
"Kau keramas kak?" tanya Kalla jahil.
"Ck! anak kecil tau apa." Decak Keenan menjitak kening sang adik.
"Aaww! anda ternyata sangat ganas tuan Keenan," lalu melirik pada leher calon kakak ipar nya yang terlihat jelas sekali banyak kiss mark.
"Jaga pandangan mu" kesal Keenan lalu memutar kepala sang adik membelakangi Arumi, dan mendorong nya keluar pintu dapur.
"Kakak semalam habis di gigit serangga ya," goda Keyra menatap leher Arumi Sambil menaik turun kan alisnya. Arumi mengernyit bingung.
"Tidak," jawab wanita itu dengan polosnya. "Di kamar anak-anak tidak ada serangga, nyamuk pun tidak ada." Jelas Arumi membuat Keyra memutar bola matanya malas.
Tangannya segera mendorong tubuh Arumi menghadap lemari kaca di dapur itu. Mata Arumi membelalak tak percaya, begitu banyak bercak merah di lehernya. Pantas saja Kalla menatapnya dengan senyum aneh. Arumi merasa sangat malu bukan main, Keenan benar-benar. Padahal pria itu sudah berjanji tidak akan meninggalkan bekas-bekas laknat itu di lehernya.
"Aku ke kamar dulu," Arumi bergegas menuju tangga dengan berlari kecil. Keyra tak dapat menahan tawanya lagi.
"Kenapa kau tertawa seperti itu? seperti sedang bahagia sekali," tanya Keenan yang baru kembali dari pintu belakang, tadi dia mendorong sang adik ke gazebo taman belakang.
"Kak Arumi, dia tidak sadar, kalau lehernya ternyata banyak bekas gigitan serangga nakal." Keyra kembali tergelak melihat wajah pias sang kakak.
"Kakak ganas sekali, kasihan kakak ipar ku yang malang."
pletaakk
"Auww! sakit kak, sayaaangg..!" Seru Keyra mengadu pada suaminya yang entah berada di mana.
Al berjalan cepat dari arah pintu depan, pria itu rupanya baru habis joging. Terlihat dari pakaian yang dia kenakan, juga peluh yang membasahi tubuh nya.
"Kenapa sayang, kau terluka? mana aku lihat?" Al memeriksa jari-jari tangan sang istri dengan teliti. Keenan memutar bola matanya jengah, selalu saja seperti itu.
"Dia tidak apa-apa, aku hanya menjitak kepalanya saja. Tidak akan membuat istrimu geger otak, kau berlebihan sekali." Meski begitu, sebenarnya dia merasa senang, Al begitu perhatian pada adiknya.
"Apa kau bilang?" seru Al tak terima, "berani sekali menganiaya istri ku, awas saja jika kau melakukan nya lagi. Aku akan memecatmu jadi kakak ipar ku," Pungkas Al kesal. Lalu mengelus juga mencium kening istrinya dengan sayang.
Keenen berdecih, " tidak usah pamer pada ku" malas menyaksikan kemesraan adiknya, pria itu bergegas menyusul Arumi ke lantai atas.
Klek
Kepala Keenan celingak-celinguk mencari kekasih nya.
"Umii?"
Klek
Arumi keluar dengan wajah yang di tekuk sempurna, tatapan kesal dia berikan pada pria yang seolah tak tau-tau apa kesalahannya.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Keenan dengan wajah polos.
"Kau itu, ishh. Menyebalkan" Ketus Arumi lalu duduk di meja rias, dia ingin memasang foundation di lehernya untuk menutupi bercak merah, hasil karya Keenan.
__ADS_1
"Aku kan hanya ingin memberikan stempel kepemilikan saja," bela Keenan tak mau di salahkan.
"Lagi pula kau kan juga menikmati nya," keukuh Keenan. "Siapa yang terus meracau namaku. Keen, ya begitu, terus ken, aku suka, ken aku mau ke...." Arumi membekap mulut Keenan menggunakan tangannya dan melotot marah pada pria itu.
