
Sudah 5 hari setelah kejadian bunuh diri yang di lakukan Handaru, seorang gadis tengah menyeka tubuh Daru yang masih belum sadar kan diri. Tidak ada yang salah dengan perkembangan kesehatan nya, hanya saja alam bawah sadar nya menolak untuk terbangun.
"Bisa kah bangun lebih cepat, tugas kuliah ku sudah sangat menumpuk. Kenapa orang-orang lebih memilih untuk mengakhiri hidup nya hanya karena putus cinta. Padahal banyak orang di luar sana yang di tinggal mati sekalipun, namun pemikiran nya tidak sedangkal pikiran mu. Heran. Orang kaya memang selalu sesingkat itu kalau berpikir." Omel Imah panjang lebar, setelah perdebatan antara Keenan dan adik nya, akhirnya Imah di ijinkan untuk merawat Daru.
Tentu saja tetap dalam pengawasan Keenan juga istri nya, Keenan dan Arumi bergantian menjenguk Imah yang padahal tidak sedang sakit. Namun kecemasan kedua orang tua nya sangat besar. Mereka takut jika Daru terbangun, akan menyakiti putri sulung mereka karena kesal.
"Haahh! akhirnya beres juga." Imah baru saja habis mengganti kan pakaian Daru juga memakai kan popok pria itu. "Apa kau tidak malu, sudah sedewasa ini masih menggunakan popok bayi. adik ku saja sudah jarang-jarang memakai nya. Lah, kau malah setiap hari malam tanpa henti. Bangun lah, setelah kau sehat segar bugar, benahi hati, jiwa dan pikiran mu yang konyol itu. Banyak wanita baik dan cantik diluar sana, yang siap kau pacari bahkan kau persunting. Kalau begini kau hanya merepot kan orang lain saja." Begitu lah keseharian Imah, mengurus Daru sebagai bahan praktikum awal nya menjadi seorang dokter, begitu lah ucapan bibi nya, Keyra.
Tanpa Imah tau, jika pasien yang dia omeli saban hari, telah terbangun entah kapan. Pria itu mendengar semua keluh kesah Imah pada nya. Sudut bibir nya tertarik pelan. Cukup menghibur pikir nya. Sebenar nya dia sudah bangun saat Imah menyeka juga mengganti kan popok nya. Sekuat tenaga Daru menahan gejolak saat tangan mungil Imah membersihkan **** ***** nya.
Dia bersyukur kondisi nya masih lemah, sehingga benda laknat nya tidak terpancing oleh sentuhan wanita pengomelan itu.
"Aku mau makan dulu, kau tidak ingin mencoba ayam bakar madu buatan ibu ku? Rasa nya sangat lezat, heuummmm... ini nikmat sekali. Kau rugi jika tidak segera bangun. Lihat ini, sambal kacang nya, daun ubi rebus yang diberi minyak panas.. ah, ada mentimun nya juga. Ibu ku sangat telaten menyiapkan menu makan siang ku, kau yakin tidak mau mencoba nya." Celoteh Imah memamer kan menu makan siang buatan ibu nya, yang tadi di antar oleh sang ayah. Imah di larang makan makanan dari luar, takut kebersihan tidak terjaga dengan baik. Begitu lah pesan Arumi pada nya.
Selama merawat Daru, Imah belum sekali pun pulang ke rumah. Untung saja Daru di rawat di ruang rawat inap VVIP. Jadi di dalam ada dua ranjang, satu ranjang pasien, satu lagi ranjang untuk yang menjaga pasien.
Daru mendengus dalam hatinya, mendengar ocehan Imah yang meruntuh kan iman nya. Perut nya seketika keroncong mencium aroma ayam bakar juga antek-antek nya. Berkali-kali Daru menelan ludah nya. Ingin sekali dia meneriaki gadis tidak ada akhlak itu, berani sekali menyiksa penciuman juga lambung nya yang terasa kosong.
Suara sendawa Imah kembali membuat rasa jengkel Daru bangkit, dasar gadis tidak punya perasaan. Daru mengintip dari ekor mata nya, untuk melihat siapa gadis yang sudah berani mengusik nya. Namun sayang, posisi Imah yang membelakangi nya, membuat Daru tidak bisa melihat wajah gadis itu langsung.
__ADS_1
Klek
Alisya juga Mike masuk dengan dua buah kantong plastik berlogo minimarket, Indomarket.
"Eh, lagi makan. Bibi kira kau belum makan, baru akan bibi tanya mau makan apa. Tau nya udah kenyang kaya nya nih." Seloroh Alisya pada anak angkat sahabat nya itu.
