
Keenan memasuki rumahnya dengan perasaan bahagia, namun sedetik kemudian senyum cerahnya berubah jadi mendung.
"Dari mana saja, Ken? aku menunggu mu sejak tadi, anak kita ingin makan bersama daddynya." Ucap Diana tak tau malu.
"Makan saja sendiri, cari ayah anakmu itu dan makan bersama nya. Aku tidak lapar," ujar Keenan melenggang pergi, tanpa memperdulikan wanita yang terus mengekori dari belakang.
"Ken, tidak bisakah kau bersikap sedikit ramah padaku? kita akan segera menikah, meski kau bukan ayah kandung anakku, tapi yang orang tau kau adalah pria yang menghamili ku." Kukuh Diana tetap pada pendiriannya, dengan nada marah.
Keenan menghentikan langkahnya di anak tangga, lalu menoleh pada wanita tak tau malu itu.
"Apa kau benar-benar berpikir jika aku akan sudi menikah dengan mu? kau bermimpi terlalu tinggi nona Diana, bangunlah. Jatuh dari ketinggian itu menyakitkan, kau bisa mati dalam rasa malu dan depresi jika tak bisa memilah. Mimpi mana yang harus kau wujudkan," balas Keenan penuh penekanan di setiap kalimat nya.
Kemudian melanjutkan langkahnya tanpa menoleh lagi. Wanita seperti itu tidak baik di beri sedikit celah, maka akan melunjak sesukanya. Dia sudah pernah terjebak, dengan jenis wanita yang sama persis seperti Diana. Dan dia tidak bodoh untuk mengulangi nya lagi.
Sementara Diana menghentak kakinya di anak tangga menahan kesal, sangat sulit meraih perhatian laki-laki ini. Hingga terbersit ide di kepalanya, seperti nya memang harus dia coba meski sedikit beresiko pada janinnya.
Tidak masalah, toh jika terjadi sesuatu pada bayinya, bukankah itu bagus. Keenan akan semakin terikat padanya, karena merasa bertanggung jawab atas segala yang terjadi padanya nanti.
Diana diam-diam menyeringai devil, dia yakin rencananya kali ini pasti berhasil. Lalu kembali menuruni anak tangga dengan langkah cepat, tanpa peduli akan janinnya di dalam perut nya.
Namun saat akan berbelok menuju kamarnya, langkahnya terhenti saat mendengar suara anak-anak dari arah pintu depan.
Kening nya mengerut heran, anak-anak siapa yang berisik sekali di rumah nya.
"Hei, kalian! Jangan berisik disini" seru Diana tanpa melihat jelas siapa yang dia teriaki. Namun sesaat ketika kedua anak itu berbali ke arahnya, Diana melotot tak percaya. Bagaimana bisa kedua muridnya itu ada di sana.
"Loh? Elsye- Eiden? kalian ngapain di rumah miss Diana, hmm?" tanya nya dengan mode lembut sekaligus heran.
__ADS_1
"Kami ingin bermain di rumah kakek dan nenek," jawab Elsye polos. "Miss Diana ngapain di rumah ayahku?" Elsye balik bertanya, membuat kerutan di dahi Diana semakin dalam.
"Ini rumahku, kalian mungkin salah alamat. Barangkali rumah yang ada di seberang sana itu, ayo miss antar" ajak Diana lalu menuntun keduanya dengan sedikit dorongan halus, agar mengikuti nya keluar.
"Mereka tidak akan kemana-mana," seru Reegan dari arah pintu, membuat Diana terkesiap kaget.
Tatapan nyalang Reegan membuat Diana memucat ketakutan, "maaf yah, aku pikir mereka salah alamat, jadi aku berni...."
"Mereka tidak salah alamat, Diana. Ini memang rumah mereka," jelas Sarah yang baru saja masuk menyusul sang suami, dengan banyak belanjaan di kedua tangannya.
"Rumah mereka,?" beo Diana tak paham.
"Ya, ini rumah anak-anak ku, lebih tepatnya anak kandung ku." Suara bariton Keenan menambah keterkejutan Diana, wanita itu mengepal tangannya sekuat mungkin. Untuk meredam emosi nya sudah di ubun-ubun.
Diana terkekeh lucu, "becandamu sama sekali tidak lucu, Ken." Ujar Diana berusaha menolak fakta.
"Duduklah dulu, kita bicarakan ini baik-baik." Ajak Sarah berusaha meredam suasana yang mulaimemanas di hadapan nya.
"Siang bun, yah?" sapa Kira sambil menyalami ibu dan ayahnya serta kakak laki-laki nya, namun tidak dengan Diana. Sejak pertama wanita itu datang, Kira tidak menyukai nya.
"Siapa anak-anak cantik dan tampan ini bun, yah? duh gemesin banget sih kalian, mirip sama kak Keenan waktu umur segini ya. Nanti aku kasih liat fotonya sama kalian berdua," ujar Kira bersemangat, remaja itu terus menjawil pipi tembem Elsye.
"Kakak jangan jawil pipi ku, nanti makin lebar," protes Elsye tak terima, pipi bakpao nya di jawil oleh Kira.
Kira terkekeh mendengar protes keponakan nya yang masih belum dia ketahui itu. "Abis pipimu gemesin sih, montok banget aku suka" balas kira gemas.
