Maaf, Untuk Lukamu!

Maaf, Untuk Lukamu!
Nikah yuk


__ADS_3

Setelah kepergian Sarah, Keenan bergegas mengunci pintu. Arumi mengerut keningnya heran.


"Kenapa di kunci sega...."


Ucapan nya terhenti saat bibir tebal membungkam bibir nya. Keenan menyapu sisa saliva di bibir Arumi dengan jempolnya dengan masih menyatukan kening nya dengan Arumi.


"Maaf," ujar Keenan merasa bersalah. "Aku hanya mencoba menghapus jejak pria bajingan itu. Aku cemburu, sangat. Aku mencintaimu, Umi. Ayo kita menikah setelah kau keluar dari sini," ajak Keenan tiba-tiba.


Arumi melotot tak percaya dengan apa yang dia dengar, "jangan bercanda, memangnya aku mau menikah dengan mu?" balas Arumi melengos ke arah lain.


Keenan tersenyum melihat Arumi salah tingkah, "pasti mau, kan di sini masih ada aku. Utuh dan tak tergantikan," ucap Keenan percaya diri sambil menunjuk dada kiri Arumi.


Wanita itu reflek menepis pelan tangan jahil Keenan, yang sempat-sempatnya menoel dadanya.


Keenan terkekeh pelan, "aku gemes, seseorang bilang, ukuran nya dua kali lipat dari yang pernah aku lihat. Aku kan juga mau," Keenan merengut manja dan sangat tidak cocok dengan karakter nya yang dingin dan kaku.


Walau hatinya masih tidak terima dengan perlakuan Mike pada Arumi, namum dia juga tidak menyalahkan Arumi maupun Mike sepenuhnya. Apa lagi alasan nya didasari oleh rasa cemburu, dan sakit hati karena di putuskan secara sepihak. Mungkin jika dia yang berada di posisi itu, barangkali juga akan melakukan berbagai cara, untuk mempertahankan orang yang di cintai nya.


"Dasar mesum," ujar Arumi kesal, dan menghadiahi capitan kepiting di perut Keenan. Membuat Keenan meringis manja.


"Tapi kau suka kan, aku ingat dulu kau yang paling berisik saat kita mencetak si kembar." Lanjut Keenan terbahak kala mengingat momen indah mereka 4 tahun yang lalu.


Arumi kembali melotot kan matanya mendengar ucapan absurd Keenan, pipinya memanas menahan malu.


"Nikah yuk?" kembali Keenan membujuk dengan wajah serius menatap wanita didepannya.


Arumi bingung harus menjawab apa, sisi hatinya pun menginginkan Keenan Kembali. Namun dia merasa masalah nya dengan Mike, masih belum tuntas. Dia tidak ingin menambah masalah baru.


"Masalah ku saja masih belum selesai, bagaimana kau bisa seenaknya mengajakku menikah. Bahkan tanpa lamaran yang romantis," ujar Arumi berdecak kesal.


"Jadi kau ingin lamaran yang romantis, hmm?" goda Keenan membuat Arumi kembali melengos malu. "Baiklah, aku akan membuat lamaran paling romantis sepanjang sejarah. Cepatlah pulih, aku sudah tidak sabar," desak Keenan dengan wajah sendu.


"Cih, tidak sabar apa nya. Dasar otak kotor," decih Arumi kesal.


"Hehehe, aku tidak sabar memakanmu lagi. Aku ingin memberikan adik untuk twins," ungkap Keenan jujur. Dia bukan pria munafik, dia merindukan kehangatan yang pernah Arumi berikan padanya.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Diana?" tanya Arumi tiba-tiba, sambil menata netra pria yang masih sangat bertahta dalam hatinya itu.


Keenan menghela nafas panjang, ternyata wanita ini sudah tau soal Diana. Padahal dia baru saja akan menceritakan nya, namun malah keduluan.


