Maaf, Untuk Lukamu!

Maaf, Untuk Lukamu!
Rini yang tidak peka


__ADS_3

Daru duduk dengan gelisah di kursi nya, makanan di meja nya terlihat seperti tumpukan paku dan jerami. Berkali-kali Daru mencibir setiap kali ada pria yang mendekati Imah mengajak gadis itu berkenalan.


"Dasar buaya!"


"Dasar Playboy kadal!"


"CK! sok kecakapan..." berbagai umpatan terlontar dari mulut Daru dengan lancar. Hati nya panas, cemburu jangan di tanya lagi, marah sudah pasti. Namun lagi-lagi Daru tidak punya alasan untuk melakukan apapun.


"Huufff.. sial banget jadi jomblo.." Daru menempel kan dahi nya ke permukaan meja dengan putus asa. Pria itu frustasi berat melihat senyum manis Imah yang menebar penyakit gula di mana-mana.


"Kau kenapa?" Al duduk di samping ipar tak jadi nya dengan santai.


"Jangan bilang kau depresi karena melihat adik ku menikah?" ledek Al sambil memakan makanan Daru yang terlihat masih utuh.


"CK! Kalau bicara jangan asal, aku sedang tidak dalam mood yang baik, jadi jangan menggangguku." Balas Daru kesal. Kepala masih menempel di meja, kepala hanya menoleh sebentar ke arah Al yang sibuk menghabiskan isi piring nya.


"Lalu kenapa kau sekusut ini? tampil kan wajah sumringah dan antusias mu, agar orang tidak salah paham pada mu." Nasihat Al menepuk pundak Daru cukup keras, pria itu sampai meringis. Belum lagi dahinya terhentak meja.


"Kau ini, niat sekali memukul ku. Masih dendam padaku?" tuduh Daru dengan wajah jengkel. Bukan nya marah, Al justru tertawa keras. Dan suara tawa nya berhasil membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian.


"Bisa diam tidak!" Sentak Daru semakin kesal, kini semua mata tertuju pada mereka, termasuk tatapan tak terbaca gadis pujaan nya.


"Jika kau menyukai nya, jangan pendam sendiri. Imah tidak akan datang melamar mu menjadi calon suami nya, itu bagian mu. Jadi gunakan otak mu dengan baik, jadi pria brengsek saja kau bisa. Kenapa kini menjadi pria baik kau jadi bodoh." Setelah menyentil hati Daru, Al meninggalkan pria itu begitu saja.

__ADS_1


"Dasar tidak peka, bisa saja memberi kan saran tapi menjalani nya tidak semudah ucapan yang keluar." Gerutu Daru menatap Al yang tengah menghampiri istri nya dan mulai berdansa.


"Sial banget sih, kenapa juga harus pake acara dansa segala. Apa mereka kira yang datang kemari semua memiliki pasangan." Omel Daru tak henti-hentinya bergumam dongkol.


"Pak Daru? tidak ikut berdansa juga, tidak ada pasangan ya. Aduh, kasian juga sih aku. Tapi mau gimana lagi, malam ini fengsui ku lagi hoki banget. Tulang rusuk ku bertebaran di mana-mana sampai serpihan terkecil nya, aku sampai bingung untuk memilih." Ucap Rini terkikik geli tanpa memikirkan perasaan bos nya sedang galau akut.


"Kalau kau kemari hanya untuk pamer, lebih baik kau pergi dansa sana. Bukan nya serpihan tulang rusukmu bertebaran, hati-hati nanti kau bisa ketulangan." Ketus Daru berlalu meninggalkan Rini yang mematung tanpa dosa.


"Kenapa bos marah, dasar aneh. Padahal aku hanya mau berbagi cerita saja, harus nya bos senang kalau aku sudah laku. CK!" Omel Rini sepolos pantat bayi yang baru di bedakin.


Brukk


Seorang gadis menatap nanar ke arah ujung gaun nya yang terlihat basah.


"Maaf nona, bukan kah aku yang seharusnya marah. Kau yang menabrak ku, kenapa kau yang marah-marah tidak jelas." Balas si pria ikut ngegas.


"Eh, harus nya laki-laki itu mengalah. pernah dengar istilah 'ladies first' tidak!" ujar nya tak mau kalah. "Dasar kurang pergaulan" lanjut nya kesal kemudian berlalu namun sebelum melewati pria itu, dengan tumit sepatu 5cm nya, si gadis menginjak ujung sepatu pantofel si pria dengan sepenuh hati.