"Dia keponakan mu, sayang. Mereka berdua tepatnya. Elsye dan Eiden adalah anak kakakmu Ken, " terang Sarah, membuat bola mata Kira melotot sempurna.
__ADS_1
"Beneran!" seru nya berbinar, "ya ampun, pantas saja mirip banget sama kak Keenan. Asyik ponaan aku bertambah," sorak Kira lalu meraih tubuh gembul Elsye kepangkuan nya.
Pernyataan Kira menimbulkan salah paham bagi Diana, dia pikir maksud perkataan Kira adalah anak di kandungan nya.
"Ya, keponaanmu jadi nambah. Aku gak masalah sama masa lalu Keenan, aku akan menerima Elsye dan Eiden dan menganggap nya seperti anakku sendiri. Kami akan merawat keduanya tanpa pilih kasih dengan anak kami ini," ujar Diana tiba-tiba sambil mengelus perut nya yang sudah mulai membuncit.
Semua orang melongo mendengar apa yang wanita itu ucapkan.
Kira mendengus sebal mendengar drama Diana, "maksud aku tadi, nambah ponaan aku anak nya teteh Keyra bukan anak yang di perut kakak itu. Kak Ken aja menolak artinya memang bukan, kok maksa sih!" Ketus Kira tak terima. Keponakan nya hanya ada 4 , yaitu dua anak teteh nya dan dua lagi anak kakak nya, Keenan.
Wajah Diana pias karena kadung malu, " Kok ngomongnya gitu sih dek, kakak harus gimana lagi supaya Kalian berdua, mau menerima kehadiran kami seperti ayah dan bunda." Isak Diana penuh drama, semakin menambah ketidaksukaan Kira pada nya, begitu pun Keenan.
"Udah, udah, Elsye sama Eiden di bawa istrahat di kamar atas sana, ranjangnya udah siap, Ken?" tanya sang ayah mengalihkan perdebatan tersebut.
"Udah yah, tadi aku udah ganti pake sprei baru. Umi bilang Elsye suka yang karakter hello Kitty, untung ada punya Kira dulu masih tersimpan di lemari." Jelas Keenan penuh semangat, "oya, maafkan kakak gak tunggu adek pulang dulu tadi, udah kakak pasangin di kasur Elsye. Nanti kakak ganti ya?," Ken merasa bersalah, memakai barang adiknya tanpa meminta izin terlebih dahulu.
"Eh? gak usah kak, gak apa-apa buat, ponaan aku juga, gak masalah lah itu. Ayo, onty antar kalian kekamar," aja Kira penuh semangat sambil menggandeng tangan keponakannya, menuju tangga ke lantai atas. Langkah mereka pun diikuti oleh Keenan dari belakang, meski satu tangannya masih belum pulih. Namun dia masih bisa menggunakan satu tangannya yang sehat, untuk menggandeng tangan mungil Eiden.
Diana semakin resah, kehadiran kedua anak itu bisa mengacaukan rencananya. Dia harus memikirkan rencana lain, " bun,yah? aku ingin pernikahan ku dengan Keenan di segera kan, Keenan juga sudah baik-baik saja. Aku hanya malu jika semakin lama perut ku akan semakin membesar. Keluarga ini juga pasti akan malu," ujar Diana takut-takut sambil menundukkan kepalanya, meremas kedua tangan nya yang mulai berkeringat dingin.
Sarah menghela nafas panjang, " itu semua terserah pada Keenan saja, Di. Kami tidak bisa memaksa, tidak lucu jika nanti kalian sudah akan ke altar, Keenan tiba-tiba kabur entah kemana. Lagi pula, agama mu berbeda, akan sulit jika ingin menikah dalam waktu dekat. Banyak persimpangan juga kesiapan yang harus kalian lakukan, termasuk proses pindah agama." Jelas Sarah sebijak mungkin, dia pun ragu jika putranya menikah dengan Diana.
Diana semakin gusar, "kan banyak orang menikah beda agama, bun. Kami juga bisa," balas Diana setengah memaksa.
Lagi-lagi Sarah dan Reegan bertukar pandang, keduanya sama-sama ragu namun untuk menolak secara langsung. Tidak akan baik untuk mereka kedepan nya, "memang benar bisa seperti itu, hanya saja, di keluarga kami belum pernah ada yang seperti itu. Jadi kami sangat keberatan, belum lagi Keenan paati akan menolak dengan tegas." Tersng Sarah lagi mencoba memberikan pengertian pada Diana yang semakin gelisah.
"Tapi bagaimana dengan naaib anakku bun, cucu kalian. Apa kalian tidak merasa iba padanya," ujar diana memelas.
__ADS_1
"Begini saja, nanti akan bunda dan ayah rembukan lagi sama Keenan. Dia baru saja keluar dari rumah sakit, biarkan dia bernafas sejenak. Lagi pula Keenan sangat merindukan keduanya anaknya." Tutur Sarah masih berusaha, membuat wanita keras kepala itu sedikit mengerti kondisi putranya.
Akhirnya dengan pasrah, wanita itu mengangguk pelan. " Baiklah, bun. Aku akan menunggu sebentar lagi, jika Keenan masih belum mau menikahi ku. Aku akan gugur kan saja kandungan ku ini," ujar Diana penuh ancaman sambil terisak kemudian beranjak menuju kamarnya. Terdengar suara dentuman daun pintu, Sarah dan Reegan hanya bisa mengelus dada sabar.