
sudah 10 hari sejak kebersamaan mereka di villa tersebut, Mike semakin intens mendekati Alisya dari berbagai arah dan sudut kesempatan.
"Cia? Ciaa?" seru Mike mencari keberadaan wanita yang sudah berhasil meluluh lantakkan pertahanan hatinya tersebut.
"Aku di sini Mike, bisakah kau tidak harus selalu berteriak mencari ku? Tidak akan ada singa jantan yang akan menculik ku" omel Alisya kesal. Wanita itu tengah memetik beberapa buat cabai. Mereka akan membuat nasi goreng pedas ala pedesaan. Tentu saja Mike yang memasak nya, Alisya hanya berkontribusi dalam hal membantu mengiris bawang dan bahan lain.
"Aku kira kau di culik macan tutul, akan ku lubangi kepala nya jika berani menculik wanitaku." Ujar Mike penuh ancaman.
Alisya berdecih mendengar penuturan asal Mike, "siapa yang kau sebut wanita mu? dasar buaya rawa!" ketus Alisya memalingkan wajahnya yang memerah.
"Ck! kau akan ku jadikan wanitaku, lihat saja nanti." Ujar Mike penuh percaya diri.
"Terserah! minggir, aku mau lewat. Cepatlah masak, aku sudah lapar." Titah Alisya untuk mengalihkan topik mereka. 10 hari tinggal berdua dengan pria itu, bohong jika hatinya tidak merasa kan getaran. Namun kepercayaannya pada laki-laki masih abu-abu, Alisya banyak menyimpan kekecewaan. Selain pada kekasihnya, Alisya juga memendam kekecewaan pada ayahnya. Bukan nya bermaksud melimpah kan kesalahan masa lalu kedua orang tua nya, hanya saja, baru mengetahui nya setelah dirinya di khianati sedemikian rupa. Rasanya terasa sangat berbeda.
Mike menyusul langkah lebar Alisya dari belakang, "pelan-pelan saja, kau bisa tersandung dan jatuh." Ujar Mike penuh perhatian, seraya meraih pergelangan tangan Alisya.
Mike sudah terbiasa melakukan nya sejak seminggu terakhir, Alisya pun lelah menolak nya. Mike begitu keras kepala.
"Aku akan mengupas bawangnya dulu, lepaskan taganku." Ucap Alisya sedikit menggerakkan tangannya agar terlepas. Namun Mike masih menahannya, Pria itu bahkan maju lebih dekat.
"Kau sangat cantik walau belum mandi, aku suka aroma strawberry yang menguar dari tubuh mu." puji Mike terdengar begitu tulus, tangannya merapikan anak rambut Alisya yang menjuntai. "Apa aku sudah mangatakan, aku mencintaimu hari ini, Cia?" tanya Mike menatap manik indah di depan tanpa berkedip. Setiap hari Mike mengungkapkan perasaan nya sejak dia benar-benar yakin, Alisya sudah berhasil menguasai habis hatinya.
Alisya di landa kegugupan, mencoba mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Sayangnya, wajah Mike yang begitu dekat, membuat ruang geraknya terbatas.
"Mike jangan seperti ini" ujar Alisya dengan suara lirih.
"Kenapa? apa kau belum bisa melupakan mantan kekasih mu? apa aku tidak menarik sedikit pun di matamu, hmm?" pertanyaan lembut Mike mengganggu konsentrasi Alisya.
"Aku tidak ingin membuat kekasih mu salah paham, jangan memberi wanita harapan terlampau tinggi. Karena jatuh dari ketinggian setelah kau memupuk banyak harapan, itu rasanya sangat menyakitkan." Lirih Alisya dengan mata berkaca-kaca. Entah kenapa dia merasa sangat ingin menangis sekarang.
__ADS_1
Mike meraih Alisya ke dalam pelukannya, mengusap punggung wanita itu dengan lembut.
"Menangislah, kadang kau butuh menangis untuk mengetahui, seberapa jauh kau sudah berjuang dan berkorban untuk sesuatu yang kau anggap penting." Mike mengecup kening Alisya penuh perasaan. "Jadikan aku tempat mu berbagi, tidak masalah kau belum mencintai ku. Cukup terima aku, maka sisanya aku yang akan berjuang. Tidak masalah untuk ku." Mike mengurai pelukannya lalu menghapus air mata wanita yang sudah mencuri habis hatinya itu.
"Berhentilah menangis, bukankah kau bilang sangat lapar? energi mu bisa terkuras habis sebelum kau sempat mengisi perut mu." Kekeh Mike mencairkan suasana. Alisya mencubit perut pria menyebalkan itu dengan wajah merona.
"Auww auwww! sayang, sakit." Pipi Alisya semakin memerah mendengar kalimat sayang yang Mike lontarkan.
"Mandilah duluan, aku ingin kau terlihat semakin menawan saat kita sarapan nanti." Mike mencium pucuk kepala Alisya, wanita yang sudah dia anggap sebagai kekasih nya itu.
"Kau yakin tidak ingin ku bantu?" tanya Alisya memastikan, selama bersama mereka terbiasa melakukan segala hal bersama.
"Yakin. Hari ini kau ku bebas tugaskan, hitung-hitung sebagai ungkapan rasa syukur dan terimakasih ku, karena kau kini resmi menjadi kekasih ku." Ucap Mike gamblang.
"Ishh apaan sih, siapa juga yang mau jadi kekasih mu." Elak Alisya menahan malu yang semakin meningkat.