"Hehehee.. ya bi, aku sedikit kelaparan. Itu bawa apa, kaya nya perut ku masih muat untuk makan beberapa jenis makanan lain" ujar Imah nyengir memamerkan deretan gigi nya yang berjejer rapi.
"Ini ada buah, juga cemilan. Kau pilih sendiri, paman tidak tau mana yang kau suka." Ujar Mike menyodorkan plastik tersebut ke tangan Imah. Gadis itu menyambut nya dengan ceria.
"Waaahh banyak sekali. Kalau begini aku betah berjaga di sini, pulang-pulang aku bisa sebesar gajah ini " kekeh Imah memindai isi plastik tersebut.
"Keadaan nya gimana, Mah?" tanya Alisya tidak menyertakan nama Daru dalam kalimat tanya nya, padahal Mike tidak lah masalah. Namun Alisya sudah berjanji akan menjaga batasan nya.
"Masih seperti itu, baru saja habis ku bersihkan tubuhnya. Rasanya seperti mengurus ade kembar di rumah, beda nya yang ini tidak bisa berlarian kalau mau di pakai kan baju." Ujar Imah terkikik lucu.
"Sayang, aku mau ke ruangan dulu. Hari ini aku ada jadwal visit pasien, setelah itu baru praktek. Kau masih mau di sini sama Imah, tidak apa-apa. Nanti kalau pulang hati-hati ya." Sela Mike pada kekasih nya, dia sudah tidak memikirkan hal rumit lagi. Mereka sudah cukup dewasa untuk menentukan kemana hati mereka di labuhkan. Dan dia percaya pada hati kekasih nya.
"Ya, aku di sini sebentar, abis ngobrol aku langsung balik. Hati-hati ya, jangan genit sama pasien. Aku cemburu " Balas Alisya dengan wajah serius. Mike terkekeh lalu mencium kening kekasih nya dengan sayang.
__ADS_1
"Tidak mungkin aku begitu, mendapatkan mu saja aku harus berjuang mati-matian. Bagaimana bisa aku melirik wanita lain, sementara hati ku sudah penuh dengan namamu saja." Ucap Mike penuh ketulusan.
"Ah ya, aku hampir lupa. Jangan lupa mampir di percetakan, revisi tanggal pernikahan kita. Katakan saja nanti kita akan menentukan ulang tanggal nya." Jelas Mike mengingat kan.
"Memang nya harus menunggu nya bangun baru kita menikah " protes Alisya sedikit keberatan.
Mike tersenyum simpul, lalu membelai pipi kekasih nya. "Kita tidak bisa berbahagia jika ada orang lain masih dalam kondisi tidak baik-baik saja. Dan ya, namanya Daru. Jangan seolah tak mengenal nya, itu tidak baik sayang. Aku tidak apa-apa, sungguh. Aku tau hati mu sudah mutlak untuk ku, aku tidak perlu cemas lagi sekarang. Ajak Daru berbicara, siapa tau dia merespon mu. Bicara kan hal yang baik, katakan jika aku sudah tidak sabar untuk segera menikahi mu. Jadi suruh dia cepat bangun, hmm?" Nasihat Mike membuat dada Daru sesak.
Dia kini menyadari kesalahannya, Mike bahkan rela menunda pernikahan mereka hingga dia pulih kembali. Betapa beruntungnya Alisya, mendapatkan Pria sebaik dan sepengertian Mike. Dia berjanji akan melepaskan Alisya dengan ikhlas mulai sekarang. Ketulusan Mike telah membuka mata hatinya yang tertutup.
"Sweet banget sih paman. Aku jadi pengen punya pacar kalau begini" sela Imah menopang kedua pipi nya gemas sendiri dengan apa yang dilakukan Mike terhadap bibi nya.
"Masih kecil, tidak boleh pacar-pacaran dulu. Apa kau ingin melihat tanduk abi mu tumbuh sepuluh di kepala nya." Potong Alisya membuyar lamunan indah keponakan nya. Membuat bibir imah berlipat cemberut.
Dia lupa, jika ayah nya sangat protektif terhadap anak-anak nya. Baik diri nya maupun Elsye, mereka begitu di proteksi oleh sang ayah.
"Oya, paman hampir lupa. Gaun mu dan Elsye sudah siap, ambil saja di butik. Hadiah kecil untuk kedua keponakan ku yang cantik." Ujar Mike penuh perhatian.
"Makasih paman, nanti setelah bayi besar itu pulih kembali, aku dan Elsye akan mengambil nya ke butik." Balas Imah tersenyum sumringah. Alisya hanya menggeleng melihat kepolosan keponakan nya itu. Mike pun pamit melanjutkan pekerjaan nya, kini tinggal Alisya dan Imah yang masih mengobrol seputar kuliah gadis itu juga hal lainnya.
__ADS_1