
Keenan dan pengacara nya lebih dulu duduk di ruangan yang ditunjuk oleh petugas tadi. Terlihat Keenan yang nampak tak tenang, padahal belum ada satu menit mereka duduk di sana.
"Pak Keenan? ingat pesan tuan Reegan, jangan ada kekerasan. Biarkan proses hukum yang berkerja seadil-adilnya," nasihat sang pengacara mengingat kan, dia tau tuan mudanya itu sedang dilanda kemarahan besar. Bisa saja perkelahian terjadi dan membuat semuanya semakin rumit.
Keenan mendelik tak suka, "aku tau apa yang harus aku lakukan, pak Danu. Lakukan saja tugasmu dan aku akan melakukan porsiku sendiri," ujar Keenan membuang pandangan kesamping.
Dia tidak butuh nasihat sekarang, yang dia inginkan adalah memberikan pelajaran pada dokter cabul tersebut. Tidak bisa dia bayangkan jika sampai Mike berhasil memper*ko*sa Arumi, bukannya dia sok suci. Namun memikirkan mental wanita itu yang pasti akan hancur berkeping keping, dia tidak sanggup. Berbeda jika hubungan itu dilakukan dengan cara baik-baik, atas dasar suka sama suka. Dia sama sekali tidak mempermasalahkan nya, meski hatinya tentu tidak akan baik-baik saja.
Klek
Muncul sosok Mike yang digiring oleh petugas, menuju ke arah meja didepan Keenan. Penampilan nya jauh lebih kacau dari sebelum Keenan melihat nya, meski hanya menggunakan boxer dan baju singlet, namun kini dengan pakaian lengkap namun acak-acakan, kepalanya dililit perban, dan kedua tangan yang diborgol.
Sungguh Mike yang terawat kini seperti orang melarat, tak tururus.
"Ada apa kau menemuiku? ingin mentertawai ku, hah!" Sarkas Mike menantang tanpa rasa takut.
Keenan menatap miris pria didepannya itu dengan perasaan kasihan, "kau terlihat menyedihkan, Mike. Tak ku sangka moral mu lebih rendah dari seekor an*jing!" Balas Keenan menggertak kan giginya.
Mike menarik sudut bibirnya, tersenyum mengejek. "Apa kau cemburu padaku karena berhasil bermain bersama wanita yang kau cintai," tantangnya sinis, "apa kau tau berapa ukuran dada Arumi, aku rasa dua kali lipat dari sebelumnya. Sangat pas di telapak tanganku." Ujarnya bangga dan tertawa mengejek kearah Keenan.
Keenan sudah tidak tahan lagi menghadapi pria cabul itu, tiba-tiba beranjak kasar dari tempat duduknya.
Bughh bughh bughh....
Emosi Keenan sudah diluar kendali, pria itu memukuli Mike secara membabi buta. Tidak peduli jika Mike sudah tidak bergerak sama sekali, para petugas pun tak dapat berbuat banyak. Kekuatan Keenan berkali kali lipat lebih kuat saat sedang di kuasai amarah.
Hingga sebuah teriakan menggelar dipintu ruangan itu, Keenan seketika menghentikan aksi brutalnya.
Tatapannya beradu dengan sang ayah yang baru saja tiba, kilatan emosi dimatanya masih tersisa. Namun sedikit meredup saat mendapati tatapan ayahnya, yang jauh lebih menakutkan meski hanya diam saja.
__ADS_1
"Apa kalian tidak punya tangan untuk melerai nya?" seru Reegan tak habis pikir. Melihat kondisi pria malang itu membuat nya meringis ngilu.
"Bawa dia ke klinik rutan sekarang, pastikan dia baik-baik saja. Aku yang akan menanggung segalanya, jika memang harus sampai kerumah sakit. Bawa saja, lakukan yang terbaik," Reegan mengusap kasar wajahnya. Putranya itu benar benar bertindak diluar batas.
"Danu? kau lupa pesanku tadi, bagaimana bisa hal seperti ini sampai terjadi didepan mu dan kau diam saja." Reegan sungguh tak percaya, kelakuan brutal anaknya di biarkan tanpa ada yang berusaha mencegah nya.
"Saya sudah mengingatkan sejak kami baru saja tiba di ruangan ini, tuan. Hanya saja dokter itu yang lebih dulu menyulut emosi tuan muda, dengan perkataan yang melecehkan nona Arumi." Terang Danu membela diri. Benar bukan? Andai saja dokter itu cukup waras, dia tidak akan memancing keributan lebih dulu.