"Bisa diem tidak?" kesal Arumi semakin menjadi lalu kembali duduk di kursi nya. Wanita itu terlihat melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda, karena perkataan Keenan yang tak berfilter.
"Aku kan hanya berbicara apa adanya" elak Keenan dengan suara rendah.
"Sudah selesai belum?" tanya Keenan tak sabar.
Arumi mendelik mendengar pertanyaan Keenan.
"Memang kenapa kalau masih lama? kalau kau ingin turun, duluan lah. Anak-anak tadi sama ayah dan yang lain berjalan-jalan ke kebun teh." Jelas Arumi tanpa di minta sambil terus memoles lehernya.
"Aku tau" jawab Keenan terus menatap apa yang Arumi lakukan. "Aku ingin mengajak mu ke suatu tempat, spesial. Aku yakin kau akan suka nanti." Ujar Keenan percaya diri.
"Hanya berdua? anak-anak tidak di bawa?" Arumi melirik dari pantulan kaca di depan nya.
"Hanya kita berdua saja. Aku ingin ini menjadi momen tak akan pernah bisa kau lupakan." Jawab Keenan menatap Arumi dengan senyum misterius.
"Aku jadi khawatir kau akan membuangku ke dalam jurang" balas Arumi asal. Keenan berdecak kesal mendengar kata-kata tak manusiawi kekasih nya tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya keduanya sampai di sebuah danau kecil. Pemandangan di sana sangat indah, bunga-bunga liar tertanam indah di sekitar danau tersebut.
"Kau suka?" tanya Keenan membuyarkan lamunan penuh kekaguman sang kekasih.
Keenan tersenyum melihat keantusiasan Arumi, Pria itu mengeluarkan barang dari bagasi mobil nya. Terlihat di tangannya ada karpet dan perbekalan, yang Arumi sendiri tidak tahu kapan Keenan menyiapkan nya.
"Kapan kau menyiapkan nya? kenapa tidak minta tolong padaku tadi?" Arumi menyambut sebuah boks ukuran sedang, di dalamnya berisi makanan yang sudah Keyra siapkan tadi.
Keenan menggelar karpet di atas rumput, lalu berbalik lagi menuju mobil. Ternyata pria itu juga kembawa kursi lipat.
"Lengkap banget, niat benget ya?" tanya Arumi kagum.
"Ya" jawabnya pria itu singkat, "aku udah nyiapin rencana ini jauh-jauh hari waktu kau masih di rumah sakit." Jujur Keenan, lalu membuka boks bekal mereka.
"Ini siapa yang menyiapkan nya? Bunda?" tanya Arumi penasaran.
"Keyra, dia menyiapkan ini sejak subuh tadi, dan menyimpan nya di dalam lemari." Jelas Keenan tersenyum mengingat kelakuan adiknya itu. Bahkan dia ingin mencicipi nya saja tidak boleh.
"Aku jadi merasa tidak enak, jika saja aku tau. Aku pasti akan membantu nya tadi. Lihatlah aku bahkan bangun paling belakangan" Wajah nya memperlihatkan rasa bersalah juga malu pada calon adik iparnya itu.
"Sudah tidak apa-apa, duduk dekat sini." Keenan meraih tangan Arumi membawa wanita itu duduk disampingnya. Setelah Arumi di dekat nya, Keenan merebahkan kepalanya di pangkuan wanita yang di cintai nya itu.
"Sudah siap menjadi nyonya muda Keenan Resar Sudibyo?" tanya Keenan menatap manik Arumi dalam. Tangan mereka di tautkan, sesekali Keenan mencium punggung tangan kekasihnya.
"Siap tidak siap" jawab Arumi sekenanya. Keenan berdecak kesal.
