
Arumi nampak ragu-ragu, padahal tadi satpam sudah menawarkan diri untuk mengantar nya masuk. Namun Arumi tidak enak jika harus merepotkan orang lain, apa lagi saat sedang bekerja seperti ini.
"Bang, duduk dulu sini ya. Ini kotak bekalnya jangan sampe kesenggol, duduk diem ya. Umi mau ke mba yang disana dulu sebentar" Eiden yang memang penurut pun hanya mengangguk, lalu menoleh sekilas ke arah yang di tunjuk oleh sang ibu.
Arumi menghampiri meja tinggi dimana tertulis di papan nama, Resepsionis. Dengan ragu-ragu Arumi memberanikan diri untuk bertanya ruangan suaminya. Keenan belum membalas pesan nya, arti nya suaminya masih sibuk. Jadi Arumi pun tidak menelepon nya.
"Permisi mba?" sapa Arumi ramah, kedua wanita yang sejak tadi asyik mengobrol menatap Arumi dengan tatapan menelisik.
"Ya bu, ada yang bisa saya bantu?" Balas salah satu dari kedua wanita itu dengan ramah.
"Ini, saya mau nanya, kalau ruangannya pak Keenan, dilantai ya?"
"Maaf ya bu, ibu ada urusan apa mau menemui bos kami?" cetus Wanita satunya dengan nada tak ramah.
"Vir?" tegur gadis pertama yang bernama Sita, yang Arumi baca di name tag nya.
"Yang gini kalau di biarin ngelunjak, Sit." ujar nya ketus. Arumi mulai salah tingkah, sementara Egy mulai bergerak lincah dalam gendongan nya.
"Maaf bu, ada urusan apa ibu mau ketemu dengan bos kami, kalau boleh tau?" Tanya Sita berusaha menengahi.
"Saya Arumi, istri nya pak Keenan. Saya kemari karena mau makan siang bersama dengan suami saya. Tadi saya sudah kirim pesan hanya saja belum mendapatkan jawaban." Arumi segera merogoh ponselnya dan menunjukkan chat nya pada sang suami. Si wanita manggut-manggut membaca chat tersebut. Matanya liar membaca semua chat diponsel Arumi yang masih terlihat oleh mata kepo nya. Termasuk pesan nakal Keenan pada istri nya.
"Saya tidak nyangka, kalau pak Keenan bisa seromantis ini pada istri nya, soalnya orang nya dingin dan kaku kalau dikantor. Upz!" Sita gelabakan sambil menutup mulutnya, ketahuan sudah jika dia telah membaca pesan yang tidak seharusnya dia baca.
"Maaf bu, saya..."
"Tidak apa-apa, Sita kan?" tanya Arumi memastikan.
"Ya bu, sekali lagi maaf atas kelancangan saya. Mohon jangan di adukan pada pak Keenan" Ujar nya dengan nada ketakutan.
Arumi hanya tersenyum simpul "tidak akan, lagi pula hanya membaca saja, bukan mau mengambil suami saya. Jadi saya maafkan" seloroh Arumi terkekeh pelan.
"Mari saya antar bu" tawarnya. Sementara Vira hanya menatap temannya yang sedang berbicara dengan Arumi dengan tatapan tak suka. Arumi terlalu biasa untuk bos nya yang segala-gala.
"Sit, yakin dia istri nya bos. Pesan begitu bisa saja dia buat oleh orang lain, lalu di ganti namanya dengan nama bos kita. Lihat saja penampilan nya" matanya menelisik penampilan Arumi yang sangat sederhana untuk ukuran istri seorang bos perusahaan besar.
"Huss! kalau kau tidak ingin mengantar nya biar aku saja, ribet amat." Tegur Sita tak enak, pasalnya Arumi mendengar jelas ocehan temannya tadi.
__ADS_1
"Mari bu," ajak nya seraya keluar dari pintu kecil setinggi dada orang dewasa.
Arumi dan Eiden hanya mengekori arah Sita mengajak mereka menuju elevator.
"Kita pake lift karyawan saja ya bu, tidak apa-apa kan? Soalnya kalau lift khusus menggunakan kartu khusus." Jelasnya pada Arumi.
"Tidak apa-apa, pake tangga juga tidak apa-apa. Saya oke aja, jangan sungkan begitu." Seloroh Arumi, kedua terkekeh pelan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setibanya dilantai ruangan Keenan, Sita pamit undur diri setelah mengantar Arumi dan anaknya ke meja sekretaris Keenan.
"Kami disini aja mbak," ujar Arumi tak enak, pasalnya Nina langsung mengajak mereka masuk dalam ruangan Keenan padahal Keenan masih meeting diluar.
"Udah, tidak apa-apa. Nanti aku yang di omeli sama si kaku itu, tadi udah pesan kalau istri tercinta saya datang, harus dilayani dengan baik." Kekeh Nina mengadukan pesan sang bos pada istri nya. Arumi tersenyum simpul, pipinya merona mendengar ucapan Nina.
"Makasih ya, mbak."
"Yoi, sama-sama, kalau ada apa tekan ini aja ya, tidak usah keluar" Nina menunjuk interkom di meja Keenan.
"Bang, kalau mau rebahan disini aja ya, sofa abi gede tidak bakalan jatuh." Titah Arumi saat melihat anaknya misuh-misuh.
"Ya mi, Abang baring ya" ujar Eiden sembari merebahkan badan kecilnya diatas sofa.
Arumi mengambil selimut kecil yang sengaja dia bawa, seharusnya siang-siang begini anak-anak nya memang waktu nya untuk tidur siang. Namun karena mereka berniat mengunjungi kantor sang ayah, Arumi meminta agar putranya tidak tidur siang di rumah.
