Maaf, Untuk Lukamu!

Maaf, Untuk Lukamu!
Calon Suami


__ADS_3

"Maaf sayang, aku telat jemput. Udah pulang kan? Yuk!" ajak Daru seolah mereka memang tengah janjian. Imah masih cengo dengan situasi yang terjadi. Hingga saat jemari Daru merapikan anak rambut nya.


"Ini teman mu, yang? Oya, kayanya kita pernah ketemu...aku Daru, calon suami nya Imah." Daru mengulur kan tangan nya ke arah Rendy dengan senyum sejuta makna. Yang jelas senyum penuh kemenangan.


Rendy menyambut uluran tangan Daru dengan perasaan berkecamuk. Kesal juga marah menjadi satu kesatuan.


"Rendy.." jawab nya menatap tajam ke arah Daru yang terlihat santai.


"Kalo gitu kita duluan ya Ren.." pamit Daru menarik pinggang Imah agar ikut serta dengan nya.


Sesampai di mobil Daru dan Imah terdiam canggung.


"Maaf tadi udah lancang, aku tidak suka melihat pria itu mengintili mu seperti anak anjing." Ucap Daru memecahkan keheningan.


"Tidak apa-apa, terimakasih sudah datang di waktu yang tepat." Sahut Imah menunduk sambil meremas jemari nya, gadis itu gugup. Tiga bulan tidak pernah bertemu dengan pria itu ada kerinduan di hati nya.


Daru menoleh lalu meraih jemari Imah, dan mencium nya dalam.


"Aku kangen banget.." ucap Daru membuat Imah tertegun mendapatkan perlakuan semanis itu. Wajah nya merona malu, Daru tersenyum senang melihat tingkah malu-malu tersebut.

__ADS_1


"Kangen pada ku tidak?" ucap Daru lagi, Imah salah tingkah di buat nya. Gadis itu tidak tau harus menjawab apa. Walau hati nya pun merasakan desiran kerinduan yang dalam.


"Kita nyari makan dulu ya..aku belum sempat makan siang tadi." Lanjut Daru memutar kemudi nya dengan hanya menggunakan satu tangan. Sementara satu lagi masih menggenggam erat jemari Imah, sehingga Imah mau tak mau harus mengikuti kemana arah tangan Daru bergerak.


"Mau pesan apa?" Imah tersentak kaget, sejak tadi dia lebih banyak melamun. Rasanya masih tak percaya jika kini dirinya tengah bersama pria yang diam-diam dia sukai tersebut.


"Apa ya.." balas Imah seperti orang bodoh. Daru terkekeh kemudian mengusak pelan rambut Imah.


"Steak daging pake nasi sama Coklat original dingin tambah air mineral juga satu." Akhirnya Daru yang memesan kan makanan untuk Imah, karena Imah tak kunjung mengatakan apa yang dia inginkan.


"Padahal tidak usah pakai nasi juga tidak apa-apa.." ujar Imah pelan dia merasa tak enak hati. Kebiasaan hidup susah masih selalu terbawa hingga kini. Seperti nya dirinya memang sudah move on dari kemiskinan nya yang dulu.


Daru tersenyum simpul melihat sikap tak enak Imah, dia tau Imah merasa malu karena pasti akan di anggap kampungan. Namun dia sama sekali tidak peduli.


"Malah bengong. Sekangen itu ya sama aku..." seloroh Daru membuyarkan lamunan Imah. Dia jadi salah tingkah karena terus di tatap oleh gadis pujaan nya. Imah gelabakan karena perkataan Daru, spontan Imah menunduk karena malu.


"Habis ujian semester, aku main ke rumah ya.." ucap Daru tiba-tiba, Imah sontak mengangkat kepalanya kemudian menggeleng kuat. Wajah nya terlihat panik tak terkira. Mengingat wajah sangar sang ayah membuat nyali Imah menciut.