"Wanita itu tidak akan pernah aku nikahi. Hanya kau saja, tidak ada yang lain lagi. Kali ini aku telah mengunci hatiku rapat-rapat, hanya untukmu dan anak-anak kita tentunya. Jangan meragukan ku, aku mencintaimu, bahkan saat aku melakukan kebodohan dulu. Aku tak pernah berhenti memikirkan mu, hanya saja ego ku lebih besar saat itu." Keenan menjeda kalimat, lalu menatap sendu, netra yanga sangat menenangkan jiwanya itu. Rasa bersalah kembali menghantuinya.


"Wanita itu mengarang cerita saat aku koma, bunda yang terjebak situasi menelan mentah-mentah apa yang Diana katakan. Tapi sekarang bunda sudah percaya sepenuhnya padaku, begitu juga ayah. Diana saja yang tidak tau malu, masih betah tinggal di rumah. Walau setiap hari adik-adik ku, tidak memperlakukan nya layak nya bagian dari keluarga." Jelas Keenan panjang lebar.


Bukan hanya untuk meyakinkan Arumi, namun itulah faktanya. Diana adalah tipe wanita dengan mental baja. Apapun akan dia lakukan tanpa peduli pada sekitar nya, bagaimana dirinya diperlakukan.


Arumi masih bergeming, dia bingung apakah harus jujur tentang apa yang dia ketahui. Namun kesananya akan seperti dirinya sedang memanfaatkan situasi.


"Kau masih ragu padaku, umi?" suara Keenan membuyar lamunan Arumi.


"Eh? tidak tentu saja aku percaya." Jawab Arumi yakin. "Apa kau akan percaya padaku, jika aku bilang, bahwa Diana bukanlah wanita baik-baik?" tanya Arumi hati-hati sambil menatap Keenan tak enak.


"Tentu saja aku percaya" balas Keenan yakin. "katakan apa yang kau ketahui tentang wanita licik itu, sayang?" wajah Arumi bersemu merah mendengar kata sayang dari Keenan, sudah lama sekali dia merindukan kata-kata manis itu.


"Apa ini? apa kau sedang merona, hmm?" goda Keenan semakin membuat pipi Arumi memerah.


Keenan hanya terkekeh, dia suka melihat reaksi malu-malu Arumi. Persis saat mereka masih menjalin kasih dulu, dia sungguh sangat merindukan nya.


"Maafkan aku, sini, peluk aku. Beri aku pelukan, aku masih merindukan mu." tanpa menunggu persetujuan Arumi, Keenan memeluk erat wanita nya dengan penuh kasih sayang.


"Kita tidak usah tunangan, langsung menikah saja bagaimana? tunangan hanya akan memperlambat niat baik, aku takut kau berubah pikiran. Aku tidak bisa kehilangan mu lagi setelah aku begitu yakin, kau akan menjadi milikku seutuhnya." Hati Arumi menghangat mendengar apa yang Keenan ucapkan.


Arumi hanya mengangguk kan kepalanya tanda setuju, toh mereka sudah punya anak.Dia hanya perlu menyelesaikan masalahnya dengan Mike, juga Keenan, pria itu harus menyelesaikan urusannya dengan Diana hingga tuntas.


Keenan yang mendapat respon positif dari Arumi, semakin memeluk erat seolah takut di tinggal pergi. Hingga suara handle pintu yang beberapa kali di buka dari luar, menghentikan aksi peluk-pelukan tersebut.


Pria itu berdecak kesal, siapa sih yang iseng mengganggu momen romantis nya.


"Kenapa kau sangat tidak sab..." matanya melotot melihat siapa yang baru saja dia cecar.


Keenan meringis ngeri melihat sang ayah yang menatap nya datar.

__ADS_1


"Maaf yah, aku pikir orang iseng." Ujar Keenan menyelamatkan diri, "ada apa ayah kemari?"


"Apa harus ada alasan untuk menjenguk orang sakit?" sarkas sang ayah tanpa permisi masuk melewati tubuh Keenan.