Suara erangan tertahan keluar dari mulut si pria, sementara si gadis sudah berlari menjauh.


"Awas saja kalau kita bertemu lagi, akan ku balas kau. Dasar gadis gila!" Umpat nya marah.


"Kenapa dengan gaun mu?"

__ADS_1


"Kena minuman, pria gila menabrak ku kemudian kabur begitu saja tanpa mau meminta maaf." Adu nya dengan sedikit bumbu dusta.


"Jangan bohong, mami tau kalau kau itu ceroboh. Bisa jadi kau yang menabrak nya lebih dulu, lalu kabur. Benar kan dugaan mami?" tuduh sang ibu memicingkan mata nya menyelidik mimik wajah sang anak.


"CK, mami kebiasaan. Sama anak sendiri suka banget difitnah, berasa anak tiri aku tuh." Ucap nya dramatis.


Si ibu mencibir melihat tingkah anak nya yang sudah sangat dia hapal luar kepala.


"Jeng Sofia, aduh maaf baru lihat. Dari tadi sibuk mondar mandir tidak jelas. Si cantik ini siapa jeng, baru lihat?" sapa Arumi ramah. Sofia adalah istri dari kolega bisnis Keenan suaminya. Mereka sering bertemu saat ada acara-acara tertentu, yang mengharuskan para istri pengusaha ikut serta.


"Eh jeng Rumi. Ini si Sonia, baru balik dari Australia dia jeng. Sekolah di sana sejak kelas 1 menengah pertama, sekarang sudah kelas 1 menengah atas. Pindah kemari, tidak tahan tinggal sama oma nya, banyak aturan kata nya. Maklum, anak nya memang urakan banget kelakuan nya, suka bikin pusing emak nya." Kekeh Sofia nyerocos lancar menceritakan kebobrokan anak nya sendiri. Sonia ingin sekali menenggelamkan sang ibu ke dasar sungai, jika saja tida takut dosa jadi anak durhaka.


"Jeng bisa aja, masih usia begini memang masa-masa nya untuk mengenal lingkungan dan pengalaman baru. Aku punya dua yang seusia anak jeng Sofia, dan satu lagi baru berkuliah tahun ini. Jadi tau rasanya, agak nano-nano memang." Balas Arumi berusaha mengimbangi keramean Sofia.


"Benar jeng, semenjak Sonia balik. Keriput di wajah ini mulai bertebaran di mana-mana." Keluh nya dengan sedikit manja ala-ala ibu sosialita, Arumi tertawa kecil menanggapi nya. Bingung harus menjawab apa, apa kabar diri nya dengan 6 orang anak. Mendadak jiwa insecure nya meluap keluar.


"Nak Sonia udah nyobain makanan nya belum? di coba ya, kue nya dari toko Tante siapa tau suka bisa langganan nanti. Ya kan jeng?" Arumi berusaha mengalihkan topik agar tidak mempengaruhi mood nya.


"Benar, mami udah langganan di toko nya tante Arumi. Coba gih sana, mami jamin kau akan langsung nambah dengan sangat rakus seperti biasa nya." Lagi-lagi Sonia hanya bisa memijit pelipisnya yang mulai berdenyut. Ibu nya benar-benar menjatuhkan harga diri nya hingga ke dasar lautan.


"Nia permisi dulu tan, kebetulan perut Nia sedikit laper." Ucap nya meringis malu lalu segera pergi setelah mendapat kan anggukan dari Arumi. Dia memang lapar, namun alasan lain nya adalah agar bisa kabur dari hadapan sang ibu. Sebelum wanita yang telah melahirkan nya itu, kembali menenggelamkan nya ke dasar bumi tanpa perasaan.


"Aku mau lihat anak-anak dulu jeng Sofia, silahkan menikmati hidangan yang ada. Jangan sungkan-sungkan." Ujar Arumi mengusap pelan lengan Sofia, dia pun ingin segera kabur.

__ADS_1


"Oh, ya jeng santai aja. Padahal aku masih pengen ngobrol sih, tapi ya sudahlah. Kasian anak-anak kalau nyariin." Ucap Sofia pasrah. Susah sekali mendapatkan teman ngobrol lebih dari 5 menit pikir nya heran. Apa dia kurang ramah apa gimana? padahal suami dan anak nya selalu kewalahan menghadapi sikap nya yang terlalu ramah, bahkan dengan tukang sayur dan penjual jamu keliling pun dia selalu menyapa ramah dan heboh.


__ADS_2