik-baik saja, maaf. Apa dia sudah?" Keenan tak sanggup melanjutkan pertanyaan nya.
"Benar, kami akan segera mengurus nya." Ujar salah seorang dokter
"Baiklah. Bawa jenazah nya ke rumah ku saja, maksud ku rumah keluarga Sudibyo." Ralat Keenan segera.
Dia tidak mungkin membiarkan begitu saja, Maura di kebumikan tanpa adanya penghormatan terakhir bagi wanita itu. Segera Keenan menghubungi sang ayah, untuk menyampaikan berita duka tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
klek
"Tuan kami akan membawanya untuk dimandikan,"ujar seorang perawat kembali masuk membawa brankar lain.
"Baiklah, aku akan menunggu di ruangan adikku saja." Keenan meninggal kan ruangan itu menuju ruangan sang adik.
Dia ingin sejenak mengistirahatkan tubuh dan pikiran nya. Mike pun masih belum sadar akibat ulahnya, dan dia merasa Mike pantas menerima nya. Apalagi mengingat, jika pria itu tidak akan mendapatkan hukuman apapun. Anggap saja dia sudah memberikan hukuman, untuk pria brengsek itu.
Meski dengan cara yang brutal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sarah terlihat memegang dadanya, air mukanya terlihat keruh. Padahal baru saja mereka tertawa dan bercerita banyak hal di dapur.
Arumi dapat melihat perubahan diraut wajah Sarah, yang nampak sendu. Namun tidak punya keberanian untuk sekedar bertanya.
Arumi melanjutkan masakan nya, berusaha untuk meredam rasa penasaran nya.
Sarah kembali menghampiri Arumi yang tengah menyibukkan diri, dengan uap panas di atas tungku.
"Rumi, bunda ingin menyampaikan sesuatu padamu. Ayo duduk dulu," Sarah mengarah kam Arumi menuju kursi di meja makan.
Sebelum menyampaikan maksud nya, Sarah menghela nafas panjang.
"Dengarkan bunda nak, apapun yang kamu dengar ini, cobalah untuk mencerna nya dari sisi yang berbeda. Jangan selalu menyalahkan dirimu untuk segala hal." Sarah menatap lekat netra ibu dari cucu-cucunya dengan perasaan campur aduk.
"Maura. Dia baru saja dipanggil pulang, dan Keenan sedang mengurus kepulangan nya ke rumah. Wanita malang itu sudah tidak punya orang tua dan sanak keluarga. Keenan memutuskan membawanya kemari, ayah sudah memanggil seorang ustadz. Kau tidak keberatan bukan?"
Arumi terisak Sarah hanya bisa memeluk nya untuk menyalurkan kekuatan. "Ini semua salahku bun, andai Maura tidak berusaha menolong ku. Maka dia akan baik-baik saja," seperti dugaan Sarah, Arumi pasti akan menyalahkan dirinya.
"Ini bukan salahmu, kau tau, Tuhan selalu punya rencana yang lebih baik pada setiap garis nasib umat-nya. Termasuk kau, Maura juga Mike. Doakan saja Maura dan anaknya mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan." Nasihat Sarah bijak. Dan terdengar menenangkan di hati Arumi.
"Aku akan bersiap dulu, bun." Arumi mengusap air matanya, namun sebelum melangkahkan kaki Arumi kembali menelisik makanan yang mereka buat, itu tidak akan cukup pikinya.
__ADS_1
Sarah yang memahami arti pandangan Arumi, segera menyela. "Ayah sudah mengurus soal makanan, juga yang lainnya. Bersiaplah, anak-anak biar di rumah Keyra saja. Ada Puput di sana yang akan menjaga mereka, beliau orang kepercayaan bunda."
"Baik bun," Arumi segera bergegas menuju kamar nya, hatinya masih diliputi perasaan bersalah. Andai, kata itu selalu dia ucap kan dalam benaknya berkali kali.