Maaf, Untuk Lukamu!

Maaf, Untuk Lukamu!
Sarang Macan


__ADS_3

"Ya sudah, aku mau mandi dulu kalo gitu." Imah beranjak perlahan menurunkan kedua kakinya ke lantai. Rasanya masih ngilu, terlebih aktivitas mereka yang berulang ulang.


"Masih sakit yang?" Daru bertanya dengan nada iba dan bersalah. Imah menggeleng pelan meski rasa pinggulnya nano-nano. Belum lagi area bawah yang sedikit perih.


Tanpa aba-aba Daru mengangkat tubuh sang kekasih hingga membuat gadis itu terpekik kaget.


"Aku masih bisa jalan loh mas..." protes Imah menahan malu.


"Malu segala, aku udah liat dan ngerasain juga loh yang.." Imah menyusupkan kepala nya di ceruk leher kekasih mesum nya itu. Dia tentu saja masih malu jika dalam keadaan sadar tanpa efek apapun begini.


Selesai kegiatan mandi dengan sedikit sentuhan berbeda, kedua nya mulai bersiap untuk kembali pulang. Daru yang masih menggunakan handuk, terus menatap Imah yang kini tengah sibuk memoles leher nya menggunakan foundation. Gadis itu baru selesai mengenakan dala*man nya namun belum sempat menggunkan baju. Bercak merah di leher nya lebih menyita perhatian hingga dia menunda mengenakan pakaian nya.


Daru melangkah lalu melingkar kan kedua tangan dari belakang. Menaruh dagunya di bahu Imah yang masih sibuk mengolesi lehernya.


"Geser mas, aku mau nutupin ini dulu.." Imah mendorong halus kekasih nya ke belakang. Namun Daru urung melepaskan pelukan nyaman nya.


"Kenapa di tutupi segala sih, kan bagus ada tato nya. Keliatan lebih estetik." Protes Daru sekenanya. Imah mendelik sebal mendengar kalimat nyeleneh kekasih nya.


"Ini mas buat banyak banget, tar kalau di lihat abi sama umi kan bisa berabe. Malu juga, kan jadi nya..." omel Imah kesal. Namun Daru seolah tak tahu-tau.


Tangan nya mulai kembali terampil. Mengelus paha mulus sang kekasih dengan sentuhan lembut. Imah mulai nampak gelisah, rupa nya menolak sentuhan Daru bukan keahlian nya.

__ADS_1


"Maaass.." rengek Imah malah semakin memancing hasrat Daru. Tengah kesibukan Imah berusaha menutupi jejak dosa nya hari itu. Tangan kreatif Daru juga tak kalah cekatan menambah daftar dosa mereka.


Jari-jari pria itu sudah menelusup ke area yang sangat menggoda iman dan takwa setiap insan dunia. Imah bergerak gelisah. Daru tak tinggal diam handuk yang Imah gunakan sudah teronggok di lantai. Kini terpampang jelas pemandangan indah di depan cermin tersebut. Tubuh dua insan yang saling menginginkan. Daru juga melepaskan handuk nya, pria itu memang belum menggunakan apa pun sejak tadi.


"Maas udahan..udah sore banget loh.." peringatan Imah seperti perintah untuk melanjutkan aksinya. Daru melepaskan pengait penghalang dada sintal sang kekasih lalu membuang nya secara asal. Sungguh posisi yang menantang untuk di sudahi pikir Daru mulai menggila. Dengan cekatan pria itu menaikkan satu kaki Imah ke atas kursi. Kecupan dan hisapan bertubi-tubi di lancarkan dipunggung juga leher sang kekasih.


Imah mulai hanyut dan larut. Tanpa melepaskan penutup segi tiga Bermuda milik Imah. Daru mulai memposisikan diri nya dengan posisi terbaik. Menyelipkan sedikit kain tipis itu ke samping lalu mulai memasuki nya. Imah bergetar hebat saat merasakan sesak di bagian inti nya. Terasa penuh. Sensasi nya sungguh berbeda.


Daru masih memejamkan kedua matanya meresapi penyatuan mereka. Dia gila karena mulai mengajar kan Imah arti candu akan hubungan sek*s*ual. Dengan berbagai posisi padahal hari itu adalah pengalaman pertama gadis nya. Namun dia ingin Imah benar-benar merasa candu pada nya, mengakui keperkasaan nya dan tak lagi mampu berpaling meski usia mereka terpaut sangat jauh.


Kegiatan penuh lenguh itu berakhir setelah hampir satu jam. Sungguh gila! bahkan sangat. Daru pun sampai berdecak kagum, bagaimana Imah mampu mengimbangi permainan mereka dengan hebat.


Beberapa gaya mereka praktek kan, dan Imah sama sekali tak mengeluh. Wanita muda itu bahkan semakin bersemangat dengan permainan gila kekasih nya.


