
Setiap hari Alisya punya tugas baru, yaitu menyiapkan sarapan juga bekal untuk Mike. Keduanya memutuskan untuk tinggal bersama, di rumah yang Mike beli dua bulan lalu. Orang tua Alisya sudah mengetahui perihal hubungan mereka, dan sudah menyetujui nya. begitu pula dengan Al, karena memang hubungan itu berawal dari rencana sang istri juga diri nya sendiri.
Akan lebih mudah menyembuhkan luka, jika kedua orang tersebut adalah orang yang sama-sama pernah terluka. Mereka akan mengerti kadar rasa sakit, dan bagaimana takaran yang tepat untuk memulihkan luka tersebut.
"Sayang? apa ini cocok untuk ku pakai hari ini? bu direktur meminta ku mengikuti seminar di hotel xx mengganti kan nya." Mike datang dengan dua kemeja di tangan nya.
"Astaga Mike! tidak bisakah kau pakai baju mu dulu." Omel Alisya melirik penampilan Mike yang hanya menggunakan handuk ke dapur.
Mike terkekeh pelan lalu mencium pipi kekasih nya, mereka adalah dua orang dewasa dengan usia yang cukup matang untuk berpikir ke arah hal-hal dewasa. Namun selama tinggal bersama, hanya ada pelukan dan ciuman hangat yang terjadi. Mike tentu saja menginginkan lebih, namun dia tidak ingin memupuk dosa masa lalu. Dia lebih memilih Bersolo dari pada merusak wanita nya karena nafsu.
"Katakan sayang, ini atau ini" Mike kembali mengangkat dua hanger di tangan nya agar Alisya segera membantu nya untuk memilih.
"Biru telor asin, itu cocok. Bersiap lah, sarapan sudah siap. Yang lain sudah aku siap kan di kamar, tinggal pakai saja." Ujar Alisya menoleh sekilas karena sibuk memindahkan makanan ke wadah untuk di sajikan.
"Siap calon istri dan ibu anak-anak ku" Mike kembali mencium kilas pipi Alisya kemudian berlari kecil menuju kamar. Mereka memang tidur satu kamar, seperti yang di ketahui, Mike tidak pernah bertindak lebih selain ciuman pengantar tidur dan pelukan hangat.
Setelah selesai dengan segala urusan nya di kamar, Mike keluar menuju ruang makan. Aroma masakan Alisya selalu membuat nya ingin cepat pulang ke rumah. Rumah yang akan menjadi tempat pulang paling dia rindukan mulai sekarang.
"Hari ini ke butik ? apa pria itu masih suka mendatangi mu ke sana?" pertanyaan bernada kecemburuan terlontar dari mulut Mike yang tengah mengunyah makanan nya.
"Hanya dua hari lalu, aku tidak pernah menemui nya. Anak-anak di butik sudah mengatakan jika aku masih sibuk untuk event passion show. Jadi tidak bisa di ganggu." Jawab Alisya apa adanya, usia mereka bukan saat nya baper-baperan tidak jelas. Cemburu maka bilang cemburu, tidak suka juga begitu. Keterbukaan akan membuat hubungan lebih dari sekedar ikatan dua orang, tapi juga dua hati dan pikiran.
__ADS_1
"Apa keluarga nya sudah tau tentang putus nya hubungan kalian ?" lanjut Mike memastikan.
"Hmmm..." Alisya meneguk air minum nya "sudah, aku sudah mengatakan nya pada kedua orang tua nya dua Minggu yang lalu. Sisa nya itu urusan mereka, aku sudah tidak ingin ambil pusing sesuatu yang sudah bukan posri ku pagi." Terang Alisya lugas.
"Baiklah, maaf jika aku cerewet. Aku takut kehilanganmu, sayang. Apa jadi nya pria lapuk ini tanpa seorang Alisya di dalam hidup nya." Ujar Mike meski terdengar seperti gombalan receh, namun tersirat ketulusan di dalam nya.
"Aku juga, kau sudah mencuri habis hati ku. Awas saja jika kau berani mematah kan nya, akan kusuruh kakak ipar mebedah junior mu itu hingga tak berbentuk." Ancam Alisya dengan wajah serius.
Mike tertawa renyah, dia suka Alisya selalu mengancam nya. Dengan begitu dia tau, bukan hanya diri nya yang takut kehilangan. Tapi Alisya juga.
"Baiklah sayang. Aku janji hanya kau dan calon anak-anak kita yang akan aku cintai di dalam hati dan hidup ku." Balas Mike tak kalah serius.
Selesai makan kedua bersiap, Mike akan mengantarkan Alisya terlebih dahulu. Sebenarnya Alisya juga memiliki mobil sendiri, namun wanita itu menjual nya saat memulai hubungan baru dengan Mike. Banyak kenangan nya bersama mantan kekasih nya dulu, di mana pria itu sering memakai mobil nya untuk urusan pekerjaan. Entah-entah mobil nya sudah di jadikan tempat mesum oleh pria bejat tersebut.