"Aku kan hanya bertanya, kenapa ayah jadi ngegas begitu jawabnya. Seperti ada dendam saja padaku," gerutu Keenan mengekori sang ayah dari belakang.


Reegan mendelik sebal pada putranya, setelah membuat kekacauan, pergi seenaknya. Bahkan ponselnya pun tak bisa di hubungi.


Mendapatkan delikan tak mengenakan, Keenan mengalihkan tatapannya ke sembarang arah. Alamat mendapatkan wahyu ber bab bab kalau begini.


"Bagaimana keadaan mu, nak? apa kau merasa terganggu dengan kehadiran pria pembuat masalah ini, kalau iya, ayah akan mengusir nya sekarang juga." Ujar Keenan tersenyum miring ke arah Keenan, yang tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan ngawur sang ayah.


"Ayah kalau bicara jangan sembarang, Umi tentu saja tidak terganggu. Kehadiran ku sangat dia harapkan, enak saja." Balas Keenan tak terima, "kalau ayah hanya ingin bertanya keadaan Umi, calon istri ku baik-baik saja. Tadi sudah akan istrahat, kehadiran ayah malah mengganggu pasien saja." Ketus Keenan masih dongkol.


Arumi jadi salah tingkah sendiri, "tidak mengganggu kok yah, sungguh." potong Arumi cepat. Membuat Reegan merasa di atas angin.


Keenan mendengus kesal, "Umi hanya merasa tak enak berkata jujur. Ayah pulanglah, Umi butuh istirahat," usir Keenan durhakim.


"Dasar anak malin kundang" dengus Reegan tak terima, diusir oleh putra durhakanya itu.


"Rumi, setelah kau keluar dari rumah sakit, tinggalah dirumah. Ayah dan bunda sudah merembukkan nya, tidak ada penolakan. Jangan pikirkan apapun, semua sudah ayah atur dan akan ayah tuntaskan segera." Meski ragu, Arumi tetap mengangguk pelan. Menolak sama dengan melukai perasaan dua orang, yang sudah dia anggap seperti orang tuanya sendiri.


Keenan tersenyum samar melihat anggukan Arumi, akhirnya, jalannya menuju kebahagiaan dan kembali bersama wanita yang sangat dia cintai itu. Semakin terbuka lebar.


Seakan paham arti senyum putranya, Reegan berdecih. " Jangan mengambil kesempatan dalam kesulitan," kata-kata Reegan berhasil membuat wajah Keenan pias.


"Ayah apa-apaan. Sudah pulang sana, mengganggu saja," gerutu Keenan kesal sempurna pada ayahnya.


"Rumi, ayah pulang dulu. Istirahat lah, jangan hirau kan pria ini, jika dia menggangu mu, panggil saja sekuriti." Reegan berujar tanpa peduli tatapan protes putranya.


Seperginya Reegan, Keenan menaiki ranjang Arumi membawa wanita dalam pelukannya. "Ayo kita istirahat, semoga besok sudah bisa pulang. Aku sudah tidak sabar untuk segera menikah dengan mu, sayang." Keenan mencium wajah Arumi bertubi-tubi.


"Ya ya, tapi sudahi dulu mencium ku seperti ini." Protes Arumi.


Keenan terkekeh, " maaf, ya sudah. kita tidur saja, aku sangat mengantuk." Keenan semakin mengeratkan pelukannya pada Arumi, hingga wanita itu kini seperti boneka kecil dalam pelukan Keenan. Mata Keenan mulai meredup mencium aroma vanilla yang sangat menenangkan, perlahan pria itu sudah berlayar ke dunia mimpi.

__ADS_1


Arumi mendongak, menatap wajah tampan yang sangat dia rindukan. Wajah dingin yang berhasil mencuri habis, seluruh cintanya hingga tak bersisa. Dia hanya berharap, keputusannya kali ini tidak akan dia sesali lagi.


__ADS_2