__ADS_1
"Kenapa jawabnya begitu?" ketus Keenan merajuk manja.
"Lalu aku harus jawab apa? aku bilang tidak siap pun, aku tau pasti kau akan merengek padaku seperti bayi." Kekeh Arumi mengusap rambut lebat Keenan dengan lembut.
"Aku memang bayimu mulai sekarang. Jadi sering-sering lah menyusui ku," Keenan mengerling matanya menggoda Arumi. Pipi wanita itu memerah, segera Arumi mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Sementara Keenan tergelak melihat pipi merona kekasihnya.
"Aku suka ini, semakin besar. Apalagi sudah ada pu*t*ing susunya. Dulu belum ada, anak-anak kita sudah bekerja keras membantu membuat nya terbentuk sesempurna ini. Aku harus berterima kasih pada mereka." Kekeh Keenan mendapatkan cubitan di perutnya.
"Sakit sayang, kau ini kdrt pada calon suami mu" keluh Keenan merajuk.
"Siapa suruh mulut mu ini kalau berbicara tidak di saring dulu" ucap Arumi acuh.
"Aku kan hanya jujur sayang, dulu aku belum sempat membentuk nya keluar. Mulai sekarang aku akan selalu membuat nya tegang menantang di wajah ku." Keenam kembali tergelak melihat wajah bersemu Arumi, yang semakin memerah karena ucapan nya.
"Kau ingin mencoba sensasi baru? bercinta di alam liar?" tiba-tiba Keenan bertanya sambil menatap serius wajah kekasihnya.
"Apaan sih, tidak ya, aku tidak mau. Bisa saja ada orang di sekitar sini, aku tidak mau menjadi bahan tontonan." Tolak Arumi tegas.
"Siapa yang berani berkeliaran di sekitar sini, ini area pribadi, sayang. Jadi aman, mau coba?" Keenan menaik turun kan alisnya semakin gencar menggoda Arumi.
"No!" tolak Arumi mencubit hidung mancung Keenan.
"Ck, padahal aku mau mencetak anakku di sini. Nanti akan ku beri nama flora atau fauna, pasti unik kan?" Desah Keenan kecewa.
"Mau ya?" Keenan memutar tubuh mungil Arumi begitu mudah, hingga kini Keenan sudah berada di bawah Kungkungan Keenan.
"Ken?" protes Arumi.
"Kenapa?" tanya Keenan pura-pura bodoh, gen Reegan begitu kuat mendominasi pada Keenan.
"Tadi malam kan sudah, aku masih lelah" ujar Arumi dengan wajah memerah menahan malu.
"Kau tidak perlu bekerja keras sayang, itu tugasku. Nikmati saja," bisik Keenan di telinga Arumi.
Dengan lembut Keenan menyusuri leher jejang Arumi, memberikan gigitan-gigitan kecil di sana.
Entah siapa yang memulai, kini keduanya sudah sama-sama polos. Dibawah pohon rindang yang menjadi saksi bisu percintaan panas kedua. Keenan tak henti-hentinya menggempur sang kekasih. Benar-benar Reegan versi muda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Terimakasih sayang, kau selalu bisa memuaskan ku." Keenan menarik tubuh polos Arumi ke dekapan nya. Mencium pucuk kepala wanita itu dengan sayang.
"Kau lelah sayang?" tanya Keenan menoleh pada kekasihnya yang terlihat memejamkan kedua matanya.
Arumi hanya mengangguk pelan dan berdehem. "Hemm" Keenan tersenyum gemas melihat nya, lalu meraih selimut yang sengaja dia bawa tadi, untuk menutupi tubuh polos mereka.
Keenan memang sudah merencanakan ini, untuk itu dia membawa perlengkapan yang lengkap. Selimut juga bantal kecil.
__ADS_1
Mata Keenan mulai berat, hingga akhirnya diapun terlelap menyusul sang kekasih yang lebih dulu merajut mimpi indah.