"Ingat sayang, jangan menemuinya jika dia datang lagi. Aku cemburu" Ujar Mike penuh peringatan.
"Siap calon suami ku yang tampan, kau juga, fokus pada seminar mu saja jangan pada dada besar yang hampir keluar dari cup nya." Peringat Alisya tak kalah sengit.
Mike tertawa renyah, rekan sejawat nya yang sering memakai baju dengan belahan dada rendah, kadang memang menggangu pemandangan. Namun dia masih waras untuk melihat dan menilai, mana yang mahal akan terbungkus rapi, mana yang murah akan di obral bebas untuk di tatap buas.
"Aku hanya menyukai dada mu saja, sayang. Jangan mencemaskan ku, mata ku mungkin tanpa sengaja melihat nya sekilas. Namun milikmu yang tetap menjadi favorit ku." Mike mengedipkan mata nya penuh arti.
__ADS_1
Wajah Alisya memerah malu "dasar mesum" ujar Alisya kesal. "pergi sana, jaga mata jaga hati" Alisya berlarian kecil menuju butik nya, Mike menatap kepergian kekasih nya dengan hati menghangat. Dia berharap hubungan nya dengan Alisya adalah labuhan terakhir nya. Membangun keluarga yang bahagia dan memiliki banyak anak. Itulah impian sederhana nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keenan kini tengah menemani Imah ke kampus, anak sulung nya itu terlihat gelisah. Baru dua bulan berkuliah, dirinya sudah terlibat masalah di kampus. Walau bukan kesengajaan, namun tetap saja, dia kini harus bertanggung jawab untuk kesalahan yang bukan sepenuhnya salahnya.
"Jangan terlalu tegang, Abi yakin, kau tidak akan melakukan hal tidak terpuji tersebut. Umi dan abi percaya padamu, tenang saja. Akan abi tangani semua nya, hmm?" ujar Keenan lembut seraya mengusap rambut ikal lebat Putri nya dengan sayang. Keenan sudah tidak canggung lagi menunjukkan kasih sayang nya pada Imah, begitu pula sebaliknya. Imah sudah terbiasa dengan pelukan hangat kedua orang tua nya juga adik-adik nya.
"Tapi Imah malu sama umi dan abi, belum bisa kasih prestasi yang baik, malah ngasih masalah." Sungut Imah pada dirinya sendiri.
"Tidak apa-apa, belajar secukupnya, jangan di paksa kan. Menjadi pelajar atau mahasiswa sekalipun bukan soal siapa yang paling cerdas, setinggi apapun dan secerdas apapun kita, kalau akhlak nya mines. Itu juga tidak baik. Anak-anak abi dan umi sudah yang paling hebat dan baik buat kami. Cukup jadi diri kalian sendiri, jangan melakukan sesuatu untuk menyenangkan orang tua kalau kalian tidak suka. Masa depan terbentuk bukan karena seberapa keras kami menekan kalian harus searah dengan jalan yang kami inginkan. Tapi karena kerja keras kalian sendiri untuk merubah kebiasaan diri, untuk menjadi pribadi yang mandiri dan lebih baik." Nasihat Keenan panjang lebar.
Dia tau seberapa keras Imah belajar agar bisa membuat mereka bangga, dan tidak malu karena kehadiran nya yang biasa-biasa saja. Namun Keenan bukan tipe orang tua yang kolot, menekan mental anak-anak nya demi pencapaian pribadi.
"Makasih banyak, bi" Imah meraih tangan Keenan dan mencium punggung tangan pria, yang terulur tulus padanya disaat tidak satupun orang,mampu meraihnya dari kubangan lumpur. Matanya berkaca-kaca menahan haru yang menyusup penuh di dalam hatinya.
Keenan tersenyum melihat perlakuan penuh bakti putri nya.
"Nanti kau tunggu di mobil saja, abi akan masuk lebih dulu. Abi akan menelpon mu jika sudah bertemu langsung dengan orang tua teman mu itu." Titah Keenan saat mereka sudah sampai di parkiran kampus.
"Apa tidak sebaiknya Imah ikut aja bi? Takut nya nanti abi di katai yang kasar," ujar Imah khawatir, dia tau perangai orang tua temannya itu. Sudah dua kali selama dirinya berkuliah, orang tua temannya itu ke kampus untuk menyelesaikan masalah yang anak mereka buat. Tipe orang tua yang kasar, itu lah yang Imah nilai.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, percayakan semua sama abi. Abi masuk duluan ya, itu bekal dari umi di makan aja sambil nunggu abi. Biar tidak tegang" seloroh Keenan melirik kilas kotak bekal biatan istri nya untuk sang anak. Imah pun tertawa pelan kemudian meraih kotak bekal di atas dasbor.