Sudah jelas jika Keenan datang, tidak untuk mendengar kan sesi curhatan amoralnya. Terlihat jelas, pria itu datang dengan segala amarah yang bertumpuk didalam hatinya.
Reegan menghela nafas berkali kali, urusan nya akan jadi semakin runyam sekarang, berkat tangan lincah putranya.
"Ya sudah, ayo kita susul ke klinik. Aku jadi sedikit meragukan legalitas mu sebagai seorang pengacara," cetus Reegan tak tanpa perasaan.
Danu membelalakkan matanya mendengar kata-kata ajaib pria itu, dasar tidak punya perasaan, batinnya kesal bukan main. Namun tetap mengekori Reegan, layaknya anak kecil yang takut di tinggal ke pasar oleh ibunya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keyra mencecar nya dengan berbagai pertanyaan, yang membuat kepala Keenan seperti di serang vertigo tingkat akut.
"Nanti dirumah salep lukanya jangan lupa di oleskan lagi, kecuali kau ingin tanganmu membusuk infeksi." Kesal Keyra sesekali menekan perban yang baru saja dia pasang.
"Hmmm," jawaban Keenan semakin menambah daftar kekesalan sang adik.
"Sudah, pergilah. Pasien ku banyak," ketus Keyra pada sang kakak, walau sebenarnya hatinya mencemaskan Keenan. Namun dia terlanjur kesal pada pria keras kepala itu.
Keenan mengacak rambut sang adik dengan sayang, kata-kata ketus Keyra sama sekali tidak membuat nya kesal.
"Ya udah, aku balik ke ruangan Umi dulu." Ujar Keenan berlalu dari ruang praktek adiknya.
__ADS_1
Keenan sejenak menatap matahari pagi yang terpancar sangat cerah, hatinya mulai membaik. Mike pikir dengan memanasi nya, akan membuat dia menyerah untuk mendapatkan Arumi Kembali.
Pria itu salah besar, nyatanya, hatinya tak terpengaruh sedikit pun. Karena dia yakin, jika dalam keadaan sadar sepenuhnya, Arumi tidak akan sudi disentuh oleh Mike.
Keenan melangkahkan kaki nya menuju lantai 3, dia sudah sangat merindukan wanitanya. Sejak semalam hingga pagi, dia baru bisa mengunjungi Arumi. Karena sekembalinya dari kantor polisi subuh tadi, dia memilih mengistirahatkan tubuhnya di ruangan sang adik.
Bahkan adiknya itu harus ke rumah sakit lebih awal, dari jam praktek nya. Saat mendengar berita tentang kejadian naas itu dari sang ayah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Klek
Keenan melongok kan kepalanya, dilihat nya Arumi tengah duduk berbincang dengan sang ibu di ranjang.
"Maaf ganggu, bunda gak pengen pulang sekarang?" tanya Keenan berhasil mendapatkan pelototan tajam sang ibu.
Keenan salah tingkah sendiri, "maksud aku, bunda kan gak boleh cape. Jadi biar aku aja yang jagain Umi, gitu bun." Jelas Keenan mencari alibi. Sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ck, bilang aja kalau mau ngusir bunda. Ya, kan?" tuduh sang ibu tepat sasaran.
Keenan hanya cengengesan tak jelas, " gak gitu bun, sama anak sendiri suka asal nuduh. Gak baik, bun," elak keenan tak terima, walau sebenarnya benar.
"Rumi, bunda pamit pulang dulu, tadi gak sempet pamit sama Elsye dan Eiden. Pasti sekarang sudah bangun nyariin bunda sama ayah, semalam mereka berdua ketiduran di kamar bawah abis main sama sepupunya." Jelas Sarah mengelus pelan bahu Arumi.
"Ya bun, titip Elsye dan Eiden, maaf kalau mereka sedikit merepotkan." Balas Arumi tak enak hati. Dia tau anak perempuan nya itu sangat cerewet.
"Gak merepotkan, bunda sama ayah malah senang. Fokus saja sama pemulihan mu, jangan pikirkan apapun, ada ayah yang mengurus semuanya. Termasuk kekacauan yang di buat seseorang subuh tadi dikantor polisi," ujar Sarah melirik sang anak, yang nampak sibuk membaca majalah terbalik di tangan nya.
Arumi hanya tersenyum menanggapi ucapan nenek anaknya itu, lalu ikut melihat ke arah Keenan yang masih betah, membaca majalah nya yang dalam posisi terbalik.
__ADS_1