"Nanti aku ijin pada ayah mu, kau tenang saja." Daru menatap intens gadis yang selama tiga bulan ini hanya bisa dia tatap dari kejauhan. Kini gadis itu berada tepat di hadapan nya. Hati nya menghangat, rasa cinta nya semakin dalam. Desiran hebat bagai jutaan kupu-kupu yang tengah menari indah.

__ADS_1


"Dari tadi cuma aku saja yang berbicara, apa kau tidak senang bertemu dengan ku?" tanya Daru dengan wajah sendu. Imah reflek menggeleng, membuat sudut bibir Daru terangkat sempurna.


"Jadi? kenapa diam saja? apa aku terlalu cerewet, apa sikap ku membuatmu tak nyaman? katakan saja jangan sungkan." Ujar Daru lagi.


"Aku hanya syok" ungkap Imah jujur. "Kenapa bisa kebetulan ada di kampus tadi?" tanya Imah penasaran.


"Itu...aku kebetulan lewat di depan kampus mu. Tak sengaja aku melihat mu berbicara pada pria tadi. Aku langsung menghentikan mobil ku dan menghampiri mu. Aku tidak suka, gelagat teman mu tadi terlihat jelas jika dia menyukaimu. Aku cemburu, ingin sekali aku menonjok wajah nya. Tapi aku takut kau membenciku, jadi aku lebih memilih mengamankan mu dari sana." Jelas Daru panjang lebar. Imah tersentuh mendengar kalimat sederhana penuh rasa cemburu yang di ungkap oleh Daru padanya. Mata nya bahkan sampai berkaca-kaca.


"Hei kenapa nangis, maaf jika sikapku tadi berlebihan. Lain kali aku tidak akan menggangu mu jika kau sedang bersama temanmu." Ucap Daru merasa bersalah, melihat air mata Imah mulai menetes.


"Terimakasih, aku senang paman datang. Terimakasih karena tidak menyerah pada ku, tapi maaf, aku tak bisa mengecewakan orang tua ku." Ikah terisak, kepalanya menunduk dalam. Daru tertegun, kemudian senyum nya terbit secercah mentari siang hari itu.


Daru berpindah duduk di samping Imah, laku memutar bahu Imah perlahan. Jari nya mengangkat perlahan dagu Imah hingga menatap nya.


"Aku tidak akan menyerah, percayalah padaku. Aku ingin kau ikut berjuang bersama ku, mungkin permintaan ku ini terkesan tidak tau diri. Namun aku berharap kau mau mempertimbangkan pria tua malang ini. Aku mencintaimu, sangat. Jangan meragukan perasaan dan ketulusan ku. Kita berjuang bersama, oke?" Imah mengangguk pelan setelah terdiam dalam isak nya.


"Ya sudah, kita makan dulu setelah ini temani aku belanja. Aku ingin mengisi kulkas ku dengan bahan makanan, mulai besok kau harus memasak untuk ku sebelum berangkat kuliah. Aku Akan menjemput mu, di depan kampus. Jadi datang lah lebih awal, katakan kau ada kelas tambahan untuk persiapan ujian nanti." Usul Daru tiba-tiba, Imah terdiam kemudian kembali mengangguk pelan.


Daru senang bukan main, jika saja tidak banyak orang dan tak ingin di anggap norak. Pria itu akan jingkrak-jingkrak di sana saking bahagianya.

__ADS_1


"Yakin sampai sini saja, masih dua blok loh ini sayang?" tanya Daru meyakinkan, dia tak ingin seperti pria brengsek yang tidak bertanggung jawab pada anak gadis orang. Namun mengingat jika mereka tengah bermain kucing-kucingan, maka terpaksa diri nya harus melakukan jurus ninja untuk sementara waktu.


"Ya, sampai sini aja. Takut abi lihat, bisa-bisa abi bakal melarang ku ke kampus sendiri." Jelas Imah cepat. Keenan sudah memberi nya kelonggaran untuk berangkat kuliah menggunakan taksi atau membawa mobil sendiri. Namun dia masih belum berani jika mengemudi di antara padat kendaraan lain. Jadi Imah lebih memilih naik taksi online saja.


__ADS_2