"Makasih sayang...semoga benih-benih ku segera tumbuh subur. Aku tidak sabar menjadi ayah, usiaku tak muda lagi. Aku tak ingin benih ku sampai tak mampu berenang sempurna dan membuahimu." Daru menutup petang mereka dengan ciuman hangat di kening Imah.


Setelah selesai membersihkan diri, Daru berinisiatif menelpon kembali calon mertua galaknya.


tutt tuuutt


"Kenapa putri ku belum kembali!" sungguh sapaan yang membuat telinga tuli mendadak. Daru menjauhkan ponselnya dengan umpatan kesal.

__ADS_1


"Imah masih tidur, aku akan mengantar nya setelah kami selesai makan makan malam nanti. Dan iya, aku ingin menikah segera. Minggu depan paling lambat, aku tak ingin benih-benih ku keburu bertumbuh sebelum aku menikahi calon ibu anak-anak ku." ucap Daru enteng. Keenan mengetatkan rahang nya menahan kesal. Namun dia juga pernah di posisi yang tak dapat menahan diri, apa lagi pria seumuran Daru. Tentu gejolak nya tak main-main.


"Lusa kalian menikah, awas saja jika kau sampai mengkhianati putri ku kelak. Adik kecilmu itu akan aku cincang habis sampai ke akar-akarnya." Gluk! Daru menelan ludah nya yang tiba-tiba terasa keras.


"Tentu saja aku tidak akan begitu. Aku sangat mencintainya. Kau kira aku tidak tau, kau sering mengirim kan wanita ja*l*lang untuk meruntuhkan pertahanan ku. Oh maaf, calon mertua. Milik ku hanya berdiri sempurna saat bertemu pemilik sesungguhnya." Kekeh Daru mengejek.


Sementara Keenan mencebik kesal. Memang benar, dia sengaja melakukan nya. Selain untuk menguji ketulusan Daru pada putri nya, dia juga berharap Daru akan berpaling. Ada setitik ketidak relaan, mengingat Daru adalah mantan kekasih sahabat nya.


"Ck! setelah makan malam selesai, jangan menahan nya lagi. Kau membuat putri kelelahan, dasar pedofil haus belaian." Sarkas Keenan dengan nada dongkol. Daru sama sekali tak marah. Dia memang haus belaian, selain itu hanya Imah yang mempu membangkitkan hasrat nya. Dia bahkan sempat khawatir, saat ja*l*ang kiriman Keenan sempat menggoda nya bahkan dengan lancang menyentuh miliknya. Benda itu seperti mati rasa, tak terpancing sedikit pun. Boleh dikatakan dia munafik, namun fakta menahan kerinduan pada Imah begitu dalam. Membuat otaknya hanya terarah pada gadis muda itu.


Usai menelpon Keenan, Daru memesan makan malam untuk mereka berdua. Sementara menunggu makanan tiba, Daru menghias meja dengan ala kadarnya. Lilin aromaterapi juga dua serbet makan berwarna merah, serta perintilan di atas meja. Daru puas melihat hasil tataan nya, suara bell pintu membuat nya segera beranjak. Rupanya pesanan pakaian Imah dari butik Alisya telah tiba.


Tiga paper bag besar itu penuh dengan pakaian Imah saja. Dia ingin mengisinya di lemari nya juga. Agar jika kegiatan seperti ini berulang, Imah sudah memiliki pakaian ganti disana.


Setelah makanan nya tiba, Daru menata dengan begitu indah dan rapi. Lalu masuk ke dalam kamar untuk membangun kan sang putri tidur. Pukul 7:27 malam. Artinya Imah sudah tidur selama satu jam lebih.


"Yang..bangun yuk! kita makan malam dulu sebelum pulang." Bisik Daru membangun kan sang kekasih. Imah menggeliat malas, dia masih lelah dan ngantuk. Daru berinisiatif menggendong tubuh kekasihnya, lalu dengan cekatan memandikan Imah di dalam bathtub. Daru juga lah yang memasang kan atribut kelengkapan gadis yang sudah berubah menjadi seorang wanita seutuhnya itu. Berkat kegigihan Daru menebar benih.


"Kapan mas masak?" tanya Imah terkagum-kagum. Melihat meja makan yang tertata dengan nuansa romantis menurut nya.


"Aku pesan sayang..." balas Daru menggaruk tengkuknya malu.

__ADS_1


"Tidak apa, tapi mas yang tata di meja ini kan?" Daru mengangguk mantap. Imah mengecup pipi Daru dengan berani.


"Makasih mas, ini romantis banget. Aku suka.." Daru tersenyum senang, lalu keduanya melanjutkan makan malam romantis tersebut hingga kemudian memutuskan mengantar Imah ke sarang macan. Rumah Keenan.


__ADS_2