Ciuman lembut itu mulai saling menuntut, Sebelum berlanjut ke arah yang salah, Mike segera menyudahi nya. Nafas keduanya terengah-engah, tangan Mike terulur mengelap bibir Alisya yang terlihat sedikit membengkak.
"Maaf" ujar nya lirih.
"Hmm" Alisya masih berusaha mengumpulkan sisa kesadaran nya juga oksigen dalam otaknya.
"Mandilah, aku akan masak nasi goreng spesial untuk kekasih ku ini." Ujar Mike membelai pipi Alisya.
"Masaklah yang enak, hasil masakan mu yang akan menentukan. Apakah kau layak jadi kekasih ku atau tidak." Seloroh Alisya tersenyum jahil, lalu berlari kecil menuju kamarnya. Mike menatap punggung kecil kekasihnya dengan perasaan membuncah.
Untuk pertama kalinya, dia merasa kan benar-benar jatuh cinta yang tulus. Tidak ada nafsu di dalamnya, hanya perasaan yang bergejolak penuh damba dan rasa ingin melindungi yang begitu besar.
Mike Kembali menuju wastafel untuk menyiapkan semua bahan yang dia butuhkan, hatinya sedang sangat bahagia sekarang.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kenapa tidak satu kamar saja dek? teteh takut tidur di kamar sebesar ini." Imah melempar kan pandangannya ke semua sudut kamar mewah tersebut.
"Tidak bisa, kamar ini sudah di siapkan khusus untuk mu. Abi sama umi bisa sedih kalau kau menolak nya." Balas Elsye menolak halus, Keenan dan Arumi sudah menyiapkan kamar tersebut, untuk di tempati oleh Imah saat mereka masih di villa.
"Ayo kita lihat isi lemari nya" ajak Elsye bersemangat, dirinya dan sang ibu sudah memesan beberapa model pakaian di dalam lemari itu, tentu saja sang bibi(Keyra) yang menyiapkan nya selama mereka belum kembali dari villa.
Mata Imah hampir meloncat keluar, bagaimana tidak lemari besar tersebut berisi begitu banyak pakaian dengan berbagai model. Dari dress, atasan juga bawahannya.
"Ayo ke sini" Elsye Kembali menarik pergelangan tangan Imah ke sudut lain. Sebuah lemari kaca 2 pintu memperlihatkan beberapa model yas berjejer rapi di dalam nya, lalu lemari kaca yang terlihat lebih pendek dengan dua pintu yang sama, berisi berbagai jenis sepatu wanita. Air mata Imah meluncur bebas tanpa bisa dia tahan. Gadis polos itu tergugu penuh rasa haru dan syukur.
Tanpa aba-aba, Imah memeluk Elsye dengan sangat erat sambil terisak.
"Te_rima_kasih.." ujar nya dengan terbata-bata.
"Ya ya, lepaskan aku. Kau bisa membunuhku kalau begini." Cetus Elsye datar, bukannya dia tidak senang di peluk, hanya saja dia masih terlalu kaku untuk di perlakukan seperti itu. Maklum, dirinya anak perempuan satu-satunya, sedangkan ibunya, selalu sibuk dengan bayi besar nya, yaitu sang ayah.
"Hehehee... Maafkan aku, aku terlalu bahagia. Terimakasih sudah mau memungut gadis malang ini." ujar Imah tersenyum tulus, dia mengusap sisa air mata nya.
"Ada beberapa model yang sama dengan punyaku, artinya, kau tidak boleh memakai nya jika aku belum memakai nya. Itu hanya boleh kau pakai saat aku juga memakai nya, apa kau paham?" Imah mengangguk cepat, apa-apa sajalah, dia akan ikut saja. Dia sudah pusing melihat begitu banyak pakaian di dalam lemari besar tersebut, sehingga tidak terlalu memikirkan apapun yang akan dia pakai.
Selama ini bisa memakai baju saja sudah untung, meski sudah penuh jahitan dia selalu mensyukuri apa yang diri nya miliki.
"Ayo ke kamar ku, kau harus lihat kamar ku juga." Keduanya berjalan beriringan menuju kamar Elsye, Imah menganga melihat isi kamar gadis yang kini menjadi adiknya itu. Ukuran nya terlihat sama dengan kamar nya, hanya saja sudah begitu banyak tempelan di dinding oleh pigura, juga ranjang Elsye yang penuh dengan tumpukan bonekanya.
"Kau bisa mengisi kamarmu sesuai yang kau inginkan nanti, umi sengaja belum menaruh banyak barang di kamarmu. Kau bisa pilih barang yang kau sukai saat kita berbelanja bersama umi besok." Terang Elsye bersemangat. Imah hanya mengangguk pelan, dia tidak terlalu peduli dengan isi kamar nya. Yang ada saja sudah lebih dari yang dia butuhkan. Mengingat Keenan sudah mengeluarkan banyak uang, untuk membebaskan nya dari cengkeraman sang ibu tiri. Sangat tidak tau diri jika dirinya meminta lebih. Hanya saja mengungkapkan penolakan pada Elsye sekarang, dia takut akan menyinggung perasaan adik galaknya itu.
"Malam ini kita tidur di kamar mu ya? kau masih belum mahir bermain ponsel dan laptop, kita akan belajar lagi malam ini." Imah Kembali mengangguk. Dia tidak tau rencana keluarga tersebut, yang ingin menguliahkan nya. Itulah kenapa Elsye begitu keras terhadap Imah, gadis itu sebentar lagi berusia 18 tahun. Keenan ingin Imah mengejar ketertinggalannya dengan mengambil paket, lalu kemudian kuliah.
__ADS_1