Egy pun terlihat menguap berkali-kali, Arumi mendudukkan dirinya di ujung sofa tepatnya di ujung kaki sang anak. Wanita itu membuka satu kancing bajunya, tak lama Egy mulai melahap sumber makanan nya dengan lahap. Bayi 6 bulan itu mulai memejamkan kedua matanya dan terlelap. Arumi yang merasa bosan sendirian pun ikut tertidur, dengan Egy yang masih menempel di dada nya. Bayi itu sengaja tidak Arumi lepaskan dari gendongan, karena Egy sudah mulai merayap kesana kemari.
Klek
Keenan tertegun melihat pemandangan yang menyejukkan hatinya, istri dan kedua putranya sedang tertidur pulas di sofa. Ah, kenapa dia bisa lupa memberitahu pada Nina, untuk membiarkan anak istrinya istrahat di kamar saja.
Setelah menaruh Elsye yang juga tertidur digendong nya, Keenan mengangkat putranya Eiden. Baru setelah itu putra bungsunya, Arumi terlihat sangat lelah. Bahkan saat dia melepaskan Egy yang masih menghisap puncak dadanya, Arumi tidak terusik sedikit pun.
Selesai memindahkan semua anak-anak nya, keenan duduk disamping sang istri, kemudian merebahkan tubuh Arumi ke atas pangkuan nya. Arumi menggeliat namun Keenan segera menepuk punggung istri nya. Arumi punya kebiasaan unik selama masa kehamilan nya, Keenan harus menepuk punggung nya seperti bayi. Maka dengan segera, istri nya itu tidur pulas.
"Astaga, manis banget sih umi. Makin sayang Abi tuh, tau tidak? pipinya makin bulet ini, abi suka, chubby nya umi bikin abi gemes, makin cinta. Sampe meleleh-leleh gini hati abi" Celotehan Keenan mengusik tidur lelap Arumi, wanita itu mengerjab kedua matanya berkali-kali.
__ADS_1
"Abi? loh udah balik? anak-anak mana?" Arumi seketika panik kemudian beranjak bangun dari pangkuan suaminya.
"Umi, tenang. Anak-anak dikamar, tuh" tunjuk Keenan pada pintu yang nyaris tak terlihat seperti sebuah pintu di penglihatan Arumi. Karena hampir serupa dengan dinding.
"Kok ada kamar segala di kantor gini?" tanya Arumi penasaran.
"Sudah lama, dari jaman kakek dulu sudah ada. Kayanya waktu kantor ini dibuat, kamar itu sudah dirancang sekalian. Buat istirahat kalau lagi cape banget sama kerjaan." Jelas Keenan tak ingin istri nya salah paham.
Arumi terlihat mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.
"Abi udah lama nyampe?"
"Belum abis mindahin anak-anak ke kamar langsung disini sama umi. Makan yuk, tadi abi cuma minum jus alpukat." Keenan selalu suka dengan masakan rumahan, terutama jika itu masakkan istri juga ibunya.
"Abi nyuci tangan dulu, mau umi siapkan dulu" Sebelum menuju wastafel, Keenan sempat-sempatnya mencuri ciuman di kening istrinya.
"Nyicil sayang" cengir Keenan.
Arumi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah konyol sang suami. "Ayo duduk sini, makannya sendiri-sendiri kan?" tanya Arumi dengan tangan menggantung memegang satu piring lagi.
"Satu piring aja," sergah Keenan duduk disamping istri nya.
"Trus nyuci tangan tadi buat apa?" tanya Arumi heran.
"Abi yang suapin umi, ini menunya lalapan kan? jadi tidak perlu pakai sendok" Tukas Keenan sambil memasukkan satu potong dada ayam yang sudah di geprek. "Ini pasti Umi yang masak, ya kan? kalau bibi tidak begini caranya" Tebak Keenan yang langsung diangguki oleh Arumi sambil cengengesan, tidak lupa dua jarinya memohon perdamaian.
"Ishh bandel banget sih kalau dibilangin, trus adek gimana tadi? sambil gendongan lagi?" tanya keenan sedikit kesal pada Istri nya.
"Tidak, main di dalam kereta. Di jagain sama abang, sambil nonton Teletubbies di laptop abi. Maaf tadi make tidak bilang dulu" Arumi menatap Keenan tak enak hati.
"Kok minta maaf, apa yang abi punya itu juga punya umi sama anak-anak. Kalau laptop untuk kerja sudah abi simpan diruang kerja, yang dikamar memang sengaja buat dipakai anak-anak main." Keenan mengelus pipi sang istri dengan punggung tangan nya.
"Aaa lagi, umi harus banyak makan, kalau lapar jangan di tahan-tahan. Tidak usah mikirin berat badan, tidak ada yang salah dengan berat badan umi. Mau gemuk kurus, tidak jadi soal. Abi malah suka umi yang seperti ini, enak dipeluk." Ujar Keenan gemas, pria itu mendekat kan wajah lalu menggigit pelan pipi istri nya.
Arumi terpekik dengan kelakuan Keenan "Abi ih, sakit tau. Yuk ah, makan katanya laper tadi." Omel Arumi seraya mengelus pipi chubby nya dengan wajah cemberut. Keenan tertawa renyah melihat wajah menggemaskan istri nya.
"Ya ya, maaf. Abis gemesin ini pipinya, pengen abi makan rasanya." Ujar Keenan menoel-noel pipi bulat sang istri.